← Beranda
Ingin Orang Lain Merasa Nyaman Berada di Dekat Anda? Tinggalkan 8 Kebiasaan Percakapan Ini
Irfan FerdiansyahJumat, 4 September 2026 | 06.27 WIB
seseorang yang membuat orang lain merasa nyaman./Magnific/nampix

JawaPos.com - Pernahkah Anda bertemu seseorang yang baru dikenal, tetapi dalam waktu singkat Anda merasa begitu nyaman berbicara dengannya?

Tidak ada percakapan yang terasa dipaksakan. Anda tidak takut salah bicara. Anda tidak merasa sedang dihakimi. Bahkan ketika suasana sempat hening, Anda tetap merasa tenang.

Sebaliknya, mungkin Anda juga pernah mengalami kebalikannya.

Ada orang yang sebenarnya ramah, pintar, bahkan berniat baik, tetapi setelah berbicara dengannya selama beberapa menit, Anda merasa lelah. Entah mengapa, Anda menjadi lebih berhati-hati dalam memilih kata. Anda merasa harus menjelaskan diri sendiri. Atau Anda merasa percakapan tersebut lebih banyak tentang dirinya daripada tentang hubungan antara kalian.

Menariknya, membuat orang lain merasa nyaman dalam percakapan bukan hanya soal memiliki kepribadian yang menyenangkan.

Sering kali, kenyamanan justru muncul dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang tidak kita lakukan.

Dalam psikologi sosial, kualitas interaksi banyak dipengaruhi oleh bagaimana seseorang membuat lawan bicaranya merasa didengar, dihargai, aman, dan diterima. Karena itu, jika Anda ingin menjadi seseorang yang menyenangkan untuk diajak berbicara, mungkin Anda tidak perlu belajar menjadi lebih banyak bicara.

Anda justru perlu belajar mengurangi beberapa kebiasaan percakapan tertentu.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (29/8), terdapat delapan kebiasaan yang sebaiknya Anda tinggalkan jika ingin orang lain merasa lebih nyaman berada di dekat Anda.

1. Berhenti Mengubah Setiap Percakapan Menjadi Cerita Tentang Diri Anda

Salah satu kebiasaan yang sering terjadi tanpa disadari adalah selalu menghubungkan cerita orang lain dengan pengalaman pribadi kita.

Seseorang berkata:

“Aku sedang sangat stres dengan pekerjaan akhir-akhir ini.”

Lalu kita menjawab:

“Aku juga pernah mengalami hal yang sama. Bahkan dulu pekerjaanku jauh lebih berat…”

Kemudian percakapan perlahan berubah menjadi cerita tentang kita.

Sebenarnya, menceritakan pengalaman pribadi bukan sesuatu yang buruk. Dalam situasi tertentu, berbagi pengalaman memang dapat menciptakan kedekatan.

Masalah muncul ketika setiap cerita orang lain selalu menjadi pintu untuk membicarakan diri sendiri.

Orang yang sedang bercerita mungkin sebenarnya tidak sedang mencari solusi atau perbandingan. Mereka mungkin hanya ingin didengarkan.

Coba lakukan sesuatu yang sederhana: ketika seseorang selesai bercerita, jangan langsung mencari pengalaman Anda yang mirip.

Ajukan satu pertanyaan lanjutan.

“Bagian mana yang paling membuatmu stres?”

“Atau sekarang kamu merasa lebih baik?”

“Menurutmu, apa yang ingin kamu lakukan selanjutnya?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini menunjukkan bahwa perhatian Anda masih berada pada mereka.

Dan perasaan “aku benar-benar didengarkan” adalah salah satu hal yang membuat seseorang merasa aman dalam sebuah percakapan.

2. Jangan Terlalu Cepat Memberikan Nasihat yang Tidak Diminta

Ada perbedaan besar antara mendengarkan seseorang dan segera memperbaiki masalahnya.

Ketika seseorang berkata bahwa hidupnya sedang sulit, respons pertama kita sering kali berupa nasihat.

“Kalau aku jadi kamu…”

“Kamu seharusnya…”

“Coba lakukan ini…”

“Kenapa tidak kamu…”

Niatnya mungkin baik.

