JawaPos.com - Kesuksesan sering kali menjadi cara yang tidak terduga untuk mengetahui siapa yang benar-benar tulus berada di sisi kita.
Ketika hidup kita sedang sulit, banyak orang mungkin terlihat seperti teman yang baik. Mereka memberi dukungan, mendengarkan keluhan, bahkan menawarkan bantuan ketika kita sedang berada di titik terendah. Namun, ketika keadaan berubah dan kita mulai berhasil, dinamika hubungan bisa ikut berubah.
Kamu mendapatkan pekerjaan yang selama ini diimpikan. Bisnis yang kamu bangun mulai berkembang. Penghasilan meningkat. Kamu mencapai target yang bertahun-tahun kamu perjuangkan. Atau mungkin kamu hanya merasa lebih bahagia, percaya diri, dan puas dengan kehidupanmu.
Seharusnya teman sejati ikut merasa senang.
Tetapi kenyataannya, tidak semua orang mampu menerima keberhasilan orang terdekatnya dengan lapang dada.
Menurut psikologi, keberhasilan seseorang dapat memunculkan berbagai emosi pada orang lain, termasuk rasa bangga, bahagia, tetapi juga iri, terancam, tidak aman, atau merasa tertinggal. Dalam hubungan pertemanan yang sehat, emosi negatif tersebut dapat dikelola tanpa harus merusak hubungan.
Masalahnya muncul ketika seseorang mulai menunjukkan perilaku yang secara konsisten merendahkan, menyabotase, atau membuatmu merasa bersalah karena berhasil.
Bukan berarti setiap orang yang tidak langsung merayakan pencapaianmu otomatis merupakan teman yang buruk. Setiap orang mempunyai masalah, kondisi emosional, dan cara mengekspresikan diri yang berbeda.
Namun, jika pola tertentu terus berulang setiap kali kamu mengalami kemajuan, mungkin ada sesuatu yang perlu kamu perhatikan.
Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (29/8), terdapat tujuh perilaku yang patut diwaspadai.
1. Mereka Selalu Berusaha Mengecilkan Pencapaianmu
Kamu menceritakan bahwa kamu akhirnya mendapatkan promosi setelah bertahun-tahun bekerja keras.
Alih-alih mengatakan, "Selamat, kamu pantas mendapatkannya," mereka justru menjawab:
"Ah, cuma naik jabatan."
Atau:
"Kayaknya semua orang juga bisa kalau punya koneksi."
Atau bahkan:
"Jangan terlalu bangga dulu. Belum tentu bertahan lama."
Satu komentar mungkin tidak berarti banyak. Bisa saja orang tersebut sedang bercanda atau tidak pandai menunjukkan apresiasi.
Namun jika hampir setiap pencapaianmu selalu diperkecil, pola tersebut menjadi lebih penting daripada satu komentar individual.
Dalam psikologi sosial, manusia sering melakukan perbandingan sosial untuk mengevaluasi dirinya sendiri. Ketika seseorang melihat orang lain yang dianggap lebih berhasil, hal tersebut dapat memunculkan rasa tidak nyaman terhadap dirinya sendiri.
Alih-alih mengatasi rasa tidak nyaman itu dengan memperbaiki diri, sebagian orang justru mencoba menurunkan nilai pencapaian orang lain.
Dengan membuat keberhasilanmu terlihat "tidak terlalu istimewa", mereka secara tidak langsung bisa merasa lebih baik tentang dirinya sendiri.
Teman sejati tidak harus selalu memujimu secara berlebihan. Mereka bahkan boleh mengingatkanmu agar tetap rendah hati.
Tetapi ada perbedaan antara mengingatkan dan merendahkan.
Teman yang tulus bisa mengatakan:
"Selamat. Aku bangga sama kamu. Tetap jaga diri dan jangan sampai pekerjaan membuatmu terlalu lelah."
Sementara seseorang yang tidak nyaman dengan kesuksesanmu mungkin lebih sering berkata:
"Ya, jangan merasa sudah hebat."
Perbedaannya terletak pada niat dan pola perilakunya.
2. Mereka Terlihat Senang Saat Kamu Gagal, Tetapi Aneh Saat Kamu Berhasil
Pernahkah kamu memperhatikan bahwa seseorang tampak sangat antusias ketika kamu menceritakan masalah, tetapi tiba-tiba menjadi dingin ketika kamu menceritakan kabar baik?
Saat kamu gagal mendapatkan pekerjaan, mereka hadir.
Saat hubunganmu berakhir, mereka banyak bertanya.
Saat bisnismu mengalami kerugian, mereka terlihat sangat perhatian.
Tetapi ketika keadaanmu mulai membaik, mereka justru menghilang atau memberikan respons seadanya.
Ini bisa menjadi tanda adanya dinamika pertemanan yang tidak seimbang.
Dalam hubungan yang sehat, seseorang tidak hanya hadir ketika kamu berada di bawah. Mereka juga mampu menerima ketika kamu berada di atas.
Terkadang seseorang merasa lebih nyaman ketika dirinya berada dalam posisi yang lebih baik dibandingkan temannya.
Ketika kamu sedang kesulitan, mereka tidak merasa terancam.
Namun ketika kamu mulai berkembang, perbandingan sosial tersebut dapat berubah.
Kesuksesanmu mungkin mengingatkan mereka pada sesuatu yang belum mereka capai.
Dan jika mereka tidak mampu mengelola perasaan tersebut, hubungan kalian bisa berubah menjadi kompetisi tersembunyi.
Teman sejati tidak membutuhkanmu untuk gagal agar mereka merasa berharga.
Mereka tidak membutuhkanmu untuk tetap berada di tempat yang sama agar hubungan kalian terasa aman.
Mereka bisa melihatmu berkembang tanpa merasa bahwa perkembanganmu adalah ancaman terhadap dirinya.
3. Mereka Mengubah Percakapan Menjadi Kompetisi
Kamu berkata:
"Aku akhirnya bisa membeli rumah."
Mereka menjawab:
"Aku sudah punya rumah dari tahun lalu."
Kamu mengatakan:
"Aku baru saja mendapat promosi."
Mereka menjawab:
"Aku malah ditawari posisi yang lebih tinggi."
Kamu bercerita:
"Aku berhasil menurunkan berat badan dan sekarang lebih sehat."
Mereka menjawab:
"Aku dulu bisa lebih banyak."
Jika hampir setiap percakapan tentang pencapaianmu selalu berubah menjadi perlombaan, ada baiknya kamu memperhatikan dinamika tersebut.
Persahabatan seharusnya bukan kompetisi yang terus-menerus.
Memang, persaingan ringan terkadang bisa sehat. Teman dapat saling memotivasi untuk berkembang.
Tetapi kompetisi menjadi tidak sehat ketika seseorang tidak mampu membiarkanmu menikmati pencapaianmu tanpa harus membandingkannya dengan pencapaian mereka.
Dalam kondisi seperti ini, keberhasilanmu tidak dipandang sebagai sesuatu yang layak dirayakan.
Keberhasilanmu justru dianggap sebagai tantangan terhadap harga diri mereka.
Akibatnya, mereka merasa perlu segera menunjukkan bahwa mereka lebih hebat.
Ini dapat membuatmu lama-kelamaan merasa tidak nyaman membicarakan kabar baik.
Kamu mulai berpikir:
"Kalau aku cerita, nanti dia membandingkan lagi."
Dan ketika kamu sudah merasa harus menyembunyikan keberhasilan agar seseorang tetap nyaman berada di dekatmu, hubungan tersebut patut dievaluasi.
4. Mereka Membuatmu Merasa Bersalah Karena Berhasil
Ini adalah salah satu tanda yang sering kali sulit dikenali.
Kamu sukses, tetapi bukannya merasa bahagia, kamu justru dibuat merasa bersalah.
Misalnya kamu mendapatkan penghasilan lebih tinggi.
Temanmu berkata:
"Enak ya kamu sekarang. Sudah tidak seperti kami yang masih berjuang."
Atau kamu mendapatkan kesempatan bepergian:
"Sejak sukses kamu sudah berubah. Sekarang hidupmu enak."
Kalimat seperti itu tidak selalu berarti orang tersebut iri.
Mungkin mereka memang sedang mengalami kesulitan.
Namun jika rasa bersalah tersebut terus digunakan untuk mengontrolmu, itu menjadi masalah.
Kesuksesan tidak otomatis membuatmu bertanggung jawab atas perasaan tidak nyaman orang lain.
Kamu boleh berkembang.
Kamu boleh mempunyai kehidupan yang lebih baik.
Kamu boleh menikmati hasil kerja kerasmu.
Dan kamu tidak harus mengecilkan pencapaianmu hanya agar orang lain tidak merasa tertinggal.
Teman sejati mungkin mengakui bahwa hidup kalian sudah berbeda.
Tetapi mereka tidak menggunakan perbedaan tersebut untuk membuatmu malu karena mengalami kemajuan.
