← Beranda
11 Ucapan Kebencian Terselubung yang Sering Muncul dalam Percakapan Santai Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalRabu, 9 September 2026 | 21.02 WIB
Ucapan kebencian terselubung yang sering muncul dalam percakapan santai menurut psikologi / foto : Magnific/ stockking

JawaPos.com - Kebencian terselubung sering tersembunyi di balik ucapan sederhana yang muncul dalam percakapan santai sehari-hari.

Setiap orang tentu ingin memperlakukan orang yang disayangi dengan penuh rasa hormat dan kepedulian tulus.

Namun tidak semua orang memiliki perasaan yang sama, terlihat dari ucapan yang menyimpan kebencian terselubung.

Dilansir dari laman YourTango pada Rabu (9/9), berikut sebelas ucapan psikologi kebencian terselubung yang biasa muncul dalam percakapan santai sehari-hari seseorang.

Baca Juga: 6 Ucapan Merasa Terkucil yang Muncul Meski Dikelilingi Sahabat Dekat Menurut Psikologi

1. Membenarkan ucapan menyakitkan sebagai candaan

Berada dalam kelompok sosial sering membuat seseorang berusaha keras menampilkan kesan terbaik dirinya.

Namun usaha tersebut runtuh ketika seseorang sengaja mengejek demi mempermalukan orang lain di depan umum.

Ucapan bahwa itu hanya candaan menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tidak peduli terhadap perasaan orang lain.

Mengungkit kenangan buruk yang disengaja justru dapat memperburuk kondisi kesehatan mental orang yang mendengarnya.

2. Meminta orang lain tidak menganggapnya serius

Ketika seseorang menyadari ucapannya salah, mereka sering langsung meminta orang lain untuk tidak tersinggung.

Orang dengan kebencian terselubung juga cenderung terus mencari alasan pembenaran atas perilaku buruknya.

Perilaku ini jarang berubah dan permintaan maaf yang tulus hampir tidak pernah benar-benar disampaikan.

Sikap tidak menghormati semacam ini tidak seharusnya dimaafkan hanya karena dianggap tidak disengaja.

3. Menyebut orang lain terlalu sensitif

Merasa tersinggung akibat perkataan orang lain merupakan reaksi wajar yang berhak dirasakan siapa pun.

Kata-kata yang menyakitkan tetap memberi dampak besar terhadap harga diri seseorang, meski tidak disengaja.

Rasa tidak hormat terbukti dapat memicu ketakutan, amarah, hingga rasa terisolasi bagi yang mengalaminya.

Berani menegaskan pendapat sendiri penting dilakukan agar ucapan menyakitkan tersebut tidak terulang kembali.

4. Menyatakan tidak punya waktu untuk masalah tersebut

Setelah kejadian yang memalukan, seseorang mungkin merasa berani menuntut permintaan maaf secara langsung.

Namun keberanian tersebut runtuh ketika lawan bicara justru mengatakan tidak punya waktu untuk hal itu.

Ucapan ini menunjukkan sikap tidak menghargai perasaan dan energi yang telah dikeluarkan seseorang.

Menegaskan sikap secara konsisten diperlukan agar perilaku tidak hormat tersebut tidak terus berulang.

5. Menyuruh seseorang segera melupakan masalahnya

Luka yang mendalam akibat pengkhianatan tidak dapat hilang hanya dengan sekadar kata maaf sederhana.

Menyuruh seseorang segera melupakan masalah tersebut justru dapat memperburuk kondisi emosional yang dialaminya.

Dampak pengkhianatan mencakup rasa terkejut, kehilangan, kesedihan, hingga menurunnya rasa percaya diri seseorang.

Ucapan ini menunjukkan betapa kecilnya kepedulian seseorang terhadap perasaan orang yang telah dikecewakannya.

6. Menuduh seseorang bereaksi berlebihan

Menuduh seseorang berlebihan atas perasaannya menjadi tanda jelas bahwa lawan bicara sebenarnya tidak peduli.

Orang yang benar-benar menyesal biasanya berusaha memperbaiki kesalahan demi memulihkan kepercayaan yang telah rusak.

Namun orang dengan kebencian terselubung jarang mau mengakui kesalahan atau meminta maaf secara tulus.

Mereka lebih memilih mengalihkan tanggung jawab dengan menuduh orang lain bereaksi secara berlebihan.

7. Menyatakan bukan urusannya

Meminta bantuan kepada orang terdekat namun mendapat respons acuh tentu terasa sangat menyakitkan.

Ucapan bahwa itu bukan urusannya menunjukkan betapa kecilnya penghargaan mereka terhadap perasaan seseorang.

Sikap ini menegaskan bahwa mereka sebenarnya tidak terlalu peduli terhadap kondisi orang di sekitarnya.

Berinvestasi terlalu banyak energi pada orang seperti ini hanya akan merugikan diri sendiri.

8. Mempertanyakan alasan seseorang merasa kesal

Orang yang tidak dapat memahami perasaan orang lain sering mempertanyakan alasan di balik kekesalan tersebut.

Mereka cenderung terus memancing emosi seseorang hingga akhirnya menyerah dan mengalah begitu saja.

Sikap ini bukan hal baru bagi orang yang kurang memiliki empati terhadap perasaan orang lain.

Mereka enggan mengakui kesalahan karena berusaha melindungi harga diri mereka sendiri secara berlebihan.

9. Menggunakan alasan kejujuran untuk berkata kasar

Kejujuran memang penting, namun menjadi tidak pantas ketika disampaikan dengan cara yang merendahkan.

Jika kejujuran mengorbankan perasaan orang lain, patut dipertanyakan apakah itu benar-benar tentang kejujuran.

Kata-kata menyakitkan yang dibungkus alasan kejujuran tidak perlu diterima begitu saja tanpa perlawanan.

Berani membela diri terhadap sikap pasif-agresif menjadi langkah penting menjaga kesehatan emosional seseorang.

10. Membandingkan pengalaman buruk sebagai bentuk superioritas

Setiap orang pasti pernah mengalami kesulitan tertentu sebagai bagian alami dari kehidupan sehari-hari.

Namun membandingkan pengalaman buruk seseorang dengan pengalaman diri sendiri hanya meremehkan perasaan orang tersebut.

Ucapan ini sering digunakan untuk membuat diri terlihat lebih unggul dibanding orang yang sedang kesulitan.

Mengakhiri percakapan atau menjauh menjadi pilihan tepat menghadapi sikap meremehkan semacam ini.

11. Melepaskan tanggung jawab atas perasaan orang lain

Orang dengan kebencian terselubung sering menolak menatap mata lawan bicaranya saat menyampaikan keluhan.

Mereka melepaskan tanggung jawab dengan menyatakan tidak bisa mengendalikan perasaan orang lain sepenuhnya.

Meski hanya diri sendiri yang mengendalikan tindakan, ucapan orang lain tetap memengaruhi emosi seseorang.

Menjaga jarak dari orang semacam ini menjadi cara terbaik melindungi kesehatan mental diri sendiri.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho