JawaPos.com - Mengapa seseorang bisa terus kembali kepada pasangan yang berulang kali menyakitinya?
Pertanyaan ini sering muncul ketika kita melihat seseorang bertahan dalam hubungan yang dari luar tampak jelas tidak sehat. Pasangannya mungkin sering merendahkan, mengabaikan, berbohong, mengontrol, memanipulasi, atau bahkan melakukan kekerasan. Namun setelah berpisah, orang tersebut justru kembali lagi.
Bagi orang yang melihat dari luar, situasinya mungkin tampak sederhana: "Kalau sudah diperlakukan buruk, kenapa tidak pergi saja?"
Namun psikologi menunjukkan bahwa keputusan untuk meninggalkan hubungan yang menyakitkan tidak selalu sesederhana itu. Hubungan manusia melibatkan keterikatan emosional, kebutuhan akan penerimaan, harapan, kebiasaan, ingatan, rasa takut, serta berbagai mekanisme psikologis yang dapat membuat seseorang tetap terikat meskipun hubungan tersebut memberikan banyak penderitaan.
Hal yang juga penting dipahami: kembali kepada pasangan yang menyakiti seseorang tidak otomatis berarti orang tersebut lemah, bodoh, atau tidak menghargai dirinya sendiri. Ada proses psikologis yang kompleks di baliknya.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (22/9), terdapat enam alasan yang dapat membantu menjelaskan fenomena tersebut.
1. Ikatan emosional membuat hubungan sulit dilepaskan
Salah satu alasan paling mendasar adalah adanya attachment atau keterikatan emosional.
Ketika seseorang sudah menghabiskan banyak waktu bersama pasangan, berbagi pengalaman, membangun rutinitas, menghadapi masalah bersama, dan memiliki kenangan tertentu, hubungan tersebut tidak hanya menjadi "status hubungan". Hubungan itu menjadi bagian dari kehidupan psikologis seseorang.
Karena itu, mengakhiri hubungan bukan hanya berarti kehilangan pasangan.
Seseorang mungkin merasa kehilangan teman bicara, tempat pulang, rutinitas sehari-hari, identitas sebagai pasangan, rencana masa depan, bahkan gambaran tentang dirinya sendiri.
Inilah yang membuat perpisahan dapat terasa sangat berat.
Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan bisa mengetahui secara rasional bahwa hubungannya buruk, tetapi secara emosional masih sangat terikat.
Misalnya, seseorang berkata:
"Aku tahu dia sering menyakitiku. Aku tahu hubungan ini tidak sehat. Tapi aku tetap merindukannya."
Pernyataan seperti ini sebenarnya tidak kontradiktif.
Seseorang dapat memahami bahwa sebuah hubungan buruk sekaligus masih memiliki perasaan terhadap orang di dalam hubungan tersebut.
Otak manusia tidak selalu membuat keputusan berdasarkan pertanyaan sederhana seperti "Apakah orang ini baik atau buruk bagiku?"
Perasaan, kenangan, keterikatan, dan pengalaman bersama juga ikut memengaruhi keputusan.
Semakin lama sebuah hubungan berlangsung, semakin banyak pula asosiasi emosional yang terbentuk.
Karena itu, ketika hubungan berakhir, seseorang tidak hanya berusaha melepaskan individu tersebut. Ia juga sedang berusaha melepaskan jaringan kenangan dan kebiasaan yang sudah terbentuk selama hubungan berlangsung.
2. Siklus perlakuan buruk dan kasih sayang dapat menciptakan keterikatan yang sangat kuat
Salah satu pola yang sering ditemukan dalam hubungan bermasalah adalah pergantian antara perlakuan buruk dan perlakuan menyenangkan.
Misalnya:
Pasangan bertengkar → salah satu pihak menyakiti atau merendahkan → hubungan hampir berakhir → pasangan meminta maaf → menjadi sangat perhatian → hubungan terasa membaik → konflik kembali terjadi.
Siklus tersebut dapat berulang.
Masalahnya, periode ketika pasangan kembali bersikap baik dapat memberikan pengalaman emosional yang sangat kuat.
Seseorang yang baru saja mengalami penolakan atau perlakuan buruk mungkin merasakan kelegaan yang besar ketika akhirnya mendapatkan kasih sayang kembali.
"Dia ternyata masih mencintaiku."
"Dia sudah berubah."
"Yang sekarang berbeda."
"Dia kembali menjadi orang yang dulu aku kenal."