5. Mereka Mulai Menyindir atau Mengolok-olok Kesuksesanmu
Tidak semua penghinaan disampaikan secara langsung.
Kadang-kadang ia datang dalam bentuk humor.
"Wah, sekarang sudah jadi orang kaya."
"Jangan lupa sama kami yang miskin."
"Sudah sukses sekarang pasti sombong."
"Jangan-jangan nanti kalau makin kaya kamu tidak kenal kami."
Sekali lagi, satu candaan tidak otomatis berarti seseorang bukan teman sejati.
Dalam banyak pertemanan, saling mengejek memang merupakan bagian dari kedekatan.
Yang perlu diperhatikan adalah pola, konteks, dan bagaimana perasaanmu setelahnya.
Jika candaan tersebut selalu diarahkan pada kesuksesanmu, dilakukan berulang kali, dan terasa seperti upaya untuk mempermalukanmu, kemungkinan ada masalah yang lebih dalam.
Humor terkadang digunakan sebagai cara untuk menyampaikan emosi yang sulit diakui secara langsung.
Seseorang mungkin tidak berkata:
"Aku merasa tertinggal darimu."
Sebaliknya, ia berkata:
"Ah, sekarang kamu sudah sok kaya."
Dengan begitu, perasaan sebenarnya disembunyikan di balik lelucon.
Teman yang sehat dapat bercanda denganmu tanpa membuatmu merasa harus meminta maaf karena hidupmu berkembang.
6. Mereka Tidak Mendukung Langkahmu, Bahkan Cenderung Menyabotase
Ini adalah tanda yang jauh lebih serius.
Kamu mendapatkan peluang baru, tetapi mereka terus mengatakan bahwa peluang itu buruk tanpa alasan yang masuk akal.
Kamu ingin membangun bisnis, mereka terus mengatakan bahwa kamu pasti gagal.
Kamu ingin mengambil pendidikan tambahan, mereka mengatakan itu membuang waktu.
Kamu ingin pindah ke lingkungan yang lebih baik, mereka berusaha meyakinkanmu bahwa kamu tidak perlu berubah.
Tentu saja, teman boleh memberikan kritik.
Bahkan teman sejati seharusnya berani memberi tahu ketika mereka melihat sesuatu yang berbahaya atau tidak realistis.
Tetapi kritik yang sehat biasanya disertai alasan, kepedulian, dan keinginan agar kamu mengambil keputusan yang lebih baik.
Sabotase berbeda.
Sabotase dapat muncul dalam bentuk memberikan informasi yang sengaja disesatkan, menghambat kesempatanmu, membocorkan sesuatu yang bersifat pribadi, atau melakukan tindakan yang membuat perkembanganmu terganggu.
Mengapa seseorang melakukan hal tersebut?
Salah satu kemungkinan adalah mereka takut kehilangan hubungan atau posisi mereka dalam hidupmu.
Ketika kamu berkembang, kehidupanmu mungkin berubah.
Lingkaran sosialmu bisa berubah.
Prioritasmu bisa berubah.
Dan bagi seseorang yang sangat bergantung pada dinamika lama, perubahan tersebut dapat terasa mengancam.
Namun, rasa takut kehilanganmu bukan alasan yang membenarkan tindakan merusak.
Teman sejati mungkin takut kalian menjadi semakin jauh.
Tetapi mereka tidak sengaja menghancurkan jalan yang sedang kamu bangun.
7. Mereka Hanya Menghargaimu Ketika Kamu Membutuhkan Mereka
Ini mungkin salah satu pola paling halus.
Saat kamu sedang susah, mereka merasa penting.
Mereka menjadi orang pertama yang kamu hubungi.
Kamu membutuhkan nasihat mereka.
Kamu membutuhkan bantuan mereka.
Kamu bergantung pada mereka secara emosional.
Namun ketika hidupmu mulai stabil dan kamu menjadi lebih mandiri, mereka berubah.
Mereka merasa kamu tidak lagi membutuhkan mereka.
Kemudian muncul sikap dingin, marah, posesif, atau bahkan manipulatif.
Padahal hubungan yang sehat tidak dibangun berdasarkan kebutuhan semata.
Persahabatan bukan kontrak yang mengatakan:
"Aku akan merasa berharga selama kamu membutuhkanku."
Hubungan yang matang memungkinkan kedua orang berkembang menjadi lebih mandiri tanpa kehilangan rasa saling menghargai.
