JawaPos.com - Menjadi seorang pemimpin bukan hanya tentang kemampuan memberikan arahan, mengambil keputusan, atau memastikan pekerjaan selesai tepat waktu. Lebih dari itu, seorang pemimpin juga memiliki pengaruh besar terhadap suasana psikologis orang-orang di sekitarnya.
Kita semua mungkin pernah bertemu dengan pemimpin yang membuat kita merasa lebih percaya diri setelah berbicara dengannya. Bahkan ketika pekerjaan sedang sulit, kehadirannya membuat kita berpikir, “Baiklah, saya bisa menghadapi ini.”
Namun, kita juga mungkin pernah mengalami kebalikannya. Ada pemimpin yang membuat orang merasa tegang, takut melakukan kesalahan, atau kehilangan semangat hanya karena cara berbicara dan memperlakukan orang lain.
Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya persoalan struktur dan jabatan. Ada dimensi psikologis yang sangat kuat di dalamnya.
Pemimpin dapat memengaruhi emosi, motivasi, rasa aman, dan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri. Karena itu, memberikan energi positif kepada orang lain bukan berarti harus selalu ceria, selalu tersenyum, atau mengucapkan kata-kata motivasi setiap hari.
Energi positif dalam kepemimpinan lebih berkaitan dengan kemampuan menciptakan lingkungan yang membuat orang merasa dihargai, didengar, dipercaya, dan memiliki harapan.
Lalu, bagaimana cara melakukannya?
Dilansir dari Psychology Today pada Senin (21/9), terdapat tujuh kebiasaan yang dapat membantu seorang pemimpin memberikan energi positif dan menyemangati orang lain dari sudut pandang psikologi.
1. Dengarkan Orang Lain dengan Sungguh-Sungguh
Salah satu bentuk dukungan psikologis yang sering dianggap sederhana, tetapi memiliki pengaruh besar, adalah kemampuan mendengarkan.
Banyak pemimpin merasa bahwa tugas mereka adalah selalu memberikan jawaban. Padahal, tidak setiap orang yang sedang mengalami masalah membutuhkan nasihat pada saat itu.
Kadang-kadang seseorang hanya membutuhkan ruang untuk menyampaikan apa yang sedang mereka rasakan.
Ketika seorang pemimpin benar-benar mendengarkan, ia memberikan pesan tidak langsung:
“Apa yang kamu pikirkan penting.”
Perasaan dihargai seperti ini dapat membantu seseorang merasa lebih terhubung dengan lingkungan kerjanya.
Mendengarkan dengan sungguh-sungguh bukan sekadar diam ketika orang lain berbicara. Pemimpin perlu memberikan perhatian, tidak buru-buru memotong pembicaraan, mengajukan pertanyaan yang relevan, dan berusaha memahami sudut pandang orang tersebut.
Misalnya, daripada langsung berkata:
“Jangan terlalu dipikirkan. Besok pasti selesai.”
seorang pemimpin dapat mengatakan:
“Saya melihat kamu sedang menghadapi banyak hal. Bagian mana yang paling membuatmu kesulitan?”
Kalimat kedua membuka ruang untuk percakapan.
Orang tersebut mungkin kemudian menemukan sendiri apa yang sebenarnya menjadi masalahnya.
Mengapa ini penting secara psikologis?
Ketika seseorang merasa didengarkan dan dipahami, hubungan sosial dapat menjadi lebih kuat. Rasa terhubung dengan orang lain merupakan salah satu kebutuhan psikologis penting manusia.
Karena itu, pemimpin yang ingin memberikan energi positif tidak selalu harus menjadi orang yang paling banyak berbicara.
Terkadang, menjadi orang yang paling mampu mendengarkan justru jauh lebih berarti.
2. Berikan Apresiasi yang Spesifik, Bukan Sekadar Pujian
Setiap orang membutuhkan penghargaan.
Namun, ada perbedaan antara pujian yang umum dan apresiasi yang benar-benar bermakna.
Contohnya:
“Kerja bagus.”
Kalimat tersebut tentu positif, tetapi masih terlalu umum.
Bandingkan dengan:
“Cara kamu menjelaskan masalah kepada klien tadi sangat jelas. Kamu tetap tenang meskipun situasinya cukup sulit.”
