Dalam banyak keluarga, perbedaan pendapat antara orang tua dan anak dewasa sebenarnya merupakan hal yang wajar. Namun, ada situasi ketika komunikasi mulai terasa berbeda. Setiap kali terjadi konflik, orang tua justru merasa bingung, meragukan ingatan sendiri, mempertanyakan perasaan sendiri, atau merasa seolah-olah dirinya selalu menjadi penyebab masalah.
Salah satu istilah psikologis yang sering digunakan untuk menggambarkan pola seperti ini adalah gaslighting.
Gaslighting bukan sekadar berbohong, tidak setuju, atau membantah seseorang. Istilah ini biasanya merujuk pada pola perilaku manipulatif yang membuat seseorang secara bertahap meragukan persepsi, ingatan, penilaian, atau pemahamannya sendiri terhadap suatu kejadian.
Dalam hubungan orang tua dan anak yang sudah dewasa, situasinya bisa menjadi sangat rumit.
Anak mungkin memang memiliki pengalaman masa kecil yang berbeda dari apa yang diingat orang tua. Orang tua mungkin benar-benar melakukan kesalahan yang tidak disadarinya. Anak juga berhak memiliki batasan dan mengatakan bahwa suatu perilaku orang tua membuatnya terluka.
Karena itu, tidak setiap bantahan dari anak adalah gaslighting.
Yang perlu diperhatikan adalah pola yang berulang dan dampaknya terhadap hubungan.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (18/9), terdapat enam tanda yang patut diperhatikan.
1. Dia Terus-Menerus Membuatmu Meragukan Ingatanmu Sendiri
Salah satu ciri yang sering dikaitkan dengan gaslighting adalah munculnya keraguan terhadap ingatan sendiri.
Misalnya, kamu mengingat dengan jelas bahwa sebuah percakapan pernah terjadi. Kamu bahkan mengingat konteks, tempat, atau perkataan tertentu.
Ketika kamu membicarakannya dengan anakmu, dia langsung menjawab:
"Itu tidak pernah terjadi."
Atau:
"Kamu salah ingat lagi."
Sekali atau dua kali, hal seperti ini belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang sedang melakukan gaslighting.
Ingatan manusia memang tidak sempurna. Orang dapat mengingat peristiwa yang sama dengan cara berbeda. Bahkan dua orang yang mengalami percakapan yang sama dapat memiliki persepsi yang berbeda terhadap apa yang terjadi.
Masalahnya muncul ketika penyangkalan tersebut menjadi pola yang terus-menerus, terutama ketika setiap perbedaan versi selalu diarahkan pada satu kesimpulan: bahwa kamu tidak dapat mempercayai ingatanmu sendiri.
Lama-kelamaan, seseorang bisa mulai berpikir:
"Mungkin memang aku yang salah."
"Jangan-jangan aku sudah terlalu banyak lupa."
"Mungkin semua yang kuingat selama ini tidak benar."
Inilah salah satu dampak yang membuat gaslighting begitu membingungkan.
Namun, penting untuk memberikan ruang bagi kemungkinan lain. Bisa saja anak memang memiliki ingatan yang berbeda. Bahkan, bisa saja pengalaman emosionalnya terhadap suatu peristiwa sangat berbeda dengan pengalamanmu.
Jadi, pertanyaan yang lebih berguna bukan hanya:
"Siapa yang ingatannya benar?"
Melainkan:
"Apakah perbedaan ingatan ini dibicarakan secara terbuka, atau apakah saya terus-menerus dibuat merasa tidak mampu mempercayai diri sendiri?"
2. Setiap Kali Kamu Mengungkapkan Perasaan, Dia Mengatakan Bahwa Kamu "Terlalu Sensitif"
Dalam hubungan keluarga, perasaan seseorang tidak selalu harus disetujui untuk dapat dihargai.
Seorang anak dewasa mungkin berkata:
"Aku merasa terluka ketika kamu mengatakan itu."
Respons yang sehat tidak harus berupa:
"Ya, aku memang salah."
Orang tua dan anak boleh memiliki pandangan yang berbeda.
Tetapi ada perbedaan besar antara tidak setuju dengan perasaan seseorang dan membuat seseorang merasa bahwa perasaannya tidak valid.
Contohnya:
"Aku tidak bermaksud menyakitimu, tetapi aku mengerti bahwa perkataanku membuatmu terluka."
berbeda dengan:
"Kamu memang terlalu sensitif."
Jika setiap kali kamu mengungkapkan kesedihan, kekhawatiran, atau rasa kecewa, respons yang muncul selalu berupa ejekan, penyangkalan, atau tuduhan bahwa kamu berlebihan, hubungan tersebut dapat menjadi semakin sulit.
Kamu mungkin akhirnya belajar untuk menyimpan perasaan sendiri.
Bukan karena masalahnya sudah selesai, tetapi karena kamu merasa percuma membicarakannya.
Di sinilah seseorang perlu berhati-hati.
Anak dewasa juga memiliki hak untuk mengatakan bahwa suatu perilaku orang tua membuatnya tidak nyaman. Jadi, jangan langsung menganggap kritik sebagai manipulasi.
Perhatikan cara penyampaiannya dan polanya.
Apakah dia mencoba menjelaskan perasaannya?
Apakah dia bersedia mendengarkan perasaanmu?
Apakah kalian dapat berbeda pendapat tanpa salah satu pihak harus dibuat merasa "gila", "lebay", atau tidak masuk akal?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih informatif daripada satu kalimat yang berdiri sendiri.
3. Dia Membalikkan Situasi sehingga Kamu Selalu Menjadi Penyebab Masalah
Bayangkan kamu mencoba membicarakan sesuatu yang membuatmu terluka.
Kamu mengatakan:
"Aku kecewa ketika kamu tidak memberi kabar selama berhari-hari."
Namun pembicaraan tiba-tiba berubah menjadi:
"Kamu juga dulu sering mengabaikanku."
Kemudian pembicaraan berkembang menjadi daftar panjang kesalahanmu selama bertahun-tahun.
Pada akhirnya, kamu lupa mengapa percakapan tersebut dimulai.
Kamu datang dengan satu masalah, tetapi pulang dengan perasaan bahwa kamu adalah orang yang paling bersalah dalam hubungan tersebut.
Pola seperti ini kadang disebut sebagai pengalihan atau deflection. Dalam beberapa situasi, perilaku tersebut dapat menjadi bagian dari pola gaslighting, terutama jika digunakan secara konsisten untuk menghindari tanggung jawab dan membuat orang lain mempertanyakan dirinya sendiri.
Tetapi sekali lagi, konteks sangat penting.
Anak dewasa mungkin memang memiliki luka atau keluhan lama terhadap orang tua.
Jika anak berkata:
"Ketika kamu melakukan X, aku terluka karena Y,"
itu bukan otomatis manipulasi.
Bahkan, mendengarkan keluhan tersebut mungkin merupakan bagian penting dari memperbaiki hubungan.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah pembicaraan selalu berubah menjadi permainan menyalahkan tanpa kesempatan bagi kedua pihak untuk berbicara dan bertanggung jawab.
Hubungan yang sehat memungkinkan dua hal sekaligus:
"Aku mengakui kesalahanku."
dan
"Aku juga ingin membicarakan sesuatu yang menyakitiku."
Keduanya bisa benar pada saat yang sama.
4. Setelah Berbicara Dengannya, Kamu Justru Merasa Bingung dan Tidak Yakin Apa yang Sebenarnya Terjadi
Ini adalah tanda yang sering luput diperhatikan.
Gaslighting tidak selalu terlihat seperti pertengkaran besar.
Kadang-kadang efeknya justru muncul setelah percakapan selesai.
Sebelum berbicara, kamu merasa yakin dengan apa yang ingin disampaikan.
Tetapi setelah percakapan berlangsung selama beberapa menit atau jam, kamu tiba-tiba berpikir:
"Tunggu... sebenarnya tadi kami sedang membicarakan apa?"
"Kenapa sekarang aku yang meminta maaf?"
"Apa aku memang melakukan sesuatu yang salah?"
"Apakah aku tadi terlalu emosional?"
Jika pengalaman seperti ini terus berulang, ada baiknya kamu memperhatikan polanya.
Bukan berarti setiap percakapan yang membuatmu bingung adalah gaslighting.
Konflik keluarga memang dapat membuat emosi meningkat. Ketika seseorang sedang marah atau sedih, sulit untuk berpikir jernih.
Namun jika kebingungan tersebut menjadi pola yang konsisten dan kamu terus-menerus merasa kehilangan kepercayaan terhadap penilaianmu sendiri, situasinya layak diperhatikan lebih serius.
Salah satu cara sederhana adalah menuliskan fakta setelah percakapan penting.
Bukan untuk "mengumpulkan bukti" melawan anak.
Tujuannya adalah membantu dirimu sendiri membedakan antara:
apa yang benar-benar dikatakan,
apa yang kamu rasakan,
apa yang kamu tafsirkan,
dan apa yang masih belum kamu ketahui.
Cara ini juga membantu mengurangi konflik yang hanya bergantung pada ingatan masing-masing.
5. Dia Menggunakan Kesalahan Masa Lalu untuk Membuatmu Merasa Tidak Berhak Memiliki Batasan
Ini merupakan bagian yang sangat rumit dalam hubungan orang tua dan anak dewasa.
Orang tua bisa memiliki kesalahan.
Anak bisa memiliki luka.
Keduanya dapat benar pada saat yang sama.
Misalnya, seorang anak berkata:
"Aku tidak ingin membicarakan masalah ini ketika kita sedang marah. Kita lanjutkan besok."
Itu adalah contoh batasan.
Namun jika respons yang diberikan adalah:
"Setelah semua yang kulakukan untukmu, sekarang kamu berani mengaturku?"
atau:
"Kamu tidak berhak mengatakan itu karena dulu kamu melakukan kesalahan."
maka percakapan dapat berubah menjadi pola yang tidak sehat.
Kesalahan masa lalu tidak otomatis menghapus hak seseorang untuk memiliki batasan di masa sekarang.
Sebaliknya, batasan juga tidak berarti seseorang bebas menghindari seluruh tanggung jawab atas perilakunya.
Karena itu, penting membedakan antara pertanggungjawaban dan penggunaan rasa bersalah sebagai senjata.
Pertanggungjawaban mengatakan:
"Mari kita bicarakan apa yang terjadi dan bagaimana kita dapat memperbaikinya."
Sementara pola yang manipulatif dapat membuat seseorang merasa:
"Karena kamu pernah salah, kamu tidak punya hak untuk mengatakan apa pun sekarang."
Jika setiap batasan yang kamu buat selalu dihancurkan dengan mengungkit kesalahan masa lalu, hubungan tersebut mungkin membutuhkan cara komunikasi yang berbeda.
6. Kamu Mulai Takut Berbicara karena Selalu Mengantisipasi Reaksi yang Akan Membuatmu Meragukan Diri Sendiri
Mungkin ini adalah tanda yang paling terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Kamu mulai memilih kata-kata dengan sangat hati-hati.
Kamu memikirkan percakapan berkali-kali sebelum mengatakannya.
Kamu menghapus pesan sebelum mengirim.
Kamu takut menyampaikan ketidaksetujuan.
Bahkan untuk hal sederhana, kamu berpikir:
"Kalau aku mengatakan ini, nanti dia akan memutarbalikkan semuanya lagi."
Akhirnya, kamu memilih diam.
Dari luar, keluarga mungkin terlihat baik-baik saja.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada konflik.
Tetapi sebenarnya kamu sedang menekan dirimu sendiri untuk menghindari konsekuensi emosional dari sebuah percakapan.
Perasaan takut tersebut tidak membuktikan bahwa anak sedang melakukan gaslighting.
Ada banyak alasan seseorang dapat merasa takut menghadapi konflik.
Namun jika rasa takut tersebut muncul secara konsisten setelah berulang kali mengalami percakapan yang membuatmu mempertanyakan realitas, ingatan, atau penilaianmu sendiri, hal tersebut layak diperhatikan.
Hubungan keluarga yang sehat tidak berarti tidak pernah ada konflik.
Hubungan yang sehat justru memberikan ruang bagi kedua pihak untuk berkata:
"Aku tidak setuju."
"Aku terluka."
"Aku mengingat kejadian itu secara berbeda."
"Aku membutuhkan batasan."
tanpa harus kehilangan harga diri.
Tetapi Ada Satu Hal yang Sangat Penting: Tidak Semua Perbedaan Pendapat adalah Gaslighting
Istilah gaslighting sekarang sangat populer.
Karena itu, ada risiko kita menggunakan istilah tersebut terlalu luas.
Anak yang mengatakan bahwa pengalaman masa kecilnya berbeda dari ingatan orang tua belum tentu sedang memanipulasi.
Anak yang marah belum tentu sedang melakukan gaslighting.
Anak yang menetapkan batasan belum tentu sedang tidak menghormati orang tua.
Bahkan anak yang mengatakan:
"Aku merasa kamu melakukan kesalahan ketika aku masih kecil,"
tidak otomatis berarti dia sedang menyerangmu.
Kadang-kadang dua orang memang memiliki pengalaman yang berbeda terhadap peristiwa yang sama.
Orang tua mungkin berpikir:
"Aku melakukan yang terbaik untuk anakku."
Sementara anak mengingat:
"Aku merasa sendirian pada saat itu."
Kedua pengalaman subjektif tersebut dapat sama-sama nyata bagi orang yang mengalaminya.
Karena itu, penting untuk tidak menggunakan istilah gaslighting hanya karena anak memiliki versi cerita yang berbeda.
Lalu Bagaimana Membedakan Konflik Biasa dengan Gaslighting?
Cobalah melihat pola, bukan satu percakapan.
Dalam konflik biasa, seseorang masih mungkin mengatakan:
"Aku ingatnya berbeda."
"Mungkin aku salah ingat."
"Aku tidak setuju dengan versimu, tetapi aku memahami bahwa kamu merasakannya seperti itu."
Dalam hubungan yang lebih manipulatif, seseorang mungkin secara berulang:
menyangkal pengalamanmu tanpa mau membicarakannya,
merendahkan kemampuanmu mengingat atau menilai sesuatu,
mengubah pembicaraan sehingga kamu selalu menjadi pihak yang bersalah,
menggunakan rasa bersalah untuk mengendalikanmu,
membuatmu merasa tidak boleh memiliki perasaan atau batasan,
atau membuatmu semakin bergantung pada versinya mengenai apa yang "sebenarnya" terjadi.
Yang paling penting adalah pola dan dampaknya dari waktu ke waktu.
Mengapa Gaslighting dari Anak yang Sudah Dewasa Bisa Terasa Sangat Menyakitkan?
Hubungan orang tua dan anak memiliki sejarah yang panjang.
Ada kenangan masa kecil.
Ada pengorbanan.
Ada harapan.
Ada rasa bersalah.
Ada kasih sayang.
Dan sering kali ada keinginan kuat dari orang tua untuk tetap dekat dengan anak meskipun anak sudah dewasa.
Karena itu, ketika komunikasi berubah menjadi pola yang membuat orang tua terus meragukan dirinya sendiri, dampaknya bisa sangat emosional.
Orang tua mungkin mulai bertanya:
"Apakah aku gagal menjadi orang tua?"
"Apakah semua yang kulakukan selama ini salah?"
"Apakah anakku sebenarnya membenciku?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membuat seseorang semakin mudah menerima tuduhan tanpa mengevaluasinya secara objektif.
Di sisi lain, orang tua juga perlu berani melakukan introspeksi.
Jika anak membawa keluhan tertentu, jangan otomatis menganggap semua keluhan sebagai manipulasi.
Tanyakan:
"Apakah ada bagian dari cerita ini yang mungkin benar-benar perlu aku dengarkan?"
Kemampuan untuk mengakui kesalahan bukan tanda kelemahan.
Begitu pula kemampuan mengatakan:
"Aku memahami perasaanmu, tetapi aku tidak setuju dengan semua yang kamu katakan."
Keduanya merupakan bagian dari komunikasi orang dewasa.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan Jika Merasa Sedang Mengalami Pola Seperti Ini?
Pertama, jangan terburu-buru memberi label.
Daripada mengatakan:
"Kamu sedang melakukan gaslighting terhadapku!"
cobalah menggunakan bahasa yang lebih spesifik.
Misalnya:
"Aku mengingat kejadian itu secara berbeda. Aku ingin kita membicarakannya tanpa saling merendahkan."
Atau:
"Aku bersedia mendengarkan pengalamanmu, tetapi aku juga ingin pengalamanku dihargai."
Kalimat seperti ini memindahkan pembicaraan dari label ke perilaku konkret.
Kedua, berikan batasan yang jelas.
Misalnya:
"Kalau pembicaraan berubah menjadi saling menghina, aku akan menghentikan percakapan dan kita bisa membicarakannya lagi ketika sudah tenang."
Ketiga, catat percakapan penting jika kamu sering merasa kehilangan arah setelah konflik.
Catatan tersebut bukan untuk memenangkan pertengkaran.
Gunakan untuk membantu dirimu mempertahankan gambaran yang lebih jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Keempat, bicaralah dengan orang yang dapat memberikan perspektif objektif.
Dalam situasi keluarga yang sangat rumit, berbicara dengan psikolog atau konselor dapat membantu seseorang memahami apakah yang sedang terjadi merupakan konflik biasa, pola komunikasi yang tidak sehat, masalah batasan, atau pola manipulasi.
Jangan Lupa: Hubungan yang Sehat Tidak Membutuhkan Salah Satu Pihak untuk Selalu Menang
Pada akhirnya, tujuan hubungan antara orang tua dan anak dewasa bukanlah menentukan siapa yang selalu benar.
Tujuannya adalah menciptakan hubungan yang memungkinkan kedua pihak menjadi manusia.
Orang tua boleh memiliki kekurangan.
Anak boleh memiliki luka.
Orang tua boleh mengatakan, "Aku tidak bermaksud melakukan itu."
Anak boleh mengatakan, "Tetapi aku tetap terluka."
Orang tua boleh meminta batasan.
Anak juga boleh meminta batasan.
Dan keduanya dapat belajar mendengarkan tanpa harus sepakat dalam segala hal.
Jika kamu melihat enam tanda di atas, jangan langsung menyimpulkan bahwa anakmu pasti melakukan gaslighting.
Sebaliknya, gunakan tanda-tanda tersebut sebagai kesempatan untuk memperhatikan pola hubungan secara lebih jernih.
Tanyakan kepada dirimu:
Apakah saya masih merasa bebas mengungkapkan pikiran?
Apakah perasaan saya dihargai meskipun tidak selalu disetujui?
Apakah kami dapat mengakui kesalahan masing-masing?
Apakah saya semakin percaya pada diri sendiri, atau justru semakin meragukan setiap ingatan dan keputusan saya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin jauh lebih penting daripada sekadar mencari label.
Karena dalam hubungan keluarga, yang paling penting bukan memenangkan perdebatan tentang siapa yang benar.