JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa tubuh jauh lebih lelah daripada usia sebenarnya?
Bangun tidur tetapi rasanya belum benar-benar beristirahat. Pikiran terus memikirkan pekerjaan, hubungan, masa depan, uang, keluarga, atau berbagai kemungkinan buruk yang bahkan belum tentu terjadi.
Menariknya, stres tidak hanya memengaruhi pikiran.
Ketika stres berlangsung terus-menerus, tubuh juga ikut berada dalam kondisi siaga. Jantung, otot, sistem kekebalan, hormon, pola tidur, hingga kebiasaan sehari-hari dapat ikut berubah.
Karena itulah, seseorang mungkin merasa bahwa hidupnya berjalan seperti biasa, tetapi tubuhnya perlahan membayar harga dari tekanan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Dalam psikologi, kemampuan mengelola stres bukan berarti membuat hidup bebas masalah. Masalah akan selalu ada. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang merespons tekanan, memulihkan diri setelah mengalami tekanan, dan tidak membiarkan stres menjadi keadaan permanen.
Ada alasan mengapa orang yang mampu menjaga ketenangan, memiliki hubungan sosial yang sehat, tidur cukup, dan mampu menerima hal-hal yang tidak bisa dikendalikan sering terlihat lebih segar dan lebih sehat.
Bukan karena mereka tidak pernah mengalami masalah.
Mereka hanya tidak membiarkan setiap masalah tinggal terlalu lama di dalam pikiran dan tubuh.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (2/9), jika kamu ingin mengurangi dampak stres sekaligus mendukung proses penuaan yang lebih sehat, enam kebiasaan psikologis berikut layak mulai diperhatikan.
1. Berhenti mencoba mengendalikan sesuatu yang memang berada di luar kendalimu
Salah satu sumber stres terbesar bukan selalu masalahnya.
Kadang-kadang, yang membuat kita kelelahan adalah usaha tanpa henti untuk mengendalikan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa kita kendalikan.
Kita ingin orang lain memahami kita.
Kita ingin semua orang menyukai kita.
Kita ingin masa depan berjalan sesuai rencana.
Kita ingin keputusan yang sudah kita ambil tidak pernah salah.
Kita ingin tidak pernah mengalami kegagalan.
Masalahnya, kehidupan tidak bekerja seperti itu.
Semakin keras seseorang berusaha mengendalikan hal-hal yang berada di luar kendalinya, semakin besar kemungkinan ia mengalami frustrasi.
Psikologi membedakan antara hal-hal yang berada dalam kendali kita dan hal-hal yang berada di luar kendali kita.
Kamu mungkin tidak bisa mengendalikan pendapat orang lain.
Tetapi kamu bisa mengendalikan bagaimana kamu merespons pendapat tersebut.
Kamu tidak bisa mengendalikan apakah seseorang akan mengecewakanmu.
Tetapi kamu bisa menentukan batasan yang kamu miliki.
Kamu tidak bisa menjamin masa depan akan berjalan sesuai rencana.
Tetapi kamu bisa mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang ada.
Perubahan perspektif sederhana ini dapat mengurangi beban mental.
Daripada terus bertanya:
“Bagaimana caranya agar semuanya berjalan sesuai keinginanku?”
Cobalah bertanya:
“Apa yang masih bisa aku lakukan dari situasi ini?”
Pertanyaan kedua membuat pikiran kembali memiliki ruang untuk bertindak.
Dan ketika pikiran tidak lagi menghabiskan seluruh energinya untuk melawan kenyataan, tubuh juga mendapatkan kesempatan untuk keluar dari kondisi siaga terus-menerus.
Belajar menerima bukan berarti menyerah.
Menerima berarti mengakui kenyataan sebagaimana adanya sebelum menentukan langkah berikutnya.
2. Jangan membawa semua masalah ke tempat tidur
Banyak orang secara fisik berada di tempat tidur, tetapi secara mental masih berada di kantor.
Tubuh sudah berbaring.
Namun pikiran masih bekerja.
