JawaPos.com - Konflik dalam hubungan adalah sesuatu yang hampir tidak mungkin dihindari.
Dua orang yang saling mencintai tetap bisa memiliki cara berpikir yang berbeda, kebutuhan yang tidak selalu sama, kebiasaan yang bertabrakan, atau ekspektasi yang tidak terucapkan. Karena itu, hubungan yang sehat bukan berarti hubungan yang tidak pernah bertengkar.
Justru, salah satu tanda hubungan yang cukup sehat adalah ketika dua orang mampu melewati konflik tanpa membuat satu sama lain merasa menjadi musuh.
Masalahnya, konflik kecil terkadang terasa jauh lebih berat daripada persoalan sebenarnya. Perdebatan tentang pesan yang terlambat dibalas bisa berubah menjadi pertengkaran tentang "kamu memang tidak pernah peduli". Perselisihan soal pekerjaan rumah bisa berkembang menjadi perasaan tidak dihargai selama bertahun-tahun.
Pada titik tertentu, yang melelahkan bukan lagi masalahnya, melainkan cara pasangan menghadapi masalah tersebut.
Dalam psikologi hubungan, kualitas sebuah hubungan tidak hanya dipengaruhi oleh seberapa sering pasangan mengalami konflik, tetapi juga bagaimana mereka merespons konflik, memperbaiki keretakan setelahnya, dan tetap menjaga rasa aman satu sama lain.
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (21/9), jika kamu ingin konflik dalam hubungan terasa tidak terlalu membebani, ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa dilatih bersama pasangan.
Bukan untuk menghilangkan konflik.
Melainkan agar konflik tidak mengambil alih seluruh hubungan.
1. Biasakan Membicarakan Masalah Sebelum Emosi Terlalu Menumpuk
Banyak pasangan tidak benar-benar bertengkar karena satu masalah.
Mereka bertengkar karena sepuluh masalah kecil yang dikumpulkan terlalu lama.
Hari ini kamu kesal karena pasangan lupa melakukan sesuatu. Kamu memilih diam.
Besok kamu kembali merasa kecewa karena pasangan melakukan hal yang sama. Kamu masih diam.
Beberapa hari kemudian, muncul masalah baru. Kamu mulai merasa bahwa pasangan tidak pernah memperhatikanmu.
Akhirnya, ketika konflik benar-benar terjadi, semua kekecewaan lama ikut keluar.
"Pokoknya kamu memang selalu seperti ini."
"Sudah berapa kali aku bilang?"
"Kamu tidak pernah mendengarkan aku."
Padahal, mungkin persoalan awalnya sebenarnya cukup sederhana.
Inilah alasan mengapa membicarakan masalah ketika masih kecil dapat membantu konflik terasa lebih ringan.
Bukan berarti setiap kesalahan kecil harus langsung dipermasalahkan. Namun, jika sesuatu terus mengganggumu, jangan menunggu sampai rasa kesal berubah menjadi kebencian.
Kamu bisa mengatakan:
"Aku sebenarnya ingin membicarakan sesuatu sebelum ini jadi semakin mengganggu pikiranku."
Atau:
"Tadi aku merasa sedikit kecewa ketika itu terjadi. Aku ingin menjelaskannya supaya kamu tahu bagaimana perasaanku."
Kalimat seperti ini berbeda dengan:
"Kamu selalu bikin aku kecewa."
Perbedaannya terletak pada fokus.
Yang pertama menjelaskan pengalamanmu. Yang kedua menyerang karakter pasangan.
Semakin cepat pasangan membicarakan masalah secara tenang, semakin kecil kemungkinan masalah tersebut berubah menjadi tumpukan emosi.
Kebiasaan yang bisa dilakukan
Cobalah membuat kesepakatan bahwa masalah yang berulang atau cukup penting tidak akan dipendam terlalu lama.
Namun, pilih waktu yang tepat.
Tidak semua masalah harus dibahas saat salah satu sedang lelah, lapar, terburu-buru, atau sangat emosional.
Tujuannya bukan "menyelesaikan semuanya sekarang".
Tujuannya adalah mencegah masalah kecil berubah menjadi beban emosional yang jauh lebih besar.
2. Gunakan Kalimat "Aku Merasa", Bukan "Kamu Memang..."
Ketika sedang terluka, sangat mudah untuk berbicara menggunakan tuduhan.
"Kamu egois."
"Kamu tidak pernah menghargai aku."
"Kamu memang tidak peduli."
"Kamu selalu menyalahkan aku."
Kalimat seperti ini mungkin terasa melegakan selama beberapa detik karena kita akhirnya mengeluarkan kemarahan.
