JawaPos.com - Psikologi tidak produktif sering muncul dari kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari justru menghambat pencapaian seseorang.
Rahasia meningkatkan produktivitas sebenarnya lebih berkaitan dengan mengurangi kebiasaan buruk dibanding menambah usaha secara berlebihan.
Mengenali kebiasaan yang menghambat produktivitas menjadi langkah penting untuk mengembalikan potensi diri secara maksimal.
Dilansir dari laman YourTango pada Minggu (13/9), berikut empat kebiasaan psikologi tidak produktif yang sering dilakukan seseorang tanpa disadari dalam kesehariannya.
Baca Juga: Sebelum Jam 9, Lakukan 5 Kebiasaan Ini untuk Menunjang Program Diet
1. Bekerja secara maraton alih-alih dengan pola sprint
Salah satu kesalahan besar yang sering dilakukan adalah mencoba menyelesaikan pekerjaan dalam satu waktu panjang.
Ketika seseorang mengosongkan seluruh jadwal demi menyelesaikan proyek besar, hasilnya justru sering tidak memuaskan.
Beban kerja yang terlalu besar dapat membuat seseorang merasa kewalahan sejak awal memulai pekerjaan tersebut.
Rasa kewalahan ini sering berujung pada penundaan yang justru memperburuk kualitas hasil pekerjaan tersebut.
Fokus juga mudah teralihkan ketika seseorang mencoba menyelesaikan pekerjaan besar tanpa pembagian waktu yang jelas.
Bekerja dengan pola sprint singkat justru terbukti lebih efektif dibanding memaksakan diri bekerja maraton panjang.
Membagi pekerjaan menjadi beberapa sesi singkat memberi kejelasan sekaligus rasa mampu menyelesaikan tugas tersebut.
Pola kerja seperti ini juga memberi kesempatan menikmati penghargaan kecil setiap kali satu sesi selesai.
Fleksibilitas dalam mengganti sesi kerja turut membantu otak memproses kesulitan tanpa harus memaksakan diri.
2. Mengatasi gangguan alih-alih menghilangkannya sepenuhnya
Gangguan seperti notifikasi ponsel dan pesan pekerjaan menjadi tantangan besar bagi produktivitas seseorang sehari-hari.
Banyak orang menganggap solusi terbaik adalah belajar mengelola gangguan tersebut dengan lebih baik lagi.
Padahal pendekatan mengatasi gangguan justru menjadi akar masalah yang sebenarnya menghambat produktivitas seseorang.
Tidak ada orang yang benar-benar mampu menahan diri dari godaan gangguan sepanjang waktu bekerja.
Satu-satunya cara efektif adalah menghilangkan sumber gangguan tersebut secara langsung dari lingkungan kerja seseorang.
Mematikan ponsel sepenuhnya jauh lebih efektif dibanding sekadar mengatur ulang pengaturan notifikasi pada perangkat tersebut.
Menyediakan ruang kerja tanpa gangguan turut membantu seseorang menghindari interupsi dari rekan kerja lainnya.
Menghapus aplikasi hiburan dari ponsel menjadi langkah nyata mengurangi godaan yang mengganggu fokus kerja.
Menghilangkan gangguan secara langsung terbukti lebih efektif dibanding sekadar berusaha menahan diri setiap saat.
3. Menggunakan rasa takut dan kritik sebagai motivasi diri
Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa bersikap keras terhadap diri sendiri adalah kunci kesuksesan.
Keyakinan ini sering memicu kebiasaan berbicara negatif kepada diri sendiri secara terus-menerus setiap harinya.
Ucapan negatif seperti menyebut diri bodoh justru memperburuk kondisi mental dan semangat kerja seseorang.
Orang dengan kebiasaan ini meyakini bahwa kritik keras diperlukan agar tetap disiplin dalam bekerja.
Padahal kesuksesan justru dicapai meski seseorang berbicara negatif kepada dirinya, bukan karena hal tersebut.
Melonggarkan kritik terhadap diri sendiri terbukti tidak menurunkan produktivitas seseorang dalam jangka panjang.
Energi yang sebelumnya digunakan untuk mengkritik diri justru dapat dialihkan untuk menghasilkan karya lebih baik.
Suasana hati yang membaik akibat berkurangnya kritik diri turut meningkatkan produktivitas secara keseluruhan.
Mengurangi kebiasaan mengkritik diri sendiri justru sering menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi dan stabil.
4. Mengerjakan pekerjaan orang lain alih-alih pekerjaan sendiri
Menerapkan berbagai teknik produktivitas tidak akan berguna jika pekerjaan yang dilakukan bukan hal yang bermakna.
Motivasi dari luar seperti rasa takut dipecat hanya mampu bertahan dalam jangka waktu terbatas.
Janji kenaikan gaji atau jabatan baru juga hanya mampu mendorong semangat kerja untuk sementara waktu.
Kebaruan sebuah proyek pun hanya mampu menjaga semangat kerja dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Motivasi dari dalam diri sendiri menjadi satu-satunya faktor yang mampu menjaga produktivitas dalam jangka panjang.
Seseorang hanya dapat bekerja maksimal ketika mengerjakan hal yang benar-benar bermakna bagi dirinya sendiri.
Tidak ada teknik atau strategi yang mampu membawa seseorang melampaui batas produktivitas tanpa motivasi internal.
Terkadang keputusan sulit perlu diambil, seperti mengubah peran kerja atau bahkan berpindah pekerjaan sepenuhnya.
Menemukan keberanian mengerjakan hal yang benar-benar bermakna menjadi kunci utama mencapai produktivitas maksimal seseorang.