JawaPos.com - Menjadi seorang manajer sering kali terlihat seperti sebuah pencapaian. Jabatan meningkat, tanggung jawab bertambah, keputusan kita mulai memengaruhi banyak orang, dan secara sosial posisi tersebut dianggap sebagai tanda keberhasilan.
Namun, ada sisi lain dari menjadi manajer yang jarang dibicarakan.
Tidak sedikit orang yang akhirnya merasa seperti hanya menjalankan peran, bukan menjalani sesuatu yang benar-benar mereka inginkan.
Mereka datang ke kantor, memimpin rapat, memberikan instruksi, mengejar target, menyelesaikan konflik, membuat laporan, dan mengambil keputusan. Dari luar semuanya terlihat baik-baik saja.
Tetapi di dalam diri muncul pertanyaan:
"Sebenarnya, apakah aku memang menginginkan kehidupan seperti ini?"
Perasaan tersebut tidak selalu berarti seseorang membenci pekerjaannya. Bisa jadi ia hanya terlalu lama mengikuti tuntutan lingkungan, ekspektasi perusahaan, keinginan atasan, atau gambaran kesuksesan yang dibentuk oleh orang lain.
Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (4/9), dalam psikologi, fenomena seperti ini dapat dipahami melalui konsep motivasi intrinsik, otonomi, nilai pribadi, dan regulasi diri. Seseorang dapat menjalankan sesuatu dengan sangat disiplin, tetapi belum tentu merasa bahwa tindakannya benar-benar berasal dari dirinya sendiri.
Inilah mengapa seorang manajer perlu lebih dari sekadar kemampuan memimpin orang lain. Ia juga perlu mampu memimpin dirinya sendiri.
Jika kamu tidak ingin menjadi manajer yang sekadar menjalankan peran tanpa keinginan pribadi, berikut tujuh langkah yang bisa diterapkan.
1. Bedakan antara "Saya Memilih" dan "Saya Harus"
Salah satu tanda bahwa seseorang mulai kehilangan kendali atas kehidupannya adalah ketika sebagian besar keputusan yang dibuat terasa seperti kewajiban.
"Saya harus mengambil posisi ini."
"Saya harus terlihat sukses."
"Saya harus mengikuti keputusan atasan."
"Saya harus mempertahankan jabatan ini karena sudah terlanjur."
"Saya harus menerima semua tanggung jawab karena saya seorang manajer."
Kata "harus" memang tidak selalu buruk. Dalam dunia kerja, ada banyak hal yang memang merupakan tanggung jawab profesional.
Masalah muncul ketika hampir seluruh kehidupan profesional seseorang dibangun berdasarkan kata tersebut.
Psikologi motivasi, terutama Self-Determination Theory, menempatkan otonomi sebagai salah satu kebutuhan psikologis penting manusia. Otonomi bukan berarti bebas melakukan apa pun yang kita mau, tetapi memiliki perasaan bahwa tindakan kita merupakan sesuatu yang kita pilih dan selaras dengan diri kita.
Seorang manajer bisa saja memiliki banyak aturan perusahaan, tetapi tetap memiliki ruang untuk menentukan bagaimana ia menjalankan pekerjaannya.
Cobalah bertanya kepada diri sendiri:
"Jika tidak ada orang yang menilai saya, apakah saya masih memilih jalan ini?"
Pertanyaan tersebut cukup sederhana, tetapi bisa membuka banyak hal.
Misalnya, kamu mungkin menyadari bahwa sebenarnya kamu menyukai pekerjaan memimpin tim, tetapi tidak menyukai budaya kerja yang terlalu kompetitif.
Atau mungkin kamu menikmati memecahkan masalah, tetapi tidak menikmati pekerjaan administratif yang terlalu banyak.
Atau bahkan kamu sebenarnya ingin menjadi manajer, tetapi hanya karena ingin mendapatkan pengaruh untuk memperbaiki sistem, bukan karena mengejar status.
Perbedaannya penting.
Karena ketika seseorang memahami apa yang benar-benar ia pilih, ia tidak lagi sekadar menjadi pelaksana jabatan.
Ia menjadi seseorang yang secara sadar menentukan bagaimana dirinya ingin menjalankan peran tersebut.
2. Kenali Nilai Pribadi yang Ingin Kamu Pertahankan
Banyak orang menetapkan tujuan karier tanpa pernah bertanya tentang nilai yang ingin mereka pertahankan.
Mereka bertanya:
"Bagaimana caranya menjadi manajer yang sukses?"
Tetapi jarang bertanya:
"Manajer seperti apa yang ingin saya menjadi?"
Padahal kedua pertanyaan tersebut sangat berbeda.
Kesuksesan bisa diukur dari jabatan, pendapatan, jumlah bawahan, pencapaian target, atau penghargaan.
Sementara nilai pribadi berbicara tentang cara kita ingin menjalani kehidupan.
Misalnya:
kejujuran,
kebebasan,
keluarga,
pembelajaran,
kreativitas,
keadilan,
stabilitas,
keberanian,
kontribusi,
hubungan yang sehat,
keseimbangan hidup.
Bayangkan seorang manajer yang sangat menghargai keluarga tetapi bekerja dalam budaya yang menganggap pulang tepat waktu sebagai tanda kurang berdedikasi.
Ia mungkin bisa mencapai target.
Ia mungkin juga mendapatkan promosi.
Tetapi semakin lama, terdapat konflik antara pekerjaan dan nilai pribadi.
Konflik semacam ini dapat membuat seseorang merasa hidupnya seperti bukan miliknya sendiri.
Karena itu, cobalah membuat daftar lima nilai yang paling penting bagimu.
Kemudian tanyakan:
"Apakah cara saya bekerja saat ini mencerminkan nilai-nilai tersebut?"
Jika jawabannya tidak, jangan langsung menyimpulkan bahwa kamu harus resign.
Mungkin yang perlu diubah bukan pekerjaannya, melainkan cara kamu menjalankan pekerjaan tersebut.
Misalnya, jika kamu menghargai pengembangan orang lain, kamu bisa mulai mengubah gaya kepemimpinan dari sekadar memberikan instruksi menjadi membangun kemampuan anggota tim.
Jika kamu menghargai kejujuran, kamu bisa membangun budaya komunikasi yang lebih terbuka.
Jika kamu menghargai keseimbangan hidup, kamu bisa mulai menetapkan batas komunikasi di luar jam kerja.
Dengan begitu, pekerjaan bukan lagi sesuatu yang berdiri berlawanan dengan dirimu.
Pekerjaan mulai menjadi tempat untuk mengekspresikan nilai yang kamu anggap penting.
3. Berhenti Menyamakan Loyalitas dengan Mengorbankan Diri
Ada perbedaan besar antara loyalitas dan mengorbankan diri secara terus-menerus.
Seorang manajer mungkin merasa bahwa untuk membuktikan loyalitasnya kepada perusahaan, ia harus selalu tersedia.
Pesan masuk malam hari dijawab.
Akhir pekan tetap bekerja.
Semua masalah tim dibawa pulang ke rumah.
Kesalahan bawahan dianggap sebagai kesalahan pribadi.
Semua permintaan atasan diterima.
Lama-kelamaan, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menghilang.
Kemudian muncul keyakinan:
"Kalau saya tidak melakukan semuanya, berarti saya tidak bertanggung jawab."
Padahal profesionalisme tidak selalu berarti mengatakan "ya".
Kemampuan mengatakan "tidak" secara tepat juga merupakan bagian dari kepemimpinan.
Secara psikologis, batas yang sehat membantu seseorang mempertahankan rasa kendali terhadap kehidupannya.
Cobalah membedakan tiga hal:
Apa yang benar-benar menjadi tanggung jawab saya?
Apa yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang lain?
Apa yang sebenarnya hanya saya ambil karena merasa bersalah jika menolaknya?
Pertanyaan ketiga sangat penting.
Kadang-kadang kita bukan benar-benar diwajibkan melakukan sesuatu.
Kita hanya takut mengecewakan orang lain.
Takut dianggap tidak kompeten.
Takut kehilangan posisi.
Takut dianggap tidak loyal.
Akibatnya, kita mengambil terlalu banyak beban dan kemudian merasa tidak memiliki kehidupan sendiri.
Manajer yang sehat bukan orang yang selalu tersedia.
Ia adalah orang yang mampu menentukan kapan harus hadir dan kapan harus memberikan ruang kepada orang lain untuk bertanggung jawab.
4. Buat Keputusan Berdasarkan Prinsip, Bukan Sekadar Tekanan Sesaat
Dalam posisi manajerial, tekanan bisa datang dari banyak arah.
Atasan menginginkan hasil cepat.
Tim menginginkan dukungan.
Klien menginginkan pelayanan.
Perusahaan menginginkan efisiensi.
Sementara kehidupan pribadi juga memiliki kebutuhan sendiri.
Jika setiap keputusan dibuat berdasarkan tekanan paling kuat pada saat itu, seorang manajer dapat kehilangan arah.
Hari ini mengikuti keinginan atasan.
Besok mengikuti tuntutan tim.
Lusa mengikuti permintaan klien.
Akhirnya ia tidak lagi tahu keputusan mana yang sebenarnya berasal dari pertimbangannya sendiri.
Karena itu, kamu membutuhkan prinsip pengambilan keputusan.
Misalnya:
"Saya akan mempertimbangkan hasil, tetapi tidak mengorbankan integritas."
"Saya akan mendukung tim, tetapi tidak mengambil alih semua tanggung jawab mereka."
"Saya terbuka terhadap kritik, tetapi tidak akan membuat keputusan hanya untuk menyenangkan semua orang."
Prinsip seperti ini berfungsi sebagai kompas.
Dengan adanya prinsip, kamu tidak perlu selalu mencari tahu:
"Apa yang orang lain inginkan dari saya?"
Kamu mulai bertanya:
"Apa keputusan yang paling sesuai dengan nilai dan tanggung jawab saya?"
Perubahan kecil dalam pertanyaan tersebut dapat membuat seseorang menjadi jauh lebih mandiri secara psikologis.
5. Berikan Ruang untuk Mengatakan "Saya Tidak Tahu"
Salah satu jebakan dalam posisi manajerial adalah kebutuhan untuk selalu terlihat yakin.
Karena seorang manajer dianggap sebagai orang yang harus memiliki jawaban.
Ketika ada masalah, semua orang melihat kepadanya.
Ketika terjadi konflik, ia diharapkan memiliki solusi.
Ketika masa depan tidak jelas, ia tetap diminta menunjukkan arah.
Akibatnya, beberapa manajer mulai membangun identitas:
"Saya harus selalu tahu."
Padahal kenyataannya, tidak ada pemimpin yang selalu tahu.
Kemampuan mengatakan:
"Saya belum tahu."
"Saya perlu memeriksa datanya terlebih dahulu."
"Saya ingin mendengar pendapat tim sebelum mengambil keputusan."
justru dapat menunjukkan kematangan.
Mengakui ketidakpastian juga membantu seseorang menjaga hubungan yang lebih sehat dengan egonya.
Ketika identitas kita tidak bergantung pada keharusan untuk selalu terlihat benar, kita menjadi lebih terbuka terhadap informasi baru.
Dan yang lebih penting, kita tidak perlu terus-menerus memainkan karakter "manajer sempurna".
Kamu bisa menjadi pemimpin tanpa harus berpura-pura menjadi seseorang yang tidak pernah ragu.
6. Sisihkan Waktu untuk Menanyakan Apa yang Sebenarnya Kamu Inginkan
Kesibukan dapat menjadi cara yang sangat efektif untuk menghindari diri sendiri.
Rapat demi rapat.
Email demi email.
Target demi target.
Masalah demi masalah.
Sampai akhirnya seseorang tidak pernah memiliki waktu untuk bertanya:
"Saya sebenarnya sedang menuju ke mana?"
Inilah mengapa refleksi diri penting.
Tidak harus dilakukan berjam-jam.
Sepuluh atau lima belas menit beberapa kali dalam seminggu sudah cukup untuk memulai.
Kamu bisa menulis tiga pertanyaan:
"Apa yang membuat saya merasa hidup dalam pekerjaan?"
Tuliskan aktivitas yang membuatmu merasa tertarik, tertantang, atau puas.
"Apa yang paling banyak menguras energi saya?"
Bukan hanya pekerjaan yang sulit, tetapi pekerjaan yang membuatmu merasa kehilangan makna.
"Jika saya memiliki lebih banyak kebebasan, apa yang ingin saya lakukan secara berbeda?"
Jangan langsung memikirkan apakah jawabannya realistis.
Untuk sementara, cukup dengarkan diri sendiri.
Mungkin kamu ingin lebih banyak membimbing orang.
Mungkin kamu ingin lebih sedikit terlibat dalam administrasi.
Mungkin kamu ingin mengembangkan proyek baru.
Mungkin kamu ingin memiliki waktu lebih banyak untuk kehidupan pribadi.
Atau mungkin kamu menyadari bahwa sebenarnya kamu tidak ingin menjadi manajer selamanya.
Semua jawaban tersebut layak dipertimbangkan.
Karena mengetahui apa yang tidak kita inginkan juga merupakan bagian dari proses mengenali diri.
7. Bangun Identitas yang Lebih Besar daripada Jabatan
Ini mungkin langkah yang paling penting.
Jangan biarkan identitasmu hanya berbunyi:
"Saya adalah seorang manajer."
Karena ketika jabatan menjadi satu-satunya sumber identitas, seseorang akan sangat mudah dikendalikan oleh pekerjaan.
Promosi membuatnya merasa berharga.
Kritik membuatnya merasa gagal.
Target tercapai membuatnya merasa berarti.
Target tidak tercapai membuatnya merasa tidak berguna.
Semua harga diri akhirnya bergantung pada satu peran.
Padahal manusia jauh lebih kompleks daripada pekerjaannya.
Kamu bisa menjadi manajer sekaligus:
pasangan,
orang tua,
teman,
pembelajar,
pencipta,
mentor,
anggota keluarga,
seseorang yang memiliki hobi,
seseorang yang memiliki impian di luar pekerjaan.
Ketika identitasmu lebih luas, jabatan tidak lagi menjadi penjara.
Ia hanya menjadi salah satu bagian dari hidupmu.
Dan ketika suatu hari posisi berubah, kamu tetap tahu siapa dirimu.
Inilah salah satu bentuk kebebasan psikologis.
Menjadi Manajer Bukan Berarti Kehilangan Diri Sendiri
Menjadi manajer memang membutuhkan kemampuan menyesuaikan diri.
Kamu harus mempertimbangkan kepentingan perusahaan.
Kamu harus memahami kebutuhan tim.
Kamu harus mempertanggungjawabkan keputusan.
Kamu tidak selalu bisa melakukan apa yang kamu inginkan.
Tetapi ada perbedaan antara berkompromi karena tanggung jawab dan kehilangan diri karena terus mengikuti keinginan orang lain.
Manajer yang sehat secara psikologis tidak selalu melakukan apa yang ia sukai.
Ia tetap melakukan hal-hal yang sulit.
Ia tetap menerima tanggung jawab.
Ia tetap menghadapi keputusan yang tidak menyenangkan.
Namun, ia memiliki kesadaran:
"Saya memilih untuk menjalankan tanggung jawab ini karena saya memahami mengapa hal ini penting."
Itulah yang membedakannya dari seseorang yang hanya bertindak karena takut, tekanan, atau kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan.
Pada akhirnya, kepemimpinan bukan hanya tentang kemampuan mengarahkan orang lain.
Kepemimpinan juga dimulai dari kemampuan bertanya kepada diri sendiri:
"Apakah kehidupan profesional yang sedang saya bangun benar-benar mencerminkan orang yang ingin saya menjadi?"
Jika jawabannya belum, tidak berarti semuanya harus dihancurkan.
Mungkin kamu hanya perlu mulai mengambil kembali sedikit demi sedikit ruang untuk memilih.
Memilih prioritas.
Memilih batas.
Memilih cara berkomunikasi.
Memilih nilai yang ingin dipertahankan.
Memilih keputusan yang sesuai dengan prinsip.
Dan memilih kehidupan yang tidak sepenuhnya ditentukan oleh jabatan.
Karena menjadi manajer seharusnya bukan berarti menjadi robot yang menjalankan perintah.
Kamu tetap manusia yang memiliki kehendak, nilai, batas, dan tujuan pribadi.
Dan semakin tinggi posisi seseorang dalam organisasi, semakin penting kemampuan untuk tidak kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri.
Sebab pada akhirnya, pemimpin yang paling sulit kehilangan arah bukanlah orang yang memiliki semua jawaban.
Melainkan orang yang masih tahu mengapa ia memilih jalan yang sedang dijalaninya.