← Beranda
Sering Dilakukan Sehari-hari, 8 Kebiasaan Ini Ternyata Bisa Memancarkan Energi Negatif
Rabbany WanadrianiRabu, 9 September 2026 | 04.35 WIB
Ilustrasi orang yang bermain ponsel. Sumber foto: Freepik

JawaPos.com – Pernah merasa orang lain tiba-tiba menjaga jarak, padahal Anda merasa tidak melakukan sesuatu yang buruk?

Bisa jadi, penyebabnya bukan selalu berasal dari perkataan atau tindakan besar. Sejumlah kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali juga dapat memengaruhi bagaimana seseorang dipersepsikan oleh orang-orang di sekitarnya.

Dalam psikologi, perilaku, cara berkomunikasi, serta respons seseorang terhadap lingkungan dapat memengaruhi kesan yang muncul dalam sebuah interaksi.

Kebiasaan seperti terlalu sering mengeluh, mengabaikan lawan bicara, hingga tidak menghargai ruang pribadi dapat membuat orang lain merasa kurang nyaman.

Baca Juga: Bukan Sekadar Kebiasaan, Suka Menyalakan TV Saat Bekerja Bisa Tunjukkan 5 Hal Ini

Dilansir dari Geediting, terdapat delapan kebiasaan yang tanpa disadari dapat membuat seseorang memancarkan kesan atau “aura” negatif.

Berikut penjelasannya:

1. Terlalu Sering Mengeluh

Sesekali mengeluarkan keluhan merupakan hal yang wajar. Namun, jika hampir setiap percakapan diisi dengan keluhan dan kemarahan, orang di sekitar bisa merasa lelah secara emosional.

Kebiasaan terus-menerus membicarakan hal buruk dapat membuat suasana interaksi menjadi berat. Orang lain pun berpotensi menangkap kesan bahwa Anda selalu melihat segala sesuatu dari sisi negatif.

Karena itu, penting memberikan ruang bagi percakapan yang lebih seimbang. Tidak harus selalu positif, tetapi usahakan agar keluhan tidak menjadi satu-satunya cara berkomunikasi.

2. Tidak Menghargai Ruang Pribadi

Setiap orang memiliki batas kenyamanan yang berbeda ketika berinteraksi. Ada yang merasa nyaman berbicara dari jarak dekat, sementara lainnya membutuhkan ruang lebih luas.

Masuk terlalu jauh ke area pribadi seseorang tanpa memperhatikan respons mereka dapat membuat lawan bicara merasa tidak nyaman.

Meski tampak sepele, menghargai batas fisik dan kenyamanan orang lain merupakan bagian penting dalam membangun interaksi yang sehat.

3. Terus-Menerus Menghindari Kontak Mata

Kontak mata menjadi salah satu bagian penting dalam komunikasi langsung. Tatapan yang sesuai dapat menunjukkan bahwa seseorang memperhatikan pembicaraan.

Sebaliknya, terus menghindari kontak mata bisa menimbulkan berbagai persepsi. Anda mungkin terlihat tidak tertarik, gugup, atau bahkan seolah menyembunyikan sesuatu.

Namun, hal ini tentu tidak berarti setiap orang yang jarang melakukan kontak mata memiliki niat buruk. Faktor seperti rasa malu, kebiasaan, dan kondisi sosial juga dapat memengaruhinya.

4. Gemar Mengkritik Orang Lain

Memberikan kritik tidak selalu buruk. Kritik yang disampaikan secara tepat bahkan dapat membantu seseorang memperbaiki diri.

Masalah muncul ketika kebiasaan mengkritik berubah menjadi perilaku yang terus mencari kesalahan orang lain.

Jika hampir setiap tindakan orang lain selalu dianggap kurang, salah, atau tidak cukup baik, Anda bisa memberikan kesan sebagai pribadi yang sulit menghargai orang lain.

Belajar menyampaikan kritik secara proporsional dapat membantu menjaga hubungan tetap sehat tanpa membuat lawan bicara merasa terus dihakimi.

5. Kurang Peduli terhadap Perasaan Orang Lain

Kemampuan memahami perasaan orang lain merupakan salah satu bagian penting dalam hubungan sosial.

Ketika seseorang sedang bercerita tentang masalahnya, respons yang terlalu dingin atau justru mengabaikan emosinya dapat membuat mereka merasa tidak dihargai.

Tidak selalu diperlukan solusi untuk setiap masalah. Terkadang, mendengarkan dan menunjukkan bahwa Anda memahami perasaan lawan bicara sudah cukup untuk membuat mereka merasa diperhatikan.

6. Sibuk dengan Ponsel saat Bersama Orang Lain

Ponsel telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun, penggunaannya dalam situasi sosial perlu diperhatikan.

Terus melihat layar ketika seseorang sedang berbicara dengan Anda dapat memberikan kesan bahwa perhatian Anda lebih tertuju pada ponsel daripada orang yang berada di depan mata.

Kebiasaan tersebut juga dapat mengurangi kualitas percakapan. Meletakkan ponsel untuk sementara ketika sedang berbicara dengan orang lain bisa menjadi bentuk penghargaan sederhana terhadap lawan bicara.

7. Sering Datang Terlambat

Terlambat sesekali tentu dapat terjadi karena berbagai alasan. Namun, jika dilakukan berulang kali tanpa alasan yang jelas, kebiasaan tersebut berpotensi memengaruhi penilaian orang lain terhadap Anda.

Datang terlambat dapat dianggap sebagai tanda bahwa seseorang kurang menghargai waktu orang lain atau kurang mampu mengatur jadwal.

Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan ketegangan, terutama ketika melibatkan pekerjaan, pertemuan penting, maupun janji pribadi.

8. Tidak Benar-Benar Mendengarkan

Komunikasi yang baik bukan hanya tentang kemampuan berbicara, tetapi juga kesediaan untuk mendengarkan.

Memotong pembicaraan, sibuk memikirkan respons sendiri, atau terus mengalihkan topik ke pengalaman pribadi dapat membuat lawan bicara merasa tidak diperhatikan.

Sebaliknya, memberikan perhatian penuh, memahami isi pembicaraan, dan merespons secara relevan dapat menunjukkan empati sekaligus membuat interaksi terasa lebih nyaman.

Pada akhirnya, istilah “aura negatif” lebih tepat dipahami sebagai kesan yang muncul dari pola perilaku dan interaksi seseorang, bukan sesuatu yang secara ilmiah terbukti sebagai energi tertentu.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho