JawaPos.com - Ada orang yang sebenarnya tidak banyak bicara, tetapi kehadirannya membuat orang lain merasa nyaman. Ada pula yang baru beberapa kali bertemu, tetapi rasanya seperti sudah mengenalnya cukup lama.
Menariknya, rasa akrab tidak selalu muncul karena seseorang memiliki kepribadian yang sangat ramah, lucu, atau pandai berbicara. Dalam psikologi sosial, kedekatan antarmanusia sering terbentuk melalui berbagai perilaku sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Cara seseorang mendengarkan, mengingat hal-hal kecil, memberikan perhatian, merespons cerita, hingga membuat orang lain merasa diterima dapat memainkan peran besar dalam membangun hubungan.
Karena itu, jika kamu ingin orang lain merasa lebih dekat dan akrab denganmu, kamu tidak harus mengubah kepribadian menjadi seseorang yang sangat ekstrovert. Kamu bisa mulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang membuat interaksi terasa aman, hangat, dan menyenangkan.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (29/8), terdapat tujuh kebiasaan yang layak dipertimbangkan.
1. Biasakan Mengingat Hal-Hal Kecil yang Pernah Diceritakan Orang Lain
Salah satu cara sederhana untuk membuat seseorang merasa dihargai adalah menunjukkan bahwa kamu benar-benar memperhatikan apa yang pernah mereka ceritakan.
Misalnya, temanmu pernah mengatakan bahwa minggu depan ia akan menghadapi presentasi penting. Beberapa hari kemudian, kamu bertanya, “Jadi bagaimana presentasimu kemarin?”
Pertanyaan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, bagi orang yang ditanya, hal itu dapat memberikan kesan yang jauh lebih besar.
Mengapa?
Karena kamu menunjukkan bahwa percakapan sebelumnya tidak begitu saja lewat dari ingatanmu.
Dalam hubungan sosial, perhatian semacam ini dapat memberikan sinyal bahwa seseorang dianggap penting. Kita cenderung merasa lebih dekat dengan orang yang menunjukkan ketertarikan terhadap kehidupan kita, bukan hanya terhadap dirinya sendiri.
Kebiasaan ini tidak berarti kamu harus mengingat setiap detail tentang semua orang. Justru, yang penting adalah memperhatikan hal-hal yang memang bermakna bagi mereka.
Nama anggota keluarga, pekerjaan yang sedang mereka jalani, hobi, rencana perjalanan, masalah yang sedang mereka hadapi, atau bahkan makanan favorit mereka bisa menjadi bagian dari percakapan berikutnya.
Misalnya:
“Bukannya kamu minggu lalu bilang mau ikut lomba lari?”
“Bagaimana kabar kucingmu sekarang?”
“Bukankah kamu sedang belajar bahasa Jepang?”
Pertanyaan seperti itu dapat membuat percakapan terasa lebih personal.
Namun, jangan menjadikannya sebagai teknik manipulasi. Tujuannya bukan agar orang lain menganggapmu hebat karena mampu mengingat banyak hal. Tujuannya adalah menunjukkan perhatian yang tulus.
Kedekatan sering kali tumbuh ketika seseorang merasa dirinya benar-benar diperhatikan.
2. Dengarkan untuk Memahami, Bukan Sekadar Menunggu Giliran Bicara
Banyak orang terlihat seperti mendengarkan, tetapi sebenarnya sedang menyiapkan respons di kepala.
Ketika lawan bicara bercerita tentang pekerjaannya, misalnya, kita mungkin langsung berpikir tentang pengalaman kita sendiri.
“Wah, aku juga pernah mengalami hal yang sama.”
Akhirnya, begitu ia selesai berbicara, kita segera mengambil alih percakapan dan menceritakan pengalaman sendiri.
Padahal, terkadang orang tidak membutuhkan cerita balasan. Mereka hanya ingin didengarkan.
Menjadi pendengar yang baik bukan berarti harus selalu memberikan solusi. Kamu bisa menunjukkan perhatian melalui respons sederhana.
“Berarti waktu itu kamu cukup tertekan, ya?”
“Jadi sebenarnya yang membuatmu kecewa adalah cara dia memperlakukanmu?”
“Aku bisa memahami kenapa kamu merasa seperti itu.”
Respons semacam ini menunjukkan bahwa kamu berusaha memahami pengalaman orang tersebut.
Dalam percakapan yang sehat, seseorang biasanya merasa lebih nyaman ketika dirinya tidak harus terus-menerus berusaha mendapatkan perhatian.
Kamu juga bisa memberikan pertanyaan lanjutan yang relevan.
Jika seseorang berkata, “Aku akhir-akhir ini sedang banyak pekerjaan,” jangan buru-buru menjawab, “Aku juga.”
Kamu bisa bertanya:
“Memangnya bagian mana yang paling bikin kamu kewalahan?”
Pertanyaan tersebut membuka ruang bagi orang lain untuk bercerita lebih jauh.
Namun, mendengarkan bukan berarti harus menginterogasi. Jika seseorang tidak ingin membahas sesuatu, hormati batasannya.
Kedekatan yang sehat bukan tentang membuat orang menceritakan semua hal kepadamu. Kedekatan justru muncul ketika seseorang merasa aman untuk berbicara tanpa takut dihakimi.
3. Biasakan Memberikan Respons yang Hangat Ketika Orang Lain Berbagi Sesuatu
Bayangkan kamu sedang bersemangat menceritakan sesuatu.
“Akhirnya aku diterima di pekerjaan yang aku inginkan!”
Lalu orang di depanmu hanya menjawab:
“Oh.”
Tentu rasanya berbeda jika dibandingkan dengan seseorang yang mengatakan:
“Serius? Wah, selamat! Kamu pasti senang banget setelah menunggu selama ini.”
Respons kedua membuat pengalaman tersebut terasa lebih berarti.
Dalam psikologi sosial, respons seseorang terhadap pengalaman pribadi kita dapat memengaruhi bagaimana kita memandang kualitas hubungan tersebut.
Ketika seseorang membagikan kabar baik, respons yang menunjukkan antusiasme dapat membuat mereka merasa bahwa kebahagiaan mereka ikut dihargai.
Hal yang sama berlaku ketika mereka membagikan pengalaman buruk.
Jika seseorang berkata:
“Aku gagal dalam ujian yang sudah kupersiapkan berbulan-bulan.”
Respons seperti:
“Ya sudah, coba lagi.”
mungkin bermaksud memberi semangat, tetapi bisa terasa terlalu cepat dan mengabaikan emosi yang sedang dirasakan.
Respons yang lebih hangat bisa berupa:
“Pasti kecewa banget, apalagi kamu sudah mempersiapkannya selama itu.”
Setelah emosi mereka diakui, barulah kamu bisa menawarkan bantuan jika memang diperlukan.
Kebiasaan ini sebenarnya sederhana: jangan terburu-buru memperbaiki perasaan orang lain.
Kadang-kadang, mereka hanya ingin pengalaman mereka diterima terlebih dahulu.
4. Jangan Takut Menunjukkan Sedikit Kerentanan
Ada anggapan bahwa agar dihormati, seseorang harus selalu terlihat kuat, percaya diri, dan tidak memiliki kelemahan.
Padahal, hubungan yang terlalu satu arah dan penuh pencitraan justru bisa membuat orang lain kesulitan merasa dekat.
Bayangkan kamu bertemu seseorang yang selalu mengatakan bahwa hidupnya baik-baik saja, pekerjaannya sempurna, semua keputusan yang dibuatnya benar, dan ia tidak pernah merasa cemas atau gagal.
Mungkin kamu akan mengaguminya.
Tetapi apakah kamu merasa dekat dengannya?
Belum tentu.
Sebaliknya, ketika seseorang berani mengatakan:
“Aku sebenarnya sempat gugup waktu pertama kali melakukan itu.”
atau
“Aku juga pernah melakukan kesalahan yang sama.”
percakapan bisa terasa lebih manusiawi.
Kerentanan tidak berarti membagikan semua masalah pribadi kepada siapa pun. Bukan pula berarti membuka rahasia kepada orang yang belum dipercaya.
Kerentanan yang sehat adalah kesediaan untuk menunjukkan sisi manusiawi secara proporsional.
Misalnya, kamu bisa mengakui bahwa kamu gugup, bingung, pernah gagal, membutuhkan bantuan, atau tidak mengetahui sesuatu.
Ketika seseorang berani menunjukkan sisi tersebut tanpa berlebihan, orang lain sering kali merasa lebih mudah berhubungan dengannya.
Mereka mungkin berpikir:
“Oh, ternyata dia juga pernah mengalami hal seperti itu.”
Dari sinilah rasa “kita sama-sama manusia” dapat muncul.
Namun, tetap perhatikan konteks dan tingkat kepercayaan. Tidak semua orang harus mengetahui bagian terdalam dari kehidupanmu.
Kedekatan bukan berarti tidak memiliki batas. Kedekatan justru membutuhkan batas yang sehat.
5. Biasakan Mengajak Orang Lain Berbicara Tentang Hal yang Mereka Sukai
Jika kamu ingin membuat percakapan terasa lebih mengalir, salah satu cara paling mudah adalah memberikan ruang bagi orang lain untuk membicarakan sesuatu yang mereka sukai.
Misalnya, kamu tahu temanmu menyukai fotografi.
Daripada hanya bertanya:
“Kerjaanmu bagaimana?”
kamu bisa bertanya:
“Kamu akhir-akhir ini masih sering hunting foto?”
Pertanyaan tersebut berpotensi membuka percakapan yang lebih hidup.
Ketika seseorang berbicara tentang sesuatu yang mereka sukai, mereka biasanya memiliki lebih banyak bahan untuk dibagikan. Mereka tidak perlu memikirkan terlalu keras apa yang harus dikatakan.
Kamu juga tidak harus memiliki minat yang sama.
Jika kamu tidak mengerti fotografi, kamu bisa bertanya:
“Apa yang membuatmu suka fotografi?”
“Bagian paling sulit dari mengambil foto menurutmu apa?”
“Kalau aku mau belajar dari nol, sebaiknya mulai dari mana?”
Rasa ingin tahu yang tulus dapat membuat percakapan menjadi jauh lebih menarik.
Namun, jangan berpura-pura menyukai sesuatu hanya agar terlihat cocok dengan orang lain.
Kamu tidak perlu memiliki hobi yang sama untuk membangun kedekatan.
Yang dibutuhkan adalah ketertarikan terhadap orangnya, bukan selalu terhadap hobinya.
Seseorang bisa merasa dekat denganmu meskipun kalian memiliki banyak perbedaan, selama ia merasa kamu menghargai apa yang penting baginya.
6. Konsisten dalam Memberikan Perhatian Kecil
Kedekatan jarang terbentuk hanya melalui satu percakapan yang sangat mengesankan.
Sering kali, hubungan berkembang melalui interaksi kecil yang terjadi berulang kali.
Menyapa ketika bertemu.
Menanyakan kabar.
Mengirim pesan ketika teringat sesuatu yang pernah mereka ceritakan.
Menawarkan bantuan ketika memang diperlukan.
Mengucapkan selamat ketika mereka mendapatkan pencapaian.
Atau sekadar mengatakan, “Hati-hati di jalan.”
Hal-hal tersebut mungkin tidak terlihat spektakuler. Tetapi jika dilakukan secara konsisten, mereka dapat membentuk kesan bahwa kamu adalah orang yang dapat diandalkan dan memiliki perhatian.
Inilah alasan mengapa hubungan tidak seharusnya dibangun dengan strategi “sekali ngobrol langsung dekat”.
Hubungan manusia biasanya membutuhkan waktu.
Kamu bisa bertemu seseorang yang sangat menyenangkan pada hari pertama, tetapi belum tentu langsung memiliki hubungan yang dekat.
Sebaliknya, seseorang yang awalnya biasa saja dapat menjadi teman dekat setelah berbulan-bulan melakukan interaksi sederhana.
Konsistensi juga penting karena manusia cenderung memperhatikan pola.
