JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa sudah belajar dari hubungan sebelumnya, tetapi ketika menjalin hubungan baru, kamu justru kembali menemukan pola yang hampir sama?
Mungkin sebelumnya kamu pernah bersama seseorang yang sulit memberikan kepastian. Setelah hubungan itu berakhir, kamu berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Namun beberapa waktu kemudian, kamu bertemu seseorang yang berbeda secara penampilan dan kepribadian, tetapi perlahan menunjukkan pola yang ternyata tidak jauh berbeda.
Dia membuatmu bingung. Kadang begitu perhatian, tetapi di waktu lain menghilang. Kadang membuatmu merasa sangat dicintai, tetapi kemudian membuatmu mempertanyakan nilai dirimu sendiri.
Situasi seperti ini dapat membuat seseorang bertanya, "Mengapa saya selalu mendapatkan pasangan seperti ini?"
Dalam psikologi, pilihan pasangan tidak selalu terjadi secara sepenuhnya rasional. Ketertarikan, pengalaman masa lalu, pola keterikatan, kebutuhan emosional, keyakinan tentang cinta, hingga cara seseorang memandang dirinya sendiri dapat memengaruhi siapa yang terasa menarik baginya.
Artinya, berulang kali memilih pasangan yang tidak sehat bukan selalu berarti seseorang "bodoh dalam memilih pasangan". Bisa jadi ada pola psikologis tertentu yang belum disadari.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (21/9), terdapat enam alasan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang berkali-kali terjebak dalam pola hubungan yang sama.
1. Kamu Menganggap Sesuatu yang Familiar sebagai Sesuatu yang Nyaman
Salah satu alasan seseorang terus tertarik pada tipe pasangan tertentu adalah karena pola tersebut terasa familiar.
Manusia cenderung lebih mudah mengenali dan memahami sesuatu yang sudah pernah dialaminya. Dalam hubungan, pengalaman masa lalu dapat membentuk gambaran mengenai seperti apa kedekatan, perhatian, konflik, dan kasih sayang seharusnya terasa.
Misalnya, seseorang yang sejak dulu terbiasa mendapatkan perhatian yang tidak konsisten mungkin justru merasa sangat tertarik kepada pasangan yang memberikan perhatian secara naik turun.
Ketika pasangan tersebut memberikan perhatian, perasaan yang muncul bisa sangat intens.
Namun ketika pasangan mulai menjauh, muncul kecemasan, kerinduan, dan keinginan untuk mendapatkan perhatian itu kembali.
Siklus tersebut kemudian terasa seperti "chemistry".
Padahal, intensitas emosi tidak selalu sama dengan kualitas hubungan.
Inilah salah satu alasan mengapa hubungan yang tenang terkadang justru terasa membosankan bagi seseorang yang terbiasa dengan hubungan penuh ketidakpastian.
Dia mungkin berkata:
"Entah kenapa saya tidak merasakan chemistry."
Padahal, bisa saja yang sebenarnya hilang bukan chemistry, melainkan drama emosional yang selama ini secara tidak sadar dianggap sebagai bagian dari cinta.
Penting untuk membedakan antara rasa familiar dan rasa aman.
Sesuatu bisa terasa familiar tanpa benar-benar sehat.
Karena itu, ketika kamu terus memilih pasangan dengan pola yang sama, cobalah bertanya:
"Apakah saya benar-benar nyaman dengan orang ini, atau saya hanya terbiasa dengan pola yang dia berikan?"
Pertanyaan tersebut dapat membantu seseorang melihat hubungan dari perspektif yang berbeda.
2. Pola Attachment dari Masa Lalu Bisa Memengaruhi Cara Kamu Menjalin Hubungan
Dalam psikologi, teori attachment atau keterikatan menjelaskan bagaimana pengalaman relasional seseorang dapat berhubungan dengan cara ia membangun kedekatan dengan orang lain.
Pengalaman bersama pengasuh utama dan hubungan-hubungan penting sepanjang hidup dapat ikut membentuk ekspektasi seseorang mengenai kedekatan dan keamanan emosional.
Seseorang yang cenderung memiliki pola keterikatan cemas, misalnya, mungkin sangat membutuhkan kepastian dalam hubungan.
Ketika pasangan terlambat membalas pesan, ia bisa mulai bertanya-tanya:
"Apakah dia mulai berubah?"
"Apakah dia sudah tidak menyukaiku?"
"Apakah ada orang lain?"
Sebaliknya, orang dengan kecenderungan menghindar mungkin merasa tidak nyaman ketika hubungan menjadi terlalu dekat secara emosional.
Menariknya, dua pola tersebut terkadang dapat bertemu dalam sebuah hubungan.
Satu pihak mengejar kedekatan, sementara pihak lainnya menarik diri.
Semakin satu orang mengejar, semakin yang lain menjauh.
Semakin yang satu menjauh, semakin yang lain merasa harus mengejar.
Akhirnya terbentuk sebuah siklus yang melelahkan.
Masalahnya, pola seperti ini dapat terasa sangat intens sehingga disalahartikan sebagai cinta yang besar.
Padahal hubungan yang sehat tidak seharusnya membuat seseorang terus-menerus berada dalam kondisi mengejar dan menghindar.
Memahami pola attachment bukan berarti memberikan label permanen kepada seseorang.
Pola keterikatan dapat berubah dan dipengaruhi oleh pengalaman hubungan berikutnya. Kesadaran terhadap pola tersebut justru dapat menjadi langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih sehat.
3. Kamu Terlalu Fokus pada Potensi Seseorang, Bukan Perilakunya Saat Ini
Ada orang yang jatuh cinta bukan kepada siapa pasangannya sekarang, tetapi kepada siapa yang mereka bayangkan akan menjadi pasangannya suatu hari nanti.
Misalnya, seseorang mengetahui bahwa pasangannya sering tidak konsisten.
Namun dia berpikir:
"Dia sebenarnya baik."
"Dia hanya sedang banyak masalah."
"Kalau sudah mengenalku lebih dalam, dia pasti berubah."
"Dia sebenarnya sayang, hanya belum bisa menunjukkannya."
Harapan seperti ini dapat membuat seseorang bertahan terlalu lama dalam hubungan yang tidak memenuhi kebutuhan dasarnya.
Tentu saja manusia bisa berubah.
Namun ada perbedaan antara mendukung seseorang dalam proses pertumbuhan dan menjalin hubungan dengan seseorang berdasarkan harapan bahwa dia suatu hari nanti akan berubah menjadi pasangan ideal.
Ketika seseorang terlalu fokus pada potensi, perilaku nyata pasangannya bisa diabaikan.
Padahal dalam menilai sebuah hubungan, perilaku yang konsisten biasanya jauh lebih informatif daripada janji atau kemungkinan di masa depan.
Seseorang mungkin mengatakan bahwa dia akan menjadi lebih komunikatif.
Namun pertanyaan yang lebih penting adalah:
"Apakah selama ini dia menunjukkan usaha yang konsisten untuk memperbaiki komunikasi?"
Seseorang mungkin mengatakan bahwa dia serius.
Tetapi apakah tindakannya menunjukkan keseriusan?
Inilah alasan pentingnya melihat pasangan berdasarkan pola perilaku, bukan hanya kata-kata.
Jangan hanya bertanya:
"Apakah dia punya potensi menjadi pasangan yang baik?"
Cobalah bertanya:
"Bagaimana dia memperlakukanku sekarang?"
4. Kamu Memiliki Keyakinan Tertentu tentang Cinta yang Justru Membuat Hubungan Tidak Sehat Terlihat Normal
Setiap orang memiliki keyakinan tentang cinta.
Sebagian orang tumbuh dengan keyakinan bahwa cinta harus diperjuangkan mati-matian.
Sebagian lainnya percaya bahwa pasangan yang benar akan selalu mengetahui kebutuhan kita tanpa harus diberi tahu.
Ada pula yang menganggap kecemburuan sebagai bukti cinta.
Keyakinan seperti ini dapat memengaruhi cara seseorang menilai sebuah hubungan.
Misalnya, seseorang mungkin menganggap pasangan yang posesif sebagai pasangan yang sangat mencintainya.
Padahal perhatian dan kontrol merupakan dua hal yang berbeda.
Begitu pula dengan konflik.
Hubungan yang sehat tetap dapat mengalami konflik. Namun konflik yang terus-menerus, penghinaan, manipulasi, ancaman, atau kontrol bukan sesuatu yang perlu dinormalisasi hanya karena dianggap sebagai "bumbu hubungan".
Keyakinan tentang cinta sering kali terbentuk dari keluarga, lingkungan sosial, pengalaman pribadi, budaya, serta hubungan sebelumnya.
Karena itu, ketika seseorang terus memilih pasangan yang sama-sama bermasalah, mungkin bukan hanya orang yang perlu dievaluasi.
Definisi tentang cinta yang dia gunakan juga perlu diperiksa.
Cobalah bertanya:
"Selama ini, apa yang saya anggap sebagai tanda cinta?"
"Apakah saya menganggap kecemburuan sebagai perhatian?"
"Apakah saya menganggap mengejar seseorang yang tidak konsisten sebagai bentuk perjuangan?"
"Apakah saya percaya bahwa hubungan yang sehat pasti terasa sangat intens?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu membedakan antara cinta yang sehat dan pola emosional yang hanya terasa familiar.
5. Kamu Mengabaikan Red Flags karena Terlalu Terbawa Perasaan
Ketika seseorang sedang jatuh cinta, penilaian terhadap pasangan bisa menjadi kurang objektif.
Bukan berarti cinta membuat seseorang tidak rasional sepenuhnya. Namun emosi yang kuat dapat membuat seseorang memberikan perhatian lebih besar kepada hal-hal positif dan mengecilkan masalah yang sebenarnya penting.
Contohnya, seseorang sudah melihat bahwa calon pasangannya sering berbohong.
Tetapi dia berpikir:
"Semua orang pasti pernah berbohong."
Atau pasangan sering merendahkan orang lain.
Dia kemudian berkata:
"Dia cuma bercanda."
Atau pasangan memperlakukan mantannya dengan buruk.
Dia berpikir:
"Mungkin mantannya memang bermasalah."
Satu per satu tanda tersebut akhirnya dijelaskan, dibenarkan, atau diabaikan.
Sampai akhirnya seseorang menyadari bahwa masalah yang dulu dianggap kecil ternyata merupakan bagian dari pola perilaku.
Inilah mengapa penting untuk tidak hanya bertanya apakah kamu menyukai seseorang.
Tanyakan juga:
"Bagaimana dia memperlakukan orang lain?"
"Bagaimana dia menghadapi perbedaan pendapat?"
"Apakah dia mampu meminta maaf?"
"Apakah dia menghargai batasan?"
"Apakah perkataan dan tindakannya konsisten?"
"Bagaimana reaksinya ketika tidak mendapatkan apa yang dia inginkan?"
Karakter seseorang sering kali terlihat bukan hanya ketika semuanya berjalan sesuai keinginannya, tetapi juga ketika menghadapi frustrasi, konflik, dan batasan.
Namun, red flag juga perlu dilihat secara proporsional. Satu kesalahan tidak otomatis menentukan keseluruhan karakter seseorang. Yang lebih penting adalah melihat pola, frekuensi, konteks, dan respons terhadap masalah.
6. Kamu Belum Benar-Benar Mengenali Kebutuhan dan Batasan Dirimu Sendiri
Alasan terakhir mungkin merupakan salah satu yang paling penting.
Sulit memilih pasangan yang sesuai jika seseorang sendiri belum memahami apa yang sebenarnya dia butuhkan dalam hubungan.
Sebagian orang terlalu fokus pada pertanyaan:
"Apakah dia menyukaiku?"
Padahal pertanyaan yang tidak kalah penting adalah:
"Apakah aku menyukai cara dia memperlakukanku?"
Ada perbedaan besar antara keduanya.
Ketika seseorang terlalu membutuhkan validasi dari pasangan, perhatian kecil dari orang lain dapat terasa sangat berharga.
Akibatnya, standar terhadap hubungan bisa menjadi kabur.
Dia mungkin lebih sibuk berusaha agar dirinya dipilih daripada mempertimbangkan apakah hubungan tersebut benar-benar cocok untuk dirinya.
Di sinilah pentingnya mengetahui batasan.
Apa yang tidak bisa kamu toleransi?
Apa kebutuhan emosionalmu?
Bagaimana kamu ingin menyelesaikan konflik?
Seberapa penting komunikasi?
Apa yang kamu harapkan dari komitmen?
Apa yang membuatmu merasa dihargai?
Dan yang paling penting:
"Hubungan seperti apa yang sebenarnya ingin saya bangun?"
Tanpa kejelasan tersebut, seseorang dapat dengan mudah menerima hubungan apa pun yang memberikan perhatian, meskipun hubungan itu tidak sesuai dengan kebutuhan jangka panjangnya.
Mengapa Pola yang Sama Bisa Terulang?
