JawaPos.com - Bersikap baik memang terasa mudah ketika orang-orang di sekitar kita memperlakukan kita dengan baik.
Mendapat apresiasi dari pasangan, dihormati rekan kerja, atau melihat anak bersikap kooperatif tentu membuat kita lebih mudah menunjukkan sisi positif.
Namun, kekuatan sejati dari kebaikan justru terlihat ketika kita menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan.
Dalam situasi penuh tekanan, seseorang bisa dengan mudah terbawa emosi. Rasa sakit dapat berubah menjadi kemarahan, sikap defensif, kritik, keinginan untuk membalas, hingga memilih menjauh dari orang lain.
Padahal, tetap bersikap baik ketika keadaan sedang sulit bukan berarti membiarkan diri diperlakukan semena-mena. Kebaikan dapat berjalan beriringan dengan ketegasan, batasan, dan kemampuan menjaga diri.
Lantas, mengapa kita sebaiknya tetap memilih bersikap baik saat menghadapi situasi yang tidak menyenangkan? Berikut lima alasannya seperti dirangkum dari laman Psychology Today.
1. Kebaikan Membantu Meredakan Emosi
Ketika seseorang berbicara dengan nada marah atau menyerang kita, respons alami yang muncul sering kali adalah membalas dengan kemarahan yang sama. Sayangnya, hal tersebut justru dapat membuat konflik semakin besar.
Kemarahan yang dibalas dengan kemarahan biasanya menciptakan siklus yang sulit dihentikan. Alih-alih mencari solusi, kedua pihak justru sibuk mempertahankan diri dan saling menyalahkan.
Bersikap lebih baik tidak menjamin orang lain akan langsung berubah atau menjadi tenang. Namun, setidaknya kita tidak ikut memperbesar masalah.
Respons yang tenang dapat membantu menjaga situasi agar tidak semakin panas. Dengan begitu, kita memiliki kesempatan lebih besar untuk berpikir jernih dan menentukan langkah yang tepat.
2. Bersikap Baik Bukan Berarti Anda Lemah
Kebaikan sering kali disalahartikan sebagai bentuk kelemahan atau sikap mudah menyerah. Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda.
Bayangkan sebuah ranting pohon yang diterpa angin kencang. Ranting yang terlalu kaku berisiko patah ketika menghadapi tekanan. Sebaliknya, ranting yang mampu mengikuti arah angin justru memiliki peluang lebih besar untuk tetap bertahan.
Hal serupa dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bersikap fleksibel, tenang, dan penuh kasih bukan berarti kehilangan ketegasan.
Anda tetap bisa menetapkan batasan sambil memperlakukan orang lain dengan hormat. Anda juga dapat mengatakan tidak tanpa harus merendahkan atau menyerang orang lain.
Justru, kemampuan untuk tetap tenang ketika berada di bawah tekanan menunjukkan adanya kekuatan emosional.
Kebaikan yang dibangun di atas ketegasan dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih sehat, baik dengan pasangan, keluarga, sahabat, maupun rekan kerja.
3. Kebaikan Membantu Memahami Perasaan di Balik Perilaku
Perilaku seseorang tidak selalu menggambarkan apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan.
Seseorang yang terlihat agresif mungkin sedang diliputi rasa takut. Orang yang mudah marah bisa saja sedang menghadapi tekanan yang tidak diketahui orang lain.
Bahkan, seseorang yang gemar menyalahkan orang lain mungkin sedang berusaha menutupi rasa malu atau ketidakmampuan menghadapi dirinya sendiri.
Bersikap baik membantu kita melihat persoalan dengan perspektif yang lebih luas. Kita dapat mencoba memahami apa yang mungkin menjadi penyebab di balik perilaku seseorang.
Namun, memahami bukan berarti membenarkan. Anda tetap berhak menolak perlakuan buruk dan menetapkan batasan.
Bedanya, ketika kita mencoba memahami perjuangan seseorang, respons yang diberikan tidak hanya ditujukan pada provokasi yang terlihat di permukaan.
Dengan demikian, kebaikan dapat membantu kita merespons seseorang dengan lebih bijaksana, bukan sekadar bereaksi terhadap perilakunya.
4. Kebaikan Melindungi Anda dari Penyesalan
Hampir semua orang pernah mengatakan sesuatu ketika sedang marah yang beberapa saat kemudian disesali.
Saat emosi memuncak, kata-kata kasar mungkin terasa seperti bentuk pembelaan diri yang wajar. Namun, setelah suasana hati kembali tenang, kita justru bisa merasa bersalah karena telah mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak mencerminkan diri kita.
Karena itu, memilih untuk tetap baik saat berada dalam situasi sulit sebenarnya bukan hanya bentuk kebaikan kepada orang lain. Ini juga merupakan bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.
Dengan menjaga sikap, Anda tidak memberikan kesempatan kepada perilaku buruk orang lain untuk mengubah diri Anda menjadi pribadi yang tidak ingin Anda lihat.
Anda mungkin tidak dapat mengendalikan cara orang lain bertindak. Namun, Anda masih memiliki kendali atas bagaimana meresponsnya.
Kemampuan mempertahankan martabat dan ketenangan ketika berada di bawah tekanan pada akhirnya dapat memberikan kepuasan tersendiri.
Anda dapat meninggalkan situasi sulit tanpa membawa penyesalan karena telah kehilangan kendali.
5. Terkadang, Kebaikan Berarti Memberikan Jarak
Kebaikan tidak selalu berarti turun tangan dan menyelesaikan masalah orang lain. Dalam beberapa kondisi, justru memberikan ruang kepada seseorang untuk menghadapi persoalannya sendiri dapat menjadi bentuk kepedulian yang lebih sehat.
Hal ini terutama dapat terjadi ketika seseorang yang kita sayangi sedang mengalami kesulitan.
Karena tidak tega melihat mereka menderita, kita mungkin terus-menerus membantu, memberikan uang, mencarikan solusi, membuat alasan untuk mereka, atau bahkan menoleransi perilaku yang sebenarnya sudah melewati batas.
Niat awalnya memang baik. Namun, bantuan yang diberikan tanpa batas terkadang justru membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk belajar bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.
Dalam situasi seperti ini, kebaikan dapat diwujudkan dengan memberikan kepercayaan sekaligus ruang.
Pesannya sederhana: “Saya peduli dan percaya kepada Anda, tetapi saya juga percaya bahwa Anda mampu menghadapi masalah ini.”
Memberikan ruang bukan berarti meninggalkan seseorang. Sebaliknya, langkah tersebut dapat menjadi cara untuk mendorong kemandirian dan memberikan kesempatan bagi seseorang untuk tumbuh.