JawaPos.com - Pernahkah kamu merasa bahwa dirimu berubah ketika sedang bersama pasangan?
Bukan sekadar menyesuaikan diri karena ingin menghargai pasangan, tetapi seperti perlahan-lahan kehilangan bentuk dirimu sendiri.
Ketika pasangan suka sesuatu, kamu ikut menyukainya. Ketika pasangan tidak menyukai sesuatu, kamu tiba-tiba merasa tidak menyukainya juga. Ketika pasangan sedang marah, kamu buru-buru mengubah sikap agar suasana kembali tenang. Bahkan dalam mengambil keputusan sederhana, kamu mungkin lebih sering bertanya, “Menurut kamu bagaimana?” daripada mendengarkan apa yang sebenarnya kamu inginkan.
Pada awalnya, semua itu mungkin terlihat seperti bentuk perhatian.
Kamu mungkin berkata kepada diri sendiri:
"Aku memang orangnya fleksibel."
"Aku hanya tidak ingin memperbesar masalah."
"Aku ingin menjaga hubungan ini."
"Aku memang lebih suka mengalah."
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (2/9), dalam psikologi, kemampuan menyesuaikan diri dengan pasangan tidak selalu berarti sesuatu yang sehat. Ada perbedaan antara adaptasi yang sehat dan mengubah diri secara terus-menerus demi mempertahankan penerimaan atau menghindari konflik.
Dalam artikel ini, istilah “bunglon dalam hubungan” digunakan sebagai gambaran untuk seseorang yang terlalu sering mengubah perilaku, pendapat, kebutuhan, bahkan identitas dirinya agar sesuai dengan pasangan atau keadaan emosional hubungan.
Menjadi “bunglon” bukan diagnosis psikologis. Ini adalah metafora untuk pola perilaku tertentu.
Dan yang menarik, sering kali orang yang melakukan hal ini tidak menyadarinya.
Mereka hanya merasa sedang menjadi pasangan yang baik.
Padahal, semakin lama seseorang terus-menerus menyesuaikan dirinya, semakin sulit ia membedakan antara:
“Ini memang aku.”
dan
“Ini adalah versi diriku yang dibutuhkan agar aku tetap diterima.”
Lalu, apa saja tandanya?
1. Kamu Sering Mengubah Pendapat Hanya Agar Tidak Terjadi Konflik
Coba ingat percakapan terakhir dengan pasangan.
Apakah kamu benar-benar mengatakan apa yang kamu pikirkan?
Atau kamu sebenarnya mempunyai pendapat berbeda, tetapi memilih mengatakan:
"Iya, terserah kamu."
"Aku ikut kamu saja."
"Ya sudah, kamu benar."
Padahal jauh di dalam hati, kamu tidak sepenuhnya setuju.
Sesekali mengalah tentu merupakan bagian normal dari sebuah hubungan. Tidak semua perbedaan harus menjadi perdebatan. Hubungan yang sehat bahkan membutuhkan kompromi.
Namun, masalah muncul ketika mengalah menjadi respons otomatis setiap kali ada perbedaan.
Kamu tidak lagi bertanya:
"Apa yang sebenarnya aku pikirkan?"
Kamu justru bertanya:
"Apa jawaban yang paling aman supaya dia tidak marah?"
Ini adalah perbedaan yang sangat besar.
Orang yang terlalu menjadi “bunglon” biasanya sangat peka terhadap reaksi pasangannya. Mereka memperhatikan nada suara, ekspresi wajah, perubahan suasana hati, bahkan pilihan kata pasangan.
Begitu menyadari bahwa pendapatnya berpotensi menimbulkan konflik, ia langsung menyesuaikan diri.
Lama-kelamaan, kemampuan untuk menyampaikan pendapat sendiri bisa melemah.
Bukan karena dia tidak memiliki pendapat.
Tetapi karena dia terbiasa menyensor dirinya sendiri.
Dan yang lebih berbahaya, setelah bertahun-tahun melakukan hal ini, seseorang bisa mulai benar-benar tidak yakin dengan apa yang ia pikirkan.