Ketika seseorang mengalami hubungan yang gagal berkali-kali, sangat mudah untuk berpikir:
"Berarti saya selalu memilih orang yang salah."
Namun melihat masalah hanya dari sisi "siapa yang salah" sering kali tidak membantu.
Pertanyaan yang lebih berguna adalah:
"Pola apa yang terus berulang dalam hubungan saya?"
Perhatikan beberapa hal.
Apakah kamu selalu tertarik kepada orang yang sulit memberikan kepastian?
Apakah kamu selalu menjadi pihak yang lebih banyak berusaha?
Apakah kamu cenderung mengabaikan masalah pada awal hubungan?
Apakah kamu sering berharap pasangan berubah?
Apakah kamu takut meninggalkan hubungan karena khawatir tidak akan menemukan orang lain?
Apakah kamu merasa harus mendapatkan cinta seseorang agar merasa cukup berharga?
Jika beberapa pertanyaan tersebut terasa relevan, mungkin masalahnya bukan sekadar menemukan "orang yang salah".
Mungkin ada pola pemilihan pasangan yang perlu dipahami.
Dan pola bukanlah takdir.
Pola dapat disadari.
Pola dapat dievaluasi.
Dan dalam banyak kasus, pola juga dapat diubah.
Memilih Pasangan Bukan Hanya tentang Menemukan Orang yang Tepat
Banyak orang membayangkan bahwa solusi dari hubungan yang buruk adalah menemukan orang yang tepat.
Padahal, membangun hubungan sehat juga membutuhkan kemampuan mengenali diri sendiri.
Kamu perlu mengetahui kebutuhanmu.
Kamu perlu mengenali batasanmu.
Kamu perlu belajar membedakan ketertarikan dengan kompatibilitas.
Kamu juga perlu belajar bahwa perhatian tidak selalu berarti kecocokan.
Seseorang bisa sangat menarik, tetapi tidak cocok dengan nilai dan kebutuhanmu.
Seseorang bisa sangat membuatmu berdebar, tetapi tidak mampu memberikan hubungan yang stabil.
Sebaliknya, seseorang yang membuatmu merasa aman mungkin pada awalnya tidak memberikan sensasi emosional yang sama kuatnya.
Karena itu, jangan hanya mencari orang yang membuat jantungmu berdebar.
Perhatikan juga apakah kamu bisa menjadi dirimu sendiri bersamanya.
Apakah kamu merasa dihargai?
Apakah kamu bisa menyampaikan kebutuhan tanpa takut dihukum secara emosional?
Apakah konflik dapat dibicarakan?
Apakah ada rasa saling menghormati?
Apakah hubungan tersebut membuat kedua orang memiliki ruang untuk berkembang?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu dapat membantu menggeser fokus dari "Apakah dia menginginkanku?" menjadi "Apakah hubungan ini sehat untuk kami berdua?"
Penutup
Berkali-kali memilih pasangan yang tidak cocok bukan berarti kamu ditakdirkan untuk selalu mendapatkan hubungan yang buruk.
Sering kali, pilihan pasangan dipengaruhi oleh berbagai faktor psikologis yang kompleks: pengalaman masa lalu, pola keterikatan, keyakinan tentang cinta, kebutuhan emosional, tingkat kepercayaan diri, hingga cara seseorang memahami batasan dalam hubungan.
Enam alasan di atas bukan diagnosis dan tidak berarti setiap orang yang mengalami hubungan berulang memiliki masalah psikologis tertentu.
Namun, memahami pola dapat membantu seseorang membuat pilihan yang lebih sadar.
Mungkin pertanyaan terpenting bukan:
"Mengapa saya selalu mendapatkan pasangan yang salah?"
Melainkan:
"Apa yang selama ini membuat saya tertarik, bertahan, dan kembali kepada pola hubungan yang sama?"
Karena ketika kamu mulai memahami pola tersebut, kamu tidak lagi hanya mencari seseorang yang membuatmu jatuh cinta.
Kamu mulai belajar memilih hubungan yang juga memberi ruang bagi rasa aman, penghargaan, komunikasi, batasan yang sehat, dan pertumbuhan bersama.
Dan terkadang, perubahan terbesar dalam kehidupan percintaan bukan terjadi ketika kita akhirnya menemukan orang yang berbeda.
Perubahan itu dimulai ketika kita mulai memahami diri sendiri dengan cara yang berbeda.