← Beranda
Ingin Mengembangkan Karier dengan Kepercayaan Diri yang Penuh, Lakukan 7 Strategi Ini
Irfan FerdiansyahMinggu, 6 September 2026 | 06.14 WIB
seseorang yang mengembangkan karier dengan kepercayaan diri./Magnific/pressfoto

JawaPos.com - Kepercayaan diri sering dianggap sebagai modal utama untuk mencapai kesuksesan dalam karier. Namun, ada satu kesalahpahaman yang cukup umum: banyak orang mengira bahwa seseorang harus merasa percaya diri terlebih dahulu sebelum berani mengambil peluang.

Padahal, psikologi justru menunjukkan bahwa hubungan antara kepercayaan diri dan tindakan tidak selalu berjalan satu arah.

Sering kali, kita justru menjadi lebih percaya diri setelah berani bertindak, mencoba sesuatu yang sulit, mengalami kemajuan, dan melihat bahwa diri kita ternyata mampu menghadapinya.

Itulah sebabnya seseorang bisa saja memiliki kemampuan yang sebenarnya cukup baik, tetapi tetap ragu ketika harus berbicara dalam rapat, mengajukan ide, meminta kenaikan gaji, melamar posisi yang lebih tinggi, memimpin tim, atau mengambil tanggung jawab baru.

Masalahnya bukan selalu kurang kompetensi.

Kadang-kadang, masalahnya adalah cara kita menilai kemampuan diri sendiri.

Dalam psikologi, ada konsep yang sangat berkaitan dengan hal ini, yaitu self-efficacy atau keyakinan bahwa kita mampu melakukan tindakan tertentu dan menghadapi tantangan yang muncul. Orang dengan self-efficacy yang kuat bukan berarti tidak pernah takut atau ragu. Mereka tetap bisa merasa gugup, tetapi tidak membiarkan rasa gugup tersebut menentukan seluruh keputusan mereka.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (4/9), jika Anda ingin mengembangkan karier dengan kepercayaan diri yang lebih kuat, berikut tujuh strategi yang dapat diterapkan.

1. Berhenti Menunggu Sampai Merasa "Siap"

Salah satu jebakan terbesar dalam karier adalah menunggu sampai kita merasa benar-benar siap.

"Aku akan bicara kalau sudah lebih percaya diri."

"Aku akan melamar posisi itu kalau sudah merasa cukup hebat."

"Aku akan memimpin proyek kalau kemampuan saya sudah sempurna."

Masalahnya, kondisi "benar-benar siap" sering kali tidak pernah datang.

Dalam banyak situasi, rasa percaya diri justru muncul setelah seseorang melakukan sesuatu yang awalnya terasa menakutkan.

Bayangkan seseorang yang takut berbicara di depan banyak orang. Jika ia terus menghindari presentasi, otaknya tidak mendapatkan pengalaman bahwa berbicara di depan orang ternyata dapat dilakukan dengan aman.

Sebaliknya, jika ia mulai dari presentasi kecil, kemudian presentasi kepada tim yang lebih besar, lalu memimpin diskusi, ia mengumpulkan pengalaman baru.

Pengalaman tersebut perlahan membentuk keyakinan:

"Ternyata saya bisa melakukannya."

Inilah salah satu alasan pengalaman keberhasilan (mastery experiences) sangat penting dalam pembentukan self-efficacy.

Terapkan dengan cara sederhana

Jangan bertanya:

"Apakah saya sudah cukup percaya diri untuk melakukan ini?"

Ubahlah pertanyaannya menjadi:

"Apa versi terkecil dari tindakan ini yang bisa saya lakukan sekarang?"

Jika Anda ingin lebih berani berbicara di kantor, misalnya, Anda tidak harus langsung menjadi orang yang paling aktif dalam rapat.

Mulailah dengan memberikan satu pendapat.

Jika ingin menjadi pemimpin, mulailah dengan mengambil tanggung jawab atas satu proyek kecil.

Jika ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, mulailah dengan memperbarui CV dan melamar satu posisi.

Kepercayaan diri berkembang melalui bukti nyata, bukan hanya melalui afirmasi.

2. Bangun Kepercayaan Diri dari Kompetensi, Bukan Sekadar Motivasi

Motivasi memang menyenangkan. Menonton video motivasi, membaca kutipan inspiratif, atau mengatakan kepada diri sendiri bahwa kita hebat dapat memberikan dorongan sesaat.

Namun, kepercayaan diri yang tahan lama membutuhkan sesuatu yang lebih kuat:

kompetensi.

Sulit mempertahankan rasa percaya diri jika di dalam diri kita tahu bahwa kemampuan yang dibutuhkan memang belum dikuasai.

Karena itu, salah satu strategi terbaik untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam karier adalah meningkatkan kemampuan secara sistematis.

Misalnya, jika Anda merasa tidak percaya diri ketika harus berbicara di depan atasan, jangan hanya mengatakan:

"Saya harus lebih percaya diri."

Cari tahu penyebabnya.

Apakah Anda kurang memahami materi?

Apakah Anda kesulitan menyusun presentasi?

Apakah Anda belum terbiasa menjawab pertanyaan spontan?

Apakah Anda takut salah bicara?

Setelah masalahnya diketahui, kemampuan tersebut bisa dilatih.

Dengan begitu, kepercayaan diri Anda memiliki fondasi.

Gunakan rumus sederhana:

Kepercayaan diri = kemampuan + pengalaman + bukti kemajuan

Bukan berarti Anda harus menjadi ahli terlebih dahulu.

Justru, Anda perlu terus meningkatkan kemampuan sambil memberikan diri sendiri kesempatan untuk menggunakan kemampuan tersebut.

Buat daftar tiga kompetensi yang paling penting untuk perkembangan karier Anda.

Contohnya:

komunikasi,
kepemimpinan,
analisis data,
negosiasi,
presentasi,
manajemen waktu,
kemampuan teknis,
networking.

Kemudian pilih satu kemampuan untuk dikembangkan selama beberapa minggu ke depan.

Jangan mencoba menguasai semuanya sekaligus.

Kemajuan kecil yang konsisten jauh lebih berguna daripada ambisi besar yang tidak pernah dijalankan.

3. Ubah Cara Berbicara kepada Diri Sendiri

Pernahkah Anda melakukan satu kesalahan kecil di tempat kerja lalu terus memikirkannya sepanjang hari?

"Mengapa saya tadi mengatakan itu?"

"Saya memang tidak pandai."

"Pasti orang lain menganggap saya bodoh."

"Saya tidak cocok berada di posisi ini."

Pikiran seperti itu dapat memperburuk rasa tidak percaya diri.

Dalam psikologi kognitif, cara seseorang menafsirkan sebuah peristiwa dapat memengaruhi emosi dan perilakunya.

Kesalahan bukan selalu masalah terbesar.

Sering kali, interpretasi kita terhadap kesalahan tersebutlah yang menjadi masalah.

Ada perbedaan besar antara:

"Saya membuat kesalahan dalam presentasi."

dan

"Saya memang tidak berbakat dalam pekerjaan ini."

Kalimat pertama menggambarkan sebuah kejadian.

Kalimat kedua mengubah satu kejadian menjadi identitas.

Inilah yang perlu diwaspadai.

Latih "self-talk" yang lebih realistis

Bukan berarti Anda harus mengatakan:

"Saya sempurna."

"Saya pasti berhasil."

"Saya tidak akan pernah gagal."

Pernyataan seperti itu terkadang terlalu jauh dari kenyataan sehingga sulit dipercaya.

Gunakan kalimat yang lebih realistis:

"Saya memang belum menguasai ini, tetapi saya bisa belajar."

"Saya melakukan kesalahan, tetapi satu kesalahan tidak menentukan kemampuan saya secara keseluruhan."

"Saya gugup, tetapi saya tetap bisa menyampaikan pendapat."

"Saya belum memiliki pengalaman sebanyak orang lain, tetapi saya bisa membangun pengalaman mulai sekarang."

Perhatikan bahwa kalimat tersebut bukan sekadar positif.

Kalimat tersebut realistis dan berorientasi pada tindakan.

Itulah jenis pola pikir yang lebih membantu dalam menghadapi tantangan karier.

4. Jangan Membandingkan Proses Anda dengan Hasil Orang Lain

Media sosial membuat perbandingan karier menjadi semakin mudah.

Anda melihat seseorang mendapatkan promosi.

Orang lain membuka bisnis.

Teman Anda mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar.

Mantan rekan kerja Anda menjadi manajer pada usia yang masih relatif muda.

Kemudian muncul pikiran:

"Kenapa saya belum seperti mereka?"

Masalahnya, kita sering membandingkan bagian belakang layar kehidupan kita dengan bagian terbaik kehidupan orang lain.

Kita mengetahui keraguan, kegagalan, kesalahan, dan perjuangan kita sendiri.

Sementara itu, kita hanya melihat pencapaian orang lain.

Perbandingan seperti ini dapat mengikis rasa percaya diri.

Bukan berarti Anda harus berhenti belajar dari orang lain.

Justru, orang lain dapat menjadi sumber inspirasi yang sangat baik.

Tetapi ubahlah fungsi perbandingan.

Jangan bertanya:

"Mengapa saya tidak sehebat dia?"

Tanyakan:

"Apa yang bisa saya pelajari dari cara dia berkembang?"

Misalnya, Anda melihat rekan kerja yang sangat percaya diri ketika presentasi.

Daripada berpikir:

"Dia memang berbakat."

Perhatikan perilakunya.

Bagaimana ia mempersiapkan presentasi?

Bagaimana ia membuka pembicaraan?

Bagaimana ia menjawab pertanyaan?

Bagaimana ia menggunakan bahasa tubuh?

Apa yang sebenarnya bisa Anda tiru dan latih?

Dengan cara ini, orang lain bukan lagi menjadi ancaman terhadap harga diri Anda.

Mereka menjadi sumber pembelajaran.

5. Hadapi Ketakutan Secara Bertahap, Jangan Selalu Menghindarinya

Rasa takut adalah bagian normal dari perkembangan karier.

Takut ditolak.

Takut dikritik.

Takut terlihat bodoh.

Takut gagal.

Takut dianggap tidak kompeten.

Masalahnya, menghindari sesuatu yang kita takuti memang bisa membuat kita merasa lebih nyaman dalam jangka pendek.

Namun, penghindaran dapat memperkuat keyakinan bahwa hal tersebut memang terlalu berbahaya atau terlalu sulit.

Misalnya, Anda takut berbicara dalam rapat.

Setiap kali rapat berlangsung, Anda memilih diam.

Setelah rapat selesai, Anda merasa lega:

"Untung saya tidak bicara."

Otak kemudian belajar bahwa diam adalah cara untuk menghindari ketidaknyamanan.

Pada kesempatan berikutnya, rasa takut bisa muncul lagi.

Karena itu, salah satu pendekatan psikologis yang berguna adalah paparan bertahap terhadap situasi yang membuat kita cemas.

Bukan langsung menghadapi tantangan terbesar.

Tetapi secara perlahan.

Misalnya:

Tahap 1: berbicara satu kali dalam rapat kecil.

Tahap 2: menyampaikan pendapat yang sudah dipersiapkan.

Tahap 3: mengajukan pertanyaan spontan.

Tahap 4: memimpin diskusi singkat.

Tahap 5: melakukan presentasi di depan kelompok yang lebih besar.

Setiap tahap memberikan pengalaman baru kepada otak:

"Saya bisa menghadapi situasi ini."

Dan semakin sering Anda membuktikan kemampuan tersebut, semakin kuat keyakinan diri Anda.

6. Simpan "Bukti Keberhasilan" Anda

Orang yang kurang percaya diri sering memiliki ingatan yang sangat kuat terhadap kegagalan, tetapi cepat melupakan keberhasilan.

Satu kritik bisa dipikirkan berhari-hari.

Sementara sepuluh pujian dianggap biasa saja.

Padahal, perkembangan kepercayaan diri membutuhkan kemampuan untuk mengenali bukti bahwa kita berkembang.

Karena itu, cobalah membuat catatan pencapaian pribadi.

Tidak harus sesuatu yang spektakuler.

Tuliskan hal-hal seperti:

berhasil menyelesaikan proyek sebelum deadline,
berani memberikan pendapat dalam rapat,
mendapatkan respons positif dari klien,
menyelesaikan tugas yang sebelumnya terasa sulit,
belajar keterampilan baru,
membantu anggota tim,
mendapatkan kepercayaan dari atasan,
berhasil memperbaiki kesalahan,
menerima kritik tanpa langsung menyerah,
berani mengajukan ide baru.

Bahkan keberhasilan kecil tetap penting.

Mengapa?

Karena kepercayaan diri bukan hanya dibangun dari pencapaian besar.

Ia juga dibangun dari akumulasi bukti kecil bahwa Anda mampu berkembang.

Ketika suatu hari Anda merasa tidak cukup baik, Anda tidak perlu hanya mengandalkan perasaan.

Anda memiliki catatan:

"Ini adalah hal-hal yang sudah berhasil saya lakukan."

Itu jauh lebih kuat daripada sekadar mengatakan kepada diri sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

7. Berani Meminta Peluang, Bukan Hanya Menunggu Diakui

Banyak orang sebenarnya memiliki kemampuan yang cukup untuk berkembang, tetapi mereka menunggu seseorang menyadarinya.

Mereka menunggu atasan menawarkan promosi.

Menunggu diberikan proyek besar.

Menunggu orang lain mengatakan bahwa mereka siap.

Menunggu kesempatan datang.

Padahal, perkembangan karier sering kali membutuhkan perilaku yang lebih proaktif.

Jika Anda ingin berkembang, Anda perlu belajar mengomunikasikan aspirasi Anda.

Misalnya, Anda dapat mengatakan kepada atasan:

"Saya ingin mengembangkan kemampuan kepemimpinan. Apakah ada proyek yang memungkinkan saya mengambil tanggung jawab lebih besar?"

Atau:

"Saya tertarik untuk berkembang ke posisi berikutnya. Kompetensi apa yang menurut Anda perlu saya tingkatkan agar siap?"

Pertanyaan seperti itu bukan berarti Anda terlalu ambisius.

Justru, Anda sedang menunjukkan bahwa Anda memiliki arah.

Kepercayaan diri dalam karier tidak selalu berarti berbicara paling keras.

Terkadang, kepercayaan diri terlihat dari keberanian untuk mengatakan:

"Saya ingin berkembang, dan saya bersedia bekerja untuk mencapainya."

Kepercayaan Diri Bukan Berarti Tidak Pernah Merasa Takut

Ini bagian yang sangat penting.

Jangan menggunakan standar yang salah untuk menilai kepercayaan diri Anda.

Orang percaya diri bukanlah orang yang selalu tenang.

Mereka bisa gugup sebelum presentasi.

Mereka bisa takut ketika menghadapi wawancara kerja.

Mereka bisa merasa tidak yakin ketika menerima tanggung jawab baru.

Mereka juga bisa mengalami imposter syndrome dan bertanya-tanya apakah mereka benar-benar layak berada di posisi tersebut.

Perbedaannya adalah mereka tidak selalu menjadikan perasaan tersebut sebagai bukti bahwa mereka tidak mampu.

"Saya takut" tidak sama dengan "Saya tidak mampu."

"Saya gugup" tidak sama dengan "Saya akan gagal."

"Saya belum tahu semuanya" tidak sama dengan "Saya tidak pantas berada di sini."

Ini adalah perubahan cara berpikir yang sangat penting.

Kepercayaan diri yang sehat bukan tentang meyakini bahwa Anda selalu lebih hebat daripada orang lain.

Kepercayaan diri yang sehat adalah kemampuan untuk mengatakan:

"Saya mungkin belum tahu semuanya, tetapi saya percaya bahwa saya mampu belajar, beradaptasi, dan menghadapi tantangan."

Mulai dari Satu Strategi Hari Ini

Anda tidak perlu melakukan ketujuh strategi sekaligus.

Justru, terlalu banyak perubahan sekaligus dapat membuat Anda kewalahan.

Pilih satu.

Jika Anda sering merasa tidak cukup kompeten, tingkatkan kemampuan Anda.

Jika Anda terlalu takut gagal, mulailah menghadapi tantangan secara bertahap.

Jika Anda sering merendahkan diri sendiri, perbaiki cara berbicara kepada diri sendiri.

Jika Anda selalu membandingkan diri dengan orang lain, ubah perbandingan menjadi pembelajaran.

Jika Anda lupa terhadap pencapaian sendiri, mulai catat bukti keberhasilan.

Jika Anda menunggu kesempatan datang, mulai meminta tanggung jawab yang lebih besar.

Dan yang paling penting, jangan menunggu kepercayaan diri sempurna sebelum mulai bergerak.

Karena dalam banyak kasus, urutannya justru seperti ini:

bertindak → mendapatkan pengalaman → belajar → mengalami kemajuan → membangun keyakinan → menjadi lebih percaya diri → berani mengambil tantangan yang lebih besar.

Karier yang berkembang tidak selalu dibangun oleh orang yang paling pintar atau paling percaya diri sejak awal.

Sering kali, karier berkembang karena seseorang bersedia terus mencoba meskipun belum merasa sepenuhnya siap.

Jadi, jika saat ini Anda merasa kemampuan Anda belum cukup, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Anda tidak mampu.

Mungkin Anda hanya membutuhkan lebih banyak pengalaman.

Mungkin Anda perlu meningkatkan satu atau dua keterampilan.

Mungkin Anda perlu berhenti berbicara terlalu keras kepada diri sendiri.

Atau mungkin, Anda hanya perlu mengambil satu langkah yang selama ini terus Anda tunda.

Kepercayaan diri bukan sesuatu yang harus Anda tunggu. Kepercayaan diri adalah sesuatu yang bisa Anda bangun—sedikit demi sedikit, melalui tindakan yang Anda lakukan setiap hari.

EDITOR: Hanny Suwindari