Apresiasi kedua lebih spesifik.
Orang tersebut mengetahui perilaku apa yang dianggap bernilai.
Dalam psikologi, umpan balik yang jelas dapat membantu seseorang memahami perilaku yang efektif dan meningkatkan kemungkinan perilaku tersebut dipertahankan.
Karena itu, pemimpin sebaiknya tidak hanya memuji hasil akhir.
Perhatikan juga prosesnya.
Seseorang mungkin belum berhasil mencapai target, tetapi ia telah menunjukkan ketekunan, keberanian mengambil tanggung jawab, kemampuan bekerja sama, atau kemajuan dibandingkan sebelumnya.
Hal-hal tersebut layak diakui.
Hindari apresiasi yang terasa seperti formalitas
Orang dapat merasakan ketika pujian diberikan hanya karena kewajiban.
Jika setiap orang selalu mendapatkan kalimat yang sama seperti:
“Mantap!”
“Bagus sekali!”
“Pertahankan!”
lama-kelamaan kata-kata tersebut kehilangan maknanya.
Apresiasi yang efektif biasanya lebih personal dan konkret.
Misalnya:
“Saya menghargai caramu membantu anggota tim baru tadi. Kamu tidak hanya menyelesaikan pekerjaanmu sendiri, tetapi juga membuat orang lain lebih mudah beradaptasi.”
Kalimat seperti ini menunjukkan bahwa pemimpin benar-benar memperhatikan.
Dan ketika seseorang merasa usahanya terlihat, semangatnya sering kali ikut meningkat.
3. Tunjukkan Kepercayaan, Bukan Hanya Tuntutan
Pemimpin yang terus-menerus mengatakan:
“Kerjakan ini.”
“Selesaikan itu.”
“Jangan sampai salah.”
dapat membuat orang merasa bahwa dirinya hanya dinilai dari hasil.
Sebaliknya, pemimpin yang memberikan kepercayaan dapat membantu seseorang merasa memiliki tanggung jawab dan ruang untuk berkembang.
Memberikan kepercayaan tidak berarti membiarkan semuanya berjalan tanpa arahan.
Pemimpin tetap perlu menetapkan tujuan, batasan, dan standar yang jelas.
Namun setelah itu, berikan ruang bagi orang lain untuk menentukan bagaimana mereka mencapai tujuan tersebut.
Misalnya:
“Targetnya adalah selesai Jumat. Saya percaya kamu bisa menentukan cara terbaik untuk mengerjakannya. Kalau ada hambatan yang membutuhkan bantuan saya, beri tahu.”
Pesan seperti ini berbeda dengan:
“Lakukan persis seperti yang saya katakan dan jangan mengubah apa pun.”
Yang pertama memberikan struktur sekaligus otonomi.
Yang kedua dapat membatasi rasa memiliki terhadap pekerjaan.
Mengapa rasa percaya penting?
Manusia cenderung lebih termotivasi ketika mereka merasa memiliki kendali tertentu terhadap apa yang mereka lakukan.
Karena itu, pemimpin dapat menyemangati orang lain dengan memberi mereka kesempatan untuk mengambil keputusan, mencoba pendekatan baru, dan belajar dari pengalaman.
Tentu saja, tingkat kebebasan perlu disesuaikan dengan kemampuan dan situasi.
Tetapi jika setiap keputusan harus selalu mendapatkan persetujuan pemimpin, seseorang bisa menjadi terlalu bergantung dan kurang percaya pada kemampuannya sendiri.
Pemimpin yang baik bukan hanya menghasilkan orang yang mampu mengikuti instruksi.
Ia juga membantu orang lain menjadi lebih mampu mengambil keputusan.
4. Jadilah Sumber Ketenangan ketika Situasi Sulit
Pemimpin tidak harus selalu terlihat kuat.
Namun, ketika keadaan sedang penuh tekanan, cara seorang pemimpin mengelola emosinya dapat memengaruhi suasana kelompok.
Bayangkan sebuah tim menghadapi masalah besar.
Jika pemimpinnya langsung panik, menyalahkan orang lain, meninggikan suara, dan membuat keputusan secara terburu-buru, ketegangan dapat menyebar.
