← Beranda
Ingin Cepat Bangkit Kembali dari Kekejaman Dunia yang Telah Menghampirimu? Lakukan 6 Cara Efektif
Irfan FerdiansyahRabu, 23 September 2026 | 02.09 WIB
seseorang yang bangkit dari kekejaman dunia./Magnific/magnific
JawaPos.com - Ada masa ketika hidup terasa begitu kejam.

Bukan karena kamu tidak berusaha. Bukan karena kamu malas. Bahkan mungkin kamu sudah melakukan segala sesuatu yang menurutmu benar. Namun, tetap saja ada hal-hal yang datang tanpa permisi: kehilangan orang yang dicintai, dikhianati seseorang yang dipercaya, gagal dalam pekerjaan, kehilangan kesempatan, dipermalukan, ditolak, ditinggalkan, mengalami masalah keuangan, atau harus menerima kenyataan yang sama sekali tidak pernah kamu bayangkan.

Pada titik tertentu, kamu mungkin bertanya dalam hati:

"Mengapa semua ini harus terjadi kepadaku?"

Pertanyaan itu sangat manusiawi.

Ketika sesuatu yang menyakitkan terjadi, pikiran kita sering kali ingin segera menemukan alasan. Kita ingin memahami apa yang salah. Kita ingin tahu siapa yang harus disalahkan. Kita ingin semuanya kembali seperti semula.

Namun ada kenyataan yang terkadang sulit diterima:

Tidak semua luka bisa dihindari. Tidak semua kehilangan bisa dikembalikan. Dan tidak semua kejadian buruk memiliki penjelasan yang memuaskan.

Tetapi ada satu hal yang masih berada dalam kendalimu.

Bagaimana kamu merespons apa yang telah terjadi.

Bangkit bukan berarti berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Bangkit juga bukan berarti melupakan luka secepat mungkin.

Bangkit berarti perlahan-lahan mengambil kembali kendali atas hidupmu setelah sesuatu membuatmu merasa kehilangan kendali.

Dalam psikologi, kemampuan seseorang untuk beradaptasi dan kembali menjalani kehidupan setelah menghadapi tekanan atau kesulitan sering dikaitkan dengan resiliensi. Resiliensi bukan berarti seseorang tidak merasakan kesedihan, ketakutan, atau kemarahan. Justru orang yang resilien tetap dapat merasakan semua emosi tersebut, tetapi perlahan mampu bergerak melewatinya.

Dilansir dari Psychology Today pada Senin (21/9), jika saat ini kamu sedang berada di titik terendah dalam hidupmu, enam langkah berikut dapat membantumu mulai membangun kembali dirimu.

1. Berhenti Memaksa Diri untuk Segera "Baik-Baik Saja"

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan seseorang setelah mengalami sesuatu yang menyakitkan adalah memaksa dirinya untuk segera pulih.

"Sudahlah, harus kuat."

"Jangan terlalu dipikirkan."

"Orang lain punya masalah yang lebih berat."

"Aku harus segera move on."

Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar seperti motivasi. Namun, ketika digunakan untuk menekan emosi sendiri, justru dapat membuat seseorang semakin jauh dari apa yang sebenarnya sedang ia rasakan.

Kamu tidak harus langsung kuat.

Kamu boleh kecewa.

Kamu boleh menangis.

Kamu boleh merasa marah.

Kamu boleh merasa bingung.

Kamu bahkan boleh mengakui bahwa untuk sementara waktu, kamu tidak tahu harus melakukan apa.

Mengakui rasa sakit bukan berarti menyerah kepada rasa sakit.

Ini adalah perbedaan yang penting.

Ketika kamu mencoba menekan emosi terus-menerus, masalahnya bukan berarti hilang. Kamu hanya mendorongnya lebih dalam. Pada akhirnya, emosi tersebut dapat muncul dalam bentuk lain: sulit tidur, mudah marah, kehilangan motivasi, sulit berkonsentrasi, menarik diri dari orang lain, atau merasa kosong.

Karena itu, langkah pertama untuk bangkit bukanlah mengatakan:

"Aku tidak terluka."

Melainkan:

"Ya, aku terluka. Dan aku akan menghadapinya."

Berikan ruang untuk dirimu sendiri.

Kalau ingin menangis, menangislah.

Kalau ingin menulis, tulislah.

Kalau membutuhkan waktu untuk menyendiri, ambillah waktu—selama kesendirian tersebut tidak membuatmu semakin terisolasi.

Tidak ada perlombaan dalam proses penyembuhan.

Kamu tidak harus sembuh hanya karena orang lain sudah terlihat baik-baik saja.

Setiap orang memiliki pengalaman, dukungan sosial, kondisi hidup, dan cara menghadapi tekanan yang berbeda.

Jangan jadikan kecepatan orang lain sebagai ukuran kesembuhanmu.

2. Pisahkan Apa yang Bisa Kamu Kendalikan dan Apa yang Tidak

Ketika hidup terasa berantakan, pikiran kita sering menghabiskan energi untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali.

"Seandainya waktu itu aku melakukan hal yang berbeda..."

"Seandainya dia tidak meninggalkanku..."

"Seandainya mereka tidak memperlakukanku seperti itu..."

"Seandainya aku tahu semuanya akan berakhir seperti ini..."

Masalahnya, semua kalimat tersebut berputar pada sesuatu yang sudah terjadi.

Dan masa lalu tidak dapat dinegosiasikan.

Salah satu kebiasaan yang dapat membantu ketika menghadapi situasi sulit adalah membedakan antara hal yang masih bisa kamu kendalikan dan hal yang tidak bisa kamu kendalikan.

Misalnya:

Kamu tidak dapat mengendalikan bagaimana orang lain memperlakukanmu.

Tetapi kamu dapat mengendalikan batasan yang kamu buat terhadap mereka.

Kamu tidak dapat mengubah masa lalu.

Tetapi kamu dapat menentukan apa yang akan kamu lakukan mulai hari ini.

Kamu tidak dapat memaksa seseorang untuk mencintaimu.

Tetapi kamu dapat memilih untuk tidak terus-menerus mengejar seseorang yang tidak memilihmu.

Kamu tidak dapat menjamin bahwa hidup akan selalu berjalan sesuai rencana.

Tetapi kamu dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi ketidakpastian.

Kamu tidak dapat mengendalikan semua keadaan.

Tetapi kamu masih dapat mengendalikan sebagian responsmu terhadap keadaan tersebut.

Cobalah mengambil selembar kertas.

Buat dua kolom.

Kolom pertama: "Dalam kendaliku."

Kolom kedua: "Di luar kendaliku."

Tuliskan semua yang sedang memenuhi pikiranmu.

Misalnya:

Dalam kendaliku:

bagaimana aku menggunakan waktuku;
siapa yang ingin aku hubungi;
bagaimana aku menjaga tubuhku;
apakah aku meminta bantuan;
langkah kecil apa yang akan kulakukan hari ini;
batasan apa yang perlu kubuat.

Di luar kendaliku:

pendapat orang lain;
keputusan masa lalu;
apa yang sudah dikatakan orang;
bagaimana seseorang memilih bertindak;
kejadian yang sudah berlalu;
bagaimana orang lain menilai diriku.

Setelah itu, tanyakan kepada dirimu:

"Apakah aku sedang menghabiskan terlalu banyak energi pada sesuatu yang sebenarnya tidak bisa kukendalikan?"

Jika jawabannya iya, perlahan tarik kembali energimu.

Bukan karena hal tersebut tidak penting.

Tetapi karena energi mentalmu terlalu berharga untuk terus diberikan kepada sesuatu yang tidak dapat kamu ubah.

3. Berhenti Mengubah Satu Kegagalan Menjadi Identitas Dirimu

Ini adalah salah satu jebakan psikologis yang sangat berbahaya.

Seseorang mengalami kegagalan.

Kemudian ia mulai mengatakan:

"Aku memang bodoh."

Seseorang ditolak.

"Aku memang tidak layak dicintai."

Seseorang kehilangan pekerjaan.

"Aku memang tidak berguna."

Seseorang dikhianati.

"Berarti aku memang tidak pantas mendapatkan hubungan yang baik."

Perhatikan perbedaannya.

"Aku mengalami kegagalan" adalah sebuah peristiwa.

Sedangkan:

"Aku adalah seorang yang gagal" adalah sebuah identitas.

Keduanya tidak sama.

Satu kejadian dalam hidupmu tidak memiliki hak untuk menentukan seluruh nilai dirimu.

Kamu bisa gagal tanpa menjadi manusia yang gagal.

Kamu bisa ditolak tanpa menjadi manusia yang tidak berharga.

Kamu bisa kehilangan sesuatu tanpa kehilangan seluruh masa depanmu.

Kamu bisa membuat keputusan yang buruk tanpa menjadi orang yang sepenuhnya buruk.

Manusia jauh lebih kompleks daripada satu kesalahan, satu hubungan, satu pekerjaan, satu keputusan, atau satu periode buruk dalam hidup.

Karena itu, ketika pikiranmu mengatakan:

"Aku tidak akan pernah berhasil."

Cobalah menggantinya dengan:

"Saat ini aku sedang mengalami kegagalan, tetapi ini bukan keseluruhan hidupku."

Ketika pikiranmu berkata:

"Tidak ada seorang pun yang akan mencintaiku."

Cobalah:

"Aku sedang terluka dan merasa sendirian, tetapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan."

Ini bukan sekadar permainan kata.

Cara kita berbicara kepada diri sendiri dapat memengaruhi bagaimana kita memandang sebuah situasi.

Jangan menjadikan masa terburuk dalam hidupmu sebagai definisi permanen tentang siapa dirimu.

4. Bangun Kembali Hidupmu Melalui Kebiasaan-Kebiasaan Kecil

Ketika seseorang mengalami pukulan besar dalam hidup, ia sering menunggu sampai merasa termotivasi sebelum mulai melakukan sesuatu.

Masalahnya, motivasi tidak selalu datang lebih dahulu.

Sering kali kita justru mulai merasa lebih baik setelah melakukan tindakan kecil secara konsisten.

Karena itu, jangan berpikir bahwa kamu harus mengubah seluruh hidupmu sekaligus.

Mulailah dari hal yang sangat sederhana.

Bangun dari tempat tidur.

Mandi.

Merapikan kamar.

Makan dengan cukup.

Minum air.

Berjalan selama beberapa menit.

Menyelesaikan satu pekerjaan kecil.

Menghubungi satu orang yang kamu percaya.

Tidur pada waktu yang lebih teratur.

Baca beberapa halaman buku.

Berjemur atau mendapatkan paparan cahaya pagi dengan aman.

Hal-hal tersebut mungkin terdengar terlalu sederhana.

Namun ketika hidup terasa kacau, struktur kecil dapat membantu menciptakan kembali rasa keteraturan.

Bayangkan hidupmu seperti sebuah rumah yang baru saja terkena badai.

Kamu tidak perlu langsung memperbaiki seluruh rumah.

Mulailah dengan mengambil satu benda dari lantai.

Kemudian satu lagi.

Perbaiki satu bagian.

Kemudian bagian berikutnya.

Begitu pula dengan hidup.

Jangan bertanya, "Bagaimana caranya memperbaiki hidupku?"

Pertanyaan itu terlalu besar.

Tanyakan:

"Apa satu hal kecil yang bisa kulakukan hari ini agar hidupku sedikit lebih baik?"

Jika hari ini kamu hanya mampu melakukan satu hal, lakukan satu hal.

Besok, lakukan satu hal lagi.

Perubahan besar sering kali dibangun dari tindakan kecil yang dilakukan berulang kali.

5. Jangan Menghadapi Semuanya Sendirian

Ada kebanggaan tertentu dalam mengatakan:

"Aku bisa mengatasi semuanya sendiri."

Namun manusia bukan makhluk yang dirancang untuk hidup tanpa hubungan sosial.

Ketika mengalami masa sulit, kita terkadang justru menarik diri.

Kita berhenti membalas pesan.

Tidak ingin bertemu siapa pun.

Menolak bantuan.

Menyimpan semua masalah sendiri.

Kemudian kita bertanya mengapa hidup terasa semakin berat.