Kita ingin membantu. Kita ingin menunjukkan bahwa kita peduli. Kita ingin membuat masalah tersebut segera selesai.

Namun, tidak semua orang yang bercerita sedang meminta solusi.

Kadang seseorang hanya membutuhkan ruang untuk mengeluarkan apa yang selama ini dipendam.

Memberikan nasihat terlalu cepat bahkan dapat membuat lawan bicara merasa bahwa emosinya tidak benar-benar didengarkan.

Sebelum memberikan solusi, Anda bisa bertanya:

“Kamu ingin aku dengarkan saja, atau kamu ingin pendapatku?”

Pertanyaan sederhana ini memiliki dampak besar.

Anda memberikan kendali kepada lawan bicara.

Jika mereka ingin didengarkan, dengarkan.

Jika mereka meminta pendapat, barulah berikan.

Dan ketika memberikan nasihat, hindari posisi seolah-olah Anda memiliki semua jawaban.

Alih-alih mengatakan:

“Kamu harus melakukan ini.”

Cobalah:

“Kalau melihat situasinya, mungkin salah satu pilihan yang bisa kamu pertimbangkan adalah…”

Perbedaan kecil dalam bahasa dapat membuat percakapan terasa jauh lebih aman.

3. Tinggalkan Kebiasaan Memotong Pembicaraan

Tidak ada yang suka merasa bahwa kalimatnya belum selesai tetapi sudah dipotong.

Namun, banyak orang melakukannya bukan karena tidak menghargai lawan bicara.

Mereka mungkin terlalu bersemangat.

Mereka takut lupa dengan sesuatu yang ingin disampaikan.

Mereka merasa sudah tahu arah pembicaraan.

Atau otak mereka bekerja lebih cepat daripada ritme percakapan.

Apa pun alasannya, kebiasaan memotong pembicaraan dapat mengirimkan pesan yang tidak menyenangkan:

“Apa yang ingin kamu katakan tidak sepenting apa yang ingin aku katakan.”

Jika dilakukan terus-menerus, orang lain akhirnya bisa berhenti berbicara secara terbuka.

Mereka mungkin mulai berpikir:

“Percuma cerita, toh aku akan dipotong.”

Karena itu, latihan sederhana yang bisa dilakukan adalah memberi jeda satu atau dua detik setelah seseorang selesai berbicara.

Jangan langsung merespons.

Biarkan ada sedikit keheningan.

Keheningan tidak selalu berarti percakapan gagal.

Kadang keheningan justru memberi seseorang kesempatan untuk menyusun pikirannya dan melanjutkan sesuatu yang lebih dalam.

Orang yang nyaman diajak bicara sering kali bukan orang yang selalu memiliki respons tercepat.

Mereka adalah orang yang memberi ruang bagi orang lain untuk selesai berbicara.

4. Jangan Menjadikan Percakapan Sebagai Kompetisi

Kebiasaan ini sangat halus.

Seseorang berkata:

“Aku baru saja mendapatkan promosi.”

Kita menjawab:

“Wah, bagus. Aku dulu malah pernah mendapat jabatan yang lebih tinggi.”

Seseorang berkata:

“Aku baru membeli mobil.”

Kita menjawab:

“Oh, aku juga pernah punya mobil seperti itu.”

Seseorang bercerita bahwa ia sedang menghadapi masalah.

Kita membalas dengan masalah yang menurut kita lebih berat.

Tanpa sadar, percakapan berubah menjadi kompetisi.

Siapa yang lebih sukses?

Siapa yang lebih sibuk?

Siapa yang lebih menderita?

Siapa yang memiliki pengalaman lebih menarik?

Dalam hubungan sosial yang sehat, kita tidak harus selalu menjadi tokoh utama.

Ketika seseorang membagikan kabar baik, Anda tidak perlu mengunggulinya.

Cukup ikut merasa senang.

“Wah, selamat. Kamu pasti bangga.”

Ketika seseorang bercerita tentang kesulitannya, Anda tidak perlu membuktikan bahwa hidup Anda lebih sulit.

Cukup katakan:

“Pasti tidak mudah melewati itu.”

