← Beranda
Kamu Sedang Berusaha Mempererat Persahabatan, Lakukan 7 Cara Terbukti Ini Menurut Psikologi
Irfan Ferdiansyah• Rabu, 23 September 2026 | 04.00 WIB
seseorang yang mempererat hubungan dengan sahabat./Magnific/magnific

JawaPos.com - Persahabatan yang dekat biasanya tidak terbentuk hanya karena sering bertemu. Dua orang bisa bekerja di tempat yang sama selama bertahun-tahun, duduk bersebelahan setiap hari, bahkan memiliki banyak kesamaan, tetapi belum tentu benar-benar menjadi sahabat.

Sebaliknya, ada persahabatan yang terasa begitu kuat meskipun awalnya dimulai dari percakapan sederhana.

Mengapa demikian?

Dalam psikologi, kedekatan dalam hubungan interpersonal tidak hanya dipengaruhi oleh seberapa sering kita bertemu seseorang, tetapi juga oleh bagaimana kita berinteraksi, memberikan perhatian, menunjukkan kepercayaan, merespons cerita satu sama lain, dan menciptakan pengalaman bersama.

Karena itu, jika kamu sedang berusaha mempererat persahabatan, kamu tidak harus melakukan sesuatu yang spektakuler. Sering kali, hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten justru memiliki pengaruh besar.

Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (22/9), terdapat tujuh cara yang dapat membantu membuat persahabatan menjadi lebih dekat dan bermakna.

1. Luangkan Waktu untuk Benar-Benar Hadir

Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam persahabatan adalah menganggap bahwa kedekatan akan tetap ada meskipun hampir tidak pernah meluangkan waktu bersama.

Padahal, hubungan membutuhkan perhatian.

Ketika seorang teman sedang berbicara, cobalah benar-benar hadir dalam percakapan. Jangan sekadar menunggu giliran untuk berbicara. Dengarkan apa yang dia katakan, perhatikan ekspresinya, dan berikan respons yang menunjukkan bahwa kamu mengikuti ceritanya.

Misalnya, daripada hanya menjawab:

"Oh, begitu."

Kamu bisa merespons:

"Jadi kamu sebenarnya kecewa karena sudah berharap banyak dari situasi itu?"

Respons seperti ini menunjukkan bahwa kamu tidak hanya mendengar kata-katanya, tetapi juga berusaha memahami perasaannya.

Inilah yang membuat seseorang merasa diperhatikan.

Kehadiran juga tidak selalu berarti harus bertemu langsung. Mengirim pesan untuk menanyakan kabar, menelepon sesekali, atau mengingat sesuatu yang pernah diceritakan teman dapat menjadi bentuk perhatian yang sederhana.

Yang penting bukan selalu seberapa lama kamu bersama temanmu, tetapi apakah ketika bersamanya kamu benar-benar memberikan perhatian.

2. Biasakan Bertanya Lebih Dalam, Bukan Sekadar "Apa Kabar?"

Percakapan yang terlalu dangkal biasanya sulit menciptakan rasa kedekatan.

"Sudah makan?"

"Kerja bagaimana?"

"Baik-baik saja?"

Pertanyaan seperti itu tentu tidak salah. Namun, jika ingin mempererat persahabatan, sesekali cobalah mengajukan pertanyaan yang membuka ruang bagi percakapan yang lebih bermakna.

Misalnya:

"Belakangan ini apa yang paling banyak kamu pikirkan?"

"Ada sesuatu yang sedang kamu perjuangkan?"

"Kalau bisa mengubah satu hal dari pekerjaanmu sekarang, apa yang ingin kamu ubah?"

"Hal apa yang akhir-akhir ini membuatmu paling bahagia?"

Pertanyaan seperti ini memberikan kesempatan kepada teman untuk berbicara mengenai dirinya secara lebih personal.

Dalam hubungan interpersonal, percakapan yang memungkinkan seseorang membuka diri secara bertahap dapat membantu membangun rasa kedekatan. Tentu saja, keterbukaan tersebut sebaiknya berlangsung secara alami. Jangan memaksa seseorang menceritakan sesuatu yang belum siap ia bagikan.

Persahabatan yang sehat bukan tentang mengetahui semua rahasia teman.

Persahabatan yang sehat adalah ketika seseorang merasa aman untuk berbagi ketika dia memang ingin berbagi.

3. Ingat Hal-Hal Kecil yang Pernah Diceritakan Temanmu

Pernahkah kamu bercerita kepada seseorang tentang sesuatu yang menurutmu penting, kemudian beberapa minggu kemudian dia menanyakannya lagi?

Rasanya menyenangkan, bukan?

Misalnya, temanmu pernah mengatakan bahwa minggu depan dia akan menghadapi wawancara kerja.

Beberapa hari kemudian, kamu mengirim pesan:

"Besok wawancaranya, kan? Semoga lancar. Kamu sudah siap?"

Kalimatnya sederhana.

Namun, pesan tersebut membawa makna yang lebih besar: kamu mendengarkan dan mengingat.

Hal-hal kecil seperti ini dapat membuat seseorang merasa dihargai.

Kamu tidak perlu menghafal setiap detail kehidupan teman. Cukup perhatikan hal-hal yang memang penting bagi mereka.

Mengingat nama orang yang sedang mereka sukai, proyek yang sedang mereka kerjakan, ujian yang akan mereka hadapi, atau masalah yang pernah mereka ceritakan dapat menunjukkan bahwa kehidupan mereka memiliki tempat dalam perhatianmu.

Kedekatan sering kali dibangun dari akumulasi perhatian kecil seperti ini.

Bukan satu tindakan besar, melainkan banyak tindakan sederhana yang dilakukan berulang kali.

4. Berani Menunjukkan Sisi Dirimu yang Lebih Personal

Persahabatan akan sulit berkembang jika kedua orang selalu menggunakan "versi formal" dirinya.

Jika setiap percakapan hanya berisi pekerjaan, aktivitas sehari-hari, film, makanan, atau hal-hal umum, hubungan mungkin terasa menyenangkan tetapi belum tentu mendalam.

Salah satu cara mempererat persahabatan adalah memberikan kesempatan kepada teman untuk mengenal dirimu yang sebenarnya.

Kamu bisa mulai dari hal sederhana.

Misalnya:

"Aku sebenarnya agak takut kalau harus memulai sesuatu yang baru."

"Aku belakangan ini sering merasa tidak yakin dengan keputusan yang kubuat."

"Dulu aku pernah mengalami hal yang membuatku sulit percaya kepada orang lain."

Keterbukaan seperti ini tidak berarti kamu harus menceritakan semua pengalaman pribadi.

Yang penting adalah memberikan ruang bagi hubungan untuk berkembang dari sekadar berbagi informasi menjadi berbagi pengalaman dan perasaan.

Namun, lakukan secara bertahap.

Keterbukaan yang sehat biasanya bersifat timbal balik dan disesuaikan dengan tingkat kepercayaan yang sudah terbentuk. Jangan merasa harus menceritakan sesuatu yang sangat pribadi hanya demi membuat hubungan lebih dekat.

Tujuannya bukan menjadi terlalu terbuka.

Tujuannya adalah menjadi cukup autentik sehingga temanmu mengenal dirimu yang sebenarnya.

5. Berikan Respons yang Hangat Ketika Temanmu Membagikan Sesuatu

Bayangkan kamu baru saja mendapatkan kabar baik dan langsung menceritakannya kepada sahabatmu.

Kamu berkata:

"Aku akhirnya diterima kerja!"

Lalu dia hanya menjawab:

"Oh, bagus."

Tentu respons itu tidak salah.

Tetapi bandingkan dengan:

"Serius? Selamat! Aku tahu kamu sudah berusaha cukup lama untuk mendapatkan pekerjaan itu. Kamu pasti lega banget."

Respons kedua terasa berbeda.

Mengapa?

Karena bukan hanya informasinya yang diterima, tetapi emosi di balik informasi tersebut juga ikut diperhatikan.

Dalam psikologi hubungan, cara seseorang merespons pengalaman positif orang lain dapat berperan penting dalam kualitas hubungan. Ketika teman berbagi kabar baik, cobalah ikut memberikan ruang bagi kegembiraan tersebut.

Kamu tidak perlu berpura-pura antusias secara berlebihan.

Cukup tunjukkan bahwa kebahagiaan mereka penting bagimu.

Begitu pula ketika mereka menceritakan sesuatu yang menyedihkan.

Tidak selalu diperlukan nasihat.

Kadang-kadang seseorang hanya ingin didengarkan.

Alih-alih langsung mengatakan:

"Sudahlah, jangan dipikirkan."

Kamu bisa mengatakan:

"Aku mengerti kenapa kamu merasa seperti itu."

Atau:

"Kalau kamu mau cerita, aku dengarkan."

Respons sederhana seperti ini dapat menciptakan rasa aman dalam sebuah persahabatan.

6. Ciptakan Pengalaman Bersama

Percakapan memang penting, tetapi persahabatan juga dibangun melalui pengalaman.

Karena itu, jika ingin mempererat hubungan, cobalah menciptakan lebih banyak momen yang bisa dikenang bersama.

Tidak harus mahal.

Kalian bisa makan bersama, berjalan-jalan, berolahraga, mencoba tempat baru, mengerjakan proyek kecil, menonton film, bermain gim, atau sekadar duduk sambil mengobrol.

Yang penting adalah adanya pengalaman bersama.

Pengalaman tersebut kemudian menjadi bagian dari sejarah hubungan kalian.

Lama-kelamaan, muncul cerita seperti:

"Ingat waktu kita tersesat waktu pergi ke sana?"

"Ingat waktu kita ketawa sampai hampir nggak bisa ngomong?"

"Ingat waktu kita pertama kali mencoba itu?"

Kenangan seperti ini memberikan identitas pada sebuah persahabatan.

Menariknya, aktivitas sederhana sering kali justru menghasilkan kenangan yang kuat.

Jadi, jangan menunggu sampai memiliki banyak uang atau waktu luang untuk menciptakan momen bersama teman.

