← Beranda
7 Cara “Momen Gagang Pintu” Dapat Merusak Hubunganmu dengan Pasangan Menurut Psikologi, Apa Sajakah?
Irfan FerdiansyahSabtu, 5 September 2026 | 11.03 WIB
seseorang yang berkonflik dengan pasangan./Magnific/Drazen Zigic

JawaPos.com - Pernahkah kamu sedang mengakhiri percakapan dengan pasangan, hendak pergi, masuk kamar, atau bahkan sudah memegang gagang pintu, lalu tiba-tiba mengatakan sesuatu yang selama ini kamu pendam?

“Eh, sebenarnya aku kecewa sama kamu.”

“Atau kamu tahu nggak, aku sudah lama merasa sendirian dalam hubungan ini.”

“Ngomong-ngomong, aku sebenarnya nggak suka kalau kamu dekat dengan dia.”

“Dan satu lagi… aku mulai mempertanyakan hubungan kita.”

Kalimat seperti itu sering muncul tepat ketika percakapan seharusnya sudah selesai.

Dilansir dari Psychology Today pada Jumat (4/9), dalam psikoterapi, fenomena ketika seseorang baru menyampaikan hal yang sangat penting pada penghujung sesi—ketika terapis hampir mengakhiri pertemuan—sering disebut “door handle moment” atau “momen gagang pintu”. Istilah ini menggambarkan momen ketika seseorang baru mengungkapkan persoalan penting saat tangannya seolah sudah berada di gagang pintu untuk pergi.

Dalam hubungan romantis, pola yang mirip juga bisa terjadi.

Bedanya, pasangan bukan terapis. Ketika persoalan emosional yang besar selalu muncul pada detik-detik terakhir, dampaknya dapat menjadi jauh lebih rumit. Pasangan bisa merasa diserang, terjebak, tidak didengarkan, atau bahkan mulai takut mengakhiri percakapan karena selalu ada “bom” emosional di ujungnya.

Masalahnya bukan semata-mata apa yang kamu katakan.

Masalahnya bisa terletak pada kapan, bagaimana, dan dalam kondisi emosional seperti apa kamu mengatakannya.

Penelitian mengenai konflik pasangan menunjukkan bahwa pola komunikasi tertentu—termasuk pola demand-withdraw, ketika satu pihak terus menuntut pembahasan sementara pihak lain menarik diri—berkaitan dengan distress hubungan dan rendahnya penyelesaian konflik.

Lalu, bagaimana “momen gagang pintu” dapat perlahan merusak hubungan?

1. Membuat pasangan merasa tidak pernah benar-benar tahu apa yang kamu rasakan

Bayangkan kamu dan pasangan baru saja menghabiskan waktu bersama.

Kalian makan malam, berbicara, tertawa, lalu bersiap pulang. Semuanya terlihat baik-baik saja.

Namun tepat ketika pasangan hendak pergi, kamu berkata:

“Sebenarnya dari tadi aku kesal sama kamu.”

Pasangan tentu bisa bingung.

“Kalau memang kesal, kenapa tidak bilang dari tadi?”

Di sinilah persoalan pertama muncul.

Dalam hubungan yang sehat, pasangan perlu memiliki kesempatan untuk memahami keadaan emosional satu sama lain. Ketika perasaan penting selalu disimpan sampai akhir, pasangan kehilangan kesempatan untuk meresponsnya pada waktu yang tepat.

Lama-kelamaan, pasangan bisa mulai merasa bahwa apa yang terlihat di permukaan tidak pernah sama dengan apa yang sebenarnya terjadi di dalam dirimu.

Hari ini kamu mengatakan semuanya baik-baik saja.

Besok kamu mengungkapkan bahwa sebenarnya kamu kecewa.

Minggu depan kamu mengatakan bahwa kamu sudah lama merasa diabaikan.

Akibatnya, pasangan dapat mengalami kebingungan emosional.