Respons sederhana seperti ini membuat orang lain merasa pengalaman mereka memiliki tempat.

Dan justru karena Anda tidak berusaha mengalahkan mereka, mereka akan merasa lebih nyaman berada di dekat Anda.

5. Kurangi Kebiasaan Menghakimi Terlalu Cepat

Manusia secara alami membuat penilaian.

Kita melihat seseorang melakukan sesuatu, kemudian otak kita mencoba mencari penjelasan.

“Kenapa dia melakukan itu?”

“Dia kok begitu?”

“Kalau aku jadi dia, aku tidak akan pernah melakukan itu.”

Masalahnya, kita sering membuat kesimpulan berdasarkan informasi yang sangat terbatas.

Seseorang terlambat membalas pesan, lalu kita menganggap dia tidak peduli.

Seseorang tidak banyak berbicara, lalu kita menganggap dia sombong.

Seseorang mengambil keputusan yang berbeda, lalu kita menganggap dia tidak masuk akal.

Padahal, kita tidak mengetahui seluruh cerita di balik perilakunya.

Dalam percakapan, kebiasaan menghakimi juga dapat membuat orang lain berhati-hati.

Mereka mulai menyaring cerita.

Mereka tidak lagi berani mengatakan apa yang sebenarnya mereka pikirkan.

Jika Anda ingin menjadi orang yang membuat orang lain merasa nyaman, cobalah mengganti penilaian dengan rasa ingin tahu.

Alih-alih:

“Kok kamu bisa mengambil keputusan seperti itu?”

Cobalah:

“Apa yang membuatmu memilih keputusan itu?”

Alih-alih:

“Kamu terlalu sensitif.”

Cobalah:

“Bagian mana yang paling mengganggumu?”

Perbedaannya sangat besar.

Kalimat pertama menutup percakapan.

Kalimat kedua membukanya.

6. Jangan Selalu Berusaha Menunjukkan Bahwa Anda Benar

Ada orang yang sulit melepaskan sebuah perdebatan.

Bukan karena topiknya sangat penting, tetapi karena mereka merasa harus membuktikan bahwa mereka benar.

Jika lawan bicara mengatakan sesuatu yang berbeda, mereka langsung mencari bantahan.

Jika ada informasi yang salah, mereka segera mengoreksi.

Jika seseorang memiliki pendapat berbeda, mereka merasa perlu menjelaskan mengapa pendapat tersebut keliru.

Tentu saja, ada situasi ketika koreksi memang diperlukan.

Namun, tidak semua perbedaan pendapat membutuhkan kemenangan.

Dalam hubungan sosial, kebutuhan untuk selalu benar bisa membuat percakapan terasa seperti ujian.

Lawan bicara mulai merasa:

“Aku harus hati-hati bicara dengannya.”

Dan ketika seseorang harus terlalu berhati-hati, kenyamanan perlahan menghilang.

Belajarlah membedakan antara kebenaran yang penting dan ego yang ingin menang.

Anda bisa mengatakan:

“Menarik. Aku melihatnya sedikit berbeda.”

Atau:

“Mungkin kita punya sudut pandang yang berbeda.”

Tidak semua percakapan harus berakhir dengan satu orang menang dan satu orang kalah.

Kadang tujuan percakapan hanyalah memahami bagaimana orang lain melihat dunia.

7. Tinggalkan Kebiasaan Menggunakan Ponsel Saat Orang Sedang Berbicara

Ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.

Bayangkan Anda sedang bercerita kepada seseorang.

Orang tersebut mengangguk sambil sesekali melihat ponselnya.

Anda berbicara, tetapi matanya berpindah ke layar.

Anda berhenti sejenak, lalu dia berkata:

“Maaf, tadi kamu bilang apa?”

Apa yang Anda rasakan?

Kemungkinan besar Anda merasa tidak terlalu penting.

Perhatian adalah salah satu bentuk penghargaan paling sederhana dalam hubungan manusia.

Anda tidak selalu harus memberikan nasihat yang sempurna.

Anda tidak harus mengatakan sesuatu yang sangat cerdas.

Kadang cukup dengan benar-benar hadir.

Letakkan ponsel.

