← Beranda
Hati-Hati Terjebak! Ini 5 Sinyal Rekan Kerja Anda Punya Sifat Toxic
Rabbany WanadrianiJumat, 11 September 2026 | 06.41 WIB
Ilustrasi rekan kerja yang mengobrol. (Freepik)

JawaPos.com – Lingkungan tempat bekerja tidak hanya berpengaruh terhadap produktivitas, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi emosional seseorang. Hubungan yang sehat dengan rekan kerja bisa membuat suasana kantor terasa nyaman, sedangkan interaksi yang penuh konflik justru berpotensi menimbulkan tekanan.

Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah keberadaan rekan kerja dengan perilaku toxic. Sikap seperti ini terkadang tidak terlihat secara langsung karena dapat muncul melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang berlangsung terus-menerus.

Jika dibiarkan, perilaku tersebut dapat mengganggu kerja sama tim, menurunkan semangat, hingga membuat seseorang merasa tertekan ketika berada di lingkungan kantor.

Dilansir dari Times of India, terdapat sejumlah perilaku yang dapat menjadi tanda seseorang memiliki kecenderungan toxic di tempat kerja. Berikut lima di antaranya.

Baca Juga: Tak Punya Sahabat Dekat, 7 Perilaku Ini Sering Muncul dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Selalu Menempatkan Diri sebagai Korban

Salah satu ciri yang patut diperhatikan adalah kebiasaan seseorang menganggap dirinya selalu menjadi pihak yang dirugikan.

Setiap persoalan seolah terjadi karena kesalahan orang lain. Ketika melakukan kekeliruan, ia cenderung mencari alasan atau mengalihkan tanggung jawab kepada rekan kerja.

Dari sudut pandang psikologi, pola seperti ini dapat menjadi cara seseorang menghindari tanggung jawab sekaligus memperoleh simpati dari lingkungan sekitarnya.

2. Gemar Membicarakan Orang Lain

Gosip dan drama kantor juga bisa menjadi tanda lingkungan kerja yang tidak sehat. Rekan kerja toxic mungkin senang menyebarkan cerita pribadi, membicarakan kekurangan orang lain, atau memperbesar konflik yang sebenarnya sederhana.

Kebiasaan tersebut bukan hanya membuat suasana kantor menjadi tidak nyaman, tetapi juga dapat memunculkan rasa curiga antarkaryawan.

Dilansir dari Times of India, gosip dalam konteks tertentu dapat menjadi bentuk agresi tidak langsung karena seseorang menyerang reputasi pihak lain tanpa melakukan konfrontasi secara terbuka.

3. Sering Melontarkan Sindiran

Perhatikan pula cara seseorang memberikan komentar terhadap rekan kerjanya. Sindiran yang terus berulang, komentar meremehkan, atau pujian yang terasa seperti ejekan bisa menjadi tanda adanya perilaku pasif-agresif.

Misalnya, ketika seorang rekan berhasil mendapatkan pencapaian, orang tersebut justru memberikan komentar yang mengecilkan keberhasilan tersebut.

Menurut psikologi, perilaku pasif-agresif memungkinkan seseorang menunjukkan ketidaksukaan atau permusuhan secara terselubung tanpa harus mengungkapkannya secara terang-terangan.

4. Menggunakan Pesona untuk Memengaruhi Orang

Rekan kerja toxic tidak selalu tampil kasar atau menyebalkan. Sebagian justru bisa sangat ramah, menyenangkan, dan pandai mengambil hati orang lain.

Masalahnya muncul ketika keramahan tersebut digunakan untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau mengendalikan orang lain. Mereka bisa bersikap sangat berbeda tergantung siapa yang sedang dihadapi.

Contohnya, mereka mungkin memberikan pujian berlebihan kepada atasan, bersikap sangat baik ketika membutuhkan bantuan, tetapi berubah ketika kepentingannya sudah terpenuhi.

Karena itu, jangan hanya melihat bagaimana seseorang memperlakukan Anda dalam satu situasi. Perhatikan pula konsistensi perilakunya terhadap orang lain.

5. Membuat Anda Merasa Terkuras

Tanda terakhir dapat terlihat dari kondisi emosional Anda setelah berinteraksi dengan orang tersebut.

Jika setiap percakapan membuat Anda merasa stres, lelah secara mental, cemas, atau kehilangan energi, hubungan tersebut patut dievaluasi. Dalam istilah populer, orang dengan pola seperti ini kerap disebut sebagai “vampir emosional”.

Mereka cenderung banyak menuntut perhatian, waktu, dan dukungan emosional, tetapi tidak memberikan timbal balik yang sepadan.

Namun, satu perilaku saja belum tentu cukup untuk menyimpulkan seseorang sebagai rekan kerja toxic. Yang lebih penting adalah melihat pola yang berulang, dampaknya terhadap diri sendiri, serta bagaimana hubungan tersebut memengaruhi pekerjaan.

Menjaga batasan pribadi, berkomunikasi secara tegas, dan menghindari keterlibatan dalam gosip dapat menjadi langkah awal untuk menghadapi lingkungan kerja yang kurang sehat. Jika perilaku tersebut sudah mengarah pada perundungan atau mengganggu pekerjaan secara serius, pertimbangkan untuk mendokumentasikan kejadian dan mencari bantuan dari pihak yang berwenang di tempat kerja.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho