← Beranda
Tak Selalu Terlihat Jelas, 9 Perilaku Ini Bisa Menandakan Seseorang Punya Ego Tinggi
Irfan FerdiansyahMinggu, 13 September 2026 | 04.06 WIB
seseorang yang sangat egois (Freepik/freepik)

JawaPos.com – Mementingkan kebutuhan diri sendiri pada dasarnya merupakan bagian dari kehidupan manusia. Setiap orang memiliki kepentingan, batasan, dan kebutuhan yang memang perlu diperhatikan.

Namun, persoalan dapat muncul ketika kepentingan pribadi selalu ditempatkan di atas kebutuhan orang lain. Sikap tersebut dapat membuat seseorang terlihat terlalu egois dan berpotensi menimbulkan masalah dalam hubungan sosial, keluarga, maupun pekerjaan.

Egoisme juga tidak selalu muncul dalam bentuk tindakan yang terang-terangan. Terkadang, kecenderungan tersebut justru terlihat melalui kebiasaan kecil dalam berkomunikasi, mengambil keputusan, hingga memperlakukan orang lain.

Dilansir dari Geediting, terdapat sejumlah perilaku yang kerap dikaitkan dengan orang yang memiliki kecenderungan sangat egois.

Baca Juga: 6 Tanda Pasangan Diam-Diam Tidak Bahagia, Terlihat dari Sikap dan Perilakunya

Berikut sembilan perilaku yang dimaksud:

1. Selalu Ingin Mendapat Perhatian

Orang yang sangat egois cenderung ingin dirinya menjadi bagian utama dalam berbagai situasi. Ketika berada dalam percakapan atau lingkungan sosial, mereka dapat berusaha mengarahkan perhatian kembali kepada dirinya.

Bahkan, ketika orang lain sedang membagikan kabar baik, pembicaraan terkadang kembali diarahkan pada pengalaman atau pencapaian mereka sendiri.

Kebutuhan untuk terus mendapatkan perhatian dapat menunjukkan bahwa pengakuan dari lingkungan menjadi sesuatu yang sangat penting bagi mereka.

2. Kurang Mempertimbangkan Perasaan Orang Lain

Salah satu perilaku yang cukup mudah terlihat adalah rendahnya perhatian terhadap dampak emosional dari tindakan mereka.

Alih-alih mendengarkan atau mencoba memahami sudut pandang orang lain, mereka bisa lebih sibuk menjelaskan apa yang dirasakan atau dibutuhkan dirinya sendiri.

Jika pola ini terjadi berulang kali, hubungan dapat terasa tidak seimbang karena hanya satu pihak yang merasa didengar dan dipahami.

3. Banyak Menuntut, tetapi Minim Memberi

Dalam sebuah hubungan, keseimbangan antara memberi dan menerima menjadi hal penting. Namun, orang yang sangat egois dapat memiliki kecenderungan mengharapkan banyak hal dari orang lain tanpa memberikan timbal balik yang sepadan.

Mereka mungkin menginginkan perhatian, waktu, bantuan, atau dukungan ketika membutuhkan sesuatu. Sebaliknya, ketika orang lain membutuhkan bantuan, mereka belum tentu menunjukkan kesediaan yang sama.

Pola tersebut pada akhirnya dapat membuat hubungan terasa berat sebelah.

4. Enggan Mengakui Kesalahan

Mengakui kesalahan tidak selalu mudah, tetapi orang yang sangat mempertahankan egonya dapat mengalami kesulitan lebih besar untuk melakukannya.

Ketika menghadapi masalah, mereka mungkin mencari alasan, membela diri, atau justru menunjuk kesalahan pihak lain. Fokusnya bukan lagi menyelesaikan persoalan, melainkan mempertahankan citra diri agar tidak terlihat bersalah.

Padahal, kemampuan mengakui kesalahan merupakan bagian penting dalam membangun hubungan yang sehat.

5. Terlalu Terobsesi dengan Persaingan

Persaingan dalam batas wajar dapat menjadi motivasi untuk berkembang. Namun, bagi orang yang sangat egois, hampir setiap situasi dapat berubah menjadi ajang untuk membuktikan bahwa dirinya lebih unggul.

Mereka bisa merasa perlu menjadi yang terbaik, bahkan dalam persoalan sederhana. Keberhasilan orang lain pun terkadang dianggap sebagai ancaman terhadap posisi atau harga dirinya.

Akibatnya, fokus mereka lebih tertuju pada kemenangan pribadi daripada perkembangan bersama.

6. Memperlakukan Orang Lain sebagai Sarana

Perilaku egois juga dapat terlihat ketika seseorang hanya mendekati atau mempertahankan hubungan selama ada manfaat yang bisa diperoleh.

Orang lain dipandang berdasarkan apa yang dapat diberikan kepadanya, seperti koneksi, bantuan, informasi, maupun keuntungan tertentu.

Jika hubungan dibangun semata-mata atas dasar kepentingan pribadi, hubungan tersebut akan lebih sulit berkembang menjadi relasi yang saling menghargai.

7. Enggan Membagikan Peluang

Kesempatan, informasi, atau pengetahuan yang berpotensi menguntungkan orang lain terkadang sengaja disimpan oleh pribadi yang terlalu mementingkan diri sendiri.

Mereka mungkin khawatir jika orang lain mendapatkan kesempatan yang sama, keunggulan dirinya akan berkurang.

Akibatnya, mereka lebih memilih mempertahankan keuntungan untuk diri sendiri daripada membantu orang lain berkembang bersama.

8. Selalu Memikirkan Keuntungan Pribadi

Orang yang sangat egois cenderung mempertimbangkan suatu tindakan berdasarkan manfaat yang akan diterimanya.

Sebelum membantu atau terlibat dalam sesuatu, mereka dapat terlebih dahulu bertanya dalam hati mengenai keuntungan yang akan didapat. Jika tidak menemukan manfaat bagi dirinya, minat untuk terlibat pun bisa menurun.

Pola pikir seperti ini dapat membuat hubungan sosial terasa seperti pertukaran kepentingan, bukan hubungan yang dibangun atas dasar kepedulian dan ketulusan.

9. Suka Mengontrol dan Mendominasi

Keinginan agar segala sesuatu berjalan sesuai kehendak sendiri juga bisa menjadi tanda lain dari perilaku egois.

Mereka cenderung mengambil alih keputusan, sulit menerima pendapat berbeda, atau merasa keinginannya harus menjadi pertimbangan utama.

Dalam hubungan yang sehat, keputusan seharusnya dapat dibicarakan bersama. Jika hanya satu pihak yang terus menentukan arah hubungan, pihak lainnya dapat merasa tidak dihargai atau kehilangan ruang untuk menyampaikan pendapat.

Pada akhirnya, memiliki kepentingan pribadi bukanlah sesuatu yang otomatis buruk. Setiap orang memang perlu menjaga kebutuhan dan batasannya sendiri. Yang menjadi persoalan adalah ketika kepentingan tersebut terus-menerus ditempatkan di atas kebutuhan orang lain hingga merusak hubungan.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho