JawaPos.com - Ada pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi bisa terasa sangat melelahkan ketika terus-menerus ditanyakan.
“Kapan kamu menikah?”
“Kok masih lajang?”
“Memangnya kamu tidak ingin punya pasangan?”
“Teman-temanmu sudah menikah, kamu kapan?”
Bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut mungkin hanya dianggap sebagai bentuk perhatian atau basa-basi. Namun bagi orang yang menerimanya berulang kali, pertanyaan tentang status hubungan dapat menimbulkan rasa tidak nyaman, malu, tertekan, bahkan membuat seseorang mempertanyakan dirinya sendiri.
Padahal, status lajang bukanlah sebuah masalah psikologis yang harus segera “diselesaikan”. Begitu pula pernikahan bukanlah perlombaan yang memiliki garis waktu yang sama untuk semua orang.
Dalam psikologi, salah satu hal penting dalam menghadapi pertanyaan semacam ini adalah kemampuan untuk mengelola emosi, menetapkan batasan, dan memilih respons yang sesuai dengan situasi.
Artinya, Anda tidak harus selalu memberikan penjelasan panjang.
Anda juga tidak perlu merasa bersalah karena belum menikah.
Dan yang paling penting, Anda tidak harus menjadikan pertanyaan orang lain sebagai ukuran nilai diri Anda.
Dilansir dari Psychology Today pada (22/9), terdapat enam cara yang dapat membantu Anda menjawab pertanyaan “Mengapa kamu masih lajang?” atau “Kapan kamu menikah?” dengan lebih tenang dan percaya diri.
1. Jawab Singkat Tanpa Merasa Harus Membela Diri
Kesalahan yang sering terjadi ketika seseorang ditanya tentang status hubungan adalah merasa harus memberikan penjelasan panjang.
Misalnya:
“Sebenarnya aku juga ingin menikah, tetapi sampai sekarang belum bertemu orang yang cocok. Pernah dekat dengan seseorang, tetapi kemudian gagal. Setelah itu aku sempat mencoba aplikasi kencan, tetapi ternyata…”
Tanpa disadari, Anda sedang memberikan terlalu banyak informasi kepada seseorang yang sebenarnya mungkin hanya mengajukan pertanyaan sederhana.
Padahal, Anda tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan seluruh kehidupan pribadi Anda.
Dalam psikologi komunikasi interpersonal, kemampuan menetapkan batasan merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat. Anda berhak menentukan informasi pribadi mana yang ingin dibagikan dan mana yang ingin disimpan untuk diri sendiri.
Karena itu, jawaban sederhana sebenarnya sudah cukup.
Contohnya:
“Belum ada yang cocok. Aku sedang menikmati hidupku sekarang.”
Atau:
“Belum menikah, dan aku baik-baik saja dengan itu.”
Atau:
“Belum waktunya saja. Kalau memang sudah waktunya, nanti juga akan datang.”
Jawaban seperti ini tidak menyerang orang lain, tetapi juga tidak membuka ruang terlalu besar untuk interogasi lanjutan.
Mengapa cara ini efektif?
Karena Anda mengubah posisi psikologis Anda.
Anda tidak lagi berbicara seolah-olah sedang berada di ruang sidang dan harus membuktikan bahwa keputusan hidup Anda benar.
Anda hanya menyampaikan sebuah fakta.
“Saya masih lajang.”
Itu saja.
Tidak semua fakta tentang kehidupan seseorang membutuhkan pembenaran.
2. Gunakan Humor Jika Situasinya Memungkinkan
Tidak semua pertanyaan tentang pernikahan muncul dengan niat buruk.
Kadang-kadang orang bertanya karena penasaran. Kadang karena kebiasaan. Kadang karena ingin bercanda.
Dalam situasi seperti itu, humor dapat menjadi cara yang efektif untuk mengurangi ketegangan.
Misalnya ketika seseorang bertanya:
“Kapan kamu menikah?”
Anda bisa menjawab:
“Kalau tanggalnya sudah keluar, nanti aku kirim undangannya.”
Atau:
“Masih menunggu semesta mengirim kandidatnya.”
Atau:
“Belum ada yang berhasil melewati tahap wawancara.”
Atau:
“Doakan saja, tapi jangan diburu-buru.”
Humor dapat membantu mengubah suasana percakapan tanpa membuat Anda harus masuk ke pembahasan pribadi yang panjang.
Namun ada satu hal penting:
Humor bukan berarti Anda harus menertawakan diri sendiri.
Hindari humor yang justru merendahkan diri.
Misalnya:
“Siapa juga yang mau sama aku?”
atau
“Aku memang terlalu jelek untuk menikah.”