Ia terbiasa mengikuti.
Bukan memilih.
2. Kepribadianmu Terasa Berubah Tergantung Siapa yang Sedang Bersamamu
Apakah kamu merasa menjadi orang yang berbeda ketika bersama pasangan?
Mungkin ketika bersama teman-teman, kamu sangat spontan, banyak bercanda, dan bebas mengungkapkan pendapat.
Tetapi ketika bersama pasangan, kamu menjadi jauh lebih pendiam dan berhati-hati.
Atau mungkin sebaliknya.
Kamu sebenarnya orang yang menyukai kesederhanaan, tetapi karena pasangan sangat ambisius, kamu mulai memaksakan diri mengikuti gaya hidupnya.
Kamu mulai menyukai musik yang ia sukai.
Mengikuti hobinya.
Mengubah cara berpakaian.
Mengubah cara berbicara.
Mengubah cara bersosialisasi.
Sekali lagi, perubahan seperti ini tidak otomatis buruk.
Hubungan memang dapat memengaruhi seseorang. Kita belajar hal baru dari pasangan. Kita mencoba makanan baru, mendengarkan musik baru, mengunjungi tempat baru, bahkan menemukan sisi diri yang sebelumnya tidak pernah kita kenal.
Itu normal.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah perubahan tersebut terasa seperti pilihan atau kewajiban.
Jika kamu bisa berkata:
"Aku mencoba ini karena aku memang tertarik."
itu berbeda dengan:
"Aku harus menjadi seperti ini supaya dia menyukaiku."
Perbedaan tersebut terletak pada kebebasan.
Orang yang sehat secara emosional masih bisa mengatakan:
"Aku berbeda darimu, dan itu tidak masalah."
Sementara “bunglon” mungkin merasa:
"Kalau aku berbeda darinya, mungkin dia akan meninggalkanku."
3. Kamu Sangat Takut Membuat Pasangan Kecewa
Salah satu tanda yang cukup kuat adalah ketika perasaan pasangan terasa jauh lebih penting daripada perasaanmu sendiri.
Sebelum melakukan sesuatu, kamu memikirkan:
"Dia akan kecewa tidak?"
"Dia akan marah tidak?"
"Dia akan menganggap aku egois tidak?"
"Dia akan berubah kepadaku tidak?"
Akibatnya, kamu mulai membuat keputusan bukan berdasarkan nilai, kebutuhan, dan keinginanmu, tetapi berdasarkan kemungkinan reaksi pasangan.
Kamu ingin mengambil waktu untuk diri sendiri, tetapi merasa bersalah.
Kamu ingin mengatakan tidak, tetapi takut dianggap tidak peduli.
Kamu ingin bertemu teman, tetapi khawatir pasangan tersinggung.
Kamu ingin menyampaikan sesuatu yang mengganggu pikiranmu, tetapi akhirnya memilih diam.
Pada titik tertentu, hubungan tidak lagi hanya menjadi tempat untuk berbagi kehidupan.
Hubungan berubah menjadi ruang tempat kamu terus-menerus mengelola emosi pasangan.
Kamu merasa bertanggung jawab atas suasana hatinya.
Jika dia sedih, kamu merasa harus memperbaikinya.
Jika dia marah, kamu merasa harus meminta maaf.
Jika dia kecewa, kamu merasa telah melakukan sesuatu yang salah.
Padahal, dalam hubungan yang sehat, seseorang boleh peduli terhadap perasaan pasangannya tanpa merasa bertanggung jawab atas setiap emosi yang muncul.
Pasanganmu boleh kecewa.
Kamu juga boleh berkata tidak.
Pasanganmu boleh memiliki pendapat berbeda.
Dan kamu juga boleh mempertahankan pendapatmu.
4. Kamu Sulit Mengatakan “Tidak”
Kata “tidak” mungkin terlihat sederhana.
Tetapi bagi sebagian orang, kata itu terasa sangat menakutkan.
Kamu mungkin berkata iya meskipun sebenarnya ingin berkata tidak.