Namun, pasangan kemungkinan besar akan merasa diserang.
Ketika seseorang merasa diserang, respons alaminya sering kali bukan mendengarkan, melainkan mempertahankan diri.
Akhirnya percakapan berubah menjadi:
"Aku tidak pernah begitu."
"Kamu juga sering melakukan hal yang sama."
"Ya, karena kamu yang mulai."
Dan masalah awal menjadi semakin jauh dari pembicaraan.
Salah satu kebiasaan yang dapat membantu adalah mengubah cara menyampaikan keluhan.
Alih-alih:
"Kamu tidak pernah mendengarkan aku."
Cobalah:
"Aku merasa tidak didengarkan ketika aku sedang bercerita dan kamu melihat ponsel."
Alih-alih:
"Kamu tidak menghargai aku."
Cobalah:
"Aku merasa kurang dihargai ketika keputusan itu dibuat tanpa membicarakannya denganku."
Perbedaannya memang terlihat kecil.
Tetapi dampaknya bisa besar.
Kamu masih menyampaikan bahwa ada sesuatu yang menyakitimu, tetapi kamu tidak langsung memberikan label negatif kepada pasangan.
Ini juga membantu pasangan memahami perilaku apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan, bukan membuatnya sibuk membuktikan bahwa dirinya bukan orang yang buruk.
Coba gunakan pola sederhana ini:
Ketika [perilaku terjadi], aku merasa [emosi], karena [alasan]. Aku berharap ke depannya [kebutuhan atau permintaan].
Misalnya:
"Ketika kamu membatalkan rencana tanpa memberi tahu lebih awal, aku merasa kecewa karena aku sudah menyiapkan waktuku. Aku berharap kalau ada perubahan, kamu bisa memberitahuku lebih cepat."
Ini jauh lebih konkret daripada:
"Kamu memang tidak pernah menghargai waktu aku."
Konflik tidak harus menghilangkan rasa sakit.
Tetapi cara berbicara dapat menentukan apakah rasa sakit itu menjadi jalan menuju pemahaman atau justru menjadi alasan untuk saling menyerang.
3. Belajar Berhenti Sejenak Ketika Emosi Sudah Terlalu Tinggi
Ada saat ketika melanjutkan percakapan justru membuat semuanya semakin buruk.
Suara mulai meninggi.
Jantung berdebar.
Kamu mulai sulit mendengarkan.
Setiap kalimat pasangan terasa seperti serangan.
Dan yang muncul di kepala bukan lagi, "Bagaimana kita menyelesaikan masalah ini?"
Melainkan, "Bagaimana caranya supaya dia mengerti bahwa aku benar?"
Pada kondisi seperti itu, mengambil jeda bukan berarti melarikan diri.
Jeda bisa menjadi cara untuk menenangkan diri agar percakapan tidak berubah menjadi pertengkaran yang lebih destruktif.
Namun, ada perbedaan penting antara jeda dan silent treatment.
Silent treatment digunakan untuk menghukum atau membuat pasangan merasa cemas.
Jeda yang sehat justru disertai komunikasi.
Misalnya:
"Aku masih ingin menyelesaikan pembicaraan ini. Tapi sekarang aku terlalu emosi dan takut mengatakan sesuatu yang akan aku sesali. Aku butuh waktu sekitar 30 menit untuk menenangkan diri. Setelah itu kita lanjutkan."
Kalimat tersebut memberikan kepastian bahwa hubungan dan pembicaraan tidak ditinggalkan.
Kamu hanya sedang mengatur emosimu.
Buat aturan "time-out" bersama
Pasangan bisa membuat kesepakatan sederhana:
siapa pun boleh meminta jeda ketika emosi terlalu tinggi;
orang yang meminta jeda harus menjelaskan bahwa pembicaraan akan dilanjutkan;
tentukan perkiraan waktunya;
selama jeda, jangan sengaja memprovokasi pasangan melalui pesan atau media sosial;
setelah cukup tenang, kembali ke pembicaraan.
Kebiasaan ini sangat berguna karena tidak semua masalah harus diselesaikan dalam kondisi emosi maksimal.
Terkadang, percakapan yang sama akan terdengar sangat berbeda setelah seseorang sudah lebih tenang.
4. Jangan Hanya Mencari Siapa yang Salah, Cari Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan
Dalam konflik hubungan, kita sering terjebak pada pertanyaan:
"Siapa yang salah?"
Padahal, pertanyaan yang lebih berguna sering kali adalah:
"Apa yang sebenarnya dibutuhkan masing-masing dari kita?"
Contohnya, seorang pasangan marah karena pasangannya terlalu sering bermain dengan ponsel.
Jika dilihat dari permukaan, masalahnya adalah ponsel.
Tetapi kebutuhan yang lebih dalam mungkin adalah:
"Aku ingin merasa diperhatikan."
"Aku ingin merasa bahwa waktuku bersamamu penting."
"Aku ingin merasa dekat denganmu."
Begitu pula ketika seseorang marah karena pasangannya jarang membantu pekerjaan rumah.
Masalah di permukaan adalah pekerjaan rumah.
Tetapi kebutuhan yang sebenarnya mungkin:
"Aku ingin merasa kita bekerja sebagai tim."
"Aku ingin bebanku diperhatikan."
"Aku tidak ingin merasa sendirian dalam menjalani rumah tangga."
Ketika pasangan mulai memahami kebutuhan di balik keluhan, konflik sering menjadi lebih mudah dibicarakan.
Misalnya:
"Jadi sebenarnya yang membuat kamu terluka bukan cuma karena aku terlambat, tapi karena kamu merasa aku tidak mempertimbangkan perasaanmu?"
Kalimat seperti ini menunjukkan usaha untuk memahami.
Dan terkadang, seseorang tidak membutuhkan pasangan untuk langsung memberikan solusi.
Mereka hanya ingin merasa bahwa perasaannya benar-benar dipahami.
Cobalah bertanya:
"Apa yang paling membuatmu terluka dari kejadian tadi?"
"Apa yang sebenarnya kamu butuhkan dariku?"
"Apa yang kamu harapkan terjadi ketika situasi seperti ini muncul lagi?"
"Ada bagian dari perkataanku yang membuatmu merasa tidak dihargai?"
"Apa yang bisa aku lakukan berbeda lain kali?"
Pertanyaan seperti ini mengubah konflik dari pertandingan menjadi percakapan.
5. Pertahankan Kebiasaan Positif Bahkan Ketika Hubungan Sedang Tidak Baik-Baik Saja
Salah satu kesalahan yang sering terjadi dalam hubungan adalah menganggap bahwa ketika sedang bertengkar, seluruh sisi positif hubungan harus berhenti.
Pasangan berhenti bercanda.
Berhenti mengucapkan terima kasih.
Berhenti menunjukkan kasih sayang.
Berhenti melakukan hal-hal kecil yang biasanya membuat hubungan terasa hangat.
Akibatnya, satu konflik mulai terasa seperti menggambarkan seluruh hubungan.
Padahal, sebuah hubungan terdiri dari banyak interaksi.
Ada percakapan serius, tetapi ada juga makan bersama.
Ada perbedaan pendapat, tetapi ada juga tawa.
Ada hari yang mengecewakan, tetapi ada juga banyak momen ketika kalian saling membantu.
Karena itu, menjaga interaksi positif sehari-hari tetap penting, bahkan ketika ada masalah yang belum selesai.
Bukan berarti kamu harus berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Kamu bisa tetap mengatakan:
"Aku masih kesal dengan masalah tadi, tapi aku tetap sayang sama kamu."
Atau:
"Kita memang belum selesai membicarakan ini, tapi aku tidak ingin masalah ini membuat kita saling menjauh."
Pesan seperti ini membantu memisahkan konflik dari identitas hubungan.
Masalah adalah sesuatu yang sedang kalian hadapi.
Bukan berarti pasangan otomatis menjadi musuh.
Perhatikan hal-hal kecil
Hubungan sering kali dipelihara bukan hanya melalui percakapan besar, tetapi melalui tindakan sederhana:
mengucapkan terima kasih;
menanyakan bagaimana hari pasangan;
memberi pelukan;
membantu tanpa diminta;
mengingat hal kecil yang penting bagi pasangan;
mengirim pesan sederhana;
tertawa bersama;
memberikan perhatian ketika pasangan sedang berbicara.
Hal-hal tersebut mungkin tampak sepele.
Namun, hubungan yang memiliki banyak pengalaman positif biasanya memiliki "ruang emosional" yang lebih luas ketika konflik muncul.
6. Biasakan Melakukan "Perbaikan" Setelah Konflik
Ini adalah kebiasaan yang sering dilupakan.
Banyak pasangan berpikir bahwa konflik selesai ketika mereka berhenti bertengkar.
Padahal, berhenti bertengkar belum tentu berarti luka sudah pulih.
Seseorang mungkin sudah diam.
Tetapi di dalam hati masih berpikir:
"Kenapa dia bicara seperti itu kepadaku?"
"Apakah dia benar-benar berpikir seperti itu?"
"Apakah dia masih marah?"
"Apakah hubungan kami baik-baik saja?"
Karena itu, setelah konflik, biasakan melakukan apa yang dalam psikologi hubungan sering disebut sebagai repair atau upaya memperbaiki hubungan setelah terjadi keretakan.
Repair tidak harus berupa permintaan maaf yang panjang.
Bisa sesederhana:
"Tadi cara bicaraku terlalu keras. Aku minta maaf."
Atau:
"Aku masih tidak setuju dengan pendapatmu, tetapi aku tidak seharusnya mengatakan hal itu."
Atau:
"Sekarang aku sudah lebih tenang. Aku ingin kita membicarakannya lagi dengan lebih baik."
Bahkan kalimat kecil seperti:
"Kita sebenarnya sedang berada di pihak yang sama."
dapat membantu mengingatkan bahwa masalahnya adalah sesuatu yang perlu dihadapi bersama.
Yang penting bukan hanya meminta maaf
Perbaikan yang baik juga melibatkan perubahan perilaku.
Jika masalahnya adalah sering memotong pembicaraan, maka perbaikannya bukan hanya:
"Maaf."
Tetapi juga:
"Lain kali aku akan membiarkan kamu menyelesaikan penjelasanmu dulu."
Jika masalahnya adalah sering membatalkan janji, perbaikannya bisa berupa:
"Kalau aku tidak yakin bisa datang, aku akan memberi tahu dari awal."
Dengan begitu, pasangan tidak hanya mendengar penyesalan.
Ia juga melihat usaha untuk melakukan sesuatu secara berbeda.
Pada Akhirnya, Tujuan Hubungan Bukan Tidak Pernah Bertengkar
Banyak orang memiliki gambaran bahwa hubungan yang sehat adalah hubungan yang jarang memiliki konflik.
Padahal, konflik tidak selalu menunjukkan bahwa hubungan sedang gagal.
Dua manusia yang berbeda hampir pasti akan memiliki perbedaan.
Yang lebih penting adalah bagaimana perbedaan itu dikelola.
Apakah kalian bisa membicarakan masalah tanpa saling merendahkan?
Apakah kalian bisa mengatakan bahwa kalian terluka tanpa menyerang karakter pasangan?
Apakah kalian bisa mengambil jeda sebelum emosi menjadi tidak terkendali?
Apakah kalian masih bisa melihat pasangan sebagai seseorang yang berada di sisi kalian meskipun kalian sedang berbeda pendapat?
Dan setelah konflik selesai, apakah kalian berusaha memperbaiki hubungan?
Enam kebiasaan tersebut dapat dirangkum secara sederhana:
1. Jangan menunggu masalah menumpuk.
Bicarakan hal yang mengganggu sebelum berubah menjadi kebencian.
2. Bicarakan perasaan tanpa menyerang karakter.
Gunakan "aku merasa..." daripada "kamu memang selalu...".
3. Ambil jeda ketika emosi terlalu tinggi.
Menjauh sebentar untuk menenangkan diri berbeda dengan menghukum pasangan dengan diam.
4. Cari kebutuhan di balik konflik.
Jangan hanya mencari siapa yang salah; pahami apa yang sebenarnya dibutuhkan masing-masing.
5. Tetap rawat sisi positif hubungan.
Konflik tidak harus membuat seluruh kehangatan dalam hubungan berhenti.
6. Lakukan perbaikan setelah konflik.
Minta maaf ketika perlu, validasi perasaan pasangan, dan tunjukkan perubahan melalui tindakan.
Pada akhirnya, hubungan yang kuat bukan hubungan yang tidak pernah retak.
Hubungan yang kuat adalah hubungan di mana dua orang belajar bagaimana kembali mendekat setelah mengalami jarak.
Kamu dan pasangan mungkin tidak selalu sepakat.
Kalian mungkin masih akan salah paham.
Kalian mungkin masih akan mengatakan sesuatu yang kemudian disesali.
Namun, semakin kalian terbiasa menghadapi konflik sebagai masalah yang harus diselesaikan bersama, bukan sebagai pertarungan yang harus dimenangkan, semakin kecil kemungkinan setiap konflik terasa seperti ancaman terhadap hubungan itu sendiri.
Karena dalam hubungan yang sehat, tujuan akhirnya bukan membuktikan siapa yang menang.
Tujuannya adalah memahami satu sama lain, memperbaiki yang rusak, dan menemukan cara agar masalah yang sama tidak terus melukai kalian berdua.