Kamu mungkin sudah memiliki banyak ide. Di kepala, ada begitu banyak hal yang ingin dibuat: tulisan yang ingin diselesaikan, bisnis yang ingin dirintis, karya yang ingin diciptakan, atau proyek pribadi yang selama ini hanya menjadi rencana.
Namun ketika waktunya tiba, kamu justru membuka media sosial, menonton video, membersihkan meja, atau melakukan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Akhirnya hari berlalu tanpa menghasilkan apa pun.
Yang lebih membingungkan, terkadang kamu melihat orang lain begitu produktif. Mereka tampak penuh energi, terus menghasilkan karya, dan seolah selalu memiliki inspirasi.
Lalu kamu mulai bertanya kepada diri sendiri:
"Kenapa aku tidak bisa seperti mereka?"
Masalahnya, kreativitas bukan sekadar persoalan bakat. Kreativitas juga sangat berkaitan dengan kondisi psikologis, kebiasaan, lingkungan, perhatian, motivasi, dan cara seseorang memperlakukan dirinya sendiri ketika menghadapi kebuntuan.
Kabar baiknya, semangat kreatif tidak selalu harus ditunggu.
Dalam banyak situasi, kamu justru bisa menciptakan kondisi psikologis yang membuat kreativitas lebih mudah muncul.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (5/9), terdapat tujuh strategi yang dapat membantumu menyalakan kembali semangat kreatif.
1. Jangan Menunggu Motivasi, Mulailah dengan Langkah yang Sangat Kecil
Salah satu kesalahan terbesar ketika ingin menjadi kreatif adalah menunggu munculnya motivasi.
Kita sering berpikir:
"Nanti kalau sudah semangat, aku akan mulai."
Masalahnya, semangat tidak selalu datang sebelum tindakan.
Sering kali justru tindakan kecil yang memunculkan semangat.
Bayangkan kamu ingin menulis sebuah artikel.
Jika kamu berpikir, "Aku harus menyelesaikan artikel 2.000 kata hari ini," tugas tersebut bisa terasa sangat berat.
Otakmu melihatnya sebagai pekerjaan besar yang membutuhkan banyak energi.
Akibatnya, kamu menunda.
Sekarang ubah pendekatannya.
Jangan katakan:
"Aku harus menyelesaikan artikel."
Katakan:
"Aku hanya akan menulis satu paragraf."
Tugas yang tadinya terasa besar menjadi jauh lebih ringan.
Setelah satu paragraf selesai, kemungkinan besar kamu akan lebih mudah menulis paragraf kedua.
Inilah salah satu prinsip psikologis yang penting dalam membangun perilaku: memulai sering kali lebih sulit daripada melanjutkan.
Ketika hambatan untuk memulai dibuat kecil, kemungkinan seseorang melakukan tindakan tersebut menjadi lebih besar.
Gunakan aturan 5 menit
Jika kamu sedang benar-benar tidak bersemangat, buat kesepakatan sederhana dengan dirimu:
"Aku hanya akan melakukannya selama lima menit."
Lima menit menulis.
Lima menit menggambar.
Lima menit membaca.
Lima menit menyusun ide.
Lima menit membuat konsep bisnis.
Kamu tidak perlu berjanji akan menyelesaikan semuanya.
Cukup berjanji untuk memulai.
Menariknya, setelah lima menit berlalu, sering kali kamu tidak lagi merasa ingin berhenti.
Bukan karena tugasnya tiba-tiba menjadi mudah, tetapi karena hambatan psikologis untuk memulai sudah berhasil dilewati.
Kreativitas membutuhkan gerakan
Jangan terlalu sibuk bertanya:
"Bagaimana caranya agar aku lebih termotivasi?"
Terkadang pertanyaan yang lebih berguna adalah:
"Apa langkah paling kecil yang bisa kulakukan sekarang?"
Kreativitas tidak selalu muncul sebagai ledakan inspirasi.
Kadang kreativitas muncul setelah kamu membuka halaman kosong dan mulai menulis kalimat pertama.
2. Beri Dirimu Ruang untuk Menghasilkan Ide yang Buruk
Banyak orang sebenarnya memiliki kreativitas, tetapi kreativitas tersebut terhambat oleh satu hal:
takut menghasilkan sesuatu yang buruk.
Kamu mungkin ingin menulis sesuatu yang bagus.
Ingin menggambar sesuatu yang indah.
Ingin membuat video yang menarik.
Ingin menciptakan bisnis yang sukses.
Masalahnya, karena standar yang kamu pasang terlalu tinggi, kamu menjadi takut memulai.
Setiap ide langsung dinilai.
"Ini terlalu biasa."
"Ini tidak cukup bagus."
"Orang lain sudah pernah membuatnya."
"Kalau gagal bagaimana?"
"Kalau orang menertawakan aku?"
Akhirnya, tidak ada karya yang lahir.
Padahal kreativitas membutuhkan ruang untuk bereksperimen.
Sebuah ide tidak harus langsung bagus.
Bahkan, dalam proses kreatif, ide yang buruk dapat menjadi bahan untuk menemukan ide yang lebih baik.
Pisahkan proses menciptakan dan menilai
Salah satu strategi yang sangat berguna adalah memisahkan dua aktivitas:
menciptakan dan mengevaluasi.
Ketika sedang menciptakan ide, jangan langsung menjadi hakim bagi dirimu sendiri.
Biarkan otak menghasilkan sebanyak mungkin kemungkinan.
Misalnya kamu ingin mencari ide untuk sebuah tulisan.
Daripada bertanya:
"Apa ide terbaik?"
cobalah bertanya:
"Apa 20 ide yang mungkin?"
Tidak masalah jika 15 di antaranya buruk.
Tujuannya bukan menghasilkan 20 karya sempurna.
Tujuannya adalah memberi otak cukup ruang untuk menemukan satu atau dua ide yang menarik.
Jangan membunuh ide terlalu cepat
Bayangkan kreativitas seperti api kecil.
Jika setiap percikan langsung kamu padamkan karena dianggap tidak sempurna, api itu tidak akan pernah membesar.
Karena itu, ketika sebuah ide muncul, cobalah mengatakan:
"Menarik. Mari kita lihat ke mana ide ini bisa berkembang."
Bukan:
"Ini pasti tidak akan berhasil."
Perbedaan kecil dalam cara berbicara kepada diri sendiri dapat mengubah bagaimana kamu menghadapi proses kreatif.
3. Ubah Lingkungan untuk Mengubah Kondisi Pikiran
Kreativitas tidak terjadi di ruang kosong.
Lingkungan tempat kamu bekerja dapat memengaruhi perhatian, suasana hati, dan perilakumu.
Jika kamu ingin lebih kreatif tetapi bekerja di tempat yang penuh gangguan, kamu mungkin sedang membuat tugas menjadi lebih sulit dari yang seharusnya.
Bayangkan kamu ingin menulis.
Di meja ada ponsel.
Notifikasi terus masuk.
Tab browser terbuka puluhan.
Televisi menyala.
Media sosial terbuka.
Kemudian kamu berharap bisa berkonsentrasi selama satu jam.
Sulit.
Bukan karena kamu malas.
Lingkunganmu memang terus menarik perhatian.
Jadikan lingkungan sebagai "pemicu kreativitas"
Cobalah menciptakan tempat khusus untuk aktivitas kreatif.
Tidak harus ruangan besar.
Bahkan sudut kecil di kamar bisa cukup.
Yang penting, otak mulai mengasosiasikan tempat tersebut dengan aktivitas tertentu.
Misalnya:
Ketika duduk di meja tertentu → waktunya menulis.
Ketika memakai headphone tertentu → waktunya membuat musik.
Ketika membuka buku sketsa → waktunya menggambar.
Ketika berjalan pagi → waktunya mencari ide.
Lama-kelamaan, rutinitas tersebut dapat menjadi sinyal psikologis bahwa sudah waktunya masuk ke mode kreatif.
Kurangi friksi
Jika kamu ingin menulis setiap pagi, jangan simpan laptop di tempat yang sulit dijangkau.
Jika ingin menggambar, letakkan alat gambar di tempat yang mudah terlihat.
Jika ingin membaca, letakkan buku di dekat tempat duduk favoritmu.
Prinsip sederhananya:
Buat perilaku kreatif menjadi mudah dilakukan.
Sebaliknya, buat gangguan menjadi sedikit lebih sulit.
Ponsel bisa diletakkan jauh.
Notifikasi dimatikan.
Aplikasi yang mengganggu ditutup.
Dengan begitu, kamu tidak terus-menerus mengandalkan kekuatan kemauan.
Kamu menggunakan lingkungan untuk membantu dirimu.
4. Beri Otak Waktu untuk Berjalan Tanpa Tekanan
Tidak semua kreativitas muncul ketika kamu sedang duduk serius di depan meja.
Kadang ide terbaik justru muncul ketika kamu sedang mandi, berjalan, menyetir, memasak, atau melakukan aktivitas sederhana.
Mengapa?
Karena otak tidak selalu bekerja dengan cara yang sama.
Ketika kita berhenti memaksa perhatian pada satu masalah, pikiran dapat memasuki kondisi yang lebih bebas dan melakukan berbagai asosiasi.
Karena itu, jika kamu mengalami kebuntuan, jangan selalu memaksa diri untuk terus duduk di depan layar.
Cobalah berhenti sejenak.
Berjalan.
Menghirup udara segar.
Merapikan kamar.
Mandi.
Mendengarkan musik.
Atau melakukan aktivitas ringan yang memungkinkan pikiranmu sedikit berkelana.
Tetapi jangan salah memahami "istirahat"
Istirahat bukan berarti mengganti satu aktivitas yang menuntut perhatian dengan aktivitas lain yang juga membanjiri otak.
Misalnya, kamu sedang buntu menulis lalu menghabiskan 45 menit scrolling media sosial.
Bukannya pikiran menjadi lebih segar, kamu mungkin justru semakin lelah dan sulit kembali fokus.
Cobalah aktivitas yang memberikan ruang bagi pikiran.
Jalan kaki tanpa terus-menerus memeriksa ponsel.
Duduk sebentar sambil memperhatikan lingkungan.
Membuat teh.
Menulis beberapa pikiran secara bebas.
Kadang ketika tekanan berkurang, hubungan antara berbagai ide menjadi lebih mudah terlihat.
5. Gunakan Rasa Penasaran, Bukan Kesempurnaan, sebagai Bahan Bakar
Semangat kreatif sering mati ketika kita terlalu fokus pada hasil.
Kita ingin karya yang sempurna.
Ingin mendapatkan banyak apresiasi.
Ingin langsung berhasil.
Ingin orang lain menyukai hasilnya.
Semua itu membuat kreativitas terasa seperti ujian.
Padahal ada bahan bakar yang jauh lebih sehat:
rasa penasaran.
Alih-alih bertanya:
"Apakah hasilku akan bagus?"
cobalah bertanya:
"Apa yang akan terjadi jika aku mencoba ini?"
Pertanyaan tersebut mengubah pengalaman dari sebuah ujian menjadi eksperimen.
Dan eksperimen terasa lebih ringan.
Misalnya kamu sedang menulis.
Jangan berpikir:
"Apakah artikel ini akan viral?"
Cobalah:
"Bagaimana jika aku menjelaskan topik ini dari sudut pandang yang berbeda?"
Jika kamu membuat video:
"Bagaimana jika aku mencoba format baru?"
Jika kamu menggambar:
"Bagaimana jika aku menggunakan teknik yang belum pernah kucoba?"
Rasa penasaran membuat proses kreatif menjadi permainan.
Dan ketika kreativitas terasa seperti permainan, tekanan psikologis dapat berkurang.
Kreativitas tumbuh dari pertanyaan
Orang kreatif tidak selalu memiliki lebih banyak jawaban.
Sering kali mereka justru memiliki lebih banyak pertanyaan.
Mereka bertanya:
"Bagaimana kalau?"
"Kenapa harus seperti ini?"
"Apa yang terjadi jika dibalik?"
"Apa cara lain untuk melihat masalah ini?"
"Apa yang belum pernah dicoba?"
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuka kemungkinan.
Dan kemungkinan adalah bahan bakar kreativitas.
6. Berhenti Membandingkan Bab Awalmu dengan Bab Tengah Orang Lain
Media sosial membuat perbandingan menjadi sangat mudah.
Kamu melihat seseorang yang sudah menghasilkan puluhan karya.
Seseorang yang bisnisnya berkembang.
Seseorang yang tulisannya dibaca ribuan orang.
Seseorang yang tampak sangat percaya diri.
Lalu kamu melihat dirimu sendiri yang baru mulai.
Kemudian muncul pikiran:
"Aku tertinggal."
Perasaan tersebut dapat menghancurkan semangat kreatif.
Sebab kreativitas membutuhkan keberanian untuk mencoba, sedangkan perbandingan berlebihan membuatmu takut terlihat tidak sempurna.
Kamu mulai terlalu memikirkan bagaimana dirimu terlihat dibandingkan bagaimana dirimu berkembang.
Bandingkan dirimu dengan dirimu sendiri
Daripada bertanya:
"Apakah aku sehebat dia?"
cobalah bertanya:
"Apakah aku lebih baik daripada diriku satu bulan lalu?"
Apakah sekarang kamu lebih berani memulai?
Apakah kamu lebih konsisten?
Apakah kamu lebih banyak membaca?
Apakah kamu lebih cepat menghasilkan ide?
Apakah kamu lebih mampu menerima kegagalan?
Itulah ukuran perkembangan yang lebih relevan.
Ingat bahwa karya yang kamu lihat adalah hasil akhir
Ketika melihat karya seseorang di internet, kamu biasanya hanya melihat hasilnya.
Kamu tidak melihat:
tahun-tahun latihan,
ratusan kesalahan,
proyek yang gagal,
ide yang dibuang,
hari-hari ketika mereka tidak produktif,
dan rasa ragu yang mungkin pernah mereka alami.
Karena itu, jangan gunakan hasil akhir orang lain sebagai alasan untuk meremehkan prosesmu sendiri.
Kamu sedang berada di bagian cerita yang berbeda.
Dan itu tidak apa-apa.
7. Bangun Ritual Kreatif agar Semangat Tidak Bergantung pada Suasana Hati
Jika kreativitas hanya dilakukan ketika kamu sedang bersemangat, aktivitas tersebut akan sulit menjadi konsisten.
Hari ini kamu produktif.
Besok tidak.
Hari berikutnya mendapat inspirasi besar.
Lalu tiga hari tidak melakukan apa-apa.
Akhirnya proses kreatif menjadi tidak stabil.
Salah satu solusi terbaik adalah membuat ritual kreatif.
Ritual bukan sesuatu yang rumit.
Ia bisa berupa rangkaian tindakan sederhana yang dilakukan berulang sebelum mulai berkarya.
Misalnya:
Minum kopi atau teh.
Membersihkan meja selama dua menit.
Memasang musik tertentu.
Menjauhkan ponsel.
Membuka dokumen.
Menulis selama 25 menit.
Lakukan secara konsisten.
Lama-kelamaan, rangkaian tersebut menjadi sinyal bagi otak bahwa waktunya bekerja.
Jadwal lebih dapat diandalkan daripada mood
Jika kamu menunggu suasana hati yang tepat, kamu mungkin akan menunggu terlalu lama.
Sebaliknya, buat jadwal sederhana.
Misalnya:
07.00–07.30: menulis.
Tidak harus selalu menghasilkan karya luar biasa.
Yang penting adalah hadir.
Karena kemampuan kreatif berkembang melalui pengulangan.
Seperti otot, kreativitas membutuhkan latihan.
Kamu tidak menjadi lebih kreatif hanya karena membaca tentang kreativitas.
Kamu menjadi lebih kreatif ketika terus menciptakan, mencoba, gagal, memperbaiki, dan mencoba lagi.
Menggabungkan 7 Strategi Ini dalam Kehidupan Sehari-hari
Tujuh strategi di atas sebenarnya saling berhubungan.
Kamu tidak perlu menerapkannya secara sempurna.
Mulailah dengan sistem sederhana.
Misalnya, kamu ingin membangun kebiasaan menulis.
Langkah pertama: kecilkan target
Jangan menargetkan 2.000 kata.
Mulailah dengan lima menit.
Langkah kedua: lepaskan tuntutan sempurna
Izinkan dirimu menulis sesuatu yang buruk.
Ingat bahwa draf pertama memang tidak harus sempurna.
Langkah ketiga: siapkan lingkungan
Letakkan laptop di meja.
Matikan notifikasi.
Jauhkan ponsel.
Langkah keempat: beri ruang bagi pikiran
Jika buntu, jangan langsung menyerah.
Berjalanlah sebentar.
Biarkan pikiran berkelana.
Langkah kelima: gunakan rasa penasaran
Tanyakan:
"Apa yang ingin aku ketahui tentang topik ini?"
Langkah keenam: jangan membandingkan
Jangan pedulikan apakah tulisanmu sebagus tulisan orang lain.
Fokus pada apakah tulisanmu lebih baik daripada tulisanmu sebelumnya.
Langkah ketujuh: ulangi
Lakukan lagi besok.
Tidak perlu menunggu inspirasi.
Hadir saja.
Kreativitas Bukan Tentang Selalu Merasa Bersemangat
Ada satu hal penting yang perlu dipahami.
Menjadi kreatif bukan berarti kamu akan selalu merasa bersemangat.
Akan ada hari ketika kamu malas.
Akan ada hari ketika semua ide terasa buruk.
Akan ada hari ketika kamu mempertanyakan apakah pekerjaanmu memiliki arti.
Akan ada hari ketika kamu ingin berhenti.
Itu normal.
Tujuan dari strategi psikologis bukan membuatmu selalu berada dalam kondisi penuh energi.
Tujuannya adalah membuatmu tetap mampu bergerak meskipun energimu tidak selalu sempurna.
Kamu tidak membutuhkan motivasi 100 persen untuk membuat kemajuan.
Terkadang 10 persen energi sudah cukup untuk melakukan satu langkah kecil.
Dan satu langkah kecil yang dilakukan berulang kali dapat menghasilkan perubahan besar.
Pada Akhirnya, Kreativitas Membutuhkan Keberanian
Kreativitas bukan hanya kemampuan menghasilkan ide.
Kreativitas juga membutuhkan keberanian.
Keberanian untuk menghasilkan sesuatu yang belum tentu bagus.
Keberanian untuk terlihat sebagai pemula.
Keberanian untuk gagal.
Keberanian untuk mencoba pendekatan baru.
Keberanian untuk tidak selalu mengikuti apa yang dilakukan orang lain.
Dan yang paling penting:
keberanian untuk terus berkarya ketika tidak ada yang menjamin bahwa hasilnya akan langsung dihargai.
Jadi, jika hari ini kamu merasa kehilangan semangat kreatif, jangan langsung menyimpulkan bahwa kamu sudah tidak kreatif lagi.
Mungkin kamu hanya terlalu lelah.
Mungkin lingkunganmu terlalu penuh gangguan.
Mungkin standar yang kamu pasang terlalu tinggi.
Mungkin kamu terlalu sering membandingkan diri.
Atau mungkin kamu hanya perlu memulai dari sesuatu yang jauh lebih kecil.
Buka halaman kosong.
Tulis satu kalimat.
Buat satu sketsa.
Catat satu ide.
Ambil satu foto.
Rekam satu menit.
Baca satu halaman.
Lakukan satu eksperimen kecil.
Jangan menunggu api kreativitas membesar untuk mulai bergerak.
Kadang kamu justru perlu bergerak terlebih dahulu agar api itu menyala.
Dan ketika kamu terus memberi ruang kepada rasa penasaran, eksperimen, kebiasaan, serta keberanian untuk gagal, kreativitas perlahan tidak lagi menjadi sesuatu yang harus kamu tunggu.
Ia menjadi sesuatu yang kamu latih.
Sesuatu yang kamu bangun.