← Beranda
Sulit Bicara di Depan Banyak Orang Bukan Berarti Anda Kurang Cerdas, Ini Penjelasan Psikologisnya!
Mellyna Putri DiniarMinggu, 20 September 2026 | 17.30 WIB
Ilustrasi seseorang berbicara di depan banyak orang dalam sebuah presentasi../(Times of India)

JawaPos.com — Seseorang bisa memahami suatu topik dengan baik, memiliki banyak hal untuk disampaikan, bahkan merasa percaya diri saat berbicara empat mata. 

Namun, ketika harus berdiri di depan banyak orang, kemampuan itu seolah menghilang. Kata-kata sulit keluar, pikiran mendadak kosong, bahkan hal yang sebelumnya sudah dikuasai terasa sulit diingat.

Kondisi tersebut tidak otomatis menunjukkan seseorang kurang cerdas, tidak mampu, kurang percaya diri, atau tidak siap. 

Menurut psikologi, salah satu penjelasannya adalah public speaking anxiety, yakni kecemasan ketika berbicara di depan publik yang berkaitan dengan kekhawatiran akan penilaian negatif atau dipermalukan. 

American Psychological Association (APA) mendefinisikannya sebagai ketakutan memberikan pidato atau presentasi karena mengantisipasi evaluasi negatif atau penghinaan. 

Dilansir dari Times of India, Minggu (20/9/2026), kecemasan berbicara di depan publik juga cukup umum. Studi dalam Archives of General Psychiatry pada 1996 yang melibatkan 499 warga Winnipeg, Kanada, menemukan sekitar sepertiga responden melaporkan kecemasan berlebihan ketika harus berbicara di hadapan audiens besar. 

Studi itu juga mencatat bahwa kecemasan tersebut dapat berdampak pada pekerjaan, pendidikan, kehidupan sosial, hingga menimbulkan tekanan psikologis pada sebagian responden. 

Mengapa pikiran bisa tiba-tiba kosong?

Ketika seseorang merasa sedang diamati dan dinilai, tubuh dapat memasuki respons stres. Detak jantung meningkat, telapak tangan berkeringat, otot menegang, dan pola pernapasan berubah. 

Pada tingkat mental, tekanan tersebut dapat membuat seseorang kehilangan kata, lupa urutan pembicaraan, atau kesulitan mengakses informasi yang sebenarnya sudah tersimpan dalam ingatan.

Fenomena ini sering disebut brain freeze. Artinya bukan pengetahuan seseorang tiba-tiba hilang, melainkan kecemasan dapat mengganggu proses mengambil kembali informasi ketika informasi itu dibutuhkan.

Studi Archives of General Psychiatry menemukan bahwa salah satu kekhawatiran paling umum adalah pikiran mendadak kosong. Responden juga melaporkan takut menunjukkan tanda-tanda kecemasan, tidak mampu melanjutkan pembicaraan, mengatakan sesuatu yang memalukan, atau terdengar tidak masuk akal. 

Kondisi itu dapat membentuk siklus. Seseorang takut melakukan kesalahan, kecemasannya meningkat, kemampuan mengakses informasi menjadi lebih sulit, lalu kesulitan tersebut semakin memperkuat ketakutan bahwa dirinya akan terlihat tidak kompeten.

Latihan dapat membantu mengubah respons kecemasan

Dalam pendekatan kognitif-perilaku, pikiran, perasaan, dan perilaku saling memengaruhi. Pikiran seperti “semua orang akan menyadari kalau saya salah” dapat meningkatkan kecemasan. 

Sebaliknya, terus menghindari situasi berbicara di depan orang lain hanya memberi kelegaan sementara dan dapat membuat ketakutan bertahan.

APA menjelaskan bahwa terapi kognitif-perilaku dapat membantu seseorang mengenali dan mengelola pola pikir serta perilaku yang memicu kecemasan. Pendekatan ini juga dapat melibatkan paparan bertahap terhadap situasi yang ditakuti. 

Karena itu, seseorang tidak harus langsung berlatih di hadapan ratusan orang. Latihan dapat dimulai dengan berbicara kepada satu orang yang dipercaya, kemudian kelompok kecil, sebelum menghadapi audiens yang lebih besar.

Tujuannya bukan menghilangkan seluruh rasa gugup, tetapi membangun pengalaman bahwa rasa cemas tidak selalu berujung pada kegagalan.

Gugup bukan ukuran kecerdasan

Kemampuan berbicara di bawah tekanan dan kemampuan intelektual merupakan hal yang berbeda. Seseorang yang sangat menguasai suatu bidang tetap dapat kesulitan menyampaikan pengetahuannya ketika menjadi pusat perhatian.

Public speaking merupakan keterampilan yang dapat dikembangkan. Mempersiapkan poin utama, alih-alih menghafalkan setiap kalimat, dapat mengurangi tekanan. Jika lupa satu bagian, pembicara dapat kembali pada gagasan utama dan menjelaskannya dengan kata-kata sendiri.

Dengan demikian, orang yang terlihat gugup ketika berbicara di depan publik belum tentu kekurangan pengetahuan atau kemampuan. Tantangannya bisa terletak pada bagaimana mengakses dan menyampaikan apa yang sudah mereka ketahui ketika berada dalam situasi penuh tekanan.

Jika kecemasan berlangsung intens dan terus mengganggu pekerjaan, pendidikan, kehidupan sosial, atau aktivitas sehari-hari, mencari bantuan profesional dapat menjadi pertimbangan. 

EDITOR: Hanny Suwindari