Bukan karena pasangan tidak peduli, tetapi karena informasi yang dibutuhkan untuk memperbaiki hubungan datang terlambat.

Dalam psikologi hubungan, komunikasi bukan hanya mengenai keterbukaan, tetapi juga mengenai kemampuan menyampaikan kebutuhan sehingga pasangan memiliki kesempatan untuk merespons.

Jika informasi penting terus muncul di menit terakhir, hubungan bisa berubah menjadi permainan tebak-tebakan:

“Dia sebenarnya marah atau tidak?”

“Apakah semuanya benar-benar baik-baik saja?”

“Kalau dia bilang tidak masalah, apakah sebenarnya ada masalah?”

Ketidakpastian semacam ini dapat mengikis rasa aman dalam hubungan.

Apa yang bisa dilakukan?

Jika kamu sadar ada sesuatu yang mengganggu, jangan menunggu sampai pasangan memakai sepatu untuk pergi.

Kamu tidak harus langsung membicarakannya saat emosi sedang tinggi. Namun, kamu bisa mengatakan:

“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Aku belum siap membahasnya sekarang, tapi ini penting buatku. Bisa kita bicarakan malam ini?”

Kalimat sederhana seperti itu jauh lebih sehat daripada menyimpan semuanya lalu melemparkannya ketika percakapan hampir selesai.

2. Mengubah percakapan biasa menjadi konflik mendadak

Salah satu alasan “momen gagang pintu” berbahaya adalah karena ia sering menciptakan perubahan suasana yang sangat tiba-tiba.

Lima menit sebelumnya semuanya normal.

Kemudian muncul satu kalimat:

“Boleh jujur? Aku sebenarnya sudah capek dengan sikapmu.”

Sekarang suasananya berubah total.

Pasangan yang sebelumnya santai harus tiba-tiba masuk ke mode defensif.

Dalam penelitian dan pendekatan Gottman terhadap konflik pasangan, cara sebuah pembicaraan konflik dimulai sangat penting. Pembukaan yang keras—misalnya melalui kritik, sindiran, atau tuduhan—cenderung membuat percakapan berkembang ke arah yang lebih negatif.

Bayangkan kondisi emosional seseorang ketika menerima kritik secara tiba-tiba.

Otaknya tidak otomatis berpikir:

“Baik, mari kita menganalisis kebutuhan emosional pasangan secara objektif.”

Respons yang lebih mungkin adalah:

“Aku salah apa?”

“Kenapa baru bilang sekarang?”

“Kamu juga pernah melakukan hal yang sama.”

“Jadi selama ini kamu pura-pura baik-baik saja?”

Percakapan yang sebenarnya bisa menjadi kesempatan untuk menyelesaikan masalah akhirnya berubah menjadi pertandingan pembelaan diri.

Masalahnya bukan berarti kamu tidak boleh mengungkapkan keluhan.

Kamu berhak kecewa.

Kamu berhak marah.

Kamu juga berhak membicarakan sesuatu yang selama ini kamu pendam.

Namun cara membuka percakapan dapat menentukan apakah pasangan mendengarkan kebutuhanmu atau justru mempersiapkan diri untuk melawan.

Bandingkan:

Momen gagang pintu:

“Satu hal lagi. Aku sebenarnya sudah muak kamu selalu seperti ini.”

Dengan:

“Aku baru sadar ada sesuatu yang menggangguku. Aku ingin membicarakannya denganmu, tapi aku ingin kita membahasnya ketika sama-sama tenang.”

Versi kedua tidak menghilangkan masalah.

Ia hanya mengubah cara masalah tersebut masuk ke dalam hubungan.

3. Menciptakan pola “mengejar dan menghindar”

Ini mungkin salah satu dampak paling berbahaya.

Katakanlah setiap kali kamu dan pasangan hampir berpisah, kamu mengeluarkan masalah baru.

Pasangan akhirnya mulai belajar:

“Kalau pembicaraan sudah selesai, pasti akan ada masalah baru.”

