← Beranda
7 Hal Penting yang Harus Dilakukan Saat Kamu Berada dalam Situasi Tidak Tahu Harus Berbuat Apa
Irfan Ferdiansyah• Rabu, 23 September 2026 | 02.44 WIB
seseorang yang kebingungan dalam situasi tak menentu./Magnific/syda_productions

JawaPos.com - Ada masa dalam hidup ketika kita merasa seperti sedang berdiri di tengah persimpangan jalan.

Kita tidak tahu harus memilih yang mana. Tidak yakin apakah keputusan yang kita ambil benar. Tidak tahu apakah harus bertahan, pergi, mencoba lagi, atau berhenti sejenak. Bahkan terkadang, masalahnya bukan karena terlalu banyak pilihan, melainkan karena kita sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Perasaan seperti ini bisa muncul dalam berbagai situasi: ketika menghadapi masalah pekerjaan, hubungan yang tidak jelas, masalah keluarga, kegagalan, kehilangan arah, tekanan finansial, perubahan hidup, atau ketika rencana yang selama ini kita susun tiba-tiba tidak berjalan sesuai harapan.

Yang sering terjadi kemudian adalah kita memaksa diri untuk segera mendapatkan jawaban.

Padahal, menurut psikologi, tidak selalu mengetahui apa yang harus dilakukan bukan berarti kita lemah, tidak mampu, atau gagal. Ketidakpastian merupakan bagian normal dari pengalaman manusia. Ketika berada dalam kondisi penuh tekanan, kemampuan kita untuk berpikir jernih dan mengambil keputusan juga dapat terganggu.

Karena itu, ketika kamu sedang berada dalam situasi "aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa", mungkin hal pertama yang perlu dilakukan bukan mencari jawaban besar.

Mulailah dengan menenangkan diri.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (21/9), terdapat tujuh hal yang dapat kamu lakukan.

1. Berhenti Sejenak dan Jangan Memaksa Diri Segera Memiliki Jawaban

Ketika sedang panik atau tertekan, kita sering merasa harus segera melakukan sesuatu.

"Kalau aku tidak mengambil keputusan sekarang, semuanya akan semakin buruk."

"Aku harus tahu apa yang harus kulakukan."

"Aku tidak boleh terus seperti ini."

Pikiran semacam itu justru dapat membuat tekanan semakin besar.

Padahal, berhenti sejenak bukan berarti menyerah. Berhenti sejenak dapat menjadi cara untuk memberi ruang bagi pikiran agar kembali bekerja dengan lebih jernih.

Ketika emosi sedang sangat kuat, kita cenderung melihat situasi secara lebih sempit. Masalah terasa jauh lebih besar daripada kemampuan kita untuk menghadapinya. Kita juga dapat menjadi lebih impulsif dan mengambil keputusan hanya untuk menghilangkan ketidaknyamanan saat itu.

Karena itu, jika situasinya memungkinkan, berikan dirimu waktu.

Tarik napas perlahan.

Minum air.

Berjalan sebentar.

Tidur jika memang sudah sangat lelah.

Jauhkan diri sejenak dari percakapan atau keputusan yang tidak harus diselesaikan saat itu juga.

Katakan kepada diri sendiri:

"Aku belum tahu jawabannya sekarang, dan itu tidak apa-apa. Aku bisa memikirkannya ketika pikiranku lebih tenang."

Ada perbedaan besar antara tidak tahu dan tidak mampu.

Kamu mungkin hanya sedang terlalu lelah, terlalu takut, atau terlalu banyak menerima tekanan untuk bisa melihat pilihan dengan jelas.

2. Pisahkan Fakta dari Ketakutan dan Asumsi

Salah satu alasan kita sulit menentukan langkah adalah karena pikiran mencampurkan fakta dengan berbagai kemungkinan.

Misalnya, seseorang kehilangan pekerjaannya.

Faktanya:

"Aku kehilangan pekerjaan."

Namun pikiran kemudian mungkin berkembang menjadi:

"Aku tidak akan mendapatkan pekerjaan lagi."

"Karierku sudah selesai."

"Aku akan mengecewakan semua orang."

"Masa depanku pasti buruk."

Perhatikan perbedaannya.

Kalimat pertama adalah fakta.

Kalimat-kalimat berikutnya merupakan prediksi, interpretasi, atau kekhawatiran tentang masa depan.

Ketika sedang cemas, otak dapat memperlakukan kemungkinan seolah-olah itu adalah kepastian. Inilah salah satu alasan mengapa masalah yang belum tentu terjadi dapat terasa sangat nyata.

Cobalah mengambil selembar kertas dan membuat tiga kolom:

Apa yang aku tahu?

Apa yang aku takutkan?

Apa yang belum aku ketahui?

Contohnya:

Yang aku tahu:

Aku sedang menghadapi masalah pekerjaan.
Aku belum memiliki pekerjaan baru.
Aku memiliki beberapa tabungan.

Yang aku takutkan:

Aku takut tidak bisa memenuhi kebutuhan.
Aku takut dianggap gagal.
Aku takut masa depanku tidak jelas.

