JawaPos.com - Media sosial sudah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan remaja. Melalui Instagram, TikTok, YouTube, X, dan berbagai platform lainnya, remaja dapat berkomunikasi, mencari hiburan, membangun pertemanan, mengikuti tren, bahkan mengekspresikan dirinya.
Di satu sisi, media sosial memiliki banyak manfaat. Remaja dapat menemukan komunitas yang sesuai dengan minatnya, mendapatkan informasi, mengembangkan kreativitas, serta tetap terhubung dengan orang-orang yang penting bagi mereka.
Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, terdapat sejumlah dampak psikologis yang sering kali tidak terlihat secara langsung.
Masalahnya, dampak media sosial terhadap kesehatan mental tidak selalu muncul dalam bentuk yang dramatis. Kadang-kadang pengaruhnya justru muncul secara perlahan: tidur semakin larut, merasa kurang percaya diri, sulit berkonsentrasi, terus membandingkan diri dengan orang lain, atau merasa gelisah ketika tidak membuka ponsel.
Menurut perspektif psikologi, pola penggunaan media sosial dan bagaimana seseorang merespons konten di dalamnya dapat berhubungan dengan kesejahteraan psikologis. Karena itu, bukan hanya pertanyaan "berapa lama remaja menggunakan media sosial?", tetapi juga "untuk apa media sosial digunakan dan bagaimana pengalaman yang diperoleh dari sana?"
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (21/9), terdapat enam dampak media sosial yang sering diabaikan tetapi dapat berkaitan dengan kesehatan mental remaja.
1. Kebiasaan Membandingkan Diri dengan Kehidupan Orang Lain
Salah satu dampak media sosial yang paling sering dianggap sepele adalah kebiasaan membandingkan diri.
Remaja berada pada tahap perkembangan ketika identitas, penerimaan sosial, dan pandangan terhadap diri sendiri sedang berkembang. Pada masa ini, pendapat teman sebaya dan lingkungan sosial dapat terasa sangat penting.
Media sosial kemudian menyediakan ribuan "standar" untuk dibandingkan setiap hari.
Seseorang melihat teman yang tampak lebih populer. Ada yang memamerkan prestasi. Ada yang terlihat memiliki tubuh ideal. Ada yang sering bepergian. Ada yang tampak mempunyai banyak teman. Ada pula yang terlihat selalu bahagia.
Masalahnya, media sosial biasanya hanya memperlihatkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Foto yang terlihat sempurna mungkin merupakan hasil pemilihan foto terbaik, pengaturan pencahayaan, penyuntingan, atau sekadar momen singkat yang menyenangkan. Namun, otak remaja yang melihatnya dapat membandingkan momen terbaik orang lain dengan kehidupan sehari-harinya secara keseluruhan.
Dalam psikologi, proses ini sering dikaitkan dengan social comparison atau perbandingan sosial.
Perbandingan sosial tidak selalu buruk. Membandingkan diri dengan orang lain terkadang dapat menjadi sumber motivasi. Namun, jika dilakukan terus-menerus dan membuat seseorang merasa dirinya tidak cukup baik, dampaknya dapat berbeda.
Remaja mungkin mulai berpikir:
"Kenapa hidupku tidak seperti dia?"
"Kenapa aku tidak secantik itu?"
"Kenapa teman-temanku lebih sukses?"
"Kenapa tidak ada yang menyukai postinganku?"
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini, jika terus berulang, dapat memengaruhi cara seseorang melihat dirinya sendiri.
Dampaknya tidak selalu langsung terlihat
Remaja yang sering membandingkan dirinya dengan orang lain mungkin tidak langsung mengatakan bahwa dirinya mengalami masalah kesehatan mental.
Sebaliknya, perubahan dapat muncul melalui perilaku sehari-hari.
Ia mungkin menjadi lebih sering memeriksa penampilan di depan cermin, menghapus foto karena merasa tidak cukup menarik, mengejar validasi melalui jumlah likes, atau merasa kecewa ketika unggahannya tidak mendapatkan respons seperti yang diharapkan.
Karena itu, orang tua dan orang terdekat perlu memahami bahwa masalahnya bukan sekadar "terlalu sering bermain media sosial".
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana media sosial memengaruhi cara remaja menilai dirinya.
2. Munculnya Kebutuhan untuk Mendapatkan Validasi
Media sosial juga dapat membuat perhatian dan penerimaan sosial terasa seperti sesuatu yang dapat diukur.
Jumlah likes, komentar, views, followers, dan respons lainnya dapat menjadi bentuk umpan balik sosial yang mudah dilihat.
Bagi sebagian remaja, angka-angka tersebut perlahan dapat terasa seperti ukuran nilai diri.
Ketika unggahan mendapatkan banyak respons, mereka merasa senang.
Ketika respons sedikit, mereka bisa merasa kecewa.
Pada titik tertentu, aktivitas bermedia sosial bukan lagi sekadar berbagi pengalaman, tetapi menjadi usaha untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.
"Apakah orang menyukaiku?"
"Apakah aku cukup menarik?"
"Apakah aku dianggap keren?"
Pertanyaan tersebut dapat menjadi semakin kuat ketika remaja sangat bergantung pada respons dari lingkungan sosialnya.
Dalam perspektif psikologi, kebutuhan untuk diterima oleh kelompok sebaya merupakan hal yang wajar selama masa remaja. Namun, ketika harga diri terlalu bergantung pada validasi eksternal, seseorang dapat menjadi lebih rentan terhadap perubahan respons sosial.
Hari ini mendapatkan banyak perhatian, besok tidak.
Hari ini mendapatkan pujian, besok mendapatkan komentar negatif.
Perubahan tersebut dapat memengaruhi suasana hati.
Ketika angka mulai menentukan perasaan
Bayangkan seorang remaja mengunggah foto.
Ia kemudian membuka aplikasi setiap beberapa menit untuk melihat jumlah likes.
Lima menit kemudian tidak bertambah banyak.
Ia mulai bertanya-tanya apakah fotonya buruk.
Kemudian ia menghapus unggahan tersebut.
Perilaku semacam ini mungkin terlihat kecil. Namun, jika menjadi pola berulang, media sosial dapat mengambil peran yang terlalu besar dalam menentukan bagaimana seseorang merasa tentang dirinya sendiri.
Karena itu, penting bagi remaja untuk memahami bahwa angka di media sosial bukan ukuran objektif tentang nilai dirinya.
Jumlah followers bukan ukuran kualitas seseorang.
Jumlah likes bukan ukuran harga diri.
Komentar orang lain juga bukan definisi lengkap tentang siapa dirinya.
3. Mengganggu Kualitas Tidur Tanpa Disadari
Dampak berikutnya sering dianggap sebagai masalah sederhana: tidur terlalu malam karena bermain ponsel.
Padahal, tidur memiliki hubungan yang sangat erat dengan kesehatan psikologis.
Remaja membutuhkan tidur yang cukup untuk mendukung fungsi fisik, kognitif, dan emosional. Ketika penggunaan media sosial membuat waktu tidur terus tertunda, masalahnya bukan hanya rasa kantuk keesokan harinya.
Kurang tidur dapat membuat seseorang lebih sulit berkonsentrasi, lebih mudah lelah, dan lebih sulit mengelola emosi.
Media sosial dapat mengganggu tidur melalui beberapa mekanisme.
Pertama, remaja mungkin terus menggulir konten karena merasa selalu ada sesuatu yang baru.
Kedua, notifikasi dapat membuat seseorang merasa perlu memeriksa ponsel.
Ketiga, percakapan atau konten yang menarik secara emosional dapat membuat pikiran tetap aktif ketika seharusnya mulai beristirahat.
Keempat, kebiasaan membawa ponsel ke tempat tidur membuat batas antara waktu aktif dan waktu tidur menjadi semakin kabur.
"Sebentar lagi" yang berubah menjadi satu jam
Salah satu jebakan media sosial adalah sulitnya memperkirakan waktu ketika sedang melakukan scrolling.
Awalnya seseorang hanya ingin melihat satu video.
Kemudian muncul video berikutnya.
Lalu video berikutnya lagi.
Tanpa terasa, 30 menit berlalu.
Kemudian satu jam.
Masalahnya bukan hanya durasi tersebut, tetapi jika kebiasaan ini dilakukan hampir setiap malam.
Tidur yang semakin larut dapat menciptakan siklus yang tidak sehat.
Kurang tidur dapat membuat seseorang lebih mudah lelah dan emosional. Ketika lelah, kemampuan mengendalikan penggunaan media sosial juga bisa menurun. Akhirnya, seseorang kembali tidur larut pada malam berikutnya.
Karena itu, menjaga kesehatan mental remaja juga berarti memperhatikan kebiasaan tidur dan penggunaan perangkat sebelum tidur.
4. Meningkatkan Paparan terhadap Cyberbullying dan Tekanan Sosial
Di dunia nyata, seseorang mungkin dapat meninggalkan lingkungan yang membuatnya tidak nyaman dengan pulang ke rumah.
Di dunia digital, batas tersebut jauh lebih sulit.
Komentar negatif, ejekan, penghinaan, atau tindakan mempermalukan seseorang dapat terus muncul melalui pesan, grup percakapan, komentar, maupun unggahan.
Inilah salah satu alasan cyberbullying menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.
Cyberbullying tidak selalu berbentuk ancaman terang-terangan.
Kadang bentuknya berupa:
mengejek penampilan;
menyebarkan foto tanpa izin;
membuat akun palsu untuk mempermalukan seseorang;
mengucilkan seseorang dari grup;
menyebarkan rumor;
memberikan komentar menghina secara berulang;
mempermalukan seseorang di depan banyak orang secara online.
Bagi remaja, pengalaman tersebut dapat terasa sangat berat karena terjadi di hadapan audiens yang luas.
Yang awalnya merupakan masalah antara beberapa orang dapat berkembang menjadi sesuatu yang diketahui banyak orang.
Mengapa cyberbullying bisa terasa begitu berat?
Salah satu karakteristik media sosial adalah jejak digital.
Komentar atau konten yang menyakitkan dapat dilihat berulang kali. Bahkan ketika pelaku sudah berhenti, korban mungkin masih dapat mengingat pengalaman tersebut atau melihat konten yang sama.
Remaja yang mengalami perundungan digital dapat menunjukkan perubahan perilaku, misalnya menjadi lebih menarik diri, enggan membuka ponsel, takut datang ke sekolah, atau mengalami perubahan suasana hati.
Namun, perubahan tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan mental tertentu.
Yang penting adalah memperhatikan perubahan yang menetap dan tingkat dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Ketika seorang remaja menjadi korban cyberbullying, respons yang dibutuhkan bukan sekadar mengatakan, "Jangan dipikirkan."
Pengalaman tersebut perlu didengarkan dan ditanggapi dengan serius.
5. Membuat Otak Terbiasa dengan Stimulasi Cepat
Media sosial modern dirancang untuk memberikan aliran informasi yang cepat.
Satu video selesai, video lain muncul.
Satu unggahan selesai dibaca, muncul unggahan berikutnya.
Ada notifikasi, pesan, komentar, video pendek, meme, berita, dan berbagai bentuk konten lainnya.
Pola tersebut membuat seseorang terus menerima rangsangan baru.
Bagi remaja yang sedang mengembangkan kemampuan mengatur perhatian dan impuls, lingkungan digital yang penuh stimulasi dapat menjadi tantangan tersendiri.
Bukan berarti media sosial otomatis "merusak otak" atau membuat seseorang kehilangan kemampuan berkonsentrasi. Pernyataan semacam itu terlalu sederhana.
Namun, kebiasaan berpindah perhatian secara cepat dapat membuat aktivitas yang membutuhkan konsentrasi panjang terasa kurang menarik.
Contohnya adalah membaca buku, mengerjakan tugas, belajar, atau mendengarkan penjelasan dalam waktu lama.
Mengapa belajar terasa membosankan?
Seorang remaja mungkin terbiasa mendapatkan sesuatu yang menarik hanya dalam beberapa detik melalui video pendek.
Kemudian ia duduk untuk belajar matematika.
Tidak ada musik.
Tidak ada pergantian gambar.
Tidak ada notifikasi.
Tidak ada hadiah instan.
Tentu saja belajar terasa jauh lebih lambat.
Hal ini bukan berarti media sosial menjadi satu-satunya penyebab masalah konsentrasi. Banyak faktor lain yang dapat memengaruhi perhatian, termasuk tidur, stres, lingkungan belajar, kesehatan, dan kondisi psikologis.
Namun, kebiasaan menggunakan media sosial secara terus-menerus dapat menjadi salah satu faktor yang layak diperhatikan.
Karena itu, salah satu keterampilan penting bagi remaja bukan hanya belajar menggunakan media sosial, tetapi juga belajar meletakkan ponsel ketika sedang melakukan aktivitas yang membutuhkan perhatian penuh.
6. Menciptakan FOMO dan Perasaan Selalu Tertinggal
FOMO atau fear of missing out merupakan perasaan takut tertinggal dari pengalaman yang sedang dilakukan orang lain.
Media sosial dapat memperkuat perasaan ini karena seseorang dapat melihat aktivitas orang lain hampir sepanjang waktu.
Teman pergi bersama.
Ada acara yang tidak diikuti.
Seseorang sedang menghadiri konser.
Teman-teman sedang berkumpul.
Ada tren baru yang sedang ramai.
Ada percakapan yang tidak diketahui.
Semua itu dapat membuat seseorang berpikir:
"Aku ketinggalan sesuatu."
"Kenapa aku tidak diajak?"
"Jangan-jangan mereka lebih dekat satu sama lain."
"Apa yang terjadi ketika aku tidak online?"
Akibatnya, seseorang merasa harus terus memeriksa media sosial agar tidak kehilangan informasi.
Ironisnya, semakin takut ketinggalan, semakin sering seseorang membuka media sosial.
Semakin sering membuka media sosial, semakin banyak aktivitas orang lain yang dilihat.
Semakin banyak aktivitas orang lain yang dilihat, semakin besar kemungkinan muncul perasaan bahwa dirinya tertinggal.
Terbentuklah sebuah siklus.
Kehidupan orang lain terlihat lebih ramai
Media sosial juga dapat menciptakan ilusi bahwa orang lain selalu melakukan sesuatu yang menyenangkan.
Padahal, seseorang biasanya tidak mengunggah momen ketika dirinya sedang bosan, kesepian, gagal, atau hanya duduk diam di rumah.
Akibatnya, remaja dapat membandingkan kehidupan nyata mereka dengan "highlight" kehidupan orang lain.
Padahal keduanya bukan sesuatu yang setara untuk dibandingkan.
Tidak pergi ke suatu acara bukan berarti hidup seseorang gagal.
Tidak memiliki banyak teman bukan berarti seseorang tidak berharga.
Tidak mengikuti semua tren juga bukan berarti seseorang tertinggal.
Remaja perlu memiliki ruang untuk memahami bahwa kehidupan tidak harus selalu terlihat menarik untuk menjadi kehidupan yang bermakna.
Jadi, Apakah Media Sosial Selalu Buruk bagi Remaja?
Tidak.
Media sosial bukan musuh yang harus sepenuhnya dihindari.
Platform digital juga dapat memberikan banyak manfaat bagi perkembangan remaja.
Remaja dapat menemukan komunitas yang mendukung, memperoleh informasi, mengekspresikan kreativitas, belajar keterampilan baru, dan mempertahankan hubungan sosial.
Yang perlu diperhatikan adalah pola penggunaannya.
Dua orang dapat menghabiskan waktu yang sama di media sosial tetapi mendapatkan pengalaman psikologis yang berbeda.
Seseorang mungkin menggunakan media sosial untuk berbicara dengan teman dan mencari informasi yang bermanfaat.
Sementara orang lain mungkin menggunakannya sambil terus membandingkan diri, membaca komentar negatif, dan merasa tidak cukup baik.
Karena itu, durasi penggunaan saja tidak selalu cukup untuk menjelaskan dampaknya.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
"Apa yang terjadi pada diriku setelah menggunakan media sosial?"
Apakah merasa lebih terhubung?
Lebih terhibur?
Mendapatkan informasi?
Atau justru merasa cemas, rendah diri, marah, iri, kesepian, dan sulit berhenti?
Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat membantu seseorang memahami hubungan antara dirinya dan media sosial.
Bagaimana Orang Tua Dapat Membantu?
Pendekatan yang terlalu keras belum tentu menjadi solusi.
Jika orang tua hanya berkata, "Berhenti main HP!" tanpa memahami alasan anak menggunakan media sosial, remaja mungkin justru menjadi lebih tertutup.
Pendekatan yang lebih konstruktif adalah membangun percakapan.
Orang tua dapat bertanya:
"Apa yang biasanya kamu lihat di media sosial?"
"Ada nggak konten yang membuat kamu merasa tidak nyaman?"
"Pernah merasa harus terlihat sempurna di media sosial?"
"Bagaimana perasaanmu setelah scrolling lama?"
Pertanyaan semacam ini membuka ruang bagi remaja untuk berbicara tanpa langsung merasa dihakimi.
Selain itu, keluarga dapat membuat kebiasaan bersama seperti tidak menggunakan ponsel saat makan, mengurangi penggunaan perangkat menjelang tidur, atau menyediakan waktu untuk aktivitas offline.
Yang tidak kalah penting, orang tua juga perlu memberikan contoh.
Sulit meminta remaja mengurangi penggunaan ponsel jika orang dewasa di sekitarnya sendiri terus memegang ponsel sepanjang waktu.
Kapan Penggunaan Media Sosial Perlu Mendapat Perhatian Lebih Serius?
Tidak semua perubahan suasana hati berarti ada gangguan psikologis.
Namun, ada beberapa tanda yang sebaiknya tidak diabaikan, terutama jika berlangsung terus-menerus dan mengganggu kehidupan sehari-hari.
Misalnya:
perubahan tidur yang cukup signifikan;
menarik diri dari keluarga atau teman;
kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai;
terus-menerus merasa tidak berharga;
kecemasan yang semakin mengganggu;
penurunan fungsi belajar atau aktivitas sehari-hari;
mengalami perundungan online;
merasa tidak mampu mengendalikan penggunaan media sosial;
atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri.
Jika muncul tanda-tanda tersebut, percakapan dengan psikolog, konselor, dokter, atau tenaga profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat.
Terutama ketika masalah sudah mengganggu sekolah, hubungan sosial, tidur, atau kehidupan sehari-hari.
Penutup
Media sosial bukan sekadar tempat untuk melihat video, mengunggah foto, atau berkomunikasi dengan teman.
Bagi remaja, media sosial juga dapat menjadi bagian dari lingkungan sosial tempat mereka membangun identitas, mencari penerimaan, dan memahami posisi dirinya di antara orang lain.
Karena itu, dampaknya terhadap kesehatan mental tidak selalu terlihat secara langsung.
Kebiasaan membandingkan diri, mencari validasi, tidur terlalu larut, mengalami cyberbullying, terbiasa dengan stimulasi cepat, hingga FOMO dapat muncul secara perlahan.
Yang penting bukan sekadar melarang remaja menggunakan media sosial, tetapi membantu mereka membangun hubungan yang lebih sehat dengan dunia digital.
Pada akhirnya, teknologi seharusnya menjadi alat yang digunakan manusia, bukan sesuatu yang menentukan nilai diri, suasana hati, atau harga diri seseorang.
Dan bagi remaja, kemampuan untuk mengatakan "cukup untuk hari ini", menutup layar, dan kembali menjalani kehidupan nyata merupakan salah satu bentuk keterampilan menjaga kesehatan mental yang tidak kalah penting.