Meskipun terdengar seperti candaan, kalimat semacam ini dapat memperkuat cara pandang negatif terhadap diri sendiri apabila terus diulang.
Lebih baik gunakan humor yang ringan, netral, dan tidak menyerang diri sendiri.
Misalnya:
“Belum ada jadwalnya. Kalendernya masih kosong.”
Dengan begitu, Anda tetap santai tanpa menjadikan diri sendiri sebagai bahan ejekan.
3. Ubah Pertanyaan “Kapan Menikah?” Menjadi Kesempatan Menjelaskan Prioritas Hidup
Kadang-kadang pertanyaan tentang pernikahan sebenarnya dapat menjadi pintu masuk untuk menjelaskan apa yang sedang Anda prioritaskan.
Misalnya:
“Kapan menikah?”
Daripada menjawab hanya:
“Belum tahu.”
Anda dapat mengatakan:
“Untuk sekarang aku sedang fokus membangun karier dan menata kehidupan pribadi. Menikah tetap menjadi kemungkinan, tetapi aku tidak ingin melakukannya hanya karena merasa harus mengikuti usia atau tekanan sosial.”
Jawaban tersebut menunjukkan sesuatu yang penting:
Anda mempunyai pertimbangan sendiri.
Dalam psikologi, seseorang yang mampu memahami nilai dan prioritas pribadinya cenderung lebih mampu mengambil keputusan yang sesuai dengan dirinya daripada sekadar mengikuti tekanan lingkungan.
Pernikahan merupakan keputusan besar.
Karena itu, alasan seseorang belum menikah bisa sangat beragam.
Ada yang sedang membangun karier.
Ada yang ingin menyelesaikan pendidikan.
Ada yang belum menemukan pasangan yang sesuai.
Ada yang sedang belajar memahami dirinya sendiri.
Ada yang memang belum ingin menikah.
Ada pula yang ingin menikah tetapi belum bertemu orang yang tepat.
Semua situasi tersebut berbeda.
Karena itu, tidak tepat menganggap bahwa semua orang lajang mempunyai masalah yang sama.
Anda bisa menjawab:
“Aku sedang fokus pada beberapa hal yang penting buat hidupku sekarang. Menikah bukan sesuatu yang ingin aku lakukan hanya karena ditanya orang.”
Atau:
“Aku ingin menikah kalau memang sudah bertemu orang yang tepat, bukan sekadar karena usia.”
Jawaban seperti ini membantu menggeser percakapan dari “Mengapa kamu belum menikah?” menjadi “Apa yang penting dalam hidupmu saat ini?”
Dan itu jauh lebih sehat.
4. Tetapkan Batasan Jika Pertanyaannya Mulai Mengganggu
Ada perbedaan antara pertanyaan sekali dua kali dengan pertanyaan yang terus diulang.
Jika seseorang bertanya:
“Kapan menikah?”
Anda mungkin bisa menjawab santai.
Tetapi jika setiap kali bertemu orang tersebut selalu muncul pertanyaan yang sama, situasinya dapat menjadi melelahkan.
Misalnya:
“Sudah punya pacar?”
Minggu berikutnya:
“Kapan menikah?”
Sebulan kemudian:
“Kok belum menikah juga?”
Kemudian:
“Jangan terlalu pilih-pilih.”
Pada titik tertentu, Anda berhak menetapkan batasan.
Contohnya:
“Aku tahu kamu mungkin perhatian, tetapi aku sebenarnya kurang nyaman kalau terus ditanya soal pernikahan.”
Atau:
“Aku menghargai perhatianmu, tetapi untuk urusan ini aku lebih nyaman membicarakannya ketika memang aku ingin.”
Atau:
“Aku paham kamu penasaran, tapi aku tidak ingin menjadikan pernikahan sebagai topik pembicaraan setiap kali kita bertemu.”
Ini bukan berarti Anda kasar.
Justru, batasan yang disampaikan dengan tenang dapat menjadi bentuk komunikasi yang sehat.
Ingat:
Menetapkan batasan bukan berarti memusuhi orang lain.
Batasan berarti memberi tahu orang lain bagaimana Anda ingin diperlakukan.
Anda dapat bersikap tegas tanpa menjadi agresif.
5. Jangan Menganggap Pertanyaan Orang Lain Sebagai Bukti Bahwa Ada yang Salah dengan Diri Anda
Ini mungkin bagian yang paling penting.
Satu pertanyaan dari orang lain dapat terdengar sederhana.
Namun jika Anda mendengarnya berkali-kali, lama-kelamaan pertanyaan tersebut bisa berubah menjadi suara di dalam kepala.
Awalnya:
“Kapan kamu menikah?”
Kemudian berubah menjadi:
“Jangan-jangan aku memang terlambat.”
Lalu:
“Apa ada yang salah denganku?”
Kemudian:
“Mungkin aku tidak cukup menarik.”
Dan akhirnya:
“Semua orang bisa menemukan pasangan kecuali aku.”
Di sinilah tekanan sosial dapat mulai memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Padahal, status hubungan bukan ukuran nilai seseorang.
Menjadi lajang tidak otomatis berarti seseorang gagal.
Menikah juga bukan bukti otomatis bahwa seseorang lebih sukses, lebih dewasa, atau lebih bahagia.
Demikian pula, usia bukan indikator tunggal kesiapan seseorang untuk menikah.
Setiap orang mempunyai perjalanan hidup yang berbeda.
Ketika mendengar pertanyaan seperti:
“Kok masih sendiri?”
cobalah memisahkan antara pertanyaan orang lain dan penilaian terhadap diri sendiri.
Pertanyaan itu adalah milik mereka.
Nilai diri Anda adalah milik Anda.
Anda bisa mengingatkan diri sendiri:
“Aku tidak harus mengukur keberhargaan diriku berdasarkan status hubungan.”
Kalimat sederhana seperti ini dapat membantu mengurangi kecenderungan untuk menginternalisasi tekanan sosial.
6. Jika Tidak Ingin Menjawab, Anda Boleh Mengalihkan Pembicaraan
Ini adalah strategi yang sering dilupakan.
Anda tidak selalu harus menjawab pertanyaan yang diajukan kepada Anda.
Jika pertanyaannya terlalu pribadi, Anda dapat mengalihkan pembicaraan.
Misalnya:
“Belum ada kabar soal itu. Ngomong-ngomong, bagaimana pekerjaanmu sekarang?”
Atau:
“Nanti kalau ada perkembangan aku cerita. Sekarang bagaimana kabar keluargamu?”
Atau cukup:
“Belum tahu. Kita bahas yang lain saja, ya.”
Ini sangat berguna terutama ketika Anda berada dalam lingkungan sosial yang sering membicarakan kehidupan pribadi.
Misalnya acara keluarga.
Anda mungkin tahu bahwa menjelaskan alasan Anda belum menikah justru akan menghasilkan sepuluh pertanyaan baru.
Daripada masuk ke percakapan panjang, Anda bisa memilih respons singkat kemudian mengubah topik.
Anda tidak sedang menghindar.
Anda sedang memilih topik yang ingin Anda bicarakan.
Mengapa Pertanyaan “Kapan Menikah?” Bisa Terasa Sangat Menekan?
Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat bagaimana manusia dipengaruhi oleh lingkungan sosial.
Manusia secara alami memperhatikan apa yang dilakukan orang lain.
Ketika melihat teman-teman sebaya menikah, memiliki anak, membeli rumah, atau membangun keluarga, seseorang dapat mulai membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain.
Masalahnya, perbandingan tersebut sering kali tidak adil.
Kita membandingkan kehidupan kita secara keseluruhan dengan bagian kehidupan orang lain yang terlihat dari luar.
Kita melihat teman menikah.
Kita tidak melihat seluruh pergulatan hubungan mereka.
Kita melihat pasangan yang bahagia.
Kita tidak mengetahui seluruh dinamika di balik hubungan tersebut.
Kita melihat seseorang memiliki keluarga.
Kita tidak mengetahui perjalanan panjang yang mereka lalui untuk sampai ke sana.
Karena itu, ketika muncul pikiran:
“Semua orang sudah menikah, hanya aku yang belum.”
cobalah berhenti sejenak.
Apakah benar semua orang?
Atau Anda sedang terlalu fokus pada orang-orang yang berada pada tahap kehidupan berbeda dari Anda?
Jangan Menikah Hanya untuk Menghentikan Pertanyaan Orang
Tekanan sosial dapat membuat seseorang berpikir:
“Kalau aku menikah, semua orang akan berhenti bertanya.”
Mungkin pertanyaannya memang berubah.
Tetapi keputusan menikah memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar daripada sekadar mengakhiri rasa tidak nyaman ketika ditanya keluarga.
Menikah bukan sekadar status sosial.
Pernikahan melibatkan kehidupan sehari-hari, komunikasi, komitmen, keuangan, keluarga, konflik, pembagian tanggung jawab, dan banyak keputusan jangka panjang.
Karena itu, keputusan sebesar ini sebaiknya tidak dibuat hanya untuk membungkam pertanyaan orang lain.
Jika seseorang memilih menikah, idealnya keputusan tersebut berasal dari pertimbangan yang memang relevan bagi kehidupannya sendiri.
Bukan karena:
“Aku malu masih lajang.”
Bukan karena:
“Teman-temanku sudah menikah.”
Dan bukan semata-mata karena:
“Keluargaku terus bertanya.”
Contoh Jawaban Berdasarkan Situasi
Berikut beberapa respons yang bisa digunakan sesuai konteks.
Jika ingin menjawab dengan santai:
“Belum ketemu orang yang cocok. Untuk sekarang aku menikmati hidup dulu.”
Jika ingin terdengar dewasa:
“Aku tidak ingin terburu-buru. Pernikahan adalah keputusan besar, jadi aku ingin menjalaninya ketika memang siap.”
Jika tidak ingin membahas kehidupan pribadi:
“Aku lebih nyaman menyimpan urusan itu untuk diriku sendiri. Tapi terima kasih sudah perhatian.”
Jika menghadapi pertanyaan berulang:
“Aku tahu kamu bermaksud baik, tetapi aku kurang nyaman kalau terus ditanya soal ini.”
Jika ingin menggunakan humor:
“Kalau tanggalnya sudah ditentukan, kamu pasti jadi salah satu orang pertama yang tahu.”
Jika ingin mengalihkan pembicaraan:
“Belum ada kabar soal itu. Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?”
Jika memang belum ingin menikah:
“Untuk sekarang aku memang belum menjadikan pernikahan sebagai prioritas.”
Jika ingin menikah tetapi belum menemukan pasangan:
“Aku terbuka untuk menikah, hanya saja aku tidak ingin terburu-buru dengan orang yang tidak tepat.”
Semua jawaban tersebut memiliki satu kesamaan:
Anda tidak menyerang orang lain, tetapi juga tidak menyerahkan kendali atas kehidupan pribadi Anda kepada mereka.
Anda Tidak Harus Punya Jawaban yang Memuaskan Semua Orang
Ada satu kenyataan yang terkadang sulit diterima:
Anda tidak akan pernah bisa membuat semua orang puas dengan keputusan hidup Anda.
Ketika masih lajang, orang mungkin bertanya:
“Kapan menikah?”
Ketika menikah:
“Kapan punya anak?”
Ketika punya satu anak:
“Kapan tambah lagi?”
Ketika punya anak kedua:
“Tidak mau punya anak ketiga?”
Jika hidup Anda terus mengikuti pertanyaan orang lain, Anda bisa menghabiskan banyak waktu mengejar standar yang selalu berubah.
Karena itu, penting untuk mengetahui:
Apa yang sebenarnya Anda inginkan dari hidup Anda sendiri?
Bukan:
“Apa yang akan membuat orang lain berhenti bertanya?”
Tetapi:
“Kehidupan seperti apa yang ingin aku bangun?”
Pertanyaan tersebut jauh lebih penting.
Pada Akhirnya, Status Lajang Bukan Sebuah Kegagalan
Menjadi lajang adalah sebuah keadaan, bukan diagnosis.
Belum menikah bukan berarti seseorang kurang berharga.
Belum mempunyai pasangan bukan berarti seseorang tertinggal.
Dan memiliki pasangan juga bukan jaminan bahwa seseorang akan otomatis merasa bahagia.
Setiap orang mempunyai perjalanan hidup yang berbeda.
Karena itu, ketika seseorang bertanya:
“Mengapa kamu masih lajang?”
Anda tidak perlu panik.
Anda tidak perlu merasa malu.
Anda tidak perlu membuktikan bahwa hidup Anda baik-baik saja.
Anda cukup memilih respons yang sesuai dengan kenyamanan Anda.
Bisa dengan jawaban singkat.
Bisa dengan humor.
Bisa dengan menjelaskan prioritas.
Bisa dengan menetapkan batasan.
Bisa juga dengan mengalihkan pembicaraan.
Yang paling penting adalah memahami bahwa pertanyaan orang lain tidak harus berubah menjadi keraguan terhadap diri sendiri.
Dan ketika seseorang bertanya:
“Kapan kamu menikah?”
mungkin jawaban paling sehat bukanlah mencari tanggal yang bisa memuaskan mereka.
Melainkan menyadari bahwa:
hidup Anda bukan perlombaan, dan pernikahan bukan tenggat waktu yang ditentukan oleh orang lain.
Anda boleh menjalani hidup dengan ritme Anda sendiri—selama keputusan yang Anda ambil benar-benar Anda pahami dan Anda jalani dengan sadar.