Teman sejati tidak merasa kehilangan nilai dirinya hanya karena kamu sudah mampu berdiri sendiri.
Mereka justru bangga melihatmu menjadi lebih kuat.
Mengapa Kesuksesan Bisa Mengubah Persahabatan?
Kesuksesan pada dasarnya tidak selalu mengubah karakter seseorang.
Terkadang kesuksesan hanya mengungkap dinamika yang sebelumnya tidak terlihat.
Ketika semua orang berada pada kondisi yang relatif sama, perbedaan dalam status, pendapatan, pencapaian, atau kepercayaan diri mungkin tidak terlalu terasa.
Tetapi ketika salah satu orang berkembang lebih cepat, perbedaan tersebut menjadi lebih jelas.
Psikologi sosial mengenal konsep social comparison, yaitu kecenderungan manusia membandingkan dirinya dengan orang lain.
Perbandingan ini sebenarnya normal.
Kita menggunakannya untuk memahami posisi kita, menetapkan tujuan, dan mengevaluasi perkembangan diri.
Masalah muncul ketika harga diri seseorang terlalu bergantung pada bagaimana dirinya dibandingkan dengan orang lain.
Jika seseorang hanya merasa berharga ketika dirinya berada di atas, keberhasilan temannya bisa terasa seperti ancaman.
Di sinilah kecemburuan, rasa tidak aman, dan kompetisi dapat muncul.
Namun penting untuk diingat: kecemburuan adalah emosi, bukan otomatis bukti bahwa seseorang adalah teman yang buruk.
Seseorang dapat merasa iri dan tetap memilih untuk bersikap baik.
Misalnya:
"Aku sebenarnya iri karena kamu sudah mencapai itu duluan. Tapi aku tetap bangga sama kamu."
Itu jauh lebih sehat daripada mengubah rasa iri menjadi penghinaan atau sabotase.
Yang menentukan kualitas persahabatan bukan apakah seseorang pernah merasa iri.
Yang lebih penting adalah bagaimana ia memperlakukanmu ketika perasaan itu muncul.
Jangan Terlalu Cepat Memutuskan Seseorang Hanya dari Satu Perilaku
Ada hal penting yang perlu diperhatikan.
Artikel seperti ini mudah membuat kita melihat setiap komentar negatif sebagai bukti bahwa seseorang tidak tulus.
Padahal hubungan manusia jauh lebih kompleks.
Seseorang mungkin tidak memberikan respons yang kita harapkan karena sedang menghadapi masalah pribadi.
Seseorang mungkin terlihat dingin karena sedang lelah.
Seseorang mungkin bercanda tanpa menyadari bahwa candaan tersebut menyakitkan.
Seseorang mungkin memberikan kritik karena benar-benar peduli.
Karena itu, jangan menilai persahabatan hanya berdasarkan satu kejadian.
Perhatikan pola yang berulang.
Tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah mereka konsisten meremehkan pencapaianku?
Apakah mereka sering membandingkan diri denganku?
Apakah aku merasa bersalah ketika membagikan kabar baik?
Apakah mereka mendukungku ketika aku berkembang?
Apakah kritik mereka bertujuan membantuku atau menjatuhkanku?
Apakah mereka menghormati batasanku?
Apakah aku merasa aman menjadi diriku sendiri di dekat mereka?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali lebih bermakna daripada satu komentar atau satu percakapan.
Teman Sejati Tidak Harus Selalu Setuju denganmu
Menariknya, teman sejati bukan berarti seseorang yang selalu mengatakan hal-hal yang ingin kamu dengar.
Teman sejati mungkin berkata:
"Kamu yakin keputusan ini sudah dipikirkan matang-matang?"
Atau:
"Aku mendukungmu, tapi aku khawatir kamu terlalu memaksakan diri."
Atau:
"Aku tahu kamu ingin sukses, tetapi jangan sampai kamu kehilangan kesehatan dan orang-orang yang kamu sayangi."
Ini bukan tanda iri.
Justru bisa menjadi bentuk kepedulian.
Perbedaannya terletak pada cara menyampaikannya.
Orang yang benar-benar peduli ingin melihatmu berhasil tanpa kehilangan dirimu sendiri.
Sementara orang yang tidak nyaman dengan kesuksesanmu mungkin lebih fokus pada bagaimana caranya membuat keberhasilanmu terasa kecil.
Bagaimana Seharusnya Kamu Merespons?
Jika kamu mulai melihat pola-pola seperti di atas, tidak selalu perlu langsung memutuskan hubungan.
Langkah pertama adalah mengamati.