Perasaan lega tersebut dapat memperkuat keterikatan.
Dalam psikologi, pola penghargaan yang muncul secara tidak konsisten dapat membuat perilaku atau keterikatan menjadi sangat sulit dihentikan. Ketidakpastian mengenai kapan seseorang akan mendapatkan perhatian atau kasih sayang dapat membuat perhatian tersebut terasa semakin bernilai.
Ini berbeda dengan hubungan yang stabil, di mana kasih sayang relatif konsisten.
Dalam hubungan yang tidak stabil, seseorang mungkin terus menunggu "versi baik" dari pasangannya muncul kembali.
Akibatnya, ia tidak hanya mengingat perlakuan buruk yang dialaminya.
Ia juga mengingat momen-momen ketika pasangan tersebut sangat mencintainya.
Dan justru karena momen baik itu muncul di antara pengalaman buruk, seseorang dapat menjadi sangat berharap bahwa hubungan tersebut akan kembali seperti masa-masa indahnya.
3. Harapan bahwa pasangan akan berubah membuat seseorang terus bertahan
Harapan memiliki kekuatan psikologis yang besar.
Seseorang mungkin tidak bertahan karena menganggap perlakuan buruk tersebut dapat diterima. Ia mungkin bertahan karena percaya bahwa keadaan suatu hari nanti akan berubah.
Misalnya:
"Dia sebenarnya orang baik."
"Dia hanya sedang mengalami banyak masalah."
"Kalau dia sudah lebih dewasa, dia akan berubah."
"Aku tahu dia mencintaiku."
"Kali ini dia benar-benar serius untuk berubah."
Harapan tersebut dapat menjadi alasan seseorang kembali setelah perpisahan.
Apalagi jika pasangan memang sesekali menunjukkan penyesalan, meminta maaf, berjanji memperbaiki diri, atau menunjukkan perilaku yang berbeda untuk sementara waktu.
Namun ada perbedaan penting antara janji perubahan dan perubahan yang konsisten.
Perubahan perilaku biasanya membutuhkan waktu, kesadaran, usaha, dan konsistensi. Permintaan maaf satu kali tidak dengan sendirinya menghapus pola perilaku yang telah berlangsung lama.
Meski demikian, manusia cenderung memberikan bobot besar pada kemungkinan masa depan ketika memiliki ikatan emosional.
Seseorang dapat berpikir:
"Bagaimana kalau kali ini benar-benar berbeda?"
Pertanyaan tersebut membuat pintu hubungan tetap terbuka.
Harapan juga dapat membuat seseorang lebih fokus pada potensi pasangan daripada perilakunya yang sebenarnya.
Ia mungkin mencintai bukan hanya orang yang ada di hadapannya sekarang, tetapi juga versi pasangan yang ia percaya bisa menjadi lebih baik suatu hari nanti.
4. Rasa percaya diri dapat terkikis setelah terus-menerus diperlakukan buruk
Perlakuan buruk yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Jika seseorang berkali-kali mendengar bahwa dirinya tidak cukup baik, terlalu sensitif, tidak menarik, tidak mampu melakukan sesuatu, atau tidak akan mendapatkan pasangan lain, pesan-pesan tersebut dapat memengaruhi harga dirinya.
Pada awalnya, seseorang mungkin membantah:
"Dia yang salah."
Namun setelah mendengar hal serupa berkali-kali, seseorang dapat mulai mempertanyakan dirinya sendiri:
"Jangan-jangan memang aku yang terlalu menuntut."
"Mungkin aku memang sulit dicintai."
"Mungkin aku tidak akan menemukan orang lain."
"Mungkin semua hubungan memang seperti ini."
Di sinilah perlakuan buruk dapat menjadi semakin berbahaya secara psikologis.
Bukan hanya karena perilakunya menyakitkan, tetapi karena perilaku tersebut dapat memengaruhi keyakinan seseorang mengenai dirinya sendiri.
Ketika harga diri menurun, pilihan untuk meninggalkan hubungan juga dapat terasa semakin sulit.
Seseorang mungkin mulai merasa bahwa dirinya tidak pantas mendapatkan hubungan yang lebih sehat.
Ironisnya, semakin seseorang merasa tidak berharga, semakin besar kemungkinan ia mencari validasi dari orang yang justru membuatnya merasa tidak berharga.
Ia berharap pasangan tersebut akhirnya berkata:
"Kamu sebenarnya cukup baik."
Dan ketika pasangan memberikan sedikit perhatian atau kasih sayang, perhatian tersebut dapat terasa sangat berarti.
5. Seseorang dapat mengalami konflik antara pengalaman nyata dan keyakinannya tentang hubungan
Ada fenomena psikologis lain yang sering berperan: cognitive dissonance, atau ketegangan yang muncul ketika seseorang memiliki dua keyakinan atau pengalaman yang sulit diselaraskan.
Contohnya:
"Aku mencintai orang ini."
Tetapi sekaligus:
"Orang ini sering menyakitiku."
Kedua kenyataan tersebut dapat terasa sangat sulit diterima secara bersamaan.
Untuk mengurangi ketegangan tersebut, seseorang mungkin mencoba mencari penjelasan yang membuat hubungan tetap masuk akal.
"Dia menyakitiku karena sedang stres."
"Dia sebenarnya tidak bermaksud begitu."
"Dia melakukan itu karena terlalu mencintaiku."
"Aku juga pasti punya kesalahan."
"Kalau aku lebih sabar, mungkin semuanya akan baik-baik saja."
Penjelasan seperti ini dapat membantu seseorang mempertahankan gambaran bahwa hubungan tersebut masih memiliki masa depan.
Ada pula fenomena yang berkaitan dengan sunk cost.
Semakin banyak waktu, energi, emosi, uang, pengorbanan, dan pengalaman yang sudah diberikan kepada suatu hubungan, semakin sulit bagi seseorang untuk menerima bahwa hubungan tersebut mungkin memang tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Ia bisa berpikir:
"Aku sudah bertahun-tahun bersamanya. Masa semuanya berakhir begitu saja?"
Atau:
"Aku sudah berkorban sebanyak ini. Aku tidak ingin semua itu sia-sia."
Padahal, waktu yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan dengan mempertahankan hubungan yang sama.
Namun secara emosional, menerima kenyataan tersebut memang tidak mudah.
Karena itu, seseorang mungkin kembali bukan karena hubungan tersebut tiba-tiba menjadi sehat, tetapi karena menerima bahwa hubungan tersebut tidak sesuai harapan terasa sangat menyakitkan.
6. Ketakutan terhadap kesepian dan kehilangan masa depan dapat membuat seseorang kembali
Tidak semua orang takut pada pasangannya.
Sebagian orang justru takut pada kehidupan setelah hubungan tersebut berakhir.
Kesepian dapat terasa menakutkan.
Terlebih jika seseorang sudah lama berada dalam sebuah hubungan.
Ia mungkin bertanya:
"Setelah ini aku akan hidup dengan siapa?"
"Siapa yang akan menemaniku?"
"Bagaimana kalau aku tidak menemukan orang lain?"
"Bagaimana kalau aku menyesal?"
"Bagaimana kalau dia justru berubah setelah aku pergi?"
Ketakutan seperti ini dapat membuat hubungan yang buruk terasa lebih aman daripada ketidakpastian setelah perpisahan.
Ada pula kehilangan masa depan yang sudah dibayangkan.
Seseorang mungkin sudah membayangkan menikah, memiliki rumah, membangun keluarga, bepergian bersama, atau menua bersama pasangan tersebut.
Ketika hubungan berakhir, yang hilang bukan hanya hubungan saat ini.
Yang hilang juga adalah masa depan yang sebelumnya dibayangkan.
Inilah sebabnya seseorang bisa merasa sangat berduka meskipun secara objektif hubungan tersebut tidak sehat.
Ia bukan hanya berduka atas orang yang hilang.
Ia juga berduka atas kehidupan yang ia pikir akan dimilikinya.
Mengapa "tinggal pergi" tidak selalu semudah yang terlihat?
Dari luar, solusi terhadap hubungan buruk sering tampak sederhana.
"Kalau tidak bahagia, ya putus."
Namun keputusan untuk pergi dapat dipengaruhi banyak faktor sekaligus:
keterikatan emosional;
ketakutan terhadap kesepian;
harapan pasangan berubah;
rendahnya harga diri;
kebiasaan;
ketergantungan ekonomi;
tekanan sosial atau keluarga;
anak;
ancaman atau intimidasi;
isolasi dari orang lain;
rasa bersalah;
kenangan indah;
serta ketakutan terhadap konsekuensi setelah meninggalkan hubungan.
Dalam hubungan yang melibatkan kekerasan atau kontrol, situasinya bisa jauh lebih serius. Seseorang mungkin bukan sekadar "tidak mau pergi", tetapi menghadapi hambatan nyata terhadap keselamatan, keuangan, tempat tinggal, atau akses kepada dukungan sosial.