Lihat lawan bicara.

Dengarkan tanpa sibuk menyiapkan respons berikutnya.

Berikan tanda-tanda kecil bahwa Anda mengikuti percakapan.

“Hmm.”

“Lalu?”

“Serius?”

“Terus bagaimana?”

Hal-hal sederhana ini memberi sinyal bahwa Anda hadir secara mental, bukan sekadar secara fisik.

Dan seseorang akan jauh lebih nyaman bercerita kepada orang yang benar-benar hadir.

8. Jangan Memaksa Percakapan Ketika Orang Lain Tidak Ingin Terbuka

Ini adalah salah satu kebiasaan yang sering dianggap sebagai bentuk kepedulian.

Kita melihat seseorang diam dan bertanya:

“Kamu kenapa?”

Mereka menjawab:

“Tidak apa-apa.”

Kita bertanya lagi.

“Serius?”

“Ada masalah, ya?”

“Cerita saja.”

“Kamu bisa percaya sama aku.”

Mungkin niat kita tulus.

Tetapi ada saatnya seseorang memang belum siap berbicara.

Kenyamanan dalam sebuah hubungan tidak hanya berarti seseorang merasa bebas untuk berbicara.

Kenyamanan juga berarti mereka merasa bebas untuk tidak berbicara.

Jika seseorang mengatakan bahwa mereka belum ingin membahas sesuatu, hormati batas tersebut.

Anda bisa mengatakan:

“Tidak apa-apa. Kalau suatu saat kamu ingin cerita, aku ada.”

Kalimat ini jauh lebih menenangkan daripada terus mendesak.

Ironisnya, ketika seseorang tahu bahwa Anda tidak akan memaksa, mereka justru mungkin lebih mudah terbuka kepada Anda di kemudian hari.

Kepercayaan tumbuh ketika seseorang tahu bahwa batas pribadinya akan dihormati.

Pada Akhirnya, Orang Tidak Selalu Mengingat Apa yang Anda Katakan

Ada satu hal penting yang sering kita lupakan dalam hubungan sosial.

Orang mungkin lupa kata-kata persis yang Anda ucapkan.

Mereka mungkin lupa bagaimana Anda menjelaskan sesuatu.

Mereka bahkan mungkin lupa topik percakapan kalian.

Tetapi mereka sering mengingat bagaimana perasaan mereka ketika bersama Anda.

Apakah mereka merasa didengarkan?

Apakah mereka merasa dihargai?

Apakah mereka merasa aman untuk menjadi diri sendiri?

Apakah mereka merasa harus terus membuktikan sesuatu kepada Anda?

Atau justru mereka bisa menarik napas lega dan berpikir:

“Aku bisa menjadi diriku sendiri ketika bersamanya.”

Itulah jenis kenyamanan yang tidak bisa dibuat-buat.

Dan menariknya, untuk menciptakannya Anda tidak perlu menjadi orang paling lucu, paling pintar, atau paling menarik di dalam ruangan.

Anda hanya perlu belajar mengurangi beberapa kebiasaan yang membuat orang lain merasa tidak terlihat.

Jangan selalu mengambil alih percakapan.

Jangan selalu memberikan solusi.

Jangan memotong.

Jangan menjadikan percakapan sebagai kompetisi.

Jangan cepat menghakimi.

Jangan terobsesi untuk selalu benar.

Jangan terus-menerus melihat ponsel ketika seseorang berbicara.

Dan jangan memaksa seseorang membuka diri ketika mereka belum siap.

Sebaliknya, belajarlah menjadi pendengar yang baik.

Berikan ruang.

Ajukan pertanyaan dengan tulus.

Hormati batas.

Dan hadir sepenuhnya ketika seseorang sedang berbicara dengan Anda.

Karena pada akhirnya, menjadi orang yang nyaman untuk didekati bukan tentang memiliki kemampuan berbicara yang luar biasa.

Ini tentang membuat orang lain merasa bahwa mereka tidak perlu memakai topeng ketika berada di dekat Anda.

Dan mungkin, itulah salah satu bentuk kecerdasan sosial yang paling berharga.

EDITOR: Hanny Suwindari