Kemudian, jika hubungan tersebut penting bagimu, cobalah berbicara secara terbuka.
Kamu bisa mengatakan:
"Aku merasa setiap kali aku cerita tentang sesuatu yang membuatku bahagia, responsmu sering membuatku merasa seperti tidak pantas merasa senang."
Perhatikan respons mereka.
Apakah mereka mencoba memahami?
Apakah mereka meminta maaf?
Apakah mereka menjelaskan sesuatu yang sebelumnya tidak kamu ketahui?
Atau justru mereka menyerangmu, membalikkan keadaan, dan mengatakan bahwa semuanya hanya ada di kepalamu?
Respons seseorang ketika diberi masukan sering kali lebih informatif daripada perilaku awalnya.
Orang yang sehat secara emosional masih mungkin melakukan kesalahan.
Tetapi mereka biasanya memiliki kemampuan untuk merefleksikan perilakunya.
Kamu Tidak Harus Mengecilkan Dirimu Agar Orang Lain Nyaman
Salah satu pelajaran terbesar dalam hubungan adalah bahwa pertumbuhanmu tidak harus menjadi ancaman bagi orang lain.
Kamu tidak perlu berpura-pura gagal.
Kamu tidak perlu menyembunyikan kabar baik.
Kamu tidak perlu merasa bersalah karena bekerja keras dan mendapatkan hasil.
Dan kamu tidak perlu terus berada di tempat yang sama hanya karena takut meninggalkan seseorang.
Tentu saja, kesuksesan juga membutuhkan kerendahan hati.
Tidak semua keberhasilan harus diumumkan.
Tidak semua pencapaian harus dibagikan kepada semua orang.
Tetapi rendah hati berbeda dengan mengecilkan diri.
Rendah hati berarti kamu tahu bahwa keberhasilanmu bukan alasan untuk merendahkan orang lain.
Mengecilkan diri berarti kamu merasa harus menyembunyikan cahaya sendiri agar orang lain tidak merasa tidak nyaman.
Itu dua hal yang berbeda.
Pada Akhirnya, Perhatikan Siapa yang Bahagia Melihatmu Bertumbuh
Kesuksesan bukan hanya tentang uang, jabatan, popularitas, atau pencapaian.
Kesuksesan juga bisa berarti kamu menjadi lebih sehat, lebih percaya diri, lebih mandiri, lebih bahagia, atau akhirnya berani meninggalkan sesuatu yang tidak baik untukmu.
Dan orang-orang di sekitarmu akan menunjukkan bagaimana perasaan mereka terhadap perubahan itu.
Ada yang berkata:
"Aku bangga melihatmu berkembang."
Ada yang berkata:
"Aku tahu kamu sudah bekerja keras untuk ini."
Ada yang mungkin tidak banyak bicara, tetapi tetap hadir dan mendukungmu.
Dan ada pula yang tiba-tiba merasa perlu mengecilkanmu.
Perhatikan perbedaannya.
Teman sejati bukan orang yang selalu bertepuk tangan paling keras.
Teman sejati adalah orang yang tidak merasa perlu memadamkan cahayamu agar cahayanya sendiri terlihat lebih terang.
Mereka dapat melihatmu maju tanpa merasa harus tertinggal.
Mereka dapat mengakui keberhasilanmu tanpa menganggapnya sebagai kekalahan mereka.
Mereka dapat tetap menjadi temanmu meskipun kehidupan kalian mulai berjalan ke arah yang berbeda.
Karena pada akhirnya, persahabatan yang sehat bukan tentang siapa yang lebih sukses.
Bukan tentang siapa yang lebih kaya.
Bukan tentang siapa yang lebih dulu mencapai tujuan.
Persahabatan yang sehat adalah tentang kemampuan dua orang untuk saling menghargai, bahkan ketika kehidupan masing-masing tidak lagi berada pada level yang sama.
Jadi, jika kamu sedang mengalami kemajuan dalam hidup, jangan hanya perhatikan siapa yang datang ketika kamu membutuhkan bantuan.
Perhatikan juga siapa yang tetap tulus ketika kamu mulai berhasil.
Sebab terkadang, cara seseorang merespons kesuksesanmu justru mengungkapkan lebih banyak tentang hubungan kalian daripada cara mereka merespons kegagalanmu.
Dan mungkin, salah satu bentuk kedewasaan terbesar adalah menyadari bahwa tidak semua orang yang berjalan bersamamu di masa lalu harus ikut berjalan bersamamu menuju masa depan.