Padahal salah satu sumber kekuatan terbesar manusia adalah hubungan dengan orang lain.

Kamu tidak harus menceritakan semuanya kepada semua orang.

Pilih satu atau dua orang yang benar-benar kamu percaya.

Katakan sesuatu yang sederhana:

"Aku sedang melewati masa yang berat. Aku mungkin tidak membutuhkan solusi. Aku hanya ingin ada seseorang yang mendengarkan."

Kalimat sederhana seperti itu bisa menjadi awal yang sangat berarti.

Dan ingat, meminta bantuan bukan tanda kelemahan.

Jika rasa sakit mulai mengganggu tidur, makan, pekerjaan, hubungan, atau kemampuanmu menjalani kehidupan sehari-hari dalam waktu yang cukup lama, berbicara dengan psikolog atau profesional kesehatan mental juga merupakan pilihan yang layak dipertimbangkan.

Kamu tidak harus menunggu sampai keadaan menjadi sangat parah untuk mencari bantuan.

Sama seperti kita tidak perlu menunggu tubuh benar-benar tidak berdaya untuk mencari pertolongan ketika sakit.

Kekuatan bukan selalu tentang mampu menanggung semuanya sendirian.

Kadang-kadang kekuatan justru terlihat dari keberanian untuk berkata:

"Aku membutuhkan bantuan."

6. Berikan Dirimu Alasan untuk Menatap Hari Esok

Pada akhirnya, bangkit bukan hanya tentang meninggalkan masa lalu.

Bangkit juga berarti perlahan membangun sesuatu yang layak dituju.

Ketika seseorang terlalu lama memikirkan apa yang telah hilang, hidupnya dapat terasa seperti sebuah ruangan yang hanya berisi masa lalu.

Karena itu, perlahan tanyakan kepada dirimu:

"Setelah semua yang terjadi, kehidupan seperti apa yang ingin kubangun sekarang?"

Tidak perlu langsung memiliki jawaban besar.

Mungkin kamu ingin menjadi lebih sehat.

Mungkin ingin belajar keterampilan baru.

Mungkin ingin membangun karier.

Mungkin ingin memperbaiki hubungan dengan keluarga.

Mungkin ingin memiliki kehidupan yang lebih tenang.

Mungkin ingin bepergian.

Mungkin ingin kembali melakukan sesuatu yang dulu membuatmu bahagia.

Mungkin untuk sementara waktu, tujuanmu hanya satu:

Bisa bangun setiap pagi tanpa merasa bahwa hidup sudah berakhir.

Itu pun sudah cukup.

Jangan meremehkan tujuan kecil.

Sebab ketika seseorang sedang berada dalam masa sulit, harapan tidak selalu muncul sebagai sebuah mimpi besar.

Kadang-kadang harapan hanya berbentuk:

"Aku ingin mencoba lagi besok."

Dan itu sudah merupakan sebuah awal.

Kamu Tidak Harus Kembali Menjadi Dirimu yang Dulu

Ada satu hal penting yang sering dilupakan.

Bangkit bukan berarti kamu harus kembali menjadi orang yang sama seperti sebelum terluka.

Mungkin pengalaman tersebut telah mengubahmu.

Mungkin sekarang kamu lebih berhati-hati.

Lebih memahami batasan.

Lebih menghargai waktu.

Lebih selektif dalam memilih orang.

Lebih mengenal dirimu sendiri.

Lebih sadar bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Perubahan itu tidak selalu berarti sesuatu yang buruk.

Tentu saja, kita tidak perlu meromantisasi penderitaan.

Tidak semua luka memiliki "hikmah" yang indah.

Tidak semua kejadian buruk harus dianggap sebagai sesuatu yang kita syukuri.

Ada hal-hal yang memang menyakitkan.

Ada kehilangan yang memang tetap terasa menyedihkan.

Ada pengalaman yang tidak seharusnya terjadi.

Namun meskipun kita tidak dapat mengubah apa yang telah terjadi, kita masih dapat menentukan apa yang akan kita lakukan setelahnya.

Masa lalu mungkin menjadi bagian dari ceritamu, tetapi masa lalu tidak harus menjadi akhir ceritamu.

Jika Hari Ini Kamu Masih Hancur, Tidak Apa-Apa

Mungkin setelah membaca semua ini kamu masih merasa berat.

Tidak apa-apa.

Jangan berharap satu artikel dapat menyembuhkan luka yang dibangun oleh berbulan-bulan atau bertahun-tahun pengalaman.

Pemulihan bukan tombol yang bisa ditekan.

Ada hari ketika kamu merasa sudah baik-baik saja.

Kemudian tiba-tiba sebuah lagu, tempat, foto, atau kenangan membuat semuanya terasa kembali.

Itu tidak selalu berarti kamu kembali ke titik nol.

Proses pemulihan memang tidak selalu berjalan lurus.

Ada hari yang baik.

Ada hari yang buruk.

Ada hari ketika kamu merasa kuat.

Ada hari ketika kamu kembali menangis.

Yang penting adalah terus memberi dirimu kesempatan untuk melangkah.

Tidak perlu berlari.

Berjalan pun cukup.

Dan jika hari ini bahkan berjalan terasa terlalu berat, mungkin cukup duduk sebentar, bernapas, dan bertahan sampai hari berikutnya.

Karena terkadang bertahan juga merupakan bentuk keberanian.

Enam Langkah untuk Mengingat Ketika Hidup Terasa Terlalu Berat

Jika suatu hari nanti kamu kembali menghadapi masa sulit, ingat enam hal ini:

1. Akui rasa sakitmu.
Jangan memaksa diri untuk segera terlihat kuat.

2. Bedakan hal yang bisa dan tidak bisa kamu kendalikan.
Simpan energimu untuk sesuatu yang masih dapat kamu ubah.

3. Jangan ubah kegagalan menjadi identitas.
Kamu mengalami sesuatu yang buruk. Itu tidak berarti kamu adalah sesuatu yang buruk.

4. Bangun kembali hidup melalui tindakan kecil.
Tidak perlu memperbaiki semuanya sekaligus.

5. Izinkan orang lain membantumu.
Kamu tidak harus memikul seluruh beban sendirian.

6. Ciptakan alasan untuk menatap hari esok.
Harapan tidak harus besar. Yang penting, masih ada sesuatu yang ingin kamu perjuangkan.

Dan Mungkin, Inilah Saatnya Kamu Berhenti Bertanya "Mengapa Aku?"

Ada pertanyaan yang mungkin tidak pernah mendapatkan jawaban.

"Mengapa aku harus mengalami ini?"

Mungkin kamu tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang benar-benar memuaskan.

Namun perlahan, mungkin pertanyaan itu bisa berubah menjadi:

"Setelah semua yang terjadi, apa yang ingin kulakukan dengan hidupku sekarang?"

Pertanyaan kedua memberikan sesuatu yang tidak diberikan oleh pertanyaan pertama:

ruang untuk bergerak.

Kamu tidak dapat memilih semua hal yang terjadi kepadamu.

Tetapi kamu masih memiliki kesempatan untuk memilih langkah berikutnya.

Satu langkah.

Kemudian satu langkah lagi.

Tidak peduli seberapa jauh kamu merasa telah jatuh, jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa perjalananmu telah berakhir.

Mungkin kamu hanya sedang berada di bagian cerita yang paling sulit.

Dan bagian cerita yang paling sulit bukan selalu bagian terakhir.

Jadi, jika dunia pernah begitu kejam kepadamu, jangan merasa bahwa kamu harus membuktikan kepada dunia bahwa kamu tidak terluka.

Buktikan sesuatu yang jauh lebih penting kepada dirimu sendiri:

bahwa meskipun pernah dihancurkan oleh keadaan, kamu masih memiliki keberanian untuk perlahan-lahan membangun dirimu kembali.

Tidak harus hari ini.

Tidak harus sekaligus.

Cukup satu langkah kecil.

Karena terkadang, kehidupan yang baru tidak dimulai ketika semua luka menghilang.

Kehidupan yang baru dimulai ketika seseorang yang terluka berkata:

"Aku belum selesai.
EDITOR: Hanny Suwindari