Kadang-kadang, makan malam sederhana selama satu jam bisa lebih berarti daripada rencana besar yang tidak pernah terlaksana.

7. Jadilah Teman yang Konsisten, Bukan Hanya Hadir Saat Membutuhkan

Ini mungkin salah satu hal paling penting.

Persahabatan tidak hanya diuji ketika semuanya menyenangkan.

Kualitas hubungan sering kali terlihat dari konsistensi.

Apakah kamu hanya menghubungi teman ketika membutuhkan bantuan?

Apakah kamu hanya datang ketika ada acara?

Atau apakah kamu juga hadir ketika tidak ada kepentingan apa pun?

Konsistensi tidak berarti harus selalu tersedia.

Kamu tetap memiliki pekerjaan, keluarga, pasangan, dan kehidupan sendiri.

Teman yang baik juga tidak harus selalu membalas pesan dalam hitungan menit.

Konsistensi lebih berarti menunjukkan bahwa hubungan tersebut memiliki tempat dalam hidupmu.

Sesekali bertanya kabar.

Mengucapkan selamat ketika dia mendapatkan sesuatu.

Menyempatkan diri bertemu.

Menghubungi kembali setelah percakapan yang penting.

Menawarkan bantuan ketika memang mampu.

Dan yang tidak kalah penting, menghormati batasan ketika teman sedang membutuhkan ruang.

Persahabatan yang kuat bukan hubungan yang menuntut kehadiran setiap saat.

Justru hubungan yang sehat memberikan ruang bagi masing-masing orang untuk menjalani kehidupannya, tetapi tetap memiliki rasa bahwa mereka dapat saling mengandalkan ketika dibutuhkan.

Persahabatan Tidak Harus Selalu Intens

Ada satu hal yang sering disalahpahami mengenai persahabatan.

Kita terkadang berpikir bahwa sahabat harus selalu berkomunikasi setiap hari.

Padahal, setiap hubungan memiliki ritmenya sendiri.

Ada teman yang setiap hari bertukar pesan.

Ada pula sahabat yang hanya bertemu beberapa bulan sekali, tetapi ketika bertemu kembali, percakapan terasa tetap nyaman.

Karena itu, jangan mengukur kualitas persahabatan hanya dari seberapa sering kalian berkomunikasi.

Perhatikan juga kualitas interaksinya.

Apakah kalian bisa menjadi diri sendiri?

Apakah kalian saling menghormati?

Apakah kalian dapat berbicara tanpa takut terus-menerus dihakimi?

Apakah kalian dapat berbagi kegembiraan maupun kesulitan?

Apakah hubungan tersebut terasa timbal balik?

Jika jawabannya sebagian besar ya, mungkin hubungan itu sudah memiliki fondasi yang cukup kuat.

Jangan Memaksa Persahabatan Menjadi Dekat

Mempererat persahabatan bukan berarti memaksa seseorang menjadi sedekat yang kamu inginkan.

Hubungan selalu melibatkan dua orang.

Kamu dapat menunjukkan perhatian, menjadi pendengar yang baik, meluangkan waktu, dan bersikap terbuka. Tetapi kamu tidak dapat mengontrol bagaimana orang lain meresponsnya.

Karena itu, berikan ruang.

Jika seorang teman sedang sibuk, jangan langsung menganggap dia tidak peduli.

Jika dia membutuhkan waktu sendiri, hormati.

Jika hubungan terasa berubah, komunikasikan dengan baik daripada langsung membuat kesimpulan.

Persahabatan yang sehat dibangun melalui kebebasan, rasa aman, kepercayaan, dan timbal balik.

Bukan melalui tuntutan.

Pada Akhirnya, Kedekatan Dibangun dari Hal-Hal Kecil

Jika kamu sedang berusaha mempererat persahabatan, tidak perlu mencari satu tindakan besar yang tiba-tiba membuat hubungan menjadi sangat dekat.

Mulailah dari hal-hal sederhana.

Dengarkan ketika temanmu berbicara.

Tanyakan sesuatu yang benar-benar ingin kamu ketahui.

Ingat hal kecil yang pernah mereka ceritakan.

Bagikan sedikit lebih banyak tentang dirimu.

Berikan respons yang hangat terhadap kabar mereka.

Ciptakan pengalaman bersama.

Dan tetaplah hadir secara konsisten tanpa mengabaikan batasan masing-masing.

Karena pada akhirnya, persahabatan yang kuat jarang terbentuk dalam satu malam.

Ia tumbuh sedikit demi sedikit, melalui percakapan yang jujur, perhatian yang konsisten, tawa yang dibagikan bersama, dukungan ketika keadaan sulit, dan berbagai momen kecil yang mungkin terlihat biasa tetapi ternyata sangat berarti.

Jika kamu ingin memiliki persahabatan yang lebih dekat, mungkin kamu tidak perlu mencari teman baru terlebih dahulu. Bisa jadi, yang perlu dilakukan adalah mulai memberikan perhatian yang lebih dalam kepada teman-teman yang sudah ada di sekitarmu.

EDITOR: Hanny Suwindari