Memikirkan percakapan yang terjadi siang tadi.
Menganalisis pesan seseorang.
Mengkhawatirkan pekerjaan besok.
Mengingat kesalahan beberapa tahun lalu.
Membayangkan kemungkinan buruk yang belum terjadi.
Akibatnya, waktu tidur berubah menjadi waktu untuk berpikir.
Padahal tidur merupakan salah satu fondasi penting bagi pemulihan tubuh dan kesehatan psikologis.
Ketika seseorang mengalami stres kronis, kualitas tidur dapat terganggu. Sebaliknya, kurang tidur juga dapat membuat seseorang lebih mudah mengalami stres.
Terbentuklah sebuah lingkaran:
stres → tidur terganggu → tubuh dan pikiran tidak pulih → lebih mudah stres → tidur semakin terganggu.
Karena itu, salah satu kebiasaan yang dapat membantu adalah membuat batas antara “waktu menghadapi masalah” dan “waktu beristirahat”.
Jika ada sesuatu yang terus berputar di kepala sebelum tidur, tuliskan.
Bukan untuk menyelesaikan semuanya malam itu.
Tuliskan agar otak tidak perlu terus mengingatnya.
Kamu bisa membuat daftar sederhana:
Apa yang sedang menggangguku?
Apa yang bisa kulakukan besok?
Apa yang tidak bisa kuselesaikan malam ini?
Apa satu langkah kecil yang bisa dilakukan?
Setelah itu, katakan kepada diri sendiri:
“Masalah ini tidak harus selesai malam ini.”
Kalimat sederhana seperti itu dapat menjadi pengingat psikologis bahwa tubuhmu sedang memasuki waktu pemulihan.
Dan kamu berhak beristirahat meskipun hidupmu belum sempurna.
3. Belajar menenangkan tubuh, bukan hanya meyakinkan pikiran
Ketika stres, kita sering mencoba menyelesaikannya hanya dengan berpikir.
“Kamu harus tenang.”
“Jangan terlalu dipikirkan.”
“Semua akan baik-baik saja.”
Tetapi tubuh tidak selalu langsung mengikuti logika tersebut.
Saat menghadapi tekanan, tubuh dapat masuk ke keadaan waspada. Napas menjadi lebih cepat, otot menegang, detak jantung meningkat, dan perhatian menjadi lebih fokus pada ancaman.
Karena itu, mengelola stres juga perlu melibatkan tubuh.
Salah satu cara sederhana adalah latihan pernapasan yang lambat dan nyaman.
Misalnya, tarik napas secara perlahan, kemudian hembuskan dengan lebih panjang. Jangan memaksakan napas atau membuat diri pusing.
Tujuannya bukan melakukan teknik yang sempurna.
Tujuannya memberikan sinyal kepada tubuh bahwa kamu sedang berada di tempat yang relatif aman dan tidak perlu terus-menerus bersiap menghadapi ancaman.
Selain pernapasan, aktivitas fisik ringan, berjalan kaki, peregangan, relaksasi otot, dan mindfulness juga dapat menjadi bagian dari strategi mengelola stres.
Ingat satu hal:
pikiran dan tubuh saling memengaruhi.
Ketika pikiran sedang kacau, tubuh dapat ikut tegang.
Tetapi ketika tubuh mulai tenang, pikiran juga sering kali menjadi lebih mudah diatur.
Karena itu, jangan hanya bertanya:
“Apa yang harus kupikirkan agar tidak stres?”
Cobalah juga bertanya:
“Apa yang bisa kulakukan agar tubuhku merasa lebih tenang?”
4. Kurangi kebiasaan memikirkan masa lalu dan masa depan secara berlebihan
Ada perbedaan antara refleksi dan overthinking.
Refleksi membantu kita belajar dari pengalaman.
Overthinking membuat kita mengulang pengalaman yang sama tanpa menemukan jalan keluar.
Refleksi bertanya:
“Apa yang bisa kupelajari dari kejadian ini?”
