← Beranda
Menginginkan Pikiran yang Lebih Tenang Seiring Bertambahnya Usia? Tinggalkan 8 Kebiasaan Sehari-hari
Irfan FerdiansyahSabtu, 5 September 2026 | 06.18 WIB
seseorang yang mendambakan pikiran tenang seiring bertambahnya usia./Magnific/donidas

JawaPos.com - Semakin bertambah usia, banyak orang mulai menyadari bahwa ketenangan pikiran jauh lebih berharga daripada sekadar terlihat sukses di mata orang lain.

Ketika masih muda, kita mungkin sibuk mengejar banyak hal sekaligus: pengakuan, pencapaian, uang, hubungan, popularitas, atau keinginan untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain. Kita sering merasa bahwa semakin banyak yang berhasil kita dapatkan, semakin bahagia pula hidup kita.

Namun, pengalaman sering mengajarkan sesuatu yang berbeda.

Ada orang yang memiliki banyak hal tetapi tetap merasa gelisah. Ada pula yang hidupnya sederhana, tetapi terlihat jauh lebih damai. Perbedaannya tidak selalu terletak pada jumlah uang, status sosial, atau banyaknya masalah yang mereka hadapi. Sering kali, perbedaannya terletak pada cara seseorang memperlakukan pikirannya sendiri setiap hari.

Psikologi menunjukkan bahwa ketenangan mental bukan hanya tentang menghilangkan masalah. Kita juga perlu belajar mengurangi kebiasaan yang terus-menerus membuat pikiran bekerja tanpa henti.

Menariknya, beberapa kebiasaan yang menguras ketenangan justru terlihat sangat normal dalam kehidupan sehari-hari.

Kita terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain. Terlalu banyak memikirkan masa lalu. Terlalu sibuk mengantisipasi masa depan. Terlalu ingin menyenangkan semua orang. Bahkan, terkadang kita menciptakan tekanan sendiri karena merasa harus selalu produktif.

Jika Anda menginginkan pikiran yang lebih tenang seiring bertambahnya usia, mungkin sudah waktunya meninggalkan beberapa kebiasaan tersebut.

Dilansir dari Psychology Today (29/8), terdapat delapan di antaranya.

1. Berhenti Membandingkan Kehidupan Anda dengan Kehidupan Orang Lain

Salah satu sumber kegelisahan terbesar adalah kebiasaan membandingkan diri.

Kita melihat seseorang membeli rumah, lalu merasa hidup kita tertinggal. Kita melihat teman mendapatkan promosi, lalu mulai mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Kita melihat seseorang menikah, memiliki anak, bepergian ke berbagai negara, atau menjalani kehidupan yang tampak sempurna di media sosial, kemudian diam-diam bertanya:

"Mengapa hidup saya tidak seperti mereka?"

Masalahnya, perbandingan hampir selalu tidak adil.

Anda membandingkan seluruh kehidupan Anda—termasuk kegagalan, kekhawatiran, masalah keuangan, rasa takut, dan kelemahan—dengan bagian terbaik dari kehidupan orang lain yang mereka pilih untuk Anda lihat.

Dalam psikologi, perbandingan sosial merupakan kecenderungan manusia yang sangat umum. Kita menggunakan orang lain sebagai salah satu referensi untuk menilai diri sendiri. Namun, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini dapat memengaruhi kepuasan hidup dan harga diri.

Semakin bertambah usia, Anda mungkin akan menyadari bahwa setiap orang memiliki garis waktunya sendiri.

Ada orang yang sukses di usia 25 tahun.

Ada yang baru menemukan arah hidupnya di usia 40 tahun.

Ada yang membangun kehidupan baru setelah usia 50 tahun.

Dan ada pula yang baru merasa benar-benar mengenal dirinya sendiri setelah melewati berbagai pengalaman panjang.

Tidak ada satu jadwal kehidupan yang berlaku untuk semua orang.

Karena itu, jika Anda menginginkan ketenangan, mulailah mengurangi pertanyaan seperti:

"Mengapa saya belum seperti dia?"

Gantilah dengan:

"Apakah kehidupan yang saya jalani sekarang sesuai dengan nilai dan kebutuhan saya?"

Pertanyaan kedua jauh lebih sehat.

2. Jangan Terus-Menerus Mengulang Kesalahan Masa Lalu di Dalam Pikiran

Ada perbedaan antara belajar dari masa lalu dan hidup di dalam masa lalu.

Belajar dari masa lalu berarti mengambil pelajaran, memahami kesalahan, lalu menggunakan pengalaman tersebut untuk membuat keputusan yang lebih baik.

Sebaliknya, terus-menerus mengulang kejadian buruk di kepala hanya membuat luka lama terasa seperti sedang terjadi kembali.

"Seandainya waktu itu saya tidak mengatakan hal tersebut..."

"Seharusnya saya mengambil keputusan yang berbeda..."

"Mengapa saya membiarkan orang itu memperlakukan saya seperti itu?"

Pikiran semacam ini mudah berubah menjadi rumination atau perenungan berulang—ketika seseorang terus memikirkan pengalaman negatif tanpa menemukan penyelesaian yang nyata.

Ironisnya, kita sering mengira bahwa dengan memikirkan masalah berkali-kali, kita sedang mencari solusi.

Padahal, ada saat ketika berpikir berubah menjadi sekadar mengulang rasa sakit.

Seiring bertambahnya usia, kemampuan untuk berkata "itu sudah terjadi" menjadi sangat berharga.

Bukan berarti Anda harus melupakan semuanya.

Bukan pula berarti Anda harus membenarkan apa yang dilakukan orang lain kepada Anda.

Anda hanya perlu berhenti menghukum diri sendiri atas sesuatu yang tidak bisa diubah.

Masa lalu seharusnya menjadi guru, bukan penjara.

Tanyakan kepada diri sendiri:

"Apa yang bisa saya pelajari dari kejadian ini?"

Setelah menemukan jawabannya, Anda tidak selalu perlu kembali ke sana setiap hari.

3. Tinggalkan Kebiasaan Mengatakan "Ya" Ketika Sebenarnya Anda Ingin Mengatakan "Tidak"

Banyak orang menghabiskan bertahun-tahun hidupnya berusaha menjadi orang yang menyenangkan.

Mereka takut mengecewakan orang lain.

Takut dianggap egois.

Takut hubungan berubah.

Takut dikritik.

Akhirnya, mereka mengatakan "ya" bahkan ketika tubuh dan pikiran mereka sebenarnya mengatakan "tidak".

"Ya, saya bantu."

"Ya, saya datang."

"Ya, tidak masalah."

"Ya, saya bisa mengerjakannya."

Padahal di dalam hati, mereka sudah lelah.

Menolong orang lain adalah hal yang baik. Namun, hidup dengan terus mengorbankan kebutuhan sendiri bukanlah bentuk kebaikan yang sehat.

Psikologi mengenal konsep boundaries atau batas pribadi. Batas yang sehat membantu seseorang menentukan apa yang bersedia ia lakukan dan apa yang tidak.

Seiring bertambah usia, batas pribadi menjadi semakin penting.

Anda mulai menyadari bahwa waktu dan energi bukan sumber daya yang tidak terbatas.

Setiap kali Anda mengatakan "ya" kepada sesuatu yang sebenarnya tidak penting bagi Anda, Anda mungkin sedang mengatakan "tidak" kepada sesuatu yang jauh lebih penting.

Tidak kepada waktu istirahat.

Tidak kepada keluarga.

Tidak kepada kesehatan.

Tidak kepada diri sendiri.

Belajar mengatakan "tidak" tidak menjadikan Anda orang jahat.

Anda tidak harus memberikan penjelasan panjang setiap kali menolak sesuatu.

Kadang-kadang, kalimat sederhana seperti:

"Maaf, saya tidak bisa kali ini."

sudah cukup.

Ketenangan sering kali muncul ketika kita berhenti merasa bertanggung jawab atas semua harapan orang lain.

4. Berhenti Berusaha Mengontrol Hal-Hal yang Memang Berada di Luar Kendali

Ada dua jenis masalah dalam hidup.

Masalah yang bisa Anda pengaruhi, dan masalah yang berada di luar kendali Anda.

Sayangnya, banyak energi mental kita justru habis untuk kategori kedua.

Anda tidak bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan tentang Anda.

Anda tidak bisa mengontrol bagaimana seseorang memperlakukan Anda.

Anda tidak bisa mengubah keputusan yang sudah dibuat orang lain.

Anda tidak bisa menjamin bahwa semua rencana akan berjalan sesuai keinginan.

Anda bahkan tidak bisa memastikan bahwa hari esok akan bebas dari masalah.

Namun, Anda masih bisa mengontrol respons Anda.

Anda bisa memilih apakah akan membalas dengan kemarahan atau ketenangan.

Anda bisa memilih apakah akan terus mengejar seseorang yang tidak menghargai Anda atau mulai melepaskannya.

Anda bisa memilih apakah akan terus mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi atau kembali memperhatikan apa yang sedang terjadi sekarang.

Konsep ini berkaitan erat dengan penerimaan psikologis.

Menerima bukan berarti menyerah.

Menerima berarti mengakui kenyataan sebagaimana adanya sebelum memutuskan apa yang bisa dilakukan selanjutnya.

Ada ketenangan yang muncul ketika seseorang akhirnya berkata:

"Saya tidak bisa mengendalikan semuanya, tetapi saya masih bisa mengendalikan cara saya menjalaninya."

Semakin dewasa, semakin jelas bahwa hidup tidak membutuhkan kendali penuh.

Yang kita butuhkan adalah kemampuan untuk beradaptasi.

5. Kurangi Kebiasaan Memikirkan Pendapat Orang Lain Secara Berlebihan

Pernahkah Anda tidak melakukan sesuatu hanya karena takut orang lain membicarakannya?

Mungkin Anda ingin mengubah gaya berpakaian.

Ingin memulai pekerjaan baru.

Ingin menjalani hobi tertentu.

Ingin meninggalkan lingkungan yang tidak sehat.

Namun, Anda menahan diri karena berpikir:

"Nanti mereka bilang apa?"

Ini adalah salah satu jebakan mental yang bisa membuat hidup terasa sangat sempit.

Kita terlalu sering melebih-lebihkan seberapa besar perhatian orang lain terhadap kehidupan kita.

Padahal, sebagian besar orang juga sibuk memikirkan kehidupan mereka sendiri.

Orang mungkin membicarakan keputusan Anda selama beberapa menit, beberapa jam, atau bahkan beberapa hari.

Setelah itu, mereka kembali kepada masalah mereka sendiri.

Sementara Anda mungkin menghabiskan berbulan-bulan atau bertahun-tahun memikirkan pendapat mereka.

Bukankah itu terlalu mahal?

Seiring bertambahnya usia, penting untuk menyadari bahwa Anda tidak bisa membuat semua orang menyukai Anda.

Bahkan jika Anda sudah berhati-hati, sopan, dan baik kepada semua orang, tetap akan ada orang yang salah memahami Anda.

Dan itu tidak selalu menjadi masalah yang harus Anda selesaikan.

Ketenangan muncul ketika Anda mulai memisahkan dua hal:

kritik yang berguna dan pendapat yang tidak perlu Anda bawa ke dalam hati.

Tidak semua opini membutuhkan respons.

Tidak semua komentar membutuhkan pembelaan.

Dan tidak semua orang harus memahami Anda.

6. Jangan Mengisi Setiap Waktu dengan Kesibukan

Ada orang yang merasa bersalah ketika tidak melakukan sesuatu.

Saat bangun, langsung memeriksa ponsel.

Saat makan, membuka pesan.

Saat memiliki waktu luang, mencari pekerjaan tambahan.

Saat sedang beristirahat, merasa seharusnya melakukan sesuatu yang produktif.

Akibatnya, tubuh mungkin berhenti sejenak, tetapi pikiran tidak pernah benar-benar berhenti.

Kita hidup dalam budaya yang sering mengagungkan kesibukan.

Seolah-olah semakin sibuk seseorang, semakin penting dirinya.

Padahal, produktivitas dan kesibukan bukanlah hal yang sama.

Kesibukan tanpa arah hanya bisa membuat kita kelelahan.

Otak juga membutuhkan waktu untuk beristirahat, memproses pengalaman, dan memulihkan perhatian.

Karena itu, jangan takut memiliki waktu kosong.

Duduk sambil minum kopi.

Berjalan tanpa tujuan tertentu.

Membaca buku.

Bercakap-cakap dengan orang yang Anda sayangi.

Menikmati pagi tanpa terburu-buru.

Atau bahkan hanya duduk diam.

Tidak setiap menit harus menghasilkan sesuatu.

Ada nilai dalam sekadar hadir dan menikmati kehidupan.

Semakin bertambah usia, Anda mungkin akan menyadari bahwa hidup bukan perlombaan untuk menyelesaikan sebanyak mungkin hal.

Ada saatnya kita perlu bertanya:

"Apakah saya benar-benar menikmati hidup yang sedang saya jalani?"

7. Tinggalkan Kebiasaan Membawa Semua Masalah Sendirian

Mandiri memang baik.

Tetapi terlalu terbiasa menghadapi semuanya sendirian bisa menjadi beban.

Beberapa orang merasa bahwa meminta bantuan adalah tanda kelemahan.

Mereka menyimpan masalah sendiri.

Tidak menceritakan kekhawatiran kepada siapa pun.

Tidak mengungkapkan bahwa mereka sedang lelah.

Tidak mengatakan ketika mereka membutuhkan dukungan.

Dari luar, mereka terlihat kuat.

Namun, di dalam diri mereka, tekanan terus menumpuk.

Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Hubungan yang sehat dapat menjadi sumber dukungan emosional yang penting.

Karena itu, tidak ada salahnya memiliki seseorang yang bisa diajak bicara.

Tidak selalu harus mencari solusi.

Terkadang kita hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.

Mengatakan:

"Akhir-akhir ini saya sedang lelah."

bukan tanda kelemahan.

Mengatakan:

"Saya membutuhkan bantuan."

juga bukan kegagalan.

Justru ada keberanian dalam mengakui keterbatasan diri.

Ketenangan tidak selalu berasal dari menyelesaikan semua masalah sendirian.

Kadang-kadang ketenangan muncul karena kita tahu bahwa kita tidak harus menghadapinya sendirian.

8. Berhenti Menunggu Kehidupan yang "Sempurna" Sebelum Mengizinkan Diri Anda Bahagia

Ini mungkin salah satu kebiasaan yang paling sulit disadari.

Kita berkata:

"Nanti saya bahagia kalau sudah punya cukup uang."

"Nanti kalau pekerjaan sudah lebih baik."

"Nanti kalau masalah ini selesai."

"Nanti kalau kesehatan, keluarga, atau keadaan sudah lebih ideal."

Tanpa sadar, kebahagiaan selalu ditempatkan di masa depan.

Masalahnya, hidup hampir tidak pernah benar-benar sempurna.

Satu masalah selesai, masalah lain muncul.

Satu tujuan tercapai, muncul tujuan berikutnya.

Satu kekhawatiran hilang, kekhawatiran lain mengambil tempat.

Jika kebahagiaan selalu menunggu kondisi sempurna, kita mungkin akan terus menunggu.

Psikologi positif banyak membahas pentingnya pengalaman positif, rasa syukur, hubungan yang bermakna, serta kemampuan untuk menikmati kehidupan sehari-hari.

Ini bukan berarti kita harus berpura-pura bahagia ketika sedang menghadapi masalah.

Bukan pula berarti semua kesulitan harus dilihat secara positif.

Namun, kita bisa belajar memberi ruang bagi hal-hal baik yang masih ada di tengah kehidupan yang tidak sempurna.

Secangkir kopi yang kita nikmati pagi ini.

Percakapan sederhana dengan orang yang kita sayangi.

Udara pagi.

Tawa kecil.

Rumah yang terasa nyaman.

Tubuh yang masih memungkinkan kita berjalan.

Waktu luang.

Hal-hal kecil seperti itu mungkin tampak biasa.

Tetapi ketika usia bertambah, kita sering menyadari bahwa kehidupan sebenarnya tersusun dari momen-momen sederhana semacam itu.

Ketenangan Tidak Selalu Berarti Tidak Memiliki Masalah

Ada satu kesalahpahaman yang perlu diluruskan.

Pikiran yang tenang bukan berarti hidup tanpa masalah.

Orang yang tenang tetap bisa sedih.

Tetap bisa kecewa.

Tetap bisa marah.

Tetap bisa takut.

Tetap bisa mengalami kehilangan.

Perbedaannya adalah mereka tidak selalu membiarkan emosi tersebut mengendalikan seluruh kehidupannya.

Ketenangan bukan ketiadaan badai.

Ketenangan adalah kemampuan untuk tetap memiliki ruang di dalam diri ketika badai datang.

Dan kemampuan itu biasanya dibangun melalui kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali.

Belajar melepaskan.

Belajar mengatakan tidak.

Belajar menerima.

Belajar memaafkan diri sendiri.

Belajar berhenti membandingkan.

Belajar menikmati hal sederhana.

Belajar meminta bantuan.

Dan belajar memahami bahwa tidak semua hal harus diselesaikan hari ini.

Pada Akhirnya, Bertambah Usia Seharusnya Membuat Kita Lebih Ringan

Ada hal-hal yang mungkin kita kejar ketika muda, tetapi tidak lagi terasa penting ketika usia bertambah.

Kita mulai memahami bahwa tidak semua perdebatan perlu dimenangkan.

Tidak semua orang perlu diyakinkan.

Tidak semua hubungan harus dipertahankan.

Tidak semua kesempatan harus diambil.

Tidak semua komentar harus dijawab.

Dan tidak semua masa lalu harus dibawa ke masa depan.

Kedewasaan bukan hanya tentang bertambahnya usia.

Kedewasaan juga tentang kemampuan memilih apa yang layak mendapatkan perhatian kita.

Sebab perhatian adalah energi.

Dan energi kita terbatas.

Karena itu, jika Anda ingin memiliki pikiran yang lebih tenang seiring bertambahnya usia, mungkin Anda tidak perlu menambahkan lebih banyak hal ke dalam hidup.

Mungkin justru Anda perlu melepaskan beberapa hal.

Lepaskan kebiasaan membandingkan diri.

Lepaskan kebutuhan untuk selalu menyenangkan semua orang.

Lepaskan keinginan mengontrol sesuatu yang memang tidak bisa dikendalikan.

Lepaskan rasa bersalah karena beristirahat.

Lepaskan kebutuhan untuk menjelaskan diri kepada semua orang.

Lepaskan masa lalu yang sudah tidak bisa diubah.

Dan yang paling penting, lepaskan keyakinan bahwa Anda harus menjadi sempurna agar layak merasa damai.

Pada akhirnya, kehidupan yang tenang bukanlah kehidupan yang paling sempurna.

Sering kali, kehidupan yang tenang adalah kehidupan ketika seseorang akhirnya tahu apa yang harus diperjuangkan, apa yang harus diterima, dan apa yang sudah waktunya dilepaskan.

Dan mungkin, semakin bertambah usia, itulah salah satu bentuk kebijaksanaan yang paling berharga.

EDITOR: Hanny Suwindari