Jika hari ini kamu sangat perhatian tetapi besok menghilang tanpa alasan, lalu minggu depan kembali bersikap sangat dekat, orang lain mungkin kesulitan memahami posisi hubungan tersebut.
Kamu tidak perlu selalu tersedia.
Tetapi berusahalah menjadi seseorang yang cukup konsisten dalam sikap dan perhatian.
7. Buat Orang Lain Merasa Diterima, Bukan Terus-Menerus Dinilai
Salah satu penghambat terbesar kedekatan adalah rasa takut akan penilaian.
Orang mungkin enggan berbicara lebih banyak jika setiap pendapatnya langsung dikoreksi, setiap kesalahannya ditertawakan, atau setiap ceritanya dibandingkan dengan orang lain.
Misalnya, seseorang mengatakan:
“Aku sebenarnya ingin pindah pekerjaan, tapi aku takut mengambil keputusan yang salah.”
Respons yang membuatnya menutup diri mungkin:
“Kalau aku jadi kamu, dari dulu sudah pindah.”
Respons tersebut mungkin benar menurut sudut pandangmu, tetapi tidak selalu membantu.
Respons yang lebih terbuka:
“Berarti kamu sudah cukup lama memikirkan itu. Apa yang paling membuatmu takut?”
Dengan begitu, kamu tidak langsung memutuskan apakah pilihan orang tersebut benar atau salah.
Membuat orang merasa diterima bukan berarti kamu harus menyetujui semua yang mereka katakan.
Kamu tetap boleh berbeda pendapat.
Namun, ada perbedaan antara tidak setuju dan membuat seseorang merasa bodoh karena memiliki pendapat berbeda.
Orang cenderung lebih nyaman dengan seseorang yang mampu memberikan ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Ketika mereka tidak harus terus-menerus menjaga citra, memilih kata secara berlebihan, atau takut ditertawakan, hubungan dapat berkembang lebih natural.
Karena itu, jika kamu ingin menjadi lebih akrab dengan orang lain, coba perhatikan bagaimana perasaan mereka setelah berbicara denganmu.
Apakah mereka merasa didengar?
Apakah mereka merasa aman?
Apakah mereka merasa dihargai?
Atau justru merasa harus berhati-hati agar tidak mengatakan sesuatu yang salah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin jauh lebih penting daripada seberapa banyak kamu berbicara.
Pada Akhirnya, Orang Mengingat Bagaimana Perasaan Mereka Saat Bersamamu
Menjadi pribadi yang mudah didekati bukan berarti kamu harus selalu lucu, banyak bicara, atau mampu membuat semua orang menyukaimu.
Tidak mungkin membuat semua orang merasa dekat dengan kita.
Yang lebih realistis adalah membangun kebiasaan yang membuat interaksi sosial menjadi lebih hangat dan aman.
Kamu bisa mulai dengan mendengarkan secara sungguh-sungguh.
Mengingat hal-hal kecil.
Memberikan respons yang hangat.
Menunjukkan sedikit kerentanan.
Menaruh perhatian pada hal-hal yang penting bagi orang lain.
Menjaga konsistensi.
Dan yang tidak kalah penting, mengurangi kebiasaan menghakimi.
Semua itu mungkin terdengar sederhana.
Tetapi hubungan manusia memang sering dibangun dari hal-hal sederhana yang dilakukan berulang kali.
Satu pertanyaan kecil dapat membuat seseorang merasa diperhatikan.
Satu respons yang empatik dapat membuat seseorang merasa dipahami.
Satu ingatan terhadap cerita lama dapat membuat seseorang merasa penting.
Dan satu sikap tidak menghakimi dapat membuat seseorang merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri.
Jadi, jika kamu ingin orang lain merasa lebih akrab denganmu, mungkin kamu tidak perlu berusaha menjadi orang yang paling menarik di dalam ruangan.
Cobalah menjadi orang yang membuat orang lain merasa nyaman menjadi dirinya sendiri.
Karena pada akhirnya, kedekatan bukan hanya tentang seberapa menarik dirimu di mata orang lain.
Sering kali, kedekatan tumbuh dari satu pengalaman sederhana:
“Aku merasa nyaman ketika bersama orang ini.