← Beranda
Menurut Psikologi, 8 Tipe Wanita Ini Bisa Membuat Hubungan Pertemanan Menguras Energi
Rabbany WanadrianiRabu, 9 September 2026 | 22.39 WIB
Ilustrasi wanita yang sulit diajak berteman. (Freepik)

JawaPos.com - Dalam sebuah pertemanan, rasa saling menghargai, kepercayaan, dan komunikasi yang sehat menjadi hal penting agar hubungan tetap nyaman.

Namun, tidak semua hubungan berjalan demikian. Ada karakter atau pola perilaku tertentu yang dapat membuat seseorang merasa lelah secara emosional ketika berinteraksi dengan orang lain.

Kondisi tersebut tidak selalu berarti seseorang memiliki kepribadian buruk. Terkadang, perilaku tertentu muncul karena pengalaman masa lalu, cara menghadapi tekanan, atau kebiasaan yang terbentuk dalam kehidupan sehari-hari.

Dilansir dari Geediting, terdapat sejumlah tipe perilaku pada perempuan yang dinilai dapat membuat hubungan pertemanan menjadi lebih menantang. Berikut delapan di antaranya.

Baca Juga: Tak Punya Sahabat Dekat, 7 Perilaku Ini Sering Muncul dalam Kehidupan Sehari-hari

1. Selalu Merasa Menjadi Korban

Tipe ini cenderung melihat dirinya sebagai pihak yang paling dirugikan ketika menghadapi masalah.

Apa pun situasinya, ia dapat menemukan alasan untuk menyalahkan orang lain atau keadaan. Kebiasaan tersebut membuat persoalan sulit diselesaikan karena perhatian lebih banyak tertuju pada siapa yang dianggap bersalah.

Jika berlangsung terus-menerus, pola seperti ini dapat membuat teman di sekitarnya merasa kelelahan karena harus selalu memberikan dukungan tanpa melihat adanya upaya untuk mencari solusi.

2. Terlalu Membutuhkan Perhatian

Karakter berikutnya adalah seseorang yang sangat membutuhkan pengakuan dan perhatian dari orang lain.

Ia mungkin ingin menjadi pusat pembicaraan, mengharapkan pujian, atau merasa tersinggung ketika kebutuhannya tidak menjadi prioritas.

Dilansir dari Geediting, perilaku narsistik seperti ini dapat membuat hubungan terasa berat apabila seseorang terus menuntut validasi sekaligus kurang mempertimbangkan perasaan maupun kebutuhan temannya.

3. Terlalu Menghindari Konflik

Menjaga kedamaian memang merupakan sikap positif. Namun, terlalu takut menghadapi konflik justru dapat menimbulkan persoalan baru.

Tipe ini cenderung menyimpan ketidaksetujuan, memendam perasaan, dan memilih mengalah agar suasana tetap tenang.

Masalah yang seharusnya dibicarakan akhirnya tidak terselesaikan. Dalam jangka panjang, hal tersebut bisa menimbulkan kekecewaan atau jarak emosional dalam pertemanan.

4. Sulit Terbuka Secara Emosional

Ada pula orang yang cenderung membatasi kedekatan emosional dengan orang lain.

Mereka mungkin terlihat dingin, menjaga jarak, atau enggan membicarakan persoalan pribadi. Percakapan yang terlalu mendalam juga bisa membuat mereka merasa tidak nyaman.

Menurut gambaran yang dikutip Geediting, sikap tersebut terkadang dapat berkaitan dengan pengalaman buruk, rasa kecewa, atau ketakutan untuk kembali terluka.

Karena itu, perilaku tertutup tidak selalu berarti seseorang tidak peduli terhadap temannya.

5. Terlalu Banyak Memikirkan Segalanya

Orang yang gemar overthinking dapat membuat hubungan menjadi lebih rumit.

Hal sederhana seperti pesan singkat, perubahan nada bicara, atau ekspresi seseorang bisa dianalisis secara berlebihan. Mereka kemudian membuat berbagai kemungkinan dalam pikiran, termasuk kemungkinan yang sebenarnya belum tentu terjadi.

Kebiasaan tersebut dapat menimbulkan kesalahpahaman karena seseorang lebih dahulu mempercayai asumsi daripada mencari penjelasan secara langsung.

6. Menuntut Kesempurnaan

Seseorang dengan sifat perfeksionis biasanya menetapkan standar tinggi, baik untuk dirinya sendiri maupun orang di sekitarnya.

Keinginan mendapatkan hasil terbaik sebenarnya bukan sesuatu yang buruk. Namun, ketika standar tersebut diterapkan terlalu ketat kepada teman, hubungan bisa terasa penuh tekanan.

Kesalahan kecil dapat dianggap sebagai masalah besar. Teman pun bisa merasa takut melakukan sesuatu karena khawatir tidak memenuhi ekspektasi.

7. Gemar Membesar-besarkan Masalah

Tipe berikutnya adalah orang yang cenderung memberikan reaksi sangat besar terhadap persoalan yang sebenarnya sederhana.

Masalah kecil dapat berkembang menjadi pertengkaran panjang. Situasi yang seharusnya bisa diselesaikan dengan tenang justru berubah menjadi konflik yang menguras energi.

Pola seperti ini juga dapat membuat orang-orang di sekitarnya merasa harus selalu berhati-hati agar tidak memicu persoalan baru.

8. Terlalu Sering Menyenangkan Orang Lain

Menjadi pribadi yang perhatian tentu merupakan hal baik. Namun, kebiasaan selalu berusaha menyenangkan orang lain juga dapat menjadi persoalan jika dilakukan secara berlebihan.

Seorang people pleaser cenderung sulit mengatakan tidak meskipun sebenarnya tidak nyaman. Ia bisa mengutamakan keinginan orang lain dan mengesampingkan kebutuhan dirinya sendiri.

Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat menyebabkan kelelahan emosional, rasa tertekan, bahkan membuat hubungan menjadi tidak seimbang.

Pada akhirnya, delapan karakter tersebut tidak dapat digunakan untuk menilai seseorang hanya dari satu atau dua perilaku. Setiap orang memiliki latar belakang dan cara menghadapi masalah yang berbeda.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho