JawaPos.com – Menghadiri pesta atau acara sosial seharusnya menjadi kesempatan untuk bersenang-senang, bertemu orang baru, dan mempererat hubungan dengan orang-orang di sekitar.
Namun, dalam situasi sosial tertentu, seseorang bisa saja melakukan tindakan yang justru membuat dirinya kurang nyaman atau membuat suasana menjadi canggung. Hal tersebut tidak selalu berkaitan dengan kondisi ekonomi maupun latar belakang seseorang, melainkan dapat dipengaruhi pengalaman, rasa percaya diri, dan kemampuan membaca situasi sosial.
Salah satu contohnya adalah oversharing, yakni ketika seseorang membagikan informasi pribadi secara berlebihan kepada orang yang belum terlalu dekat.
Selain itu, ada sejumlah kebiasaan lain yang terkadang muncul tanpa disadari ketika berada di sebuah pesta.
Baca Juga: Tampak Bahagia tapi Hatinya Lelah, Kenali 8 Kebiasaan yang Perlu Diperhatikan Menurut Psikologi
Dilansir dari Geediting.com, berikut delapan perilaku yang dapat membuat seseorang kurang nyaman dalam acara sosial dan sebaiknya dihindari.
1. Berusaha Memberikan Kontribusi Secara Berlebihan
Memberikan hadiah atau membantu biaya acara merupakan bentuk perhatian yang positif. Namun, jika dilakukan secara berlebihan demi mendapatkan pengakuan, tindakan tersebut justru dapat menimbulkan kesan yang berbeda.
Misalnya, seseorang terus menawarkan diri untuk membayar berbagai kebutuhan acara atau sengaja membawa hadiah yang sangat mahal meski tidak diperlukan.
Niat awalnya mungkin baik, tetapi sikap tersebut berpotensi terlihat seperti usaha untuk mengesankan orang lain atau menunjukkan kemampuan finansial.
Dalam acara sosial, kontribusi yang wajar dan sesuai kemampuan biasanya sudah cukup. Tidak perlu menjadikan pemberian hadiah atau bantuan sebagai ajang pembuktian diri.
2. Terlalu Banyak Membagikan Cerita Pribadi
Suasana pesta yang santai terkadang membuat seseorang menjadi lebih terbuka ketika berbicara dengan orang lain. Sayangnya, keterbukaan tersebut bisa berubah menjadi oversharing.
Menceritakan masalah keluarga, kondisi keuangan, pengalaman traumatis, atau persoalan pribadi secara mendalam kepada orang yang baru dikenal mungkin membuat lawan bicara merasa kurang nyaman.
Keterbukaan memang dapat membantu membangun hubungan, tetapi tetap penting mempertimbangkan siapa lawan bicara dan seberapa dekat hubungan yang sudah terjalin.
Ada perbedaan antara menjadi pribadi yang autentik dengan membagikan informasi pribadi yang sebenarnya belum perlu diketahui orang lain.
3. Tidak Memahami Etiket dalam Acara Formal
Acara dengan suasana formal terkadang memiliki aturan tidak tertulis yang berbeda dari pertemuan sehari-hari.
Misalnya, penggunaan alat makan, tata cara duduk, cara menyapa tamu lain, atau aturan mengenai makanan dan minuman bisa membuat orang yang belum terbiasa merasa bingung.
Kesalahan dalam hal tersebut tidak otomatis menunjukkan seseorang kurang berkelas. Bisa jadi mereka memang belum memiliki pengalaman menghadiri acara dengan format serupa.
Jika merasa tidak yakin, mengamati orang lain atau bertanya dengan sopan justru dapat menjadi cara sederhana untuk menyesuaikan diri.
4. Terlalu Mendominasi Percakapan
Berbicara dengan antusias memang dapat membuat suasana menjadi hidup. Namun, percakapan akan terasa kurang menyenangkan jika hanya satu orang yang terus berbicara.
Menceritakan pengalaman pribadi, pekerjaan, hobi, atau berbagai hal yang disukai boleh saja dilakukan. Tetapi, berikan kesempatan kepada orang lain untuk menyampaikan cerita mereka.
Percakapan yang menyenangkan seharusnya berjalan dua arah. Mendengarkan dengan sungguh-sungguh juga merupakan bentuk penghargaan kepada lawan bicara.
5. Terlalu Cemas Memikirkan Penilaian Orang
Sebagian orang justru sulit menikmati pesta karena terlalu sibuk memikirkan bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain.
Pertanyaan seperti apakah pakaian sudah tepat, apakah cara berbicara terdengar aneh, atau apakah lelucon yang disampaikan diterima dengan baik dapat terus memenuhi pikiran.
Rasa gugup dalam situasi sosial sebenarnya cukup umum. Namun, jika terlalu berlebihan, kecemasan tersebut justru dapat membuat seseorang semakin sulit menikmati acara.
Perlu diingat bahwa sebagian besar tamu biasanya juga sibuk menikmati acara dan berbicara dengan orang lain, bukan terus memperhatikan setiap gerak-gerik seseorang.
6. Merasa Diri Tidak Sebanding dengan Tamu Lain
Melihat orang lain menggunakan pakaian bermerek, bercerita mengenai liburan mahal, atau membicarakan pekerjaan bergengsi terkadang dapat membuat seseorang merasa minder.
Akibatnya, mereka mulai menganggap pengalaman hidupnya tidak menarik atau merasa tidak memiliki sesuatu yang layak dibicarakan.
Padahal, nilai seseorang tidak ditentukan oleh barang yang dimiliki, pekerjaan, maupun seberapa sering bepergian.
Setiap orang mempunyai pengalaman dan sudut pandang yang berbeda. Tidak perlu mengecilkan diri hanya karena merasa pencapaian pribadi tidak sama dengan orang lain.
7. Terlalu Sibuk Membandingkan Diri
Perbedaan status sosial, gaya berpakaian, kendaraan, pekerjaan, hingga cara berbicara merupakan hal yang wajar ditemukan dalam sebuah acara yang dihadiri banyak orang.
Masalahnya muncul ketika seseorang terus-menerus membandingkan dirinya dengan tamu lain.
Kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang merasa tidak cocok dengan lingkungan dan akhirnya berusaha mengubah dirinya agar diterima.
Padahal, menjadi diri sendiri dengan tetap menghargai norma sosial justru dapat membuat interaksi terasa lebih alami.
8. Lupa Menikmati Acara
Kesalahan lain yang cukup mudah terjadi adalah terlalu sibuk memikirkan bagaimana orang lain memandang diri kita.
Keinginan untuk memberikan kesan sempurna dapat membuat seseorang lupa bahwa tujuan utama menghadiri pesta adalah menikmati waktu dan membangun hubungan sosial.
Daripada terus memikirkan penilaian orang lain, cobalah menikmati percakapan, makanan, suasana, atau aktivitas yang tersedia.
Pada akhirnya, acara sosial bukanlah kompetisi mengenai siapa yang paling menarik, paling kaya, atau paling populer.