Namun, jika dilihat dari perspektif psikologi, kenyataannya jauh lebih kompleks.
Ada kondisi tertentu yang membuat sebagian pria justru sangat bergantung pada hubungan asmara sebagai sumber kedekatan emosional, dukungan sosial, dan rasa memiliki. Bukan berarti pria secara biologis pasti lebih membutuhkan pasangan daripada perempuan. Sebaliknya, salah satu penjelasannya adalah bahwa pria dalam banyak masyarakat memiliki jaringan dukungan emosional yang lebih terbatas di luar hubungan romantis.
Dilansir dari Psychology Today pada Selasa (15/9), terdapat enam alasan yang dapat membantu menjelaskan fenomena tersebut.
1. Hubungan asmara sering menjadi tempat utama pria mengekspresikan emosi
Salah satu alasan penting adalah pola komunikasi emosional.
Sejak kecil, banyak pria dibesarkan dengan pesan sosial seperti “jangan cengeng”, “harus kuat”, atau “masalah harus diselesaikan sendiri”. Akibatnya, sebagian pria belajar untuk menyimpan emosi daripada membicarakannya.
Bukan berarti pria tidak memiliki kebutuhan emosional. Mereka tetap membutuhkan tempat untuk merasa didengar, dipahami, diterima, dan dicintai.
Masalahnya, kebutuhan tersebut tidak selalu terpenuhi melalui pertemanan.
Seorang pria mungkin memiliki banyak teman untuk bermain, bekerja, berolahraga, berdiskusi, atau bercanda. Tetapi belum tentu ia memiliki seseorang yang dapat menjadi tempat untuk mengatakan:
“Aku sebenarnya sedang takut.”
atau:
“Aku sedang merasa gagal dan tidak tahu harus bagaimana.”
Dalam hubungan asmara yang sehat, pasangan dapat menjadi salah satu ruang paling aman untuk membuka sisi tersebut.
Karena itu, ketika seorang pria memiliki pasangan yang membuatnya nyaman secara emosional, hubungan tersebut bisa memiliki fungsi psikologis yang sangat besar.
Ia bukan sekadar memiliki seseorang untuk berkencan, tetapi juga memiliki figur tempat berbagi kerentanan emosional.
Inilah salah satu alasan mengapa kehilangan hubungan romantis terkadang terasa sangat berat bagi pria tertentu.
Yang hilang bukan hanya pasangan, tetapi juga salah satu saluran utama untuk mendapatkan kedekatan emosional.
2. Jaringan dukungan sosial pria sering kali lebih sempit secara emosional
Perbedaan lain dapat terlihat dari cara pria dan perempuan membangun persahabatan.
Secara umum, perempuan cenderung lebih sering mempertahankan hubungan sosial yang melibatkan komunikasi emosional dan saling berbagi pengalaman pribadi. Pria juga memiliki persahabatan yang dekat, tetapi bentuk kedekatannya tidak selalu diwujudkan melalui percakapan emosional yang mendalam.
Misalnya, dua pria bisa sangat dekat karena sering berolahraga bersama, bermain gim, bekerja bersama, atau melakukan berbagai aktivitas lainnya.
Mereka bisa saling membantu ketika mengalami masalah.
Tetapi belum tentu mereka terbiasa duduk dan membicarakan perasaan secara mendalam.
Akibatnya, ketika seorang pria menjalin hubungan romantis, pasangan bisa menjadi satu-satunya orang yang secara rutin mengetahui kehidupan emosionalnya secara mendalam.
Ia dapat berbicara tentang pekerjaan, keluarga, kecemasan, masa depan, kegagalan, bahkan ketakutan yang selama ini disembunyikan dari orang lain.
Dari sudut pandang psikologi sosial, kondisi ini penting.
Semakin sedikit sumber dukungan emosional yang dimiliki seseorang, semakin besar kemungkinan satu hubungan tertentu menjadi sangat penting bagi kesejahteraan psikologisnya.
Dengan kata lain, bukan selalu karena pria memiliki kebutuhan cinta yang lebih besar, melainkan karena pasangan romantis mungkin memegang porsi yang lebih besar dalam sistem dukungan sosialnya.
3. Hubungan romantis memberikan rasa memiliki dan keterikatan
Manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan psikologis untuk merasa terhubung dengan orang lain.
Dalam psikologi, kebutuhan akan kedekatan dan keterikatan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. Kita ingin merasa bahwa ada seseorang yang peduli terhadap keberadaan kita dan bahwa kita memiliki tempat dalam kehidupan orang lain.
Hubungan asmara dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan sangat kuat.
Bagi sebagian pria, memiliki pasangan memberikan pengalaman psikologis seperti:
“Ada seseorang yang menungguku.”
“Ada seseorang yang memikirkan keadaanku.”
“Ada seseorang yang bisa kuhubungi ketika menghadapi masalah.”
“Ada seseorang yang mengenalku lebih dalam.”
“Aku penting bagi seseorang.”
Perasaan seperti ini dapat memberikan rasa aman secara emosional.
Hal ini juga berkaitan dengan teori attachment atau teori keterikatan. Dalam hubungan romantis yang sehat, pasangan dapat berfungsi sebagai tempat memperoleh rasa aman sekaligus sebagai sumber dukungan ketika menghadapi tekanan.
Karena itu, hubungan asmara bukan hanya mengenai romantisme.
Bagi seseorang yang memiliki keterikatan kuat dengan pasangannya, hubungan tersebut dapat menjadi bagian penting dari struktur kehidupan sehari-hari.
Ketika hubungan itu tiba-tiba berakhir, seseorang bukan hanya kehilangan status sebagai “pacar” atau “suami”, tetapi juga kehilangan rutinitas, kedekatan, dukungan, dan rasa memiliki.
4. Pria bisa mendapatkan manfaat psikologis dari kedekatan pasangan tanpa menyadarinya
Ada hal menarik dalam hubungan romantis: seseorang terkadang baru menyadari betapa besar manfaat hubungan tersebut setelah hubungan itu hilang.
Selama memiliki pasangan, berbagai hal kecil mungkin terasa biasa.
Ada yang menanyakan apakah sudah makan.
Ada yang mengingatkan untuk beristirahat.
Ada yang mendengarkan keluhan tentang pekerjaan.
Ada yang memberikan dukungan ketika menghadapi kegagalan.
Ada yang merayakan pencapaian kecil.
Semua itu terlihat sederhana.
Namun secara psikologis, interaksi tersebut dapat membentuk sistem dukungan yang membantu seseorang menghadapi stres kehidupan sehari-hari.
Sebagian pria mungkin baru menyadari fungsi tersebut setelah putus.
Sebelumnya, mereka merasa bahwa mereka “baik-baik saja” dan tidak terlalu membutuhkan pasangan.
Tetapi setelah hubungan berakhir, muncul perubahan seperti kesepian, berkurangnya motivasi sosial, hilangnya rutinitas, atau perasaan tidak memiliki seseorang untuk berbagi.
Ini bukan berarti pria lemah atau tidak mandiri.
Justru hal tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan akan hubungan sosial adalah bagian normal dari psikologi manusia.
Kemandirian tidak berarti seseorang tidak membutuhkan orang lain.
Seseorang bisa mandiri secara finansial, mampu mengambil keputusan sendiri, dan kuat menghadapi masalah, tetapi tetap membutuhkan kedekatan emosional.
5. Hubungan asmara dapat memberikan identitas dan tujuan hidup
Bagi sebagian pria, hubungan romantis juga berkaitan dengan identitas dirinya.
Ketika seseorang memiliki pasangan, ia mungkin mulai melihat dirinya melalui berbagai peran:
“Sebagai pasangan.”
“Sebagai suami.”
“Sebagai calon ayah.”
“Sebagai seseorang yang bertanggung jawab terhadap keluarga.”
Peran-peran tersebut dapat memberikan rasa arah dalam kehidupan.
Terutama bagi pria yang sejak kecil mendapatkan tekanan untuk menjadi “penanggung jawab”, hubungan serius dapat menjadi bagian dari cara mereka membangun makna hidup.
Hubungan tersebut membuat masa depan terasa lebih konkret.
Misalnya, seseorang mulai memiliki tujuan untuk:
membangun rumah;
meningkatkan kondisi finansial;
mengembangkan karier;
merencanakan keluarga;
menjaga kesehatan;
atau menjadi pasangan yang lebih baik.
Dalam psikologi, memiliki tujuan dan rasa bermakna merupakan aspek penting dalam kesejahteraan manusia.
Namun, ada sisi lain yang perlu diperhatikan.
Jika seseorang menjadikan pasangan sebagai satu-satunya sumber makna hidup, hubungan tersebut dapat berubah menjadi ketergantungan yang tidak sehat.
Hubungan yang sehat seharusnya menambah makna kehidupan, bukan menjadi satu-satunya alasan seseorang merasa hidupnya berarti.
6. Pria mungkin lebih terdampak ketika kehilangan sumber kedekatan emosional utamanya
Alasan terakhir berkaitan dengan perpisahan.
Kita sering mendengar anggapan bahwa perempuan lebih sulit melupakan mantan pasangan, sedangkan pria cenderung cepat mencari pasangan baru.
Namun, perilaku setelah putus tidak selalu menunjukkan seberapa dalam seseorang mengalami kehilangan.
Ada pria yang terlihat baik-baik saja setelah putus.
Tetap bekerja.
Tetap pergi bersama teman.
Tetap berolahraga.
Bahkan terlihat cepat mendapatkan pasangan baru.
Tetapi penampilan luar tidak selalu menggambarkan kondisi emosional seseorang.
Jika pasangan sebelumnya merupakan sumber utama dukungan emosional, rasa dekat, dan rutinitas sosialnya, kehilangan tersebut dapat dirasakan sangat dalam.
Yang menarik, respons terhadap kehilangan juga bisa berbeda.
Sebagian orang mencari dukungan sosial.
Sebagian lainnya justru menarik diri.
Sebagian mencoba mengalihkan perhatian melalui pekerjaan.
Sebagian mencari hubungan baru.
Dan sebagian mungkin baru merasakan dampaknya setelah beberapa waktu.
Karena itu, tidak tepat mengatakan bahwa pria selalu lebih cepat move on atau perempuan selalu lebih sulit melupakan mantan.
Respons terhadap putus cinta sangat dipengaruhi oleh gaya keterikatan, kualitas hubungan, kepribadian, dukungan sosial, pengalaman masa lalu, serta cara seseorang mengelola emosi.
Jadi, apakah pria memang lebih membutuhkan hubungan asmara daripada perempuan?
Jawabannya tidak sesederhana “ya”.
Psikologi tidak memberikan aturan universal bahwa pria membutuhkan cinta lebih besar daripada perempuan.
Yang lebih masuk akal adalah bahwa pada sebagian pria, hubungan romantis dapat memiliki fungsi sosial dan emosional yang sangat besar karena pasangan menjadi salah satu sumber utama kedekatan, dukungan, dan keterbukaan emosional.
Perempuan pun tentu memiliki kebutuhan yang sama. Perbedaannya dapat muncul dalam bagaimana kebutuhan tersebut dipenuhi.
Seorang perempuan mungkin memiliki pasangan sekaligus beberapa sahabat dekat, keluarga, komunitas, atau jaringan sosial lain yang menjadi tempat berbagi emosi.
Sementara seorang pria mungkin memiliki pasangan sebagai satu-satunya orang yang benar-benar mengetahui kehidupan emosionalnya.
Jika hubungan itu hilang, dampaknya tentu bisa sangat besar.
Kesimpulan
Hubungan asmara bukan sekadar tentang memiliki seseorang untuk dicintai.
Bagi banyak orang, hubungan romantis juga merupakan tempat untuk mendapatkan rasa aman, dukungan emosional, kedekatan, validasi, dan rasa memiliki.
Pada sebagian pria, fungsi tersebut bisa menjadi sangat penting karena norma sosial dan pola pertemanan membuat mereka lebih jarang memiliki ruang untuk mengekspresikan kerentanan emosional di luar hubungan romantis.
Itulah sebabnya seorang pria yang terlihat sangat mandiri sekalipun sebenarnya bisa memiliki kebutuhan yang sangat besar terhadap kedekatan emosional.
Namun, pelajaran terpentingnya bukan bahwa “pria lebih membutuhkan perempuan.”
Pelajaran yang lebih tepat adalah:
Pria membutuhkan hubungan emosional yang sehat, sama seperti manusia lainnya.
Pasangan romantis bisa menjadi salah satu sumbernya, tetapi bukan satu-satunya.
Pria yang memiliki pasangan sekaligus sahabat dekat, hubungan keluarga yang sehat, komunitas, aktivitas bermakna, dan kemampuan untuk mengelola emosinya sendiri justru memiliki fondasi psikologis yang lebih kuat.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan hubungan ketika satu orang tidak bisa hidup tanpa orang lain.