← Beranda
7 Kebiasaan Orang Cerdas Ketika Diremehkan, Salah Satunya Tahu Kapan Harus Mundur
Lania Monica• Kamis, 10 September 2026 | 05.10 WIB
Ilustrasi orang cerdas saat direndahkan (freepik)

JawaPos.com – Mendapat perlakuan yang meremehkan tentu bukan pengalaman menyenangkan. Seseorang bisa merasa tersinggung ketika pendapatnya disepelekan, kemampuannya diragukan, atau dirinya diperlakukan seolah tidak memiliki arti.

Meski demikian, respons terhadap situasi tersebut dapat menunjukkan bagaimana seseorang mengelola emosi. Ada orang yang langsung membalas dengan kemarahan, sementara sebagian lainnya memilih mengambil jarak dan memikirkan langkah yang lebih tepat.

Dalam sudut pandang psikologi populer, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kemampuan berpikir atau memecahkan masalah. Kemampuan mengendalikan reaksi, memahami situasi, serta menentukan kapan harus berbicara dan kapan sebaiknya mengabaikan juga merupakan bagian dari kematangan emosional.

Orang yang mampu mengelola dirinya dengan baik biasanya tidak membiarkan perkataan orang lain mengendalikan seluruh tindakannya.

Baca Juga: Tak Punya Sahabat Dekat, 7 Perilaku Ini Sering Muncul dalam Kehidupan Sehari-hari

Dilansir dari laman Geediting, berikut tujuh hal yang dapat dilakukan seseorang ketika menghadapi perlakuan yang merendahkan.

1. Tidak Langsung Bereaksi

Ketika seseorang merasa dihina, reaksi pertama yang muncul biasanya adalah marah atau ingin membela diri. Namun, membalas ketika emosi sedang memuncak justru berpotensi membuat situasi semakin buruk.

Orang yang mampu mengendalikan diri biasanya memberikan jeda sebelum menjawab. Mereka dapat menarik napas, diam beberapa saat, atau mengambil waktu untuk menenangkan pikiran.

Jeda sederhana tersebut memberi kesempatan bagi seseorang untuk memilih respons secara sadar, bukan sekadar mengikuti emosi sesaat.

2. Mencari Tahu Maksud di Balik Perkataan

Tidak setiap ucapan yang terdengar menyakitkan selalu dimaksudkan sebagai penghinaan. Bisa saja seseorang salah memilih kata, sedang berada dalam kondisi emosional, atau sebenarnya terjadi kesalahpahaman.

Karena itu, orang yang berpikir jernih tidak langsung mengambil kesimpulan terburuk. Mereka mencoba melihat konteks dan mempertimbangkan apa sebenarnya maksud dari ucapan tersebut.

Sikap ini dapat membantu mencegah konflik yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

3. Berani Membuat Batasan

Menjaga ketenangan bukan berarti membiarkan orang lain memperlakukan diri seenaknya. Ketika sikap merendahkan dilakukan berulang kali, seseorang tetap perlu menunjukkan batas yang jelas.

Orang yang matang secara emosional dapat menyampaikan keberatannya tanpa harus menggunakan kata-kata kasar.

Misalnya, mereka bisa mengatakan bahwa cara bicara tersebut membuat tidak nyaman dan meminta lawan bicara menyampaikan persoalan dengan lebih baik.

Ketegasan semacam ini menunjukkan bahwa seseorang mampu menghargai dirinya sendiri tanpa harus berubah menjadi agresif.

4. Tidak Semua Hal Harus Diladeni

Ada kalanya membalas justru memberikan perhatian yang diinginkan oleh orang yang sedang memancing emosi.

Orang yang cerdas secara emosional memahami bahwa energi dan waktu mereka terbatas. Sindiran kecil dari orang yang tidak terlalu berpengaruh dalam hidup mereka mungkin tidak perlu mendapat respons panjang.

Namun, bukan berarti semua masalah harus diabaikan. Jika tindakan tersebut sudah mengganggu pekerjaan, hubungan penting, reputasi, atau batas pribadi, mengambil sikap tegas tentu diperlukan.

5. Berusaha Memahami Kondisi Orang Lain

Empati dapat membantu seseorang melihat sebuah konflik dari sudut pandang yang lebih luas. Perilaku kasar orang lain terkadang berkaitan dengan tekanan, rasa tidak aman, frustrasi, atau persoalan yang sedang mereka hadapi.

Memahami kemungkinan tersebut bukan berarti membenarkan perilaku buruk.

Sebaliknya, hal itu dapat membantu seseorang agar tidak langsung menganggap perkataan negatif sebagai gambaran tentang nilai dirinya sendiri.

Dengan tetap tenang, seseorang dapat memisahkan antara masalah yang dimiliki orang lain dan harga dirinya.

6. Mengambil Pelajaran dari Kritik

Tidak semua perkataan yang disampaikan dengan cara buruk berarti sepenuhnya tidak berguna. Terkadang, di balik kritik yang tidak menyenangkan, terdapat informasi yang tetap bisa dijadikan bahan evaluasi.

Orang yang terbuka terhadap perkembangan diri dapat bertanya apakah ada bagian dari kritik tersebut yang memang perlu diperbaiki.

Jika ada, mereka mengambil pelajarannya. Jika tidak, mereka tidak perlu membawa perkataan tersebut terlalu jauh ke dalam pikiran.

Cara ini membuat pengalaman yang tidak menyenangkan menjadi kesempatan untuk belajar sekaligus memperkuat ketahanan mental.

7. Tahu Kapan Harus Meninggalkan Situasi

Tidak semua hubungan atau perdebatan layak dipertahankan. Ada kondisi ketika seseorang sudah berulang kali mencoba berkomunikasi, tetapi pihak lain tetap menunjukkan perilaku yang merugikan.

Dalam situasi seperti itu, mengambil jarak dapat menjadi pilihan yang lebih sehat.

Meninggalkan lingkungan yang penuh penghinaan, mengurangi interaksi dengan orang yang terus merendahkan, atau berhenti mengikuti perdebatan yang tidak menghasilkan solusi bukan berarti kalah.

Justru, keputusan tersebut dapat menunjukkan bahwa seseorang mengetahui apa yang layak mendapatkan waktu dan energinya.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho