JawaPos.com – Kalimat seperti “habiskan makananmu karena masih banyak orang yang kelaparan” mungkin terdengar sederhana. Bagi banyak anak, ucapan tersebut menjadi bagian dari keseharian di meja makan.
Orang tua biasanya menyampaikan nasihat itu dengan maksud mengajarkan rasa syukur, menghargai makanan, serta tidak membuang sesuatu yang masih bisa dimanfaatkan.
Namun, pesan yang terus diulang sejak kecil dapat ikut memengaruhi cara seseorang memandang makanan, tanggung jawab, kebutuhan pribadi, hingga hubungan dengan orang lain ketika beranjak dewasa.
Dilansir dari Geediting, terdapat sejumlah kecenderungan perilaku yang dapat muncul pada orang yang tumbuh dengan pesan tersebut. Meski demikian, pengaruh pola asuh setiap orang tentu berbeda dan tidak bisa dianggap sebagai aturan yang berlaku untuk semua orang.
Baca Juga: Cepat Pulih dari Putus Cinta, 7 Perilaku Ini Sering Muncul pada Pria yang Sudah Move On
1. Terbiasa Menghargai Apa yang Dimiliki
Sejak kecil, mereka mendapatkan pemahaman bahwa sesuatu yang sudah dimiliki sebaiknya tidak disia-siakan.
Kebiasaan tersebut dapat terbawa ke kehidupan dewasa. Mereka mungkin menjadi pribadi yang cukup menghargai makanan, barang, waktu, maupun hubungan dengan orang lain.
Ketika mempunyai sesuatu, mereka cenderung berusaha memanfaatkannya sebaik mungkin sebelum menggantinya dengan yang baru.
2. Sering Merasa Bersalah
Nasihat mengenai makanan juga dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab yang cukup kuat.
Pada sebagian orang, kebiasaan tersebut membuat mereka mudah merasa bersalah ketika tidak mampu memenuhi harapan. Perasaan ini tidak selalu berhenti pada urusan makanan.
Dalam situasi tertentu, mereka mungkin merasa tidak enak ketika menolak permintaan orang lain atau ketika harus mendahulukan kebutuhan diri sendiri.
Jika berlangsung terus-menerus, kecenderungan tersebut dapat membuat seseorang terlalu memikirkan apakah dirinya sudah melakukan sesuatu dengan benar.
3. Kurang Peka terhadap Sinyal Kenyang
Ada pula kemungkinan munculnya hubungan yang kurang sehat dengan makanan.
Ketika seorang anak berulang kali diarahkan untuk menghabiskan makanan meskipun sudah kenyang, perhatian terhadap sinyal lapar dan kenyang dari tubuh berpotensi menjadi kurang terlatih.
Saat dewasa, sebagian orang mungkin tetap merasa harus menghabiskan makanan yang sudah diambil meskipun sebenarnya tidak lagi lapar.
Namun, hubungan antara pola asuh dan perilaku makan sangat kompleks sehingga pengalaman setiap orang tidak selalu sama.
4. Cenderung Disiplin
Di sisi lain, kebiasaan tersebut juga dapat berkaitan dengan pembentukan sikap disiplin.
Sejak kecil, anak belajar bahwa ada aturan yang perlu dipatuhi dan tanggung jawab yang harus diselesaikan. Nilai tersebut dapat terbawa ke berbagai aspek kehidupan.
Ketika dewasa, mereka mungkin lebih terbiasa menyelesaikan pekerjaan, menjaga keteraturan, serta menjalankan kewajiban dengan sungguh-sungguh.
5. Sulit Membuang Barang Lama
Prinsip untuk tidak menyia-nyiakan sesuatu terkadang berkembang menjadi kebiasaan mempertahankan barang lebih lama.
Seseorang mungkin enggan membuang pakaian, peralatan, atau benda lama karena merasa barang tersebut masih mempunyai kegunaan.
Dalam kondisi tertentu, kecenderungan menyimpan barang secara berlebihan memang dapat berkaitan dengan perilaku hoarding. Namun, tidak semua orang yang suka menyimpan barang otomatis mengalami gangguan penimbunan.
6. Memiliki Kepedulian Sosial
Pesan tentang orang lain yang mengalami kelaparan juga memperkenalkan anak pada gagasan mengenai kondisi sosial di luar dirinya.
Ketika nilai tersebut ditanamkan secara positif, seseorang dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih peka terhadap kebutuhan orang lain.
Mereka mungkin lebih mudah tergerak untuk berbagi, membantu orang yang mengalami kesulitan, atau menunjukkan kepedulian terhadap persoalan sosial.
Rasa syukur yang diajarkan sejak kecil juga dapat berkembang menjadi kebiasaan menghargai apa yang dimiliki sekaligus menyadari bahwa tidak semua orang mempunyai kesempatan yang sama.
7. Terbiasa dengan Tekanan untuk “Harus”
Kata “harus” yang terlalu sering muncul dalam pengasuhan dapat meninggalkan standar internal yang kuat.
Anak mungkin terbiasa berpikir bahwa dirinya harus menghabiskan makanan, harus bersyukur, harus patuh, atau harus memenuhi ekspektasi tertentu.
Ketika dewasa, pola tersebut pada sebagian orang dapat berkembang menjadi kecenderungan perfeksionis. Mereka merasa kecewa atau bersalah ketika tidak mampu mencapai standar yang sudah ditetapkan.
Karena itu, penting bagi seseorang untuk memahami bahwa bertanggung jawab tidak selalu berarti harus sempurna dalam segala hal.
8. Lebih Berhati-hati Menggunakan Uang
Kebiasaan untuk tidak menyia-nyiakan sesuatu juga dapat memengaruhi cara seseorang mengelola keuangan.
Mereka mungkin lebih berhati-hati ketika berbelanja, mempertimbangkan manfaat sebuah barang, dan menghindari pengeluaran yang dianggap tidak perlu.
Prinsip hemat yang awalnya diterapkan pada makanan akhirnya bisa meluas ke pengelolaan uang dan barang.
Meski begitu, perilaku finansial seseorang juga dipengaruhi oleh banyak faktor lain, seperti kondisi keluarga, pengalaman hidup, pendidikan, dan kebiasaan yang terbentuk ketika dewasa.