← Beranda
Jika Kamu Sedang Merasa Kehidupan Ini Tak Bermakna, Lakukan 7 Kebiasaan Ini
Irfan FerdiansyahJumat, 18 September 2026 | 04.07 WIB
seseorang yang merasa hidupnya tak bermakna / foto: Magnific/1112000
 
JawaPos.com - Ada masa ketika hidup terasa berjalan begitu saja.

Kamu bangun pagi, melakukan rutinitas yang sama, menyelesaikan pekerjaan, bertemu orang-orang, makan, tidur, lalu mengulang semuanya keesokan harinya.

Tidak ada sesuatu yang benar-benar salah. Namun, entah mengapa, ada ruang kosong yang sulit dijelaskan.

Kamu mungkin mulai bertanya dalam hati:

"Sebenarnya aku hidup untuk apa?"

"Apa gunanya semua yang selama ini aku lakukan?"

"Kalau pada akhirnya semuanya berlalu, mengapa aku harus berusaha?"

Perasaan seperti ini bisa terasa sangat melelahkan. Terlebih ketika kamu melihat orang lain seolah-olah memiliki tujuan hidup yang jelas, sementara dirimu sendiri justru sedang kehilangan arah.

Namun, merasa kehidupan kehilangan makna tidak selalu berarti hidupmu benar-benar tidak memiliki makna.

Terkadang, yang sedang terjadi adalah pikiranmu terlalu lelah untuk melihat makna yang masih ada.

Dalam psikologi, pencarian makna merupakan bagian penting dari pengalaman manusia. Kita tidak hanya membutuhkan makanan, tempat tinggal, atau rasa aman. Kita juga membutuhkan perasaan bahwa apa yang kita lakukan memiliki nilai dan terhubung dengan sesuatu yang berarti bagi diri kita.

Karena itu, ketika hidup terasa kosong, mungkin yang kamu perlukan bukan jawaban besar tentang tujuan hidup.

Mungkin kamu hanya perlu berhenti sejenak.

Menurunkan tuntutan terhadap diri sendiri.

Mengembalikan perhatian kepada hal-hal sederhana yang masih bisa kamu rasakan hari ini.

Dilansir dari Psychology Today pada Kamis (17/9), terdapat tujuh kebiasaan yang dapat membantu menenangkan pikiran ketika kehidupan terasa kehilangan makna.

1. Berhenti Memaksa Diri Menemukan Tujuan Hidup Hari Ini

Salah satu kesalahan yang sering kita lakukan ketika merasa kehilangan arah adalah memaksa diri mendapatkan jawaban secepat mungkin.

Kita ingin tahu apa tujuan hidup.

Kita ingin tahu pekerjaan apa yang benar-benar cocok.

Kita ingin tahu apakah hubungan yang sedang dijalani tepat.

Kita ingin tahu ke mana kehidupan akan membawa kita.

Masalahnya, semakin keras kita memaksa pikiran menemukan jawaban, semakin banyak tekanan yang muncul.

Padahal, tidak semua pertanyaan dalam kehidupan harus dijawab hari ini.

Cobalah mengganti pertanyaan:

"Apa tujuan hidupku?"

menjadi:

"Apa satu hal kecil yang bisa membuat hari ini sedikit lebih berarti?"

Perbedaannya sederhana, tetapi cukup besar.

Pertanyaan pertama menuntut jawaban yang sangat besar.

Pertanyaan kedua hanya meminta satu langkah kecil.

Kamu mungkin belum tahu apa yang ingin dilakukan dalam lima tahun ke depan. Tidak apa-apa.

Mungkin hari ini kamu hanya perlu menyelesaikan pekerjaan yang tertunda, memasak makanan sederhana, berjalan sebentar, berbicara dengan seseorang yang kamu percaya, atau tidur lebih awal.

Makna tidak selalu ditemukan dalam sebuah tujuan besar.

Kadang-kadang, makna dibangun melalui tindakan kecil yang dilakukan berulang kali.

2. Biasakan Menuliskan Apa yang Sedang Kamu Rasakan

Ketika pikiran terasa penuh, semuanya bisa bercampur menjadi satu.

Sedih.

Cemas.

Bosan.

Kecewa.

Kesepian.

Marah.

Takut.

Akhirnya kita hanya menyimpulkan:

"Aku tidak bahagia."

Padahal, mungkin ada banyak emosi berbeda yang sedang terjadi sekaligus.

Menulis dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk memberi ruang pada pikiran tersebut.

Kamu tidak perlu membuat tulisan yang indah.

Tidak perlu menggunakan bahasa yang bagus.

Tidak perlu membuat jurnal seperti seorang penulis.

Ambil kertas atau buka catatan di ponsel, lalu tuliskan:

"Saat ini aku sedang merasa..."

Kemudian lanjutkan tanpa menyensor diri sendiri.

"Aku merasa lelah karena..."

"Hal yang paling membuatku khawatir adalah..."

"Sebenarnya aku berharap..."

"Hal yang paling sulit aku terima saat ini adalah..."

"Yang ingin aku katakan kepada seseorang tetapi belum bisa kukatakan adalah..."

Menulis bukan berarti semua masalah langsung selesai.

Namun, aktivitas ini dapat membantu memisahkan antara perasaan, pikiran, dan kenyataan.

Ada perbedaan antara:

"Hidupku tidak memiliki arti."

dan

"Saat ini aku sedang merasa hidupku tidak memiliki arti."

Kalimat kedua memberikan jarak.

Kamu bukan perasaanmu.

Perasaan bisa datang dan berubah.

Apa yang kamu rasakan hari ini tidak harus menjadi definisi seluruh kehidupanmu.

3. Kurangi Kebiasaan Membandingkan Kehidupanmu dengan Orang Lain

Ketika sedang kehilangan makna, media sosial bisa menjadi tempat yang memperburuk keadaan.

Kamu melihat seseorang mendapatkan pekerjaan impian.

Orang lain menikah.

Ada yang membeli rumah.

Ada yang bepergian ke berbagai negara.

Ada yang membangun bisnis.

Ada yang tampak bahagia bersama keluarga dan teman-temannya.

Kemudian kamu melihat kehidupanmu sendiri dan berpikir:

"Kenapa hidupku tidak seperti mereka?"

Padahal, kamu sedang membandingkan kehidupan nyata milikmu dengan potongan kehidupan orang lain yang terlihat dari luar.

Kita tidak melihat seluruh cerita.

Kita tidak melihat malam ketika mereka menangis.

Kita tidak melihat kegagalan yang mereka sembunyikan.

Kita tidak mengetahui ketakutan yang mereka bawa.

Karena itu, ketika pikiran sedang rapuh, cobalah mengurangi konsumsi media sosial untuk sementara.

Bukan karena media sosial selalu buruk.

Tetapi karena perhatianmu adalah sumber daya yang terbatas.

Apa yang terus-menerus kamu lihat akan memengaruhi apa yang terus-menerus kamu pikirkan.

Alihkan sebagian perhatian itu kepada kehidupan yang benar-benar sedang kamu jalani.

Makan tanpa terus melihat layar.

Berjalan tanpa memotret semuanya.

Berbicara dengan seseorang tanpa membuka ponsel.

Duduk di luar rumah dan memperhatikan lingkungan sekitar.

Kehidupan nyata mungkin terlihat lebih sederhana daripada kehidupan di internet.

Tetapi justru di sanalah sebagian besar pengalaman manusia berlangsung.

4. Kembali ke Rutinitas Dasar: Tidur, Makan, Bergerak

Ketika hidup terasa tidak bermakna, kita sering mengabaikan kebutuhan dasar tubuh.

Tidur semakin berantakan.

Makan tidak teratur.

Tubuh jarang bergerak.

Kemudian kondisi fisik yang memburuk membuat pikiran semakin sulit bekerja dengan tenang.

Karena itu, jangan meremehkan hal-hal yang terlihat sederhana.

Tidurlah dengan jadwal yang lebih teratur.

Makan dengan cukup.

Minum air.

Berjalan kaki.

Melakukan peregangan.

Berolahraga sesuai kemampuan.

Tidak semua masalah psikologis bisa diselesaikan dengan rutinitas fisik. Tetapi tubuh dan pikiran saling berhubungan.

Ketika tubuh terus-menerus berada dalam kondisi kelelahan, kemampuan kita untuk mengatur emosi dan menghadapi tekanan juga dapat terganggu.

Jadi, jika kamu sedang berada dalam fase hidup yang terasa kosong, jangan langsung menuntut dirimu menjadi seseorang yang sangat produktif.

Mulailah dari hal paling mendasar.

Bangun.

Mandi.

Rapikan tempat tidur.

Makan.

Berjalan selama beberapa menit.

Mengerjakan satu tugas.

Kemudian beristirahat.

Terkadang, langkah pertama untuk menemukan kembali arah hidup bukanlah menemukan jawaban filosofis.

Langkah pertama adalah merawat tubuh yang sedang membawamu melewati hari ini.

5. Temukan Makna dalam Hubungan, Bukan Hanya Pencapaian

Kita sering diajarkan bahwa kehidupan yang berarti adalah kehidupan yang penuh pencapaian.

Punya karier bagus.

Punya banyak uang.

Punya rumah.

Punya bisnis.

Mencapai target.

Mendapat pengakuan.

Namun, kehidupan manusia tidak hanya dibangun oleh pencapaian.

Hubungan dengan orang lain juga dapat memberikan rasa terhubung dan memiliki.

Karena itu, ketika hidup terasa kosong, jangan selalu mencari jawaban sendirian.

Hubungi seseorang.

Tidak harus membicarakan masalah yang sangat dalam.

Kamu bisa sekadar berkata:

"Apa kabar?"

"Lagi sibuk apa?"

"Mau ngopi?"

Atau bahkan:

"Aku lagi agak capek akhir-akhir ini. Boleh ngobrol sebentar?"

Kita sering berpikir bahwa kita harus menyelesaikan semuanya sendiri.

Padahal, manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial.

Terkadang, satu percakapan yang tulus tidak menyelesaikan seluruh masalah, tetapi membuat kita merasa tidak sendirian dalam menghadapinya.

Dan perasaan terhubung itu sendiri bisa menjadi sesuatu yang bermakna.

6. Latih Diri untuk Memperhatikan Hal-Hal Kecil yang Masih Baik

Ketika pikiran sedang fokus pada kekosongan, hal-hal baik sering menjadi tidak terlihat.

Kamu mungkin masih memiliki secangkir kopi yang kamu sukai.

Masih bisa menikmati udara pagi.

Masih memiliki seseorang yang bersedia mendengarkan.

Masih bisa tertawa karena sesuatu yang sederhana.

Masih memiliki kemampuan untuk belajar.

Masih bisa melihat matahari terbenam.

Masih bisa mendengarkan lagu yang membuatmu tenang.

Hal-hal tersebut mungkin terlihat terlalu kecil untuk disebut sebagai "makna hidup".

Tetapi jangan buru-buru meremehkannya.

Makna kehidupan tidak selalu datang dalam bentuk peristiwa besar.

Sering kali, kehidupan terdiri dari ribuan pengalaman kecil yang kita lewati begitu saja karena terlalu sibuk mencari sesuatu yang lebih besar.

Cobalah membuat kebiasaan sederhana setiap malam.

Tuliskan tiga hal yang kamu syukuri atau tiga hal kecil yang terasa menyenangkan hari itu.

Tidak perlu sesuatu yang luar biasa.

Misalnya:

"Hari ini makan siangku enak."

"Aku sempat berjalan sore."

"Temanku membuatku tertawa."

"Aku menyelesaikan satu pekerjaan."

"Hari ini hujan dan suasananya tenang."

Tujuannya bukan memaksa diri menjadi positif.

Kamu tetap boleh sedih.

Tetap boleh kecewa.

Tetap boleh merasa kehidupan sedang berat.

Latihan ini hanya mengingatkan bahwa bahkan ketika hidup terasa sulit, pengalaman manusia biasanya tidak hanya terdiri dari satu warna.

7. Izinkan Makna Hidup Berubah Seiring Waktu

Mungkin ini adalah kebiasaan yang paling penting.

Terima bahwa makna hidup tidak harus selalu sama.

Ketika masih kecil, kebahagiaan mungkin berarti bermain sepanjang hari.

Ketika remaja, mungkin berarti memiliki teman dan merasa diterima.

Ketika dewasa, mungkin berarti membangun karier.

Kemudian, suatu hari, kamu mungkin menyadari bahwa hal-hal yang dulu sangat penting ternyata tidak lagi terasa penting.

Itu bukan selalu tanda bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirimu.

Bisa jadi kamu sedang berubah.

Apa yang bermakna bagimu lima tahun lalu tidak harus bermakna bagimu sekarang.

Karena itu, jangan terlalu terikat pada versi dirimu yang lama.

Kamu diperbolehkan mengubah prioritas.

Kamu diperbolehkan memulai kembali.

Kamu diperbolehkan menyadari bahwa impian tertentu ternyata bukan lagi sesuatu yang kamu inginkan.

Kamu juga diperbolehkan menjalani masa ketika belum mengetahui apa yang sebenarnya kamu cari.

Kehidupan tidak selalu bergerak dalam garis lurus.

Ada masa untuk mengejar.

Ada masa untuk berhenti.

Ada masa untuk membangun.

Ada masa untuk melepaskan.

Ada masa ketika kita tahu ke mana harus pergi.

Dan ada masa ketika satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah berjalan perlahan sambil mencari arah.

Jangan Menuntut Dirimu untuk Selalu Menemukan Jawaban

Jika saat ini kamu sedang merasa kehidupan tidak memiliki makna, mungkin kamu tidak membutuhkan ceramah tentang bagaimana harus selalu berpikir positif.

Mungkin kamu hanya membutuhkan izin untuk mengatakan:

"Aku sedang tidak baik-baik saja."

Dan itu tidak membuatmu lemah.

Kamu tidak harus selalu produktif.

Tidak harus selalu bersemangat.

Tidak harus selalu tahu tujuanmu.

Tidak harus selalu memiliki jawaban.

Ada kalanya hidup memang terasa membingungkan.

Yang penting adalah jangan menjadikan satu fase kehidupan sebagai kesimpulan tentang seluruh kehidupanmu.

Hari yang buruk bukan berarti kehidupan yang buruk.

Masa kosong bukan berarti kehidupanmu kosong selamanya.

Kehilangan arah bukan berarti kamu tidak akan pernah menemukan jalan lagi.

Mulailah dari sesuatu yang sangat kecil.

Tidur yang cukup.

Makan dengan baik.

Berjalan sebentar.

Menulis apa yang kamu rasakan.

Mengurangi perbandingan.

Menghubungi seseorang.

Menikmati satu hal sederhana.

Lalu ulangi lagi besok.

Mungkin kamu belum menemukan "makna besar" yang selama ini kamu cari.

Tidak apa-apa.

Untuk sementara, mungkin cukup mencari satu alasan kecil untuk menjalani hari ini.

Kemudian satu alasan untuk menjalani hari berikutnya.

Sebab terkadang, makna hidup tidak ditemukan seperti sebuah benda yang hilang.

Makna justru dibangun sedikit demi sedikit melalui cara kita menjalani hari, cara kita memperlakukan diri sendiri, cara kita mencintai orang lain, dan cara kita tetap hadir meskipun kehidupan sedang tidak memberikan jawaban yang kita inginkan.

Dan jika suatu hari pikiranmu kembali berkata,

"Hidup ini tidak ada artinya,"

cobalah menjawabnya dengan lebih lembut:

"Mungkin aku belum menemukan artinya sekarang. Tetapi aku tidak harus mengetahui semuanya hari ini."

Itu sudah cukup untuk menjadi langkah berikutnya.***
EDITOR: Setyo Adi Nugroho