JawaPos.com – Media sosial kini menjadi bagian dari rutinitas banyak orang. Mulai dari mencari informasi, berkomunikasi, hingga mengisi waktu luang, semuanya dapat dilakukan melalui layar. Namun, penggunaan yang tidak terkontrol juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya dan kehidupan di sekitarnya.
Kebiasaan seperti membuka aplikasi berulang kali, membandingkan diri dengan orang lain, atau terus mengejar respons dari pengguna lain sering dianggap sebagai aktivitas biasa. Padahal, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang kehilangan fokus pada kehidupan nyata dan merasa kurang puas dengan apa yang dimiliki.
Dilansir dari Geediting.com, terdapat tujuh kebiasaan bermedia sosial yang terlihat sederhana, tetapi dapat berkontribusi terhadap menurunnya rasa puas dan bahagia dalam kehidupan sehari-hari.
Berikut tujuh kebiasaan yang perlu diperhatikan:
Baca Juga: Bukan Sekadar Penampilan, 8 Kebiasaan Berpakaian Ini Disebut Berkaitan dengan Karakter Cerdas
1. Scrolling Tanpa Batas
Awalnya, membuka media sosial mungkin hanya bertujuan untuk melihat beberapa unggahan. Namun, tanpa terasa seseorang dapat terus menggulir layar selama berjam-jam.
Masalahnya, sebagian besar konten yang muncul merupakan potongan kehidupan terbaik seseorang. Foto liburan, pencapaian pekerjaan, gaya hidup, hingga momen bahagia lebih sering ditampilkan dibandingkan kesulitan yang mereka alami.
Jika terlalu sering melihat gambaran tersebut, seseorang bisa mulai membandingkannya dengan kehidupan pribadi. Akibatnya, kehidupan sendiri terasa kurang menarik meskipun sebenarnya tidak demikian.
Menentukan batas waktu penggunaan media sosial dapat menjadi salah satu cara untuk mencegah kebiasaan scrolling berlebihan.
2. Terlalu Bergantung pada Jumlah Like
Menunggu jumlah like, komentar, atau respons setelah mengunggah sesuatu juga dapat menjadi kebiasaan yang sulit disadari.
Ketika respons yang diperoleh sesuai harapan, seseorang mungkin merasa senang. Sebaliknya, unggahan yang sepi respons dapat menimbulkan rasa kecewa atau membuat seseorang mempertanyakan nilai dirinya.
Jika berlangsung terus-menerus, penilaian terhadap diri sendiri bisa terlalu bergantung pada respons pengguna lain. Padahal, jumlah interaksi di media sosial tidak menentukan nilai atau keberhasilan seseorang.
3. Bermain Media Sosial Menjelang Tidur
Menghabiskan waktu dengan ponsel sebelum tidur sering kali dianggap sebagai cara untuk bersantai setelah menjalani aktivitas seharian.
Namun, kebiasaan tersebut dapat membuat waktu tidur semakin mundur. Seseorang juga dapat terus terpapar berbagai informasi atau konten yang membuat pikirannya tetap aktif ketika seharusnya mulai beristirahat.
Karena itu, membatasi penggunaan perangkat sebelum tidur dan membangun rutinitas malam yang lebih tenang dapat membantu menjaga waktu istirahat tetap teratur.
4. Refleks Mengecek Media Sosial
Pernah membuka ponsel tanpa tujuan yang jelas hanya karena merasa harus memeriksa notifikasi? Kebiasaan semacam ini dapat terjadi berkali-kali dalam sehari.
Seseorang mungkin mengecek media sosial ketika sedang menunggu kendaraan, makan, bekerja, atau bahkan ketika sedang berbincang dengan orang lain.
Kebiasaan tersebut dapat memecah konsentrasi dan membuat aktivitas sehari-hari terus terinterupsi. Menentukan waktu tertentu untuk membuka media sosial dapat membantu penggunaan perangkat menjadi lebih terkontrol.
5. Membentuk Standar Hidup yang Tidak Realistis
Media sosial membuat seseorang mudah melihat pencapaian dan gaya hidup orang lain dalam jumlah besar. Sayangnya, yang terlihat biasanya hanyalah sisi terbaik dari kehidupan mereka.
Konten mengenai rumah mewah, perjalanan, pekerjaan sukses, hubungan romantis, atau penampilan sempurna belum tentu menggambarkan kondisi mereka secara keseluruhan.
Jika menjadikan unggahan tersebut sebagai standar kehidupan pribadi, seseorang bisa merasa tertinggal atau tidak cukup baik. Padahal, setiap orang memiliki kondisi, perjalanan, dan tantangan yang berbeda.
6. Mengurangi Interaksi di Dunia Nyata
Media sosial memang mempermudah seseorang untuk tetap berhubungan dengan orang lain. Namun, interaksi melalui layar tidak selalu dapat menggantikan hubungan langsung yang lebih mendalam.
Terlalu banyak menghabiskan waktu secara online dapat membuat seseorang mengurangi kesempatan untuk berbicara langsung, berkumpul dengan keluarga, atau melakukan aktivitas bersama teman.
Selain itu, melihat orang lain bersenang-senang juga dapat memunculkan FOMO atau fear of missing out, yakni perasaan takut tertinggal dari pengalaman yang sedang dinikmati orang lain.
Menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan aktivitas di dunia nyata dapat membantu hubungan sosial tetap bermakna.
7. Terjebak dalam Konten yang Dipersonalisasi
Algoritma media sosial bekerja dengan mempelajari aktivitas pengguna. Konten yang sering dilihat atau disukai kemudian dapat membuat pengguna terus mendapatkan materi serupa.
Di satu sisi, sistem tersebut membuat pengalaman menggunakan media sosial terasa lebih relevan. Namun, terlalu lama berada dalam lingkaran konten yang sama juga dapat mempersempit sudut pandang.
Mencoba mengikuti sumber informasi yang beragam dan sesekali mengeksplorasi topik di luar kebiasaan dapat membantu seseorang mendapatkan perspektif yang lebih luas.