JawaPos.com - Kecanduan validasi tercermin dari kebiasaan tersembunyi yang sering dilakukan pria untuk mendapat pengakuan dari wanita.
Kebutuhan mendapat pengakuan dari orang sekitar sebenarnya wajar, namun bisa berubah menjadi kebiasaan yang tidak sehat.
Sebagian pria bahkan rela melakukan berbagai cara demi mendapat dukungan dari wanita yang bahkan tidak dikenalnya.
Dilansir dari laman YourTango pada Sabtu (12/9), berikut tujuh kebiasaan psikologi kecanduan validasi yang biasa dilakukan pria secara diam-diam tanpa disadari orang sekitarnya.
Baca Juga: 10 Ciri Ucapan Seseorang yang Dapat Dipercaya dan Bisa Diandalkan Menurut Psikologi
1. Mengunggah konten demi mendapat perhatian
Mengunggah foto atau pencapaian pribadi di media sosial bisa memiliki niat yang berbeda-beda.
Sebagian orang mengunggah tanpa memikirkan dampaknya, sementara lainnya sengaja mencari perhatian dari pengikutnya.
Kebiasaan mencari pengakuan lewat media sosial memang umum, namun bisa berubah menjadi kebiasaan tidak sehat.
Terus-menerus mengunggah demi mendapat pujian dari wanita yang tidak dikenal menunjukkan ketergantungan validasi berlebihan.
2. Berusaha keras memancing pujian dari orang lain
Menerima pujian ternyata memberikan respons di otak yang mirip dengan mendapatkan uang secara langsung.
Kebutuhan mendapat pujian ini membuat sebagian pria terus mencari validasi dari wanita di sekitarnya.
Mereka sengaja menyebut pencapaian pribadi agar orang lain memberikan pujian yang sebenarnya diharapkan.
Sikap ini menunjukkan bahwa pujian yang didapat secara alami dianggap tidak pernah cukup memuaskan.
3. Mencatat interaksi dengan wanita secara terus-menerus
Sebagian pria bahkan mencatat validasi yang diterima seolah menyimpan catatan skor di kepalanya.
Mereka mengingat siapa saja yang memberikan pujian serta seberapa sering ucapan tersebut disampaikan.
Kebiasaan ini menunjukkan bahwa interaksi tersebut dianggap sebagai sumber validasi, bukan hubungan yang tulus.
Sikap ini mencerminkan pemanfaatan hubungan sosial demi memenuhi kebutuhan validasi pribadi semata.
4. Terlalu sering memeriksa interaksi di media sosial
Orang dengan rasa percaya diri rendah cenderung lebih rentan menggunakan media sosial secara berlebihan.
Kebiasaan memeriksa jumlah suka atau tampilan cerita menjadi tanda ketergantungan terhadap validasi eksternal.
Kebiasaan ini menjadi lebih mencolok ketika seorang pria terus memeriksa interaksi dari wanita tertentu.
Pola ini menunjukkan adanya masalah yang lebih dalam terkait kepercayaan diri seseorang.
5. Menjaga banyak pertemanan yang sebenarnya tidak bermakna
Perdebatan tentang memiliki banyak teman atau sedikit teman dekat memang tidak pernah benar-benar selesai.
Namun pria yang mencari validasi cenderung memiliki banyak teman wanita tanpa kedekatan yang berarti.
Mereka lebih peduli memastikan ketersediaan dukungan tersebut dibanding membangun hubungan yang benar-benar mendalam.
Sikap ini menunjukkan bahwa pertemanan tersebut hanya dijadikan sumber validasi sewaktu-waktu dibutuhkan.
6. Bersikap berbeda tergantung siapa yang dihadapi
Salah satu tanda seseorang tidak autentik adalah perubahan sikap tergantung siapa yang sedang dihadapinya.
Pria yang mencari validasi menyesuaikan kepribadiannya agar sesuai dengan preferensi setiap wanita yang ditemuinya.
Mereka melakukan ini demi menarik perhatian dari berbagai wanita dengan ketertarikan yang berbeda-beda.
Ironisnya, orang yang autentik justru cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi secara alami.
7. Hanya merasa percaya diri saat mendapat perhatian yang diinginkan
Mendasarkan harga diri pada pandangan orang lain menjadi kesalahan besar yang dilakukan banyak orang.
Suasana hati pria seperti ini sepenuhnya bergantung pada seberapa besar perhatian yang mereka terima.
Kondisi emosional mereka mudah berubah antara percaya diri dan kecewa dalam waktu singkat.
Sikap yang tidak stabil ini justru membuat orang lain enggan berada di dekat mereka.