← Beranda
7 Keterampilan Relasional yang Akan Menyelamatkan Hubungan yang Tidak Sehat Menurut Psikologi
Irfan FerdiansyahSenin, 21 September 2026 | 03.29 WIB
seseorang yang menyelamatkan hubungan tidak sehat / foto: Magnific/maryna_alex
 
JawaPos.com - Hubungan yang tidak sehat jarang menjadi tidak sehat dalam semalam.

Sering kali, masalah muncul secara perlahan. Percakapan yang awalnya sederhana berubah menjadi pertengkaran. Perbedaan pendapat terasa seperti serangan pribadi. Salah satu pihak mulai menarik diri, sementara pihak lain semakin mengejar kepastian. Permintaan maaf menjadi semakin jarang, kepercayaan perlahan terkikis, dan hal-hal kecil yang dulu mudah diselesaikan berubah menjadi konflik yang berulang.

Pada titik tertentu, pasangan mungkin mulai bertanya: Apakah hubungan ini masih bisa diperbaiki?

Dalam psikologi hubungan, jawabannya tidak sesederhana "ya" atau "tidak". Hubungan yang penuh konflik memang dapat mengalami perubahan ketika kedua pihak bersedia memahami pola yang terjadi dan membangun cara berinteraksi yang lebih sehat.

Namun, memperbaiki hubungan bukan sekadar belajar berbicara lebih lembut atau lebih sering menghabiskan waktu bersama. Yang lebih penting adalah membangun keterampilan relasional—kemampuan untuk berkomunikasi, mengatur emosi, memahami perspektif pasangan, menetapkan batasan, memperbaiki konflik, dan menciptakan kembali rasa aman.

Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (20/9), terdapat tujuh keterampilan relasional yang dapat membantu mengubah hubungan yang penuh pola tidak sehat menjadi hubungan yang lebih aman dan matang.

1. Kemampuan Mengomunikasikan Kebutuhan Tanpa Menyerang

Salah satu sumber konflik terbesar dalam hubungan adalah kebutuhan yang tidak tersampaikan dengan jelas.

Seseorang mungkin sebenarnya ingin mengatakan:

"Aku ingin merasa dihargai."

Tetapi karena sudah frustrasi, kalimat yang keluar justru:

"Kamu memang nggak pernah menghargai aku."

Kedua kalimat tersebut memiliki kebutuhan yang sama, tetapi menghasilkan dampak yang sangat berbeda.

Kalimat pertama membuka ruang dialog. Kalimat kedua cenderung membuat pasangan merasa dituduh dan terdorong untuk membela diri.

Dalam hubungan yang tidak sehat, komunikasi sering berubah menjadi siklus tuduhan dan pertahanan diri. Satu pihak mengkritik, pihak lain membela diri. Kritik semakin keras, pertahanan semakin kuat, lalu konflik berkembang menjadi saling menyerang.

Karena itu, salah satu keterampilan penting adalah mengubah keluhan menjadi komunikasi kebutuhan.

Alih-alih:

"Kamu selalu sibuk dan nggak peduli sama aku."

Cobalah:

"Aku merasa kesepian ketika kita jarang punya waktu untuk berbicara. Aku ingin kita punya waktu khusus untuk ngobrol tanpa distraksi."

Struktur sederhana yang bisa digunakan adalah:

Ketika X terjadi, saya merasa Y, dan saya membutuhkan Z.

Contohnya:

"Ketika kamu membatalkan rencana secara mendadak, aku merasa tidak diprioritaskan. Aku membutuhkan komunikasi lebih awal kalau memang ada perubahan."

Cara ini bukan berarti seseorang harus menyembunyikan kemarahan atau berpura-pura semuanya baik-baik saja. Justru sebaliknya, emosi tetap disampaikan, tetapi dalam bentuk yang memungkinkan pasangan memahami masalahnya.

Mengapa keterampilan ini penting?

Karena pasangan tidak selalu mampu membaca pikiran satu sama lain.

Banyak konflik terjadi bukan karena kebutuhan seseorang tidak masuk akal, melainkan karena kebutuhan tersebut disampaikan dalam bentuk kritik, sindiran, diam berkepanjangan, atau ledakan emosi.

Komunikasi yang sehat membuat masalah menjadi sesuatu yang bisa dibahas bersama, bukan pertandingan tentang siapa yang paling salah.

2. Kemampuan Mendengarkan Secara Aktif

Mendengar bukan sekadar diam ketika pasangan berbicara.

Dalam hubungan yang sehat, mendengarkan berarti berusaha memahami pengalaman pasangan sebelum mempersiapkan jawaban atau pembelaan.

Ini menjadi sangat penting ketika hubungan sudah dipenuhi konflik.

Bayangkan pasangan mengatakan:

"Aku merasa akhir-akhir ini kamu jauh."

Respons yang defensif mungkin:

"Aku jauh karena kamu juga selalu marah."

Secara teknis, orang tersebut memang menjawab. Tetapi dia tidak benar-benar mendengarkan.

Respons yang lebih reflektif bisa berupa:

"Kamu merasa aku semakin jauh dan itu membuat kamu merasa sendirian?"

Kalimat tersebut tidak berarti kita langsung setuju dengan semua yang dikatakan pasangan. Kita hanya menunjukkan bahwa kita berusaha memahami pengalaman mereka.

Ini adalah perbedaan penting:

Memahami bukan berarti menyetujui.

Seseorang dapat mengatakan:

"Aku mengerti kenapa kamu merasa terluka."

tanpa harus mengatakan:

"Berarti semua yang kamu lakukan benar."

Praktik mendengarkan aktif

Ketika pasangan berbicara tentang masalah, coba lakukan beberapa hal berikut:

Jangan langsung memotong.
Tanyakan pertanyaan klarifikasi.
Ulangi inti yang Anda pahami.
Akui emosi yang sedang dirasakan pasangan.
Hindari langsung membandingkan dengan pengalaman Anda sendiri.
Tunda pembelaan diri selama beberapa saat.

Contohnya:

"Kalau aku memahami kamu dengan benar, masalah utamanya bukan soal aku terlambat, tetapi kamu merasa aku tidak mempertimbangkan waktumu. Benar begitu?"

Pertanyaan sederhana seperti ini dapat mengurangi salah paham.

Dalam hubungan yang sudah lama penuh konflik, kemampuan untuk merasa "didengar" sering kali menjadi bagian penting dari proses membangun kembali koneksi.

3. Kemampuan Mengatur Emosi Sebelum Menyelesaikan Konflik

Tidak semua konflik harus diselesaikan saat itu juga.

Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat penting.

Ketika seseorang berada dalam kondisi sangat marah, takut, atau kewalahan, kemampuan untuk berpikir secara fleksibel dapat menurun. Akibatnya, percakapan mudah berubah menjadi pertengkaran yang lebih besar.

Pada kondisi tersebut, seseorang mungkin:

mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dikatakan,
mengungkit kesalahan lama,
menggunakan kata-kata absolut seperti "selalu" atau "tidak pernah",
mengancam mengakhiri hubungan,
melakukan penghinaan,
atau memilih diam sebagai bentuk hukuman.

Karena itu, keterampilan relasional bukan hanya cara berbicara, tetapi juga kapan harus berbicara.

Jika emosi sedang terlalu tinggi, pasangan dapat membuat kesepakatan untuk mengambil jeda.

Contohnya:

"Aku ingin menyelesaikan masalah ini, tetapi sekarang aku terlalu emosional. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri. Kita lanjutkan pembicaraan malam ini setelah aku lebih tenang."

Perhatikan perbedaannya dengan menghilang begitu saja.

Jeda yang sehat memiliki tiga unsur:

pengakuan + alasan + kepastian untuk kembali.

Misalnya:

"Aku tahu kita perlu membicarakan ini. Aku sedang terlalu marah untuk berpikir dengan baik. Aku mau kita lanjutkan setelah makan malam."

Jeda bukan berarti melarikan diri dari konflik.

Jeda adalah cara mencegah emosi sesaat mengambil alih seluruh percakapan.

Belajar mengenali tanda-tanda tubuh

Regulasi emosi juga berarti mengenali tanda bahwa diri sendiri mulai kewalahan.

Misalnya:

napas menjadi cepat,
tubuh terasa tegang,
suara meninggi,
sulit berkonsentrasi,
dorongan untuk menyerang atau pergi semakin kuat,
atau pikiran mulai melihat pasangan sebagai "musuh".

Ketika tanda-tanda tersebut muncul, mengambil waktu untuk menenangkan diri dapat lebih produktif daripada memaksakan percakapan.

4. Kemampuan Memperbaiki Konflik Setelah Terjadi

Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa konflik.

Dua manusia yang berbeda hampir pasti akan mengalami kesalahpahaman, kekecewaan, dan perbedaan kebutuhan.

Yang membedakan hubungan yang lebih sehat adalah kemampuan untuk memperbaiki hubungan setelah konflik.

Dalam psikologi hubungan, proses perbaikan setelah konflik sering kali menjadi bagian penting dari kualitas hubungan.

Perbaikan dapat berupa:

"Aku tadi bicara terlalu keras. Itu tidak tepat."

atau:

"Aku masih tidak setuju dengan pendapatmu, tetapi aku tidak seharusnya menghina kamu."

Atau bahkan:

"Aku ingin mencoba membicarakan masalah ini lagi tanpa saling menyalahkan."

Permintaan maaf yang sehat juga tidak selalu berbentuk:

"Maaf kalau kamu tersinggung."

Kalimat tersebut dapat terdengar seperti memindahkan tanggung jawab kepada orang yang terluka.

Permintaan maaf yang lebih bertanggung jawab adalah:

"Aku menyadari kata-kataku tadi menyakitimu. Aku seharusnya tidak mengatakannya seperti itu. Aku minta maaf."

Lebih baik lagi jika permintaan maaf diikuti perubahan perilaku.

Karena pada akhirnya, kepercayaan tidak dibangun hanya melalui kata-kata, tetapi melalui pola tindakan yang konsisten.

Perbaikan tidak berarti menghapus konflik

Masalah yang sudah terjadi tidak harus dianggap tidak pernah terjadi.

Tujuannya adalah membuat konflik tidak terus berkembang menjadi luka baru.

Pasangan dapat bertanya:

Apa sebenarnya yang terjadi?
Bagian mana yang paling menyakitkan?
Apa yang saya lakukan yang memperburuk situasi?
Apa yang bisa saya lakukan secara berbeda lain kali?
Apa yang kita butuhkan agar pola ini tidak terus berulang?

Pertanyaan tersebut menggeser fokus dari:

"Siapa yang salah?"

menjadi:

"Bagaimana kita bisa memutus pola ini?"

5. Kemampuan Menetapkan Batasan yang Sehat

Hubungan yang sehat membutuhkan kedekatan.

Tetapi kedekatan tidak berarti kehilangan batas pribadi.

Batasan atau boundaries membantu seseorang menjelaskan apa yang dapat dan tidak dapat diterima dalam sebuah hubungan.

Contohnya:

"Aku bersedia membicarakan masalah ini, tetapi aku tidak mau melanjutkan percakapan jika kita mulai saling menghina."

Atau:

"Aku membutuhkan waktu pribadi beberapa jam setelah bekerja. Setelah itu aku bisa fokus berbicara denganmu."

Batasan bukan ancaman.

Ada perbedaan antara:

"Kalau kamu melakukan itu lagi, aku akan membuat hidupmu susah."

dan:

"Kalau percakapan berubah menjadi penghinaan, aku akan menghentikan percakapan dan melanjutkannya ketika kita sudah lebih tenang."

Batasan yang sehat berfokus pada tindakan yang akan kita ambil untuk menjaga diri, bukan usaha mengendalikan setiap perilaku pasangan.

Mengapa batasan penting?

Tanpa batasan, seseorang mungkin terus menerima perilaku yang membuatnya terluka karena takut kehilangan hubungan.

Pada akhirnya, rasa frustrasi dapat menumpuk.

Hubungan yang sehat membutuhkan ruang bagi dua individu untuk tetap memiliki:

kebutuhan pribadi,
waktu pribadi,
persahabatan,
minat,
nilai,
privasi yang wajar,
dan hak untuk mengatakan tidak.

Kedekatan yang sehat bukan berarti menjadi satu orang.

Justru hubungan yang matang memungkinkan dua individu tetap memiliki identitas masing-masing sambil membangun kehidupan bersama.

6. Kemampuan Memahami Pola Konflik, Bukan Hanya Isi Konflik

Salah satu perubahan terbesar dalam hubungan dapat terjadi ketika pasangan berhenti hanya memperhatikan apa yang mereka perdebatkan dan mulai melihat pola bagaimana mereka bertengkar.

Misalnya, pasangan sering bertengkar mengenai pesan yang tidak dibalas.

Jika dilihat dari permukaannya, masalahnya adalah:

"Kenapa kamu tidak membalas pesan?"

Tetapi pola yang lebih dalam mungkin berupa:

Satu pihak merasa diabaikan → ia mengejar kepastian → pihak lain merasa tertekan → ia menarik diri → pihak pertama semakin cemas → ia mengejar lebih keras → pihak kedua semakin menjauh.

Dengan kata lain, masalahnya bukan hanya pesan.

Ada pola interaksi yang terus berulang.

Ketika pasangan menyadari pola tersebut, mereka dapat mulai melihat konflik sebagai sesuatu yang terjadi di antara mereka, bukan sebagai bukti bahwa salah satu orang sepenuhnya merupakan masalah.

Contohnya:

"Aku perhatikan setiap kali aku merasa tidak mendapat respons, aku mulai mengejar dan bertanya berkali-kali. Kamu kemudian merasa tertekan dan menarik diri. Setelah kamu menarik diri, aku semakin panik. Sepertinya kita masuk ke pola yang sama."

Kesadaran seperti ini dapat mengubah percakapan.

Alih-alih:

"Kamu selalu menjauh!"

menjadi:

"Sepertinya kita punya pola mengejar dan menjauh."

Perubahan bahasa tersebut penting.

Karena pasangan tidak lagi harus berhadapan sebagai dua kubu.

Mereka dapat bekerja sama melawan pola yang merusak hubungan.

7. Kemampuan Membangun Kembali Kepercayaan Melalui Konsistensi

Kepercayaan adalah salah satu fondasi hubungan.

Namun ketika hubungan sudah mengalami kebohongan, pengabaian, konflik berulang, atau pelanggaran batasan, kepercayaan tidak dapat dipulihkan hanya dengan satu percakapan emosional.

Kepercayaan biasanya membutuhkan konsistensi dari waktu ke waktu.

Misalnya seseorang mengatakan:

"Aku akan lebih terbuka tentang masalah yang sedang terjadi."

Kalimat itu baru memiliki makna ketika diikuti tindakan.

Atau:

"Aku tidak akan lagi menggunakan penghinaan ketika marah."

Komitmen tersebut perlu terlihat dalam konflik berikutnya.

Inilah mengapa perubahan dalam hubungan sebaiknya dinilai bukan hanya dari seberapa kuat seseorang meminta maaf, tetapi juga dari apakah perilakunya berubah secara konsisten.

Kepercayaan dibangun melalui hal-hal kecil

Sering kali, membangun kembali kepercayaan tidak dimulai dari gestur romantis yang besar.

Justru dari tindakan sederhana seperti:

menepati janji,
memberi kabar ketika rencana berubah,
berbicara jujur,
mengakui kesalahan,
tidak menggunakan kerentanan pasangan sebagai senjata,
menghormati batasan,
dan melakukan apa yang sudah dikatakan.

Semakin konsisten pola tersebut, semakin banyak pengalaman baru yang dapat menggantikan pengalaman lama.

Namun proses ini membutuhkan waktu.

Seseorang yang pernah terluka mungkin tidak langsung kembali percaya hanya karena pasangannya sudah meminta maaf.

Dan itu wajar.

Kepercayaan bukan sesuatu yang dapat dipaksa.

Ketujuh Keterampilan Ini Saling Berhubungan

Menariknya, ketujuh keterampilan tersebut bukanlah tujuh teknik yang berdiri sendiri.

Mereka saling membentuk satu sistem.

Misalnya:

Mengatur emosi → mendengarkan → menyampaikan kebutuhan → memahami pola → menetapkan batasan → memperbaiki konflik → membangun kepercayaan.

Bayangkan sebuah konflik:

Seseorang merasa diabaikan.

Daripada langsung menyerang, ia mengatur emosinya terlebih dahulu.

Kemudian ia mengatakan:

"Aku merasa kesepian ketika kita tidak punya waktu bersama."

Pasangannya mendengarkan dan mencoba memahami.

Keduanya menyadari bahwa setiap kali salah satu merasa tidak aman, mereka masuk ke pola mengejar dan menjauh.

Mereka kemudian membuat batasan terhadap perilaku yang tidak sehat dan menyepakati cara berkomunikasi yang berbeda.

Ketika terjadi kesalahan lagi, mereka memperbaikinya.

Setelah pola tersebut berlangsung berulang kali, kepercayaan mulai terbentuk kembali.

Itulah mengapa memperbaiki hubungan bukan tentang menemukan satu kalimat ajaib.

Yang dibutuhkan adalah pola baru yang dilakukan secara konsisten.

Tetapi Tidak Semua Hubungan yang Tidak Sehat Harus Diselamatkan

Ada satu hal penting yang sering terlupakan ketika membicarakan "memperbaiki hubungan".

Tidak semua hubungan yang tidak sehat dapat diperbaiki hanya dengan komunikasi yang lebih baik.

Dan seseorang tidak memiliki kewajiban untuk bertahan dalam hubungan yang membahayakan dirinya.

Jika sebuah hubungan melibatkan kekerasan fisik, ancaman, pemaksaan, kontrol yang ekstrem, intimidasi, atau bentuk kekerasan lainnya, prioritasnya bukan sekadar meningkatkan keterampilan komunikasi pasangan.

Prioritasnya adalah keselamatan dan dukungan yang tepat.

Dalam situasi seperti itu, meminta seseorang untuk "berkomunikasi lebih baik dengan pasangannya" tanpa mempertimbangkan risiko dapat menjadi saran yang tidak memadai.

Hubungan juga membutuhkan kemauan dari kedua pihak.

Satu orang dapat belajar mengelola emosi dengan lebih baik. Tetapi ia tidak dapat sendirian menciptakan hubungan yang sehat jika pihak lain terus melakukan kekerasan, menolak bertanggung jawab, atau menggunakan perubahan tersebut untuk memanipulasi pasangannya.

Karena itu, pertanyaan yang lebih sehat bukan hanya:

"Bagaimana caranya menyelamatkan hubungan ini?"

Tetapi juga:

"Apakah kedua orang dalam hubungan ini bersedia menciptakan hubungan yang lebih aman, saling menghormati, dan bertanggung jawab?"

Kapan Bantuan Profesional Dibutuhkan?

Ada kalanya pasangan sudah mencoba berkomunikasi tetapi selalu kembali ke pola yang sama.

Dalam situasi seperti itu, konseling atau terapi pasangan dapat membantu pasangan memahami pola interaksi yang sulit mereka lihat sendiri.

Bantuan profesional juga dapat berguna ketika konflik sudah berlangsung lama, kepercayaan mengalami kerusakan besar, atau kedua pihak merasa tidak mampu memutus siklus konflik.

Terapi bukan berarti hubungan tersebut pasti harus dipertahankan.

Tujuannya dapat berupa membantu pasangan memahami masalah, memperbaiki pola komunikasi, menentukan batasan, atau membuat keputusan mengenai masa depan hubungan dengan lebih jelas.

Untuk hubungan yang melibatkan kekerasan atau rasa takut, pendekatan yang tepat dapat berbeda dan keselamatan perlu menjadi pertimbangan utama.

Penutup: Hubungan Sehat Dibangun, Bukan Ditemukan

Banyak orang membayangkan hubungan sehat sebagai hubungan yang selalu harmonis.

Padahal, hubungan yang sehat bukan berarti tidak pernah marah, kecewa, atau bertengkar.

Hubungan yang lebih sehat adalah hubungan di mana dua orang dapat mengalami konflik tanpa kehilangan rasa hormat; dapat mengungkapkan kebutuhan tanpa harus menyerang; dapat meminta ruang tanpa menghukum; dapat melakukan kesalahan tanpa menolak tanggung jawab; dan dapat memperbaiki hubungan setelah mengalami keretakan.

Tujuh keterampilan yang dapat membantu proses tersebut adalah:

Mengomunikasikan kebutuhan tanpa menyerang.
Mendengarkan secara aktif.
Mengatur emosi sebelum menyelesaikan konflik.
Memperbaiki hubungan setelah konflik.
Menetapkan batasan yang sehat.
Memahami pola konflik, bukan hanya isi konflik.
Membangun kembali kepercayaan melalui konsistensi.

Pada akhirnya, hubungan tidak berubah hanya karena seseorang mengetahui teori psikologi.

Hubungan berubah ketika pengetahuan tersebut diterjemahkan menjadi perilaku yang dilakukan berulang kali.

Satu percakapan mungkin membuka pintu.

Satu permintaan maaf mungkin memulai proses.

Tetapi konsistensi, rasa aman, tanggung jawab, dan perubahan perilaku yang menentukan apakah hubungan benar-benar bergerak ke arah yang lebih sehat.

Dan terkadang, menyelamatkan sebuah hubungan bukan berarti mempertahankannya dengan segala cara.

Terkadang, yang perlu diselamatkan terlebih dahulu adalah kesejahteraan dan martabat orang-orang yang berada di dalamnya.***
EDITOR: Setyo Adi Nugroho