JawaPos.com – Saat menghadapi tekanan, setiap orang mempunyai cara berbeda untuk membuat dirinya merasa lebih tenang. Ada yang memilih beristirahat, mendengarkan musik, berbicara dengan orang terdekat, atau justru mencari makanan favorit.
Bagi sebagian orang, makanan dapat menjadi sumber kenyamanan ketika pikiran sedang dipenuhi tekanan. Akibatnya, keinginan untuk makan bisa muncul bukan karena tubuh benar-benar membutuhkan asupan, melainkan sebagai respons terhadap kondisi emosional.
Kebiasaan tersebut dikenal secara umum sebagai emotional eating, yakni kecenderungan menggunakan makanan untuk merespons atau mengelola emosi tertentu.
Orang yang kerap makan berlebihan ketika menghadapi stres biasanya memperlihatkan sejumlah pola perilaku tertentu.
Baca Juga: Ingin Mengurangi Stres saat Kerja dan Menjadi Lebih Produktif? Lakukan 7 Kebiasaan Sederhana Ini
Dilansir dari Geediting, berikut enam ciri yang sering dikaitkan dengan kebiasaan makan berlebihan ketika seseorang sedang mengalami stres.
1. Memiliki Ikatan Emosional dengan Makanan
Bagi sebagian orang, makanan bukan hanya sesuatu yang dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Makanan tertentu juga dapat memberikan rasa nyaman ketika suasana hati sedang buruk.
Ketika menghadapi masalah, tekanan pekerjaan, maupun situasi yang membuat cemas, mereka cenderung mencari makanan sebagai bentuk penghiburan.
Makanan akhirnya menjadi salah satu cara yang digunakan untuk menghadapi emosi negatif. Rasa nyaman yang muncul setelah makan dapat membuat kebiasaan tersebut terus berulang setiap kali stres datang.
2. Menjadikan Makanan sebagai Pengalih Perhatian
Tekanan yang menumpuk terkadang membuat seseorang secara tidak sadar mengambil camilan dan terus mengunyah meskipun sebenarnya tidak lapar.
Makan dalam kondisi seperti ini dapat berfungsi sebagai pengalihan perhatian dari persoalan yang sedang dihadapi.
Untuk sementara waktu, perhatian seseorang berpindah dari pekerjaan, masalah pribadi, atau tekanan lainnya kepada makanan. Namun, rasa lega tersebut biasanya hanya bersifat sementara.
3. Menganggap Makanan sebagai Bentuk Penghargaan
Makanan juga dapat digunakan sebagai hadiah setelah seseorang berhasil menyelesaikan pekerjaan atau melewati situasi yang melelahkan.
Misalnya, seseorang berjanji akan membeli makanan favorit setelah menyelesaikan tugas berat.
Sesekali melakukan hal tersebut bukan berarti menjadi masalah. Namun, jika makanan selalu dijadikan penghargaan setiap kali menghadapi tekanan, pola tersebut dapat berkembang menjadi kebiasaan.
Lambat laun, makanan bisa dianggap sebagai hadiah utama untuk menghadapi hampir setiap masalah atau pencapaian.
4. Kurang Menyadari Proses Saat Makan
Ketika sedang makan dengan sadar, seseorang biasanya memperhatikan rasa, tekstur, jumlah makanan, serta sinyal tubuh ketika mulai kenyang.
Kondisinya dapat berbeda ketika seseorang sedang berada dalam tekanan emosional.
Mereka bisa makan terlalu cepat, tidak benar-benar menikmati makanan, atau baru menyadari jumlah makanan yang dikonsumsi setelah semuanya habis.
Dalam situasi tertentu, seseorang juga dapat terus makan meskipun sebenarnya tubuh sudah merasa cukup.
5. Sulit Membedakan Lapar dan Respons terhadap Stres
Stres juga dapat memengaruhi nafsu makan. Salah satu mekanismenya berkaitan dengan hormon kortisol yang berhubungan dengan respons tubuh terhadap tekanan.
Akibatnya, rasa ingin makan terkadang muncul meskipun seseorang belum lama mengonsumsi makanan.
Hal tersebut membuat seseorang perlu lebih peka terhadap kondisi tubuh. Keinginan makan yang muncul tiba-tiba belum tentu selalu berarti tubuh sedang membutuhkan makanan.
6. Tidak Memiliki Cara Lain untuk Meredakan Stres
Kebiasaan makan berlebihan saat stres juga dapat terjadi ketika seseorang belum menemukan cara alternatif untuk mengelola tekanan.
Jika makanan menjadi satu-satunya sumber kenyamanan, seseorang mungkin akan semakin sering mengandalkannya ketika menghadapi masalah.
Karena itu, menemukan aktivitas lain yang dapat membantu menenangkan diri bisa menjadi pilihan. Berjalan santai, melakukan latihan pernapasan, mendengarkan musik, berolahraga ringan, atau melakukan aktivitas yang disukai dapat menjadi alternatif.
Pada akhirnya, mengenali alasan di balik keinginan untuk makan menjadi langkah penting. Dengan memahami apakah tubuh benar-benar lapar atau sedang mencari pelarian dari stres, seseorang dapat lebih sadar terhadap pola makannya.