Yang belum aku ketahui:

Berapa lama sampai mendapatkan pekerjaan baru.
Kesempatan apa yang akan muncul.
Bagaimana situasi ini akan berkembang dalam beberapa bulan ke depan.

Latihan sederhana ini dapat membantu menciptakan jarak antara kenyataan dan cerita yang dibuat oleh kecemasan.

Tidak semua pikiran harus dipercaya hanya karena pikiran itu muncul di kepala kita.

3. Fokus pada Hal yang Masih Bisa Kamu Kendalikan

Salah satu sumber stres terbesar adalah mencoba mengendalikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali kita.

Kita tidak selalu bisa mengendalikan apa yang orang lain pikirkan.

Kita tidak bisa mengendalikan keputusan orang lain.

Kita tidak bisa mengubah masa lalu.

Kita juga tidak bisa menjamin bahwa setiap usaha akan menghasilkan sesuai harapan.

Namun, hampir selalu ada sesuatu yang masih bisa kita lakukan.

Misalnya, kamu tidak bisa memastikan perusahaan akan menerima lamaranmu.

Tetapi kamu bisa memperbaiki CV.

Kamu bisa mengirim lamaran.

Kamu bisa belajar keterampilan baru.

Kamu bisa menghubungi seseorang untuk meminta informasi.

Kamu tidak bisa memaksa seseorang mencintaimu.

Tetapi kamu bisa menentukan bagaimana kamu memperlakukan dirimu sendiri dan batasan apa yang ingin kamu tetapkan.

Kamu tidak bisa mengubah kejadian kemarin.

Tetapi kamu bisa menentukan apa yang akan kamu lakukan hari ini.

Cobalah bertanya:

"Dari semua hal yang sedang terjadi, apa satu hal kecil yang masih berada dalam kendaliku?"

Jangan mencari sepuluh hal.

Cari satu.

Karena ketika seseorang sedang kewalahan, langkah kecil sering kali lebih realistis daripada rencana besar.

4. Jangan Memikirkan Seluruh Masa Depan Sekaligus

Ketika kita tidak tahu harus berbuat apa, pikiran sering melompat terlalu jauh.

Hari ini belum tahu harus bagaimana, tetapi pikiran sudah memikirkan lima tahun ke depan.

"Apa yang akan terjadi dengan hidupku?"

"Bagaimana kalau semuanya gagal?"

"Bagaimana masa depanku?"

"Bagaimana kalau keputusan ini menghancurkan hidupku?"

Masalahnya, manusia tidak dirancang untuk mengetahui seluruh masa depan.

Kita hanya memiliki informasi terbatas tentang apa yang akan terjadi.

Karena itu, ketika hidup terasa terlalu besar, kecilkan ukuran pertanyaannya.

Jangan bertanya:

"Apa yang harus kulakukan dengan hidupku?"

Ubah menjadi:

"Apa yang perlu kulakukan minggu ini?"

Bahkan jika itu masih terasa terlalu besar, kecilkan lagi:

"Apa yang bisa kulakukan hari ini?"

Dan jika hari ini masih terasa berat:

"Apa yang bisa kulakukan dalam satu jam ke depan?"

Terkadang kita tidak membutuhkan peta untuk seluruh perjalanan.

Kita hanya membutuhkan cukup cahaya untuk melihat beberapa langkah di depan.

5. Bicaralah dengan Orang yang Bisa Membantumu Melihat Situasi dari Sudut Pandang Berbeda

Ketika sedang menghadapi masalah, kita bisa terjebak dalam sudut pandang sendiri.

Kita terus memikirkan masalah yang sama.

Menganalisis percakapan yang sama.

Mengulang kejadian yang sama.

Membayangkan kemungkinan yang sama.

Akibatnya, kita merasa seperti berputar-putar tanpa menemukan jalan keluar.

Dalam kondisi seperti ini, berbicara dengan orang lain dapat membantu.

Bukan berarti orang lain selalu memiliki jawaban yang benar.

Namun, percakapan dengan orang yang dipercaya dapat membantu kita melihat sesuatu yang sebelumnya tidak kita perhatikan.

Pilih orang yang mampu mendengarkan tanpa langsung menghakimi.

Kamu bisa mengatakan:

"Aku sebenarnya tidak sedang mencari solusi. Aku cuma ingin seseorang mendengarkan dan membantuku melihat masalah ini dengan lebih jernih."

Kalimat tersebut penting karena terkadang kita tidak membutuhkan seseorang untuk "memperbaiki" hidup kita.

Kita hanya membutuhkan ruang untuk berpikir dengan suara keras.

Untuk masalah yang kompleks atau terus mengganggu kehidupan sehari-hari, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental juga dapat menjadi pilihan yang tepat.

Meminta bantuan bukan tanda bahwa seseorang tidak mampu menghadapi hidup.

Justru, mengetahui kapan membutuhkan bantuan merupakan bagian dari kemampuan merawat diri.

6. Izinkan Dirimu Tidak Sempurna dalam Mengambil Keputusan

Banyak orang mengalami kebuntuan karena mencari keputusan yang benar-benar sempurna.

Mereka ingin memastikan:

"Ini pilihan terbaik."

"Ini tidak akan membuatku menyesal."

"Aku harus yakin seratus persen."

Masalahnya, dalam kehidupan nyata, keputusan sering kali dibuat dengan informasi yang tidak lengkap.

Kita tidak selalu bisa mengetahui konsekuensinya sebelum mencoba.

Karena itu, dalam banyak situasi, pertanyaan yang lebih realistis bukan:

"Apa keputusan yang pasti benar?"

Melainkan:

"Dengan informasi yang aku miliki sekarang, pilihan mana yang paling masuk akal untuk kulakukan?"

Ini adalah perbedaan yang penting.

Keputusan yang baik tidak selalu menghasilkan hasil yang sempurna.

Sebaliknya, keputusan yang masuk akal dapat menghasilkan hasil yang tidak sesuai harapan karena ada faktor-faktor di luar kendali kita.

Jadi, jangan menilai kualitas keputusan hanya berdasarkan hasil akhirnya.

Tanyakan juga:

Informasi apa yang aku miliki ketika mengambil keputusan?
Apa pertimbanganku saat itu?
Apakah aku sudah melakukan yang terbaik dengan kemampuan yang kumiliki?
Apa yang bisa kupelajari dari hasilnya?

Cara berpikir seperti ini dapat membantu mengurangi kecenderungan untuk terus-menerus menyalahkan diri sendiri.

7. Beri Dirimu Satu Langkah Kecil, Bukan Jawaban untuk Seluruh Hidup

Ketika hidup terasa kacau, kita sering berharap menemukan satu jawaban besar yang langsung menyelesaikan semuanya.

Namun, perubahan dalam kehidupan biasanya tidak terjadi seperti itu.

Sering kali perubahan dimulai dari tindakan kecil yang dilakukan berulang kali.

Jika kamu sedang kehilangan arah, mungkin langkah pertamamu bukan menemukan tujuan hidup.

Mungkin langkah pertamamu adalah bangun dan mandi.

Merapikan kamar.

Makan dengan cukup.

Menyelesaikan satu pekerjaan.

Menghubungi seseorang.

Membuat daftar masalah.

Mencari satu informasi.

Berjalan selama beberapa menit.

Mengirim satu lamaran.

Menyelesaikan satu tugas yang selama ini ditunda.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana.

Tetapi ketika seseorang sedang berada dalam situasi penuh tekanan, kemampuan untuk melakukan tindakan kecil dapat menjadi titik awal untuk mendapatkan kembali rasa kendali.

Kamu tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini.

Kamu hanya perlu menentukan langkah berikutnya.

Pada Akhirnya, Tidak Tahu Harus Berbuat Apa Bukan Berarti Hidupmu Tidak Memiliki Arah

Ada fase dalam kehidupan ketika kita benar-benar tidak tahu harus ke mana.

Dan mungkin bagian tersulitnya adalah melihat orang lain seolah-olah sudah mengetahui apa yang mereka inginkan.

Mereka terlihat memiliki karier.

Memiliki hubungan.

Memiliki tujuan.

Memiliki rencana.

Sementara kita masih bertanya-tanya:

"Sebenarnya aku sedang menuju ke mana?"

Namun, apa yang terlihat dari luar tidak selalu menggambarkan apa yang sedang terjadi di dalam diri seseorang.

Setiap orang memiliki periode ketidakpastian.

Ada masa ketika seseorang harus berhenti, mengevaluasi kembali, mengubah rencana, mencoba sesuatu yang baru, atau menerima bahwa jalan yang sebelumnya dipilih ternyata tidak lagi sesuai.

Jadi, jika saat ini kamu sedang tidak tahu harus berbuat apa, jangan buru-buru menganggap dirimu gagal.

Mungkin kamu sedang berada dalam sebuah fase yang membutuhkan waktu.

Mungkin kamu membutuhkan informasi baru.

Mungkin kamu terlalu lelah untuk berpikir jernih.

Mungkin ada keputusan yang belum siap kamu ambil.

Atau mungkin kamu memang sedang berada di persimpangan yang membutuhkan keberanian untuk berjalan perlahan.

Yang penting adalah jangan menuntut dirimu untuk mengetahui seluruh jawabannya sekaligus.

Tenangkan diri.

Pisahkan fakta dari ketakutan.

Fokus pada hal yang masih bisa dikendalikan.

Perkecil masalah menjadi langkah yang lebih sederhana.

Bicaralah dengan orang yang dapat dipercaya.

Terima bahwa keputusan tidak selalu sempurna.

Dan kemudian ambil satu langkah kecil.

Karena terkadang, arah tidak muncul sebelum kita bergerak.

Justru setelah kita mengambil beberapa langkah, jalan berikutnya mulai terlihat.

Kamu tidak harus tahu bagaimana seluruh perjalanan akan berakhir. Untuk saat ini, cukup cari tahu apa langkah baik yang bisa kamu lakukan selanjutnya.

EDITOR: Hanny Suwindari