← Beranda
Jangan Diabaikan, Ini 9 Kebiasaan Orang Toxic yang Bisa Merusak Hubungan
Rabbany WanadrianiSelasa, 8 September 2026 | 05.39 WIB
ilustrasi orang toxic. Sumber foto: Freepik

JawaPos.com - Tidak semua hubungan dengan orang lain berjalan dengan sehat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa saja berhadapan dengan seseorang yang membuat interaksi terasa melelahkan, penuh konflik, atau bahkan membuat kita terus-menerus merasa bersalah.

Istilah toxic sering digunakan untuk menggambarkan pola perilaku yang memberikan dampak negatif terhadap orang lain. Namun, seseorang sebaiknya tidak langsung diberi label hanya karena pernah melakukan satu tindakan yang tidak menyenangkan. Yang lebih penting adalah melihat pola perilaku yang berulang dan dampaknya terhadap hubungan.

Sejumlah perilaku berikut sering dianggap sebagai tanda hubungan yang tidak sehat. 

Dilansir dari Geediting, ada sembilan karakteristik yang patut diperhatikan ketika seseorang menunjukkan pola interaksi yang terus-menerus merugikan orang di sekitarnya.

Baca Juga: Sering Dilakukan Tanpa Sadar, Ini 5 Kebiasaan yang Bikin Skin Barrier Rusak

1. Selalu Merasa Pendapatnya Paling Benar

Berhadapan dengan orang yang tidak pernah mau mengakui kesalahan dapat menjadi pengalaman yang melelahkan.

Mereka cenderung mempertahankan pendapatnya meskipun sudah diberikan sudut pandang lain. Perbedaan pendapat justru dianggap sebagai serangan terhadap dirinya.

Dalam sebuah hubungan, pola seperti ini dapat membuat komunikasi menjadi sulit karena hanya satu pihak yang merasa berhak menentukan mana yang benar dan mana yang salah.

2. Terus Memposisikan Diri sebagai Korban

Setiap orang tentu pernah mengalami masa sulit. Namun, masalah muncul ketika seseorang selalu menempatkan dirinya sebagai korban dalam hampir setiap persoalan.

Kesalahan orang lain selalu dianggap sebagai penyebab utama masalah, sedangkan kontribusi dirinya sendiri jarang diakui.

Jika pola tersebut terus terjadi, hubungan bisa menjadi tidak seimbang karena orang di sekitarnya akhirnya merasa harus selalu memahami, mengalah, atau bertanggung jawab atas masalah yang sebenarnya bukan sepenuhnya miliknya.

3. Melihat Segala Sesuatu dari Sisi Negatif

Orang dengan pola pikir yang sangat negatif cenderung menemukan kekurangan dalam hampir setiap situasi.

Ketika orang lain melihat peluang, mereka mungkin justru melihat risiko. Saat ada solusi, mereka menemukan alasan mengapa solusi tersebut tidak akan berhasil.

Sesekali bersikap pesimis merupakan hal yang wajar. Tetapi jika keluhan, sinisme, dan prasangka negatif menjadi pola komunikasi sehari-hari, interaksi dengan orang tersebut dapat terasa sangat menguras energi.

4. Gemar Mengkritik Tanpa Membangun

Kritik sebenarnya bisa memberikan manfaat apabila disampaikan dengan tujuan membantu seseorang berkembang.

Masalahnya, tidak semua kritik diberikan dengan niat tersebut. Orang dengan perilaku toxic dapat memberikan komentar yang terus-menerus merendahkan, mempermalukan, atau membuat orang lain merasa tidak cukup baik.

Alih-alih membantu mencari solusi, kritik tersebut justru membuat penerimanya kehilangan kepercayaan diri.

5. Sering Memanipulasi Situasi

Manipulasi merupakan salah satu perilaku yang perlu diwaspadai dalam hubungan.

Seseorang yang manipulatif dapat menggunakan rasa bersalah, tekanan emosional, atau memutarbalikkan percakapan untuk mendapatkan apa yang diinginkan.

Dalam kondisi seperti ini, korban manipulasi terkadang merasa harus mengikuti kemauan orang tersebut meskipun sebenarnya tidak nyaman.

Karena itu, penting memperhatikan apakah keputusan yang dibuat benar-benar berasal dari keinginan sendiri atau muncul karena tekanan dari pihak lain.

6. Kesulitan Memahami Perasaan Orang Lain

Empati menjadi salah satu fondasi penting dalam hubungan yang sehat. Kemampuan memahami bahwa orang lain juga mempunyai perasaan dan sudut pandang berbeda membantu menciptakan komunikasi yang lebih baik.

Sebaliknya, orang dengan pola perilaku toxic dapat terlihat tidak peduli terhadap dampak tindakannya. Ketika orang lain merasa terluka, mereka mungkin menganggap perasaan tersebut berlebihan atau tidak penting.

Kurangnya empati yang berlangsung terus-menerus dapat membuat hubungan terasa berat sebelah.

7. Sering Tidak Menepati Janji

Kepercayaan dibangun melalui konsistensi. Karena itu, seseorang yang berkali-kali mengingkari janji atau gagal memenuhi komitmen dapat membuat orang lain sulit mempercayainya.

Sesekali lupa atau membatalkan rencana tentu merupakan hal manusiawi. Namun, jika ketidakandalan tersebut menjadi kebiasaan, dampaknya bisa muncul dalam hubungan pribadi maupun profesional.

Orang di sekitarnya akhirnya harus selalu bersiap menghadapi kemungkinan bahwa perkataan atau janji yang diberikan tidak akan diwujudkan.

8. Berusaha Mengendalikan Kehidupan Orang Lain

Perilaku mengontrol dapat muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya, seseorang merasa berhak menentukan dengan siapa orang lain berteman, keputusan apa yang harus diambil, atau bagaimana seseorang seharusnya menjalani hidup.

Keinginan untuk mengatur orang lain secara berlebihan berbeda dengan memberikan perhatian atau saran.

Ketika seseorang terus memaksakan kehendaknya dan tidak menghargai batasan pribadi, hubungan dapat berubah menjadi tidak sehat.

9. Tidak Mau Mengakui Kesalahan atau Berubah

Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap orang bisa melakukan kesalahan dan memiliki kekurangan.

Hal yang membedakan adalah kemauan untuk menyadari kesalahan dan memperbaiki diri. Seseorang yang selalu menolak introspeksi, bahkan setelah mengetahui perilakunya menyakiti orang lain, dapat menciptakan pola hubungan yang sulit berkembang.

Keengganan untuk berubah juga membuat masalah yang sama berpotensi terus berulang.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho