← Beranda
Jika Kamu Tidak Ingin Menjadi Orang yang Dikendalikan oleh Orang Lain, Pahami 5 Cara Ini
Irfan FerdiansyahMinggu, 20 September 2026 | 05.17 WIB
seseorang yang tidak ingin dikendalikan oleh orang lain / foto: Magnific/Lifestylememory
 
JawaPos.com - Ada orang yang tampak bebas dari luar, tetapi sebenarnya hidupnya banyak ditentukan oleh orang lain.

Mereka sulit mengatakan “tidak”, merasa bersalah ketika mengecewakan seseorang, terlalu memikirkan penilaian orang lain, dan sering mengambil keputusan bukan karena benar-benar menginginkannya, melainkan karena takut menghadapi reaksi orang lain.

Yang menarik, kendali terhadap seseorang tidak selalu dilakukan dengan cara yang kasar atau terang-terangan.

Kadang, seseorang mengendalikan kita melalui rasa bersalah.

Kadang melalui pujian.

Kadang melalui ancaman kehilangan hubungan.

Kadang melalui kalimat sederhana seperti, “Kalau kamu benar-benar peduli kepadaku, kamu pasti mau melakukannya.”

Tanpa sadar, kita akhirnya menjalani hidup berdasarkan ekspektasi orang lain.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (19/9), dalam psikologi, kemampuan untuk tetap menentukan pilihan sendiri berkaitan dengan autonomy, yaitu pengalaman bahwa seseorang memiliki kendali dan kebebasan dalam menentukan tindakan berdasarkan nilai, kebutuhan, serta pertimbangannya sendiri.

Menjadi pribadi yang tidak mudah dikendalikan bukan berarti harus keras, egois, atau menolak semua nasihat.

Sebaliknya, ini berarti kamu mampu mendengarkan orang lain tanpa kehilangan kemampuan untuk menentukan keputusanmu sendiri.

Jika kamu ingin membangun kemampuan tersebut, ada lima hal penting yang perlu dipahami.

1. Belajar membedakan antara rasa bersalah dan tanggung jawab

Salah satu cara paling efektif untuk mengendalikan seseorang adalah membuatnya merasa bersalah.

Misalnya, kamu ingin menolak sebuah permintaan karena sedang lelah.

Namun orang tersebut berkata:

“Aku kira kamu orang yang bisa diandalkan.”

Atau:

“Tidak apa-apa. Aku sudah biasa melakukan semuanya sendiri.”

Kalimat seperti itu bisa membuatmu merasa tidak enak.

Akhirnya kamu mengatakan “iya”, bukan karena memang ingin membantu, tetapi karena ingin menghilangkan rasa bersalah yang muncul.

Di sinilah kamu perlu berhenti sejenak.

Tanyakan kepada dirimu:

“Apakah aku melakukan ini karena memang bertanggung jawab, atau karena aku takut dianggap buruk?”

Keduanya terlihat mirip, tetapi sebenarnya berbeda.

Tanggung jawab berasal dari kesadaran bahwa ada sesuatu yang memang menjadi bagianmu untuk dilakukan.

Sedangkan rasa bersalah dapat membuat seseorang melakukan sesuatu hanya untuk menghindari ketidaknyamanan emosional.

Misalnya, membantu teman ketika kamu memang mampu dan bersedia adalah pilihan yang sehat.

Tetapi jika setiap kali kamu menolak, kamu langsung merasa menjadi orang jahat, lalu memaksakan diri meskipun sudah kelelahan, mungkin ada pola yang perlu diperhatikan.

Kamu tidak harus menghilangkan rasa bersalah sepenuhnya.

Yang perlu kamu lakukan adalah tidak menjadikan rasa bersalah sebagai satu-satunya dasar pengambilan keputusan.

Cobalah mengatakan kepada diri sendiri:

“Aku merasa bersalah karena mengatakan tidak, tetapi perasaan itu tidak otomatis berarti aku melakukan sesuatu yang salah.”

Ini merupakan perubahan kecil tetapi penting.

Sebab ketika kamu mulai mampu menoleransi rasa bersalah tanpa langsung mengubah keputusanmu, orang lain akan semakin sulit mengendalikanmu melalui tekanan emosional.

2. Jangan langsung menjawab ketika seseorang memberikan tekanan

Orang yang mudah dikendalikan sering kali bukan karena mereka tidak tahu apa yang mereka inginkan.

Masalahnya, mereka terlalu cepat memberikan jawaban.

Seseorang meminta sesuatu.

Kamu langsung berkata, “Iya.”

Seseorang mengajak melakukan sesuatu.

Kamu langsung menyetujuinya.

Seseorang memberikan ultimatum.

Kamu langsung mengalah.

Padahal keputusan yang dibuat ketika sedang berada di bawah tekanan emosional belum tentu sesuai dengan keinginanmu yang sebenarnya.

Karena itu, salah satu kebiasaan sederhana yang bisa dibangun adalah memberikan jeda sebelum menjawab.

Kamu bisa mengatakan:

“Aku pikirkan dulu, ya.”

Atau:

“Aku perlu melihat jadwalku dulu.”

Atau:

“Aku belum bisa memberikan jawaban sekarang.”

Kalimat sederhana ini memberikan ruang bagi otakmu untuk keluar dari respons spontan dan mempertimbangkan situasi dengan lebih tenang.

Jeda juga membantumu mengenali apakah kamu benar-benar ingin melakukan sesuatu atau hanya sedang berusaha menghindari konflik.

Cobalah menggunakan tiga pertanyaan berikut ketika seseorang meminta sesuatu darimu:

Apakah aku memang ingin melakukannya?

Apakah aku mampu melakukannya tanpa mengorbankan hal yang penting bagiku?

Jika orang ini tidak akan marah atau kecewa, apakah jawabanku tetap sama?

Pertanyaan terakhir sangat menarik.

Sebab terkadang kita baru menyadari keinginan kita yang sebenarnya ketika rasa takut terhadap reaksi orang lain disingkirkan.

Semakin sering kamu memberi dirimu ruang untuk berpikir, semakin kecil kemungkinan orang lain menentukan keputusanmu melalui tekanan sesaat.

3. Bangun batasan yang jelas dan konsisten

Banyak orang mengira batasan berarti membuat tembok antara dirinya dan orang lain.

Padahal batasan yang sehat bukan tentang menjauh dari semua orang.

Batasan adalah kemampuan untuk mengetahui:

Apa yang bisa aku terima, apa yang tidak bisa aku terima, dan apa yang akan aku lakukan ketika batas tersebut dilanggar?

Misalnya, seseorang terus menghubungimu di luar jam kerja.

Kamu tidak harus marah.

Kamu bisa mengatakan:

“Aku biasanya tidak membalas pesan pekerjaan setelah jam tujuh malam. Besok pagi akan aku jawab.”

Atau seseorang sering memaksamu menceritakan hal pribadi.

Kamu bisa mengatakan:

“Aku belum nyaman membicarakan hal itu.”

Batasan tidak selalu membutuhkan penjelasan panjang.

Justru semakin panjang kamu menjelaskan keputusanmu, terkadang semakin banyak ruang bagi orang lain untuk memperdebatkannya.

Bayangkan kamu berkata:

“Aku tidak bisa datang karena sebenarnya minggu ini aku cukup sibuk, kemudian ada beberapa pekerjaan, dan mungkin nanti kalau selesai aku akan coba…”

Orang lain mungkin akan melihat celah:

“Kalau begitu datang sebentar saja.”

Berbeda jika kamu mengatakan:

“Aku tidak bisa datang kali ini.”

Selesai.

Tentu, dalam hubungan yang sehat, batasan tetap perlu disampaikan dengan mempertimbangkan situasi dan hubungan.

Namun prinsip dasarnya sama:

Kamu berhak menentukan batas atas waktu, energi, perhatian, dan kehidupan pribadimu.

Yang lebih penting lagi, batasan harus konsisten.

Jika hari ini kamu mengatakan tidak tetapi besok selalu menyerah ketika ditekan, orang lain akan belajar bahwa “tidak” yang kamu ucapkan sebenarnya masih bisa dinegosiasikan.

Batasan yang sehat bukan berarti tidak pernah berubah.

Batasan berarti perubahan keputusan terjadi karena pertimbanganmu sendiri, bukan semata-mata karena seseorang terus menekanmu.

4. Kenali pola manipulasi emosional tanpa langsung mencurigai semua orang

Tidak semua perbedaan pendapat adalah manipulasi.

Tidak semua permintaan adalah usaha mengendalikanmu.

Dan tidak semua orang yang kecewa terhadap keputusanmu sedang melakukan sesuatu yang buruk.

Namun, ada pola interaksi yang patut diperhatikan ketika terjadi berulang kali.

Misalnya, seseorang sering membuatmu merasa bersalah setiap kali kamu mengatakan tidak.

Atau mereka memberikan kasih sayang hanya ketika kamu melakukan sesuatu yang mereka inginkan.

Atau mereka menggunakan ancaman kehilangan hubungan untuk memaksamu mengambil keputusan.

Contohnya:

“Kalau kamu tidak mau melakukan ini, berarti kamu tidak peduli.”

Atau:

“Kalau kamu benar-benar menyayangiku, kamu pasti akan menurut.”

Masalahnya bukan hanya pada satu kalimat.

Yang perlu diperhatikan adalah pola.

Apakah kamu secara konsisten dibuat merasa bahwa kebutuhan orang lain harus selalu lebih penting daripada kebutuhanmu?

Apakah kamu merasa tidak bebas mengatakan pendapat yang berbeda?

Apakah kamu terus-menerus takut terhadap kemarahan, penolakan, atau hukuman emosional seseorang?

Jika jawabannya sering “iya”, mungkin ada dinamika hubungan yang perlu kamu evaluasi.

Tetapi evaluasi bukan berarti langsung memberi label kepada orang tersebut.

Lebih berguna jika kamu fokus pada perilakunya.

Alih-alih berpikir:

“Dia orang manipulatif.”

Cobalah berpikir:

“Ketika aku mengatakan tidak, dia sering membuatku merasa bersalah. Apa yang terjadi jika aku mempertahankan batasanku?”

Pendekatan ini membuatmu lebih objektif.

Kamu tidak perlu membaca pikiran seseorang.

Kamu hanya perlu memperhatikan perilaku yang berulang dan dampaknya terhadap kebebasanmu dalam mengambil keputusan.

5. Bangun kehidupan yang tidak sepenuhnya bergantung pada persetujuan orang lain

Ini mungkin bagian yang paling dalam.

Seseorang akan jauh lebih mudah mengendalikanmu jika harga dirimu sangat bergantung pada penerimaan mereka.

Jika kamu berpikir:

“Aku harus disukai semua orang.”

Maka orang yang mengetahui hal tersebut dapat memiliki pengaruh besar terhadapmu.

Sedikit kritik membuatmu panik.

Sedikit penolakan membuatmu merasa tidak berharga.

Sedikit kekecewaan dari orang lain membuatmu segera mengubah keputusan.

Karena itu, salah satu bentuk kebebasan psikologis adalah membangun kemampuan untuk tetap merasa berharga meskipun tidak semua orang menyetujui pilihanmu.

Ini bukan berarti kamu harus mengabaikan kritik.

Kritik yang masuk akal tetap perlu didengarkan.

Namun ada perbedaan besar antara:

“Orang ini tidak setuju denganku.”

dan

“Karena orang ini tidak setuju denganku, berarti aku salah sebagai manusia.”

Keduanya bukan hal yang sama.

Kamu bisa membuat keputusan yang baik dan tetap mendapatkan kritik.

Kamu bisa menjadi orang yang baik dan tetap mengecewakan seseorang.

Kamu bisa memiliki batasan yang sehat dan tetap dianggap egois oleh orang tertentu.

Kamu tidak memiliki kendali atas bagaimana semua orang menafsirkan dirimu.

Yang bisa kamu kendalikan adalah bagaimana kamu menentukan tindakan berdasarkan nilai dan pertimbanganmu sendiri.

Karena itu, mulailah membangun sumber kepuasan yang tidak hanya berasal dari validasi sosial.

Miliki tujuan pribadi.

Kembangkan kemampuan.

Pelajari sesuatu.

Rawat hubungan yang sehat.

Luangkan waktu untuk memahami apa yang sebenarnya penting bagimu.

Semakin kuat rasa memiliki terhadap hidupmu sendiri, semakin kecil kebutuhanmu untuk meminta izin kepada semua orang sebelum mengambil keputusan.

Kebebasan Bukan Berarti Tidak Mendengarkan Orang Lain

Ada kesalahpahaman bahwa menjadi pribadi yang tidak mudah dikendalikan berarti harus keras kepala.

Padahal bukan itu tujuannya.

Orang yang mandiri secara psikologis tetap bisa menerima nasihat.

Tetap bisa mengakui kesalahan.

Tetap bisa meminta bantuan.

Tetap bisa mengubah pendapat.

Perbedaannya adalah perubahan tersebut terjadi karena pertimbangan sadar, bukan karena tekanan.

Kamu bisa berkata:

“Aku mendengar pendapatmu, dan aku akan mempertimbangkannya.”

Tanpa harus mengatakan:

“Baik, aku akan melakukan apa yang kamu mau.”

Kamu bisa menghormati seseorang tanpa menyerahkan seluruh keputusan hidupmu kepada mereka.

Kamu bisa mencintai seseorang tanpa harus selalu memenuhi semua keinginannya.

Kamu bisa menghargai pendapat orang lain tanpa menjadikannya sebagai kompas utama dalam hidupmu.

Dan yang paling penting, kamu bisa mengatakan “tidak” tanpa harus membuktikan bahwa kamu adalah orang baik terlebih dahulu.

Pada Akhirnya, Kendali Dimulai dari Dalam Diri

Orang lain memang bisa memberikan tekanan.

Mereka bisa memuji, mengkritik, membujuk, mengecewakan, bahkan mencoba membuat kita merasa bersalah.

Namun salah satu keterampilan psikologis yang penting adalah menciptakan ruang antara apa yang dilakukan orang lain dan bagaimana kita memilih untuk meresponsnya.

Di ruang itulah kebebasan kita berada.

Jadi, jika kamu tidak ingin hidupmu terlalu mudah dikendalikan orang lain, mulailah dari lima hal sederhana:

Bedakan rasa bersalah dari tanggung jawab.
Berikan jeda sebelum menjawab tekanan atau permintaan.
Bangun batasan yang jelas dan konsisten.
Kenali pola manipulasi emosional tanpa buru-buru memberi label.
Bangun harga diri yang tidak sepenuhnya bergantung pada persetujuan orang lain.

Kamu tidak harus menjadi keras untuk menjadi bebas.

Kamu hanya perlu semakin mengenal dirimu sendiri, memahami apa yang penting bagimu, dan berani mengambil keputusan tanpa selalu membutuhkan persetujuan orang lain.

Sebab pada akhirnya, hidup yang benar-benar kamu jalani adalah hidup yang keputusan-keputusan pentingnya tidak terus-menerus dibuat oleh ketakutan terhadap reaksi orang lain.***
EDITOR: Setyo Adi Nugroho