Overthinking bertanya berulang kali:
“Kenapa aku melakukan itu?”
“Seandainya waktu itu aku memilih berbeda, bagaimana?”
“Bagaimana kalau nanti semuanya gagal?”
“Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi?”
Pikiran semacam ini sering membuat seseorang hidup dalam dua tempat yang tidak bisa ia ubah:
masa lalu dan masa depan.
Padahal tubuh kita selalu berada di saat ini.
Salah satu keterampilan psikologis yang penting adalah mengembalikan perhatian pada apa yang sedang terjadi sekarang.
Ketika sedang makan, makanlah.
Ketika sedang berjalan, perhatikan langkahmu.
Ketika berbicara dengan seseorang, benar-benar dengarkan.
Ketika beristirahat, izinkan dirimu beristirahat.
Ini terdengar sederhana.
Namun kemampuan untuk hadir di saat ini merupakan keterampilan yang perlu dilatih.
Kamu tidak harus menyelesaikan seluruh masa depan hari ini.
Dan kamu tidak harus mengulang seluruh masa lalu untuk mendapatkan izin melanjutkan hidup.
Ada hal-hal yang memang perlu dipelajari dari masa lalu.
Tetapi setelah pelajarannya diambil, kamu juga perlu memberikan izin kepada dirimu untuk berjalan maju.
5. Bangun hubungan sosial yang membuatmu merasa aman, bukan terus-menerus tertekan
Manusia bukan makhluk yang dirancang untuk menghadapi semuanya sendirian.
Dukungan sosial memiliki hubungan penting dengan kesehatan psikologis.
Ketika seseorang memiliki orang yang dapat dipercaya, ia tidak harus memikul semua beban seorang diri.
Namun hubungan sosial bukan sekadar memiliki banyak teman atau banyak pengikut di media sosial.
Yang lebih penting adalah kualitas hubungan tersebut.
Apakah kamu memiliki seseorang yang bisa diajak berbicara tanpa takut dihakimi?
Apakah kamu bisa menjadi dirimu sendiri tanpa harus terus-menerus berpura-pura?
Apakah hubunganmu memberikan rasa aman?
Atau justru membuatmu terus merasa harus membuktikan diri?
Tidak semua hubungan harus dipertahankan dengan cara yang sama.
Kadang-kadang, menjaga kesehatan mental berarti belajar membuat batasan.
Kamu boleh mengatakan tidak.
Kamu boleh tidak selalu tersedia.
Kamu boleh mengambil jarak dari percakapan yang melelahkan.
Kamu boleh memilih lingkungan yang membuatmu merasa dihargai.
Dan kamu juga boleh meminta bantuan ketika beban terasa terlalu berat.
Menjaga hubungan sosial yang sehat bukan berarti menghindari semua konflik.
Hubungan yang sehat tetap memiliki perbedaan pendapat.
Bedanya, konflik tidak membuat seseorang kehilangan rasa aman, harga diri, dan identitas dirinya.
Pada akhirnya, kualitas hubungan yang kita miliki dapat memengaruhi bagaimana kita mengalami kehidupan sehari-hari.
Terkadang, salah satu bentuk perawatan diri terbaik bukan membeli sesuatu yang baru.
Melainkan menghabiskan waktu bersama orang yang membuat kita merasa menjadi manusia, bukan sekadar mesin yang harus terus produktif.
6. Berhenti mengukur nilai dirimu dari seberapa banyak yang bisa kamu lakukan
Ini mungkin salah satu sumber stres yang paling sering tidak disadari.
Kita hidup dalam budaya yang sering mengagungkan kesibukan.
Semakin sibuk, semakin dianggap penting.
Semakin banyak pekerjaan, semakin merasa produktif.
Semakin sedikit waktu untuk diri sendiri, semakin merasa sedang berjuang.
Akibatnya, sebagian orang mulai percaya bahwa nilai dirinya ditentukan oleh produktivitas.
“Aku berharga kalau aku berhasil.”
“Aku pantas beristirahat kalau semua pekerjaan selesai.”
“Aku boleh merasa bangga kalau sudah mencapai sesuatu.”
Masalahnya, pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai.
Akan selalu ada target baru.
Akan selalu ada sesuatu yang harus diperbaiki.
Akan selalu ada orang yang lebih cepat.
Jika harga diri dibangun sepenuhnya dari pencapaian, seseorang dapat masuk ke dalam perlombaan tanpa garis akhir.
Karena itu, penting untuk membedakan antara nilai diri dan produktivitas.
Kamu boleh memiliki ambisi.
Kamu boleh bekerja keras.
Kamu boleh mengejar kesuksesan.
Tetapi kamu juga membutuhkan waktu untuk menjadi manusia yang tidak sedang mengejar apa pun.
Istirahat bukan bukti bahwa kamu malas.
Berhenti sejenak bukan berarti kamu kalah.
Tidur bukan membuang waktu.
Menghabiskan waktu dengan keluarga bukan gangguan dari karier.
Berjalan santai bukan sesuatu yang harus selalu menghasilkan uang.
Ada aktivitas yang memang tidak menghasilkan pencapaian apa pun, tetapi tetap memiliki nilai karena membuat hidup terasa lebih hidup.
Dan mungkin justru di situlah kita sering lupa.
Kita begitu sibuk membangun masa depan sampai lupa menjaga tubuh yang akan tinggal di dalam masa depan tersebut.
Pada akhirnya, memperlambat penuaan bukan hanya tentang penampilan
Ketika mendengar istilah “memperlambat penuaan”, banyak orang langsung memikirkan kulit, rambut, wajah, atau berbagai produk perawatan.
Padahal penuaan adalah proses biologis yang jauh lebih kompleks.
Kita tidak bisa menghentikan waktu.
Kita juga tidak bisa menghilangkan seluruh stres dari kehidupan.
Namun kita dapat membangun pola hidup dan pola pikir yang mendukung kesehatan dalam jangka panjang.
Mengelola stres adalah salah satunya.
Tidur dengan cukup.
Bergerak secara teratur.
Menjaga hubungan sosial.
Mengonsumsi makanan yang bergizi.
Tidak menjadikan pekerjaan sebagai satu-satunya identitas.
Belajar menerima hal-hal yang tidak bisa dikendalikan.
Dan memberikan tubuh kesempatan untuk pulih.
Semua itu bukan sekadar usaha agar terlihat lebih muda.
Lebih penting lagi, semuanya membantu kita memiliki kemungkinan lebih besar untuk menjalani kehidupan dengan tubuh dan pikiran yang lebih sehat.
Jadi, jika akhir-akhir ini kamu merasa cepat lelah, mudah marah, sulit tidur, atau pikiran tidak pernah benar-benar berhenti, mungkin yang kamu butuhkan bukan sekadar “menjadi lebih kuat”.
Mungkin kamu perlu belajar berhenti sejenak.
Tidak semua masalah harus diselesaikan hari ini.
Tidak semua orang harus menyukaimu.
Tidak semua hal harus berada dalam kendalimu.
Tidak semua target harus dicapai secepat mungkin.
Dan tidak setiap hari harus menjadi hari yang produktif.
Terkadang, bentuk kedewasaan yang sebenarnya adalah mengetahui kapan harus berusaha dan kapan harus melepaskan.
Karena hidup yang sehat bukan kehidupan tanpa tekanan.
Hidup yang sehat adalah kehidupan di mana kamu tahu bagaimana kembali pulih setelah menghadapi tekanan.
Dan mungkin, salah satu hadiah terbaik yang bisa kamu berikan kepada dirimu sendiri hari ini adalah berhenti memperlakukan tubuh dan pikiranmu seperti sesuatu yang harus terus bekerja tanpa istirahat.
Kamu tidak harus berlari sepanjang waktu.
Sesekali, berjalanlah perlahan.
Nikmati napasmu.
Nikmati orang-orang yang kamu cintai.
Dan izinkan dirimu hidup tanpa harus selalu mengejar sesuatu.