Bukan karena kamu setuju.
Tetapi karena kamu takut dengan apa yang akan terjadi setelahnya.
"Kalau aku menolak, dia mungkin marah."
"Kalau aku tidak ikut, dia mungkin merasa tidak dicintai."
"Kalau aku tidak membantu, dia mungkin menganggap aku egois."
Akhirnya, kamu mengatakan iya.
Sekali.
Dua kali.
Puluhan kali.
Dan perlahan, pasangan terbiasa mendapatkan persetujuan darimu.
Sementara kamu terbiasa mengabaikan kebutuhanmu sendiri.
Kemampuan mengatakan “tidak” sebenarnya berkaitan erat dengan batasan pribadi.
Batasan bukan berarti tidak mencintai.
Batasan justru membantu seseorang tetap memiliki identitas dan ruang pribadi di dalam hubungan.
Hubungan yang sehat bukan hubungan di mana dua orang selalu berkata iya satu sama lain.
Hubungan yang sehat adalah hubungan di mana dua orang bisa berkata:
"Aku mencintaimu, tetapi aku tidak bisa melakukan itu."
Dan hubungan tersebut tetap aman.
5. Kamu Terlalu Cepat Menyesuaikan Suasana Hati Pasangan
Bayangkan pasanganmu pulang dengan wajah murung.
Sebelum dia mengatakan apa pun, kamu langsung berubah.
Kamu menjadi lebih hati-hati.
Berbicara lebih pelan.
Menghindari topik tertentu.
Mencoba membuatnya tersenyum.
Mungkin kamu bahkan merasa cemas hanya karena melihat ekspresinya.
Jika pasangan bahagia, kamu merasa aman.
Jika pasangan marah, kamu merasa panik.
Jika pasangan diam, kamu langsung berpikir ada sesuatu yang salah.
Seolah-olah sistem emosimu mengikuti sistem emosinya.
Inilah salah satu bentuk “bunglon” yang sering tidak terlihat.
Kamu bukan hanya menyesuaikan perilaku.
Kamu menyesuaikan keadaan emosionalmu.
Pasangan sedih → kamu ikut tenggelam.
Pasangan marah → kamu menjadi takut.
Pasangan bahagia → kamu baru merasa tenang.
Tentu, empati adalah bagian penting dari hubungan.
Tetapi empati berbeda dengan kehilangan kestabilan emosional karena suasana hati orang lain.
Kamu bisa memahami bahwa pasangan sedang marah tanpa harus langsung menyimpulkan:
"Aku pasti melakukan kesalahan."
Kamu bisa memahami bahwa pasangan sedang sedih tanpa merasa:
"Aku harus menyelamatkannya."
Kemampuan untuk tetap terhubung dengan emosi pasangan sambil tetap memiliki pusat emosional sendiri merupakan bagian penting dari kedewasaan emosional.
6. Kamu Mulai Tidak Tahu Apa yang Sebenarnya Kamu Inginkan
Ini mungkin merupakan tanda yang paling dalam.
Jika seseorang terlalu lama menjadi “bunglon”, suatu hari ia bisa berhenti bertanya:
“Apa yang aku mau?”
Karena selama ini pertanyaan yang lebih sering muncul adalah:
“Apa yang dia mau?”
Kamu ingin pergi ke mana?
"Terserah dia."
Kamu ingin makan apa?
"Apa saja."
Kamu ingin menghabiskan akhir pekan bagaimana?
"Ikut dia saja."
Kamu ingin tinggal di mana?
"Yang penting dia nyaman."
Pada awalnya, sikap seperti ini bisa terlihat sebagai fleksibilitas.
Tetapi jika terjadi terus-menerus, kamu perlahan kehilangan kontak dengan preferensimu sendiri.
Kamu mungkin bahkan merasa bingung ketika seseorang bertanya:
"Sebenarnya kamu sendiri maunya apa?"
Tidak ada jawaban yang muncul.
Bukan karena kamu tidak punya keinginan.
Mungkin karena terlalu lama kamu menempatkan keinginanmu di urutan terakhir.
Dan ketika seseorang terus-menerus menekan kebutuhannya sendiri, rasa tidak puas dapat muncul secara perlahan.
Awalnya berupa lelah.
Kemudian menjadi frustrasi.
Kemudian menjadi kesal.
Dan akhirnya mungkin muncul pertanyaan:
"Kenapa aku merasa tidak bahagia padahal hubungan ini terlihat baik-baik saja?"
Jawabannya bisa jadi karena hubungan tersebut memiliki pasanganmu di dalamnya.
Tetapi tidak cukup memiliki dirimu di dalamnya.
7. Kamu Merasa Harus Menjadi “Versi Terbaik” agar Layak Dicintai
Ini adalah tanda yang paling penting untuk direnungkan.
Apakah kamu merasa bahwa cinta pasangan bergantung pada seberapa baik kamu memenuhi ekspektasinya?
Jika kamu melakukan semuanya dengan benar, kamu merasa aman.
Jika kamu melakukan kesalahan, kamu merasa cinta itu terancam.
Akhirnya, hubungan berubah menjadi semacam ujian.
Kamu terus berusaha menjadi versi dirimu yang paling menyenangkan.
Tidak terlalu banyak meminta.
Tidak terlalu sensitif.
Tidak terlalu mandiri.
Tidak terlalu dekat dengan orang lain.
Tidak terlalu berbeda.
Tidak terlalu banyak mengeluh.
Tidak terlalu membutuhkan.
Tidak terlalu menuntut.
Kamu mengedit dirimu sendiri.
Sedikit demi sedikit.
Sampai akhirnya pasangan mungkin mencintai versi dirimu yang telah kamu bangun untuknya.
Tetapi di dalam hati, ada bagian dari dirimu yang bertanya:
"Kalau suatu hari aku berhenti berpura-pura, apakah dia masih akan mencintaiku?"
Pertanyaan tersebut penting.
Karena cinta yang sehat seharusnya tidak mengharuskan seseorang menghapus dirinya sendiri.
Hubungan yang sehat memberikan ruang untuk bertumbuh, bukan memaksa seseorang menjadi karakter yang terus-menerus menyenangkan orang lain.
Mengapa Seseorang Bisa Menjadi “Bunglon” dalam Hubungan?
Pola seperti ini biasanya tidak muncul begitu saja.
Ada banyak kemungkinan yang dapat berperan.
Salah satunya adalah pengalaman masa lalu.
Seseorang yang terbiasa berada dalam lingkungan di mana konflik terasa mengancam mungkin belajar bahwa cara paling aman untuk mempertahankan hubungan adalah dengan menyesuaikan diri.
"Jangan membuat orang marah."
"Jangan terlalu banyak meminta."
"Ikuti saja."
"Jangan membuat masalah."
Pola tersebut bisa terbawa hingga dewasa.
Ada pula orang yang memiliki ketakutan kuat terhadap penolakan atau kehilangan hubungan. Ketika hubungan terasa sangat penting, mereka mungkin menjadi sangat sensitif terhadap tanda-tanda ketidaksetujuan.
Kemudian ada pula yang memang memiliki kecenderungan sangat tinggi untuk menyenangkan orang lain.
Mereka mendapatkan rasa berharga dari menjadi orang yang dibutuhkan.
Masalahnya, ketika kebutuhan untuk menyenangkan orang lain menjadi terlalu kuat, seseorang bisa mulai mengorbankan dirinya sendiri.
Menyesuaikan Diri Tidak Sama dengan Kehilangan Diri
Ini bagian yang sangat penting.
Jangan langsung menyimpulkan bahwa setiap kompromi dalam hubungan adalah tanda menjadi “bunglon”.
Semua hubungan membutuhkan penyesuaian.
Kamu belajar kebiasaan pasangan.
Pasangan belajar kebiasaanmu.
Kalian membuat kompromi.
Kalian mengubah beberapa kebiasaan.
Kalian menemukan jalan tengah.
Itu sehat.
Yang menjadi masalah adalah ketika penyesuaian tersebut berlangsung satu arah dan mengorbankan identitasmu.
Ada perbedaan antara:
“Aku memilih berkompromi karena hubungan ini penting bagiku.”
dan:
“Aku harus mengubah diriku karena kalau tidak, aku takut dia pergi.”
Yang pertama adalah pilihan.
Yang kedua lebih dekat dengan rasa takut.
Dan hubungan yang dibangun terutama di atas rasa takut dapat membuat seseorang perlahan kehilangan kebebasannya.
Bagaimana Cara Berhenti Menjadi “Bunglon”?
Perubahan tidak harus dilakukan secara dramatis.
Justru, langkah kecil sering kali lebih realistis.
Mulailah dengan mengenali kembali preferensimu.
Tanyakan kepada diri sendiri:
"Apa yang sebenarnya aku suka?"
"Apa yang sebenarnya tidak aku suka?"
"Apa yang ingin aku lakukan kalau tidak perlu memikirkan penilaian pasangan?"
"Pendapat mana yang benar-benar milikku?"
"Kapan terakhir kali aku mengatakan tidak tanpa merasa bersalah?"
Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini dapat membantu seseorang kembali terhubung dengan dirinya sendiri.
Kemudian, belajar mengungkapkan perbedaan kecil.
Tidak harus langsung membicarakan konflik terbesar dalam hubungan.
Mulai dari hal sederhana.
"Aku sebenarnya lebih suka yang ini."
"Kali ini aku ingin menghabiskan waktu sendiri."
"Aku punya pandangan yang berbeda tentang hal itu."
"Aku tidak nyaman melakukan itu."
Awalnya mungkin terasa sangat tidak nyaman.
Itu wajar.
Jika selama bertahun-tahun kamu terbiasa menyesuaikan diri, menjadi jujur mungkin terasa seperti melakukan sesuatu yang salah.
Padahal, bisa jadi kamu hanya sedang belajar sesuatu yang baru:
menjadi dirimu sendiri tanpa meminta izin untuk eksis.
Hubungan Sehat Tidak Membutuhkanmu untuk Menghilang
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah:
“Apakah aku terlalu menyesuaikan diri?”
Tetapi:
“Apakah aku masih mengenali diriku sendiri di dalam hubungan ini?”
Apakah kamu masih mempunyai pendapat?
Masih mempunyai teman?
Masih mempunyai hobi?
Masih mempunyai batasan?
Masih bisa mengatakan tidak?
Masih bisa berbeda?
Masih bisa mengungkapkan ketidaksetujuan tanpa takut kehilangan cinta?
Jika jawabannya ya, kemungkinan besar kamu masih memiliki ruang untuk menjadi dirimu sendiri.
Tetapi jika kamu menyadari bahwa hampir seluruh keputusanmu dibuat berdasarkan bagaimana pasangan akan merespons, mungkin sudah waktunya berhenti sejenak.
Bukan untuk langsung menyalahkan pasangan.
Bukan pula untuk langsung mengakhiri hubungan.
Tetapi untuk melihat dirimu sendiri.
Karena terkadang masalah terbesar bukan bahwa kita terlalu mencintai seseorang.
Masalahnya adalah kita mulai berpikir bahwa untuk dicintai, kita harus berhenti menjadi diri sendiri.
Padahal hubungan yang sehat seharusnya tidak membuatmu terus bertanya:
"Bagaimana aku harus berubah agar dia tetap mencintaiku?"
Hubungan yang sehat lebih memungkinkanmu untuk mengatakan:
“Inilah aku. Aku masih ingin bertumbuh, masih mau belajar, dan masih mau berkompromi. Tetapi aku tidak perlu menghilangkan diriku sendiri agar pantas dicintai.”
Dan mungkin, itulah titik ketika seseorang berhenti menjadi bunglon.
Bukan ketika ia berhenti beradaptasi.
Tetapi ketika ia akhirnya tahu:
mana bagian dirinya yang boleh berubah, dan mana bagian dirinya yang tidak perlu hilang demi siapa pun.