← Beranda
6 Ucapan yang Tidak Pernah Digunakan oleh Orang yang Memiliki Etika Percakapan yang Tinggi
Leni Setya WatiSelasa, 22 September 2026 | 20.49 WIB
Ilustrasi orang yang memiliki etika tinggi dalam percakapan (magnific/gpointstudio)

JawaPos.com - Etika percakapan bukan sekadar kemampuan berbicara dengan sopan. Lebih dari itu, etika percakapan berkaitan dengan cara seseorang mendengarkan, memahami sudut pandang orang lain, serta menyampaikan pendapat tanpa merendahkan lawan bicara.

Orang yang memiliki etika percakapan tinggi biasanya menyadari bahwa setiap perkataan dapat memengaruhi perasaan orang lain.

Karena itu, mereka cenderung lebih berhati-hati dalam memilih kata, terutama ketika sedang menghadapi perbedaan pendapat atau situasi emosional.

Baca Juga: Tak Harus Jadi Sultan, 7 Perilaku Ini Bikin Anda Terlihat Lebih Kaya

Kemampuan tersebut tidak selalu terbentuk sejak seseorang masih kecil. Banyak orang justru mempelajarinya melalui pengalaman, kesalahan, dan interaksi dengan berbagai karakter.

Seiring berjalannya waktu, mereka memahami bahwa ada sejumlah kalimat yang mungkin terdengar biasa, tetapi sebenarnya dapat membuat percakapan menjadi tidak sehat.

Dikutip dari YourTango, berikut enam kalimat yang umumnya dihindari oleh orang dengan etika percakapan tinggi.

1. "Kamu terlalu sensitif"

Orang dengan etika komunikasi yang baik tidak menjadikan perasaan orang lain sebagai senjata dalam sebuah perdebatan.

Mereka mungkin saja memiliki pandangan berbeda mengenai suatu kejadian, tetapi tidak serta-merta menganggap perasaan lawan bicara sebagai sesuatu yang salah.

Memahami perasaan seseorang juga tidak berarti harus menyetujui seluruh pendapatnya. Empati berarti berusaha mendengarkan dan memahami alasan seseorang merasakan sesuatu.

Kalimat seperti "kamu terlalu sensitif" justru dapat membuat seseorang merasa emosinya tidak dihargai.

Dalam banyak situasi, pendekatan yang lebih baik adalah mencoba memahami apa yang sebenarnya membuat orang tersebut merasa terganggu sebelum memberikan tanggapan.

2. "Aku cuma jujur"

Kejujuran memang merupakan bagian penting dalam hubungan yang sehat. Namun, kejujuran tidak harus disampaikan dengan cara yang menyakitkan.

Orang dengan etika percakapan tinggi memahami bahwa ada perbedaan antara memberikan masukan secara jujur dan sengaja melontarkan perkataan yang kasar.

Misalnya, ketika seorang teman melakukan sesuatu yang tidak kita setujui, kita tetap dapat menyampaikan pendapat tanpa membuatnya merasa direndahkan.

Kejujuran seharusnya membantu seseorang memahami situasi, bukan menjadi alasan untuk menyakiti perasaannya.

Karena itu, sebelum berbicara, penting untuk mempertimbangkan bukan hanya apa yang ingin disampaikan, tetapi juga bagaimana cara menyampaikannya.

3. "Tenanglah"

Ketika seseorang sedang marah, kecewa, atau panik, menyuruhnya untuk "tenang" tidak selalu membuat keadaan menjadi lebih baik.

Sebaliknya, kalimat tersebut terkadang membuat seseorang merasa emosinya tidak dipahami. Orang dengan etika percakapan yang baik biasanya memilih pendekatan yang lebih lembut.

Mereka mungkin mengatakan, "Mari kita tarik napas dulu," atau "Coba kita lihat masalah ini dari sudut pandang yang lebih luas."

Pesannya tetap sama, tetapi cara penyampaiannya berbeda. Kalimat tersebut tidak secara langsung menyalahkan emosi seseorang sehingga percakapan memiliki peluang lebih besar untuk kembali terkendali.

Kemampuan menghadapi emosi orang lain tanpa meremehkannya merupakan salah satu bagian penting dari komunikasi yang sehat.

4. "Saya hampir selalu benar"

Memiliki keyakinan terhadap pendapat sendiri tentu bukan sesuatu yang salah. Namun, menganggap diri selalu benar dapat membuat percakapan berubah menjadi ajang untuk membuktikan siapa yang paling unggul.

Orang dengan etika percakapan tinggi biasanya menyadari bahwa setiap manusia bisa melakukan kesalahan. Karena itu, mereka tidak merasa perlu terus-menerus menunjukkan bahwa pendapatnya paling benar.

Mereka tetap dapat mempertahankan pandangan ketika memiliki alasan yang kuat, tetapi juga bersedia mempertimbangkan perspektif lain.

Dalam beberapa situasi, seseorang mungkin merasa sangat yakin bahwa dirinya benar. Namun, tidak semua perbedaan pendapat harus dimenangkan.

Terkadang, membiarkan sebuah perdebatan berlalu justru menjadi pilihan yang lebih bijaksana.

5. "Itu bukan masalah saya"

Ada kalanya seseorang datang kepada kita untuk menceritakan masalah yang sebenarnya tidak berkaitan dengan kehidupan kita. Kita juga mungkin tidak memiliki solusi yang bisa diberikan.

Meski demikian, hal tersebut bukan berarti kita harus menanggapi dengan kalimat yang membuatnya merasa ditolak.

Orang dengan etika percakapan tinggi biasanya memahami perbedaan antara menetapkan batasan dan meremehkan orang lain.

Jika memang tidak mampu membantu, seseorang tetap dapat menyampaikannya dengan cara yang lebih empatik. Misalnya, "Saya ingin membantu, tetapi saya tidak yakin apa yang bisa saya lakukan."

Respons seperti itu menunjukkan bahwa kita tetap menghargai perasaan lawan bicara sekaligus menjaga batasan diri.

6. "Aku sudah memberitahumu"

Kalimat ini sering muncul ketika seseorang harus mengulang informasi yang sebelumnya sudah pernah disampaikan.

Namun, orang dengan etika percakapan tinggi biasanya tidak menjadikan hal tersebut sebagai kesempatan untuk mempermalukan orang lain.

Ada banyak alasan seseorang bisa lupa atau tidak memahami informasi yang pernah disampaikan. Mereka mungkin sedang menghadapi masalah, kehilangan fokus, atau menerima terlalu banyak informasi dalam waktu bersamaan.

Tidak menutup kemungkinan pula bahwa informasi tersebut sebelumnya belum disampaikan dengan cukup jelas.

Karena itu, daripada mengatakan "aku sudah memberitahumu", seseorang dapat mengulang penjelasan dengan cara yang lebih tenang.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa tujuan utama percakapan adalah memastikan pesan dipahami, bukan membuktikan siapa yang lebih benar.

 
 
EDITOR: Setyo Adi Nugroho