Sebaliknya, jika pemimpin mampu berkata:
“Situasinya memang tidak mudah. Mari kita lihat satu per satu apa yang masih bisa kita kendalikan.”
suasana dapat menjadi lebih terarah.
Ini bukan berarti pemimpin harus berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Justru sebaliknya.
Pemimpin dapat mengakui kenyataan tanpa memperbesar kepanikan.
Misalnya:
“Saya tahu ini masalah serius. Kita mungkin membutuhkan waktu untuk menyelesaikannya. Tetapi kita bisa mulai dari tiga hal yang paling mendesak.”
Kalimat seperti itu memberikan dua hal sekaligus: pengakuan terhadap masalah dan rasa bahwa masih ada sesuatu yang dapat dilakukan.
Energi positif bukan berarti selalu bahagia
Ini merupakan hal yang penting.
Menjadi pemimpin yang positif bukan berarti memaksa diri atau orang lain untuk selalu optimistis.
Ada saat ketika seseorang memang kecewa, lelah, takut, atau frustrasi.
Emosi tersebut tidak perlu disangkal.
Pemimpin yang sehat secara psikologis justru dapat mengatakan:
“Saya mengerti mengapa kamu kecewa.”
Kemudian dilanjutkan:
“Mari kita pikirkan langkah berikutnya.”
Dengan demikian, emosi tidak diabaikan, tetapi juga tidak dibiarkan mengambil alih seluruh situasi.
5. Berikan Harapan yang Realistis
Orang membutuhkan harapan, terutama ketika menghadapi situasi yang sulit.
Namun, ada perbedaan antara harapan dan optimisme kosong.
Mengatakan:
“Tenang saja, semuanya pasti baik-baik saja.”
belum tentu membantu.
Orang mungkin justru merasa bahwa masalah mereka tidak dipahami.
Harapan yang lebih sehat memiliki dasar yang realistis.
Contohnya:
“Kita memang belum mencapai target yang diharapkan. Tetapi dalam dua minggu terakhir ada peningkatan yang cukup jelas. Sekarang mari kita lihat apa yang bisa kita perbaiki.”
Pemimpin seperti ini tidak menyangkal kenyataan.
Ia mengakui masalah sekaligus menunjukkan kemungkinan untuk bergerak maju.
Dalam psikologi positif, harapan bukan sekadar berpikir bahwa masa depan akan menjadi lebih baik. Harapan juga berkaitan dengan kemampuan melihat tujuan dan menemukan jalan untuk mencapainya.
Karena itu, ketika seseorang kehilangan semangat, pemimpin dapat membantu dengan memecah tujuan besar menjadi langkah yang lebih kecil.
Misalnya, daripada berkata:
“Kita harus memperbaiki semuanya.”
katakan:
“Untuk minggu ini, mari fokus memperbaiki dua hal terlebih dahulu.”
Tujuan yang terasa lebih konkret dapat membuat tantangan tampak lebih mungkin dihadapi.
6. Jadilah Teladan dalam Cara Memperlakukan Orang
Orang tidak hanya mendengarkan apa yang dikatakan pemimpin.
Mereka juga memperhatikan apa yang dilakukan pemimpin.
Seorang pemimpin dapat berbicara tentang rasa hormat setiap hari, tetapi jika ia sering mempermalukan bawahannya di depan orang lain, pesan yang sebenarnya diterima adalah perilakunya, bukan ucapannya.
Sebaliknya, ketika pemimpin menunjukkan rasa hormat, tanggung jawab, keterbukaan terhadap kesalahan, dan kemauan untuk belajar, perilaku tersebut dapat menjadi contoh bagi anggota tim.
Misalnya, ketika seorang pemimpin melakukan kesalahan, ia dapat berkata:
“Keputusan itu ternyata kurang tepat. Saya bertanggung jawab atas bagian tersebut. Sekarang mari kita lihat apa yang bisa kita pelajari.”
Pengakuan seperti ini tidak otomatis mengurangi wibawa.
Dalam banyak situasi, justru dapat menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak merasa perlu berpura-pura sempurna.
Pemimpin juga perlu menjaga batas
Menjadi teladan bukan berarti harus bekerja tanpa henti.