Karena itu, menyalahkan seseorang dengan mengatakan "kenapa kamu masih kembali?" sering kali tidak membantu.
Pertanyaan yang lebih berguna adalah:
"Apa yang membuatmu merasa sulit untuk pergi?"
atau:
"Apa yang kamu butuhkan agar bisa merasa aman dan memiliki pilihan?"
Perubahan cara bertanya tersebut penting karena menggeser fokus dari menyalahkan korban menuju memahami kondisi yang sedang dialaminya.
Kembali bukan berarti hubungan tersebut sudah membaik
Satu hal penting yang perlu dibedakan adalah rekonsiliasi dan perubahan pola hubungan.
Kembali bersama tidak otomatis berarti masalah telah selesai.
Hubungan mungkin memang dapat berubah jika kedua pihak benar-benar melakukan perubahan perilaku yang konsisten. Namun permintaan maaf, janji, atau periode singkat ketika semuanya terasa baik belum tentu menunjukkan bahwa pola lama sudah berakhir.
Yang perlu diperhatikan adalah perilaku dalam jangka panjang.
Apakah pasangan mengakui kesalahannya tanpa menyalahkan korban?
Apakah ia menghormati batasan?
Apakah perilaku menyakitkan benar-benar berhenti?
Apakah perubahan berlangsung konsisten?
Apakah ia bersedia mencari bantuan jika diperlukan?
Atau apakah hubungan hanya kembali memasuki siklus lama setelah beberapa waktu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih informatif daripada sekadar melihat apakah pasangan mengatakan bahwa ia sudah berubah.
Bagaimana seseorang dapat mulai memahami mengapa dirinya terus kembali?
Langkah pertama bukan selalu memaksa diri untuk langsung mengambil keputusan besar.
Langkah pertama dapat berupa memahami pola.
Cobalah melihat hubungan secara keseluruhan, bukan hanya berdasarkan momen terakhir.
Tuliskan misalnya:
Apa yang terjadi sebelum konflik?
Apa bentuk perlakuan buruk yang muncul?
Bagaimana respons pasangan setelah menyakiti?
Berapa lama fase "baik" berlangsung?
Apa yang biasanya membuat hubungan kembali memburuk?
Bagaimana perasaan diri sendiri selama hubungan?
Apakah seseorang merasa lebih percaya diri atau justru semakin kehilangan dirinya?
Apakah batasan pribadi dihormati?
Apakah ada ketakutan terhadap pasangan?
Apa yang membuat seseorang merasa tidak mampu meninggalkan hubungan?
Menuliskan pola dapat membantu seseorang melihat sesuatu yang sulit terlihat ketika sedang berada di dalam hubungan tersebut.
Kesimpulan
Seseorang dapat terus kembali kepada pasangan yang memperlakukannya dengan buruk bukan karena ia tidak memahami bahwa dirinya sedang disakiti.
Sering kali persoalannya jauh lebih kompleks.
Keterikatan emosional dapat membuat perpisahan terasa seperti kehilangan bagian dari kehidupan. Siklus perlakuan buruk dan kasih sayang dapat memperkuat keterikatan. Harapan akan perubahan membuat seseorang terus memberikan kesempatan. Perlakuan buruk yang berulang dapat mengikis harga diri. Konflik antara cinta dan pengalaman buruk dapat membuat seseorang mencari alasan untuk mempertahankan hubungan. Sementara itu, ketakutan terhadap kesepian dan masa depan yang tidak pasti dapat membuat kembali terasa lebih mudah daripada memulai hidup baru.
Memahami mekanisme psikologis tersebut bukan berarti membenarkan perilaku pasangan yang menyakiti.
Sebaliknya, pemahaman tersebut membantu kita melihat bahwa manusia tidak selalu membuat keputusan hubungan hanya berdasarkan logika sederhana.
Jika seseorang terus kembali ke hubungan yang menyakitkan, pertanyaan yang lebih manusiawi bukanlah "Mengapa dia sebodoh itu?"
Melainkan:
"Apa yang membuat hubungan ini begitu sulit untuk ditinggalkan?"
Dan ketika pertanyaan tersebut mulai dijawab, seseorang dapat lebih mudah memahami kebutuhannya, mengenali pola yang terjadi, mencari dukungan, serta mempertimbangkan langkah yang lebih aman dan sehat bagi dirinya.