Maka lain kali, ketika kamu berkata:

“Sebentar, aku mau ngomong sesuatu.”

Pasangan mungkin langsung merasa lelah.

Ia mulai menghindar.

“Besok saja.”

“Aku capek.”

“Sekarang bukan waktunya.”

Dan kamu merasa:

“Dia tidak pernah mau mendengarkanku.”

Akhirnya kamu semakin mengejar.

“Tidak, kita harus membicarakannya sekarang.”

Pasangan semakin menarik diri.

“Sudahlah.”

Kamu semakin frustrasi.

“Kamu selalu menghindar!”

Dan pasangan semakin defensif.

Inilah gambaran klasik dari pola demand-withdraw: satu pihak mengejar pembahasan, koneksi, atau perubahan, sementara pihak lainnya berusaha mengakhiri percakapan atau menarik diri. Penelitian terhadap pasangan menunjukkan bahwa pola semacam ini berhubungan dengan distress relasional dan lebih rendahnya penyelesaian konflik.

Sebuah meta-analisis yang mencakup 74 studi dengan lebih dari 14.000 partisipan juga menemukan hubungan yang bermakna antara pola demand/withdraw dan berbagai hasil negatif dalam hubungan, terutama aspek relasional dan komunikasi.

Yang menarik, pola ini bisa menjadi lingkaran.

Kamu mengejar karena merasa tidak didengarkan.

Pasangan menghindar karena merasa ditekan.

Kamu melihat penghindaran itu sebagai bukti bahwa pasangan tidak peduli.

Kamu mengejar lebih keras.

Pasangan semakin menjauh.

Akhirnya, kalian berdua merasa menjadi korban.

Padahal kalian sebenarnya sedang terjebak dalam siklus komunikasi.

4. Membuat pasangan mengalami “banjir emosi”

Ada perbedaan antara konflik yang sulit dan konflik yang membuat seseorang terlalu kewalahan untuk berpikir jernih.

Dalam literatur Gottman, kondisi kewalahan emosional ini sering disebut flooding. Ketika seseorang mengalami arousal fisiologis yang tinggi dalam konflik, kemampuan untuk mendengarkan, memahami perspektif pasangan, dan memecahkan masalah dapat menurun.

Itulah mengapa timing sangat penting.

Misalnya, kamu dan pasangan baru saja bertengkar selama satu jam.

Kalian berdua sudah lelah.

Pasangan akhirnya berkata:

“Aku mau pulang dulu. Kita lanjut besok.”

Kemudian, ketika dia sudah berada di pintu, kamu berkata:

“Kalau begitu sekalian saja. Aku juga sudah lama berpikir bahwa mungkin kita harus putus.”

Kalimat tersebut mungkin memang berasal dari perasaan yang nyata.

Tetapi dalam kondisi emosional seperti itu, kemungkinan besar pasangan tidak mampu menerimanya dengan tenang.

Yang muncul justru:

panik,

marah,

takut,

menyerang,

menangis,

atau pergi sepenuhnya.

Ketika sistem emosional seseorang sudah terlalu aktif, percakapan rasional menjadi lebih sulit.

Karena itu, tidak semua masalah harus diselesaikan saat itu juga.

Kadang-kadang, jeda justru lebih sehat.

Kamu bisa berkata:

“Aku masih ingin membicarakan ini, tetapi sekarang kita sama-sama terlalu emosional. Kita berhenti dulu dan lanjutkan ketika sudah lebih tenang.”

Jeda bukan selalu berarti menghindari.

Jeda yang disepakati dan diikuti oleh percakapan lanjutan dapat menjadi bentuk regulasi emosi.

5. Membuat pasangan merasa “terjebak”

Ada alasan lain mengapa momen gagang pintu terasa begitu tidak nyaman.

Ketika seseorang sudah bersiap pergi, secara psikologis ia mungkin sudah menganggap percakapan selesai.

Kemudian tiba-tiba muncul persoalan besar.

Ia merasa tidak punya pilihan.

Kalau pergi, ia dianggap tidak peduli.

Kalau tetap tinggal, ia harus menghadapi percakapan emosional yang tidak dipersiapkan.

Situasinya menjadi:

“Kalau aku pergi, aku jahat.”

“Kalau aku tinggal, aku harus menghadapi semuanya sekarang.”

Jika pola ini terus berulang, pasangan bisa mulai mengasosiasikan akhir percakapan dengan ancaman konflik baru.

Akibatnya, bahkan momen-momen netral bisa menjadi tegang.

Misalnya:

“Besok kita ketemu?”

“Jam berapa kamu pulang?”

Dan ketika kamu berkata:

“Oh iya, satu hal lagi…”

Pasangan mungkin langsung berpikir:

“Waduh. Masalah lagi.”

Padahal mungkin kamu hanya ingin mengatakan sesuatu yang sederhana.

Kepercayaan dalam hubungan bukan hanya soal yakin bahwa pasangan mencintai kita.

Ada bentuk kepercayaan lain:

percaya bahwa pasangan akan memberi tahu kita ketika ada masalah, tanpa sengaja menjebak kita dalam percakapan.

Itulah sebabnya transparansi dan timing sangat penting.

6. Membuat masalah kecil menumpuk menjadi masalah besar

“Momen gagang pintu” sering kali bukan hanya satu kejadian.

Masalah sebenarnya muncul ketika ia menjadi kebiasaan komunikasi.

Hari Senin:

“Aku sebenarnya agak kecewa kemarin.”

Hari Kamis:

“Oh iya, ada satu hal lagi yang menggangguku.”

Minggu berikutnya:

“Ngomong-ngomong, aku masih kepikiran kejadian dua minggu lalu.”

Satu per satu masalah tidak pernah benar-benar diselesaikan.

Mereka hanya ditunda.

Kemudian ditambah masalah baru.

Kemudian ditambah lagi.

Akhirnya, satu percakapan dapat berisi sepuluh persoalan sekaligus.

“Masalahmu waktu ulang tahunku.”

“Masalahmu dengan temanmu.”

“Kamu juga pernah melakukan itu tiga bulan lalu.”

“Dan aku masih ingat waktu kamu mengatakan…”

Inilah yang membuat konflik terasa tidak ada ujungnya.

Padahal sering kali bukan karena satu masalah tersebut terlalu besar.

Masalahnya adalah terlalu banyak masalah yang tidak pernah mendapatkan ruang penyelesaian yang jelas.

Dalam penelitian mengenai konflik pasangan di kehidupan sehari-hari, pola demand-withdraw dikaitkan dengan emosi negatif dan rendahnya penyelesaian konflik.

Karena itu, salah satu keterampilan penting dalam hubungan bukan sekadar “berani bicara”.

Tetapi berani bicara lebih awal.

Jika sesuatu mengganggu, bicarakan ketika ukurannya masih kecil.

Jangan menunggu sampai ia berubah menjadi daftar panjang kesalahan pasangan.

7. Perlahan-lahan mengikis rasa aman dalam hubungan

Ini mungkin dampak yang paling dalam.

Hubungan yang sehat membutuhkan rasa aman psikologis.

Bukan berarti pasangan tidak pernah marah.

Bukan berarti tidak boleh ada konflik.

Dan bukan berarti semua percakapan harus menyenangkan.

Rasa aman berarti seseorang dapat merasa:

“Aku bisa mengatakan apa yang kurasakan.”

“Aku bisa tidak setuju tanpa takut dihukum.”

“Aku bisa mengatakan bahwa aku terluka.”

“Pasanganku mungkin tidak selalu setuju, tetapi dia akan mendengarkan.”

“Mengakhiri percakapan bukan berarti masalah akan tiba-tiba meledak.”

Ketika “momen gagang pintu” menjadi pola yang berulang, rasa aman tersebut dapat terganggu.

Pasangan mulai berhati-hati.

Ia mungkin mulai bertanya:

“Apakah dia benar-benar baik-baik saja?”

“Apakah ada sesuatu yang belum dia katakan?”

“Kalau aku pulang sekarang, apakah nanti dia akan mengirim pesan panjang?”

“Apakah setiap percakapan akan berakhir dengan konflik?”

Dalam jangka panjang, seseorang dapat mulai menghindari percakapan bukan karena tidak mencintai pasangannya, tetapi karena ia sudah mengantisipasi kelelahan emosional.

Dan ketika satu pasangan mulai menghindari komunikasi, pasangan lainnya mungkin merasa semakin tidak didengarkan.

Siklusnya kembali lagi:

ketidakamanan → mengejar → menghindar → semakin tidak aman → semakin mengejar.

Penelitian mengenai demand-withdraw bahkan menunjukkan bahwa pola tersebut bukan sekadar masalah komunikasi sesaat; pola ini memiliki hubungan dengan kualitas hubungan dan kesejahteraan emosional pasangan.

Tetapi, apakah “momen gagang pintu” selalu buruk?

Tidak.

Ini bagian yang penting.

Mengungkapkan sesuatu di akhir percakapan tidak otomatis berarti kamu sedang merusak hubungan.

Kadang-kadang seseorang baru merasa cukup aman untuk berbicara setelah percakapan hampir selesai.

Kadang seseorang baru menyadari apa yang ia rasakan ketika sudah mendapatkan waktu untuk berpikir.

Kadang seseorang memang takut memulai percakapan sulit.

Dan terkadang persoalan tertentu memang baru muncul secara spontan.

Jadi, masalahnya bukan:

“Jangan pernah mengatakan sesuatu di akhir percakapan.”

Masalahnya adalah jika pola tersebut menjadi cara utama untuk berkomunikasi.

Ada perbedaan besar antara:

“Oh, sebelum kamu pergi, aku baru ingat sesuatu yang ingin aku ceritakan.”

dan:

“Sebelum kamu pergi, aku akan mengeluarkan semua kekecewaanku yang selama ini tidak pernah kubicarakan.”

Yang pertama adalah komunikasi spontan.

Yang kedua berpotensi menjadi pola konflik.

Lalu, bagaimana cara menghentikan kebiasaan “momen gagang pintu”?

Kamu tidak perlu berubah menjadi orang yang selalu siap berbicara panjang setiap kali ada masalah.

Yang dibutuhkan justru beberapa kebiasaan sederhana.

1. Beri tanda lebih awal

Jika ada sesuatu yang mengganggu, tidak harus langsung dibahas.

Cukup beri sinyal:

“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan nanti.”

Dengan begitu pasangan tidak merasa masalah tersebut muncul dari ruang kosong.

2. Bedakan antara “butuh didengarkan” dan “butuh solusi”

Terkadang kamu hanya ingin pasangan memahami perasaanmu.

Katakan:

“Aku belum butuh solusi. Aku cuma ingin kamu mendengarkan dulu.”

Ini dapat mengurangi kemungkinan pasangan langsung defensif atau mencoba memperbaiki sesuatu yang sebenarnya belum kamu minta untuk diperbaiki.

3. Hindari memulai konflik ketika salah satu pihak sedang sangat emosional

Jika tubuh dan pikiran sudah terlalu lelah, percakapan bisa berubah menjadi pertengkaran.

Gottman Institute merekomendasikan softened startup dan kemampuan untuk menenangkan diri ketika konflik sudah terlalu intens.

Alih-alih:

“Kamu memang selalu egois.”

Cobalah:

“Aku merasa tidak diperhatikan ketika hal itu terjadi. Aku ingin kita mencari cara supaya hal seperti ini tidak terulang.”

Perbedaannya mungkin terlihat kecil.

Namun kalimat pertama menyerang karakter.

Kalimat kedua menjelaskan pengalaman dan kebutuhan.

4. Jangan menggunakan keheningan sebagai “tabungan amunisi”

Diam karena membutuhkan waktu untuk memproses perasaan adalah hal yang wajar.

Tetapi diam sambil mengumpulkan kesalahan pasangan untuk dikeluarkan sekaligus saat konflik berikutnya dapat membuat hubungan semakin sulit.

Kalau kamu membutuhkan waktu, katakan:

“Aku perlu waktu untuk memahami apa yang sebenarnya aku rasakan. Nanti aku ingin membicarakannya.”

Itu berbeda dengan berpura-pura tidak ada masalah.

5. Buat ruang khusus untuk percakapan sulit

Tidak semua masalah harus dibahas secara spontan.

Kalian bisa memiliki kebiasaan:

“Setiap minggu kita ngobrol sebentar tentang bagaimana hubungan kita.”

Tidak perlu formal atau kaku.

Bisa sambil minum kopi, berjalan, atau duduk santai.

Tujuannya sederhana:

memberikan tempat bagi masalah untuk muncul sebelum menjadi bom.

Satu perubahan kecil yang dapat membuat perbedaan besar

Jika selama ini kamu sering melakukan “momen gagang pintu”, coba ubah satu kebiasaan.

Daripada menunggu sampai akhir, gunakan kalimat:

“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Kapan waktu yang baik untuk kita membahasnya?”

Kalimat itu sangat sederhana.

Namun ia mengandung tiga pesan penting:

Aku punya sesuatu yang penting.

Aku tidak ingin menyembunyikannya.

Aku juga menghargai kondisi dan kesiapanmu.

Dalam hubungan, keterbukaan bukan hanya keberanian untuk mengatakan sesuatu.

Keterbukaan juga berarti memberikan pasangan kesempatan untuk menerima, memahami, dan meresponsnya.

Pada akhirnya, masalahnya bukan pada gagang pintunya

“Momen gagang pintu” sebenarnya menarik karena ia menunjukkan sesuatu yang sangat manusiawi:

kita sering baru berani mengatakan hal yang paling penting ketika kita merasa waktunya hampir habis.

Mungkin karena takut ditolak.

Mungkin karena takut konflik.

Mungkin karena baru memahami perasaan sendiri.

Mungkin karena berharap pasangan akhirnya menyadari betapa seriusnya masalah tersebut.

Tetapi dalam hubungan romantis, pola itu dapat menjadi bumerang.

Jika setiap percakapan berakhir dengan kejutan emosional, pasangan bisa mulai takut berbicara.

Jika setiap masalah ditunda, masalah kecil bisa berubah menjadi kebencian.

Jika satu pihak terus mengejar dan pihak lainnya terus menghindar, keduanya dapat merasa tidak dimengerti.

Dan jika konflik selalu datang tanpa peringatan, rasa aman perlahan dapat menghilang.

Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa konflik.

Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana konflik memiliki tempat yang aman untuk dibicarakan.

Jadi, lain kali ketika kamu sudah memegang gagang pintu dan tiba-tiba ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting, berhenti sejenak dan tanyakan kepada diri sendiri:

“Apakah aku benar-benar ingin mengatakan ini sekarang, atau sebenarnya aku membutuhkan waktu dan ruang yang lebih baik untuk membicarakannya?”

Terkadang, keberanian terbesar bukanlah mengucapkan kalimat yang selama ini kita pendam.

Melainkan mengatakan:

“Ada sesuatu yang penting bagiku. Aku ingin membicarakannya denganmu, tetapi aku ingin kita melakukannya pada waktu yang tepat.”

Karena dalam hubungan yang sehat, masalah tidak perlu disembunyikan sampai di depan pintu—dan pasangan tidak perlu dibuat takut untuk membuka pintu tersebut.

EDITOR: Hanny Suwindari