Jika pemimpin selalu bekerja sampai larut malam dan menganggap kelelahan sebagai bukti dedikasi, anggota tim mungkin merasa harus melakukan hal yang sama.
Sebaliknya, ketika pemimpin menunjukkan bahwa istirahat, pengaturan waktu, dan kehidupan di luar pekerjaan juga memiliki nilai, ia memberikan contoh mengenai keberlanjutan.
Energi positif tidak hanya muncul dari kata-kata.
Ia juga muncul dari kebiasaan yang terlihat setiap hari.
7. Bantu Orang Lain Melihat Potensi Dirinya
Salah satu peran pemimpin yang paling berarti adalah membantu orang lain melihat kemampuan yang mungkin belum mereka sadari.
Kadang-kadang seseorang tidak kekurangan kemampuan.
Ia hanya kurang percaya pada dirinya sendiri.
Di sinilah pemimpin dapat berperan.
Misalnya, seorang anggota tim berkata:
“Saya rasa saya belum cukup mampu untuk memimpin proyek ini.”
Pemimpin tidak perlu langsung menjawab:
“Kamu pasti bisa.”
Jawaban yang lebih membantu mungkin:
“Saya melihat kamu sudah menangani bagian tersulit dari proyek sebelumnya dengan cukup baik. Menurutmu, bagian mana dari proyek ini yang paling membuatmu ragu?”
Percakapan tersebut mendorong seseorang untuk melihat bukti kemampuannya sendiri.
Pemimpin juga dapat memberikan kesempatan berkembang secara bertahap.
Misalnya, seseorang yang belum pernah memimpin rapat dapat diberi kesempatan memimpin rapat kecil terlebih dahulu.
Setelah itu, pemimpin memberikan umpan balik.
Dari pengalaman tersebut, rasa percaya diri dapat berkembang berdasarkan pengalaman nyata, bukan sekadar kata-kata motivasi.
Jangan mengambil alih setiap masalah
Ada kecenderungan seorang pemimpin yang ingin membantu untuk langsung menyelesaikan masalah orang lain.
Padahal, terlalu sering melakukan hal tersebut dapat membuat orang lain kehilangan kesempatan belajar.
Terkadang pertanyaan lebih berguna daripada jawaban.
Misalnya:
“Menurutmu, ada pilihan apa saja?”
“Apa risiko dari masing-masing pilihan?”
“Kalau kamu harus memilih sekarang, mana yang paling masuk akal?”
Pertanyaan seperti ini membantu seseorang belajar berpikir dan mengambil keputusan.
Pada akhirnya, pemimpin bukan hanya membantu orang menyelesaikan masalah hari ini.
Pemimpin juga membantu mereka menjadi lebih mampu menghadapi masalah berikutnya.
Energi Positif Berawal dari Cara Memperlakukan Manusia
Memberikan energi positif kepada orang lain tidak harus dilakukan melalui pidato motivasi besar.
Sering kali, pengaruh terbesar justru muncul dari interaksi kecil yang dilakukan secara konsisten.
Mendengarkan seseorang ketika ia berbicara.
Mengucapkan terima kasih atas usaha yang dilakukan.
Memberikan kepercayaan.
Tetap tenang ketika keadaan sulit.
Memberikan harapan yang realistis.
Mengakui kesalahan.
Dan membantu seseorang menyadari bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk berkembang.
Semua itu mungkin terlihat sederhana.
Namun, bagi orang yang sedang kehilangan semangat, tindakan kecil dari seorang pemimpin dapat memiliki arti yang besar.
Pada akhirnya, pemimpin bukan hanya orang yang menentukan ke mana sebuah kelompok bergerak.
Pemimpin juga ikut menentukan bagaimana perasaan orang-orang ketika mereka menjalani perjalanan tersebut.
Pemimpin yang mampu menciptakan lingkungan yang penuh rasa hormat, kepercayaan, dan dukungan tidak berarti akan membuat semua masalah menghilang.
Tetapi ia dapat membantu orang menghadapi masalah dengan perasaan bahwa mereka tidak sendirian.
Dan mungkin di situlah salah satu bentuk kepemimpinan yang paling manusiawi:
bukan membuat orang selalu merasa kuat, tetapi membantu mereka menemukan kembali kekuatan ketika mereka sedang merasa lemah.