JawaPos.com — Cara pemilih menilai kandidat politik ternyata tidak selalu bergantung pada partai atau pandangan mereka terhadap isu tertentu.
Sebuah studi terbaru menemukan bahwa hal sederhana seperti mobil yang dikendarai, hobi, restoran yang didatangi, hingga kebiasaan sehari-hari dapat menjadi petunjuk bagi pemilih untuk memperkirakan identitas politik seorang kandidat.
Temuan ini berasal dari penelitian Levi G. Allen, asisten profesor ilmu politik di Indiana State University, dan Wayde Z.C. Marsh. Studi berjudul Nonpolitical Identity Signals as Information Shortcuts: Evidence from Three Experiments tersebut diterbitkan dalam Public Opinion Quarterly.
Pemilih Membaca Sinyal dari Kehidupan Sehari-hari
Melansir PsyPost, Rabu (23/9/2026), penelitian ini berangkat dari gagasan bahwa pemilih sering menggunakan jalan pintas informasi ketika mengambil keputusan politik. Sinyal yang dimaksud tidak harus berkaitan langsung dengan pemerintahan.
Benda, aktivitas, hobi, atau kebiasaan tertentu dapat memiliki asosiasi politik karena telah dipandang sebagai ciri kelompok sosial tertentu.
Contohnya, minum latte atau mengendarai mobil listrik dapat diasosiasikan dengan pemilih liberal. Sebaliknya, berburu, menggunakan truk pikap, atau menyukai NASCAR dapat dipersepsikan sebagai sinyal konservatif.
Menurut Allen, belum ada bukti yang cukup untuk menunjukkan seberapa jauh pemilih benar-benar menggunakan sinyal nonpolitik semacam itu dalam menilai kandidat. “Ada anggapan bahwa orang menggunakan sinyal identitas nonpolitik ini untuk mengambil keputusan politik, tetapi kami benar-benar belum memiliki bukti apakah itu benar,” kata Allen kepada PsyPost.
Untuk mengujinya, peneliti melakukan tiga eksperimen daring dengan responden berbeda.
Informasi Politik Tetap Menjadi Petunjuk Utama
Eksperimen pertama melibatkan 1.000 responden yang diminta menilai lima pasangan kandidat hipotetis.
Mereka memperoleh informasi mengenai pendidikan dan ras kandidat, afiliasi partai, posisi terhadap dua isu, kendaraan yang digunakan, serta hobi seperti yoga dan NASCAR.
Ketika informasi politik tersedia, responden terutama mengandalkan label partai dan posisi kandidat terhadap isu. Pemilih Demokrat lebih menyukai kandidat Demokrat yang menganggap pemanasan global sebagai persoalan serius, sementara pemilih Republik cenderung memilih kandidat dari partainya.
Petunjuk mengenai mobil dan hobi hampir tidak berpengaruh dalam kondisi ini. Artinya, pemilih tidak perlu menebak identitas politik kandidat melalui gaya hidup ketika informasi politik yang relevan sudah tersedia.
Mobil dan Hobi Bisa Menggantikan Label Partai
Hasil berbeda muncul dalam eksperimen kedua yang melibatkan hampir 1.000 responden. Peneliti menghilangkan atau memasukkan informasi mengenai afiliasi partai kandidat secara acak.
Dalam salah satu profil, kandidat George Branner digambarkan memiliki toko perlengkapan berburu, mengenakan sepatu bot koboi, mengendarai truk Chevy, dan makan di Chick-fil-A.
Profil lain menggunakan sinyal yang diasosiasikan dengan kelompok liberal, seperti memiliki kafe organik vegan, minum latte di Starbucks, mengendarai mobil listrik, dan menghadiri festival seni.
Ketika afiliasi partai tidak disebutkan, kandidat dengan sinyal konservatif memperoleh peningkatan dukungan sekitar 15 poin dari pemilih Republik dibandingkan kandidat netral. Besarnya hampir sama dengan keuntungan yang diperoleh kandidat yang secara langsung menyatakan dirinya sebagai Republik.
Pemilih Demokrat menunjukkan pola sebaliknya. Mereka mengurangi dukungan terhadap kandidat dengan sinyal konservatif dalam besaran yang serupa dengan ketika kandidat tersebut secara terbuka menyatakan dirinya sebagai Republik.
“Dengan kata lain, kandidat yang menyatakan dirinya sebagai seorang Republik mendapat hasil yang sama dengan kandidat yang makan di Chick-fil-A dan mengenakan sepatu bot koboi,” ujar Allen.
Sinyal yang Bertentangan Mengubah Penilaian
Peneliti juga menemukan bahwa keuntungan dari identitas partai dapat menghilang ketika gaya hidup kandidat memberikan sinyal yang berlawanan.
Kandidat yang menyatakan dirinya Republik tetapi menunjukkan kebiasaan yang diasosiasikan dengan kelompok liberal tidak lagi memperoleh keuntungan partisan yang sebelumnya terlihat pada pemilih Republik.
Allen mengatakan peneliti masih perlu mencari tahu apakah pola tersebut mencerminkan persepsi terhadap kandidat Republik yang lebih moderat atau memunculkan reaksi negatif terhadap kelompok politik lain.
Mobil hingga Restoran Menjadi Petunjuk Politik
Sebelum eksperimen ketiga, peneliti melakukan pretest untuk mengetahui simbol gaya hidup yang paling kuat diasosiasikan masyarakat Amerika dengan masing-masing partai.
Toyota Prius, Starbucks, dan menjadi penggemar NBA paling kuat dipersepsikan sebagai sinyal Demokrat. Sementara itu, Ford F-150, Chick-fil-A, dan menjadi penggemar NASCAR paling kuat diasosiasikan dengan Republik.
Eksperimen ketiga melibatkan 1.046 responden dan menggunakan sinyal-sinyal tersebut bersama afiliasi partai serta posisi kandidat terhadap satu isu. Hasilnya kembali menunjukkan bahwa sinyal gaya hidup dapat mengurangi pengaruh afiliasi partai ketika keduanya memberikan pesan yang bertentangan.
Secara keseluruhan, Allen menyimpulkan bahwa pemilih dapat menggunakan mobil atau hobi kandidat sebagai jalan pintas untuk mengambil keputusan, tetapi terutama ketika informasi kebijakan yang nyata tidak tersedia.
“Pemilih Amerika rata-rata akan menggunakan mobil yang dikendarai kandidat atau hobi yang mereka miliki, tetapi hanya ketika informasi kebijakan yang nyata tidak tersedia,” kata Allen.
Peneliti mengingatkan bahwa eksperimen menggunakan profil kandidat yang sengaja dibuat cukup mencolok agar sinyal gaya hidup mudah dikenali. Survei daring juga belum tentu sepenuhnya menggambarkan keputusan yang dibuat pemilih ketika berada di bilik suara.
Penelitian berikutnya dapat menguji bagaimana sinyal gaya hidup tersebut berinteraksi dengan karakteristik lain seperti ras, gender, dan agama dalam membentuk penilaian terhadap kandidat politik.