JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa kewalahan karena si kecil terus berbicara dari bangun tidur hingga menjelang tidur? Baru selesai menjawab satu pertanyaan, muncul pertanyaan berikutnya. Belum selesai bercerita tentang sekolah, ia sudah berpindah ke cerita tentang teman, mainan, hewan, makanan, atau sesuatu yang tiba-tiba terlintas di kepalanya.
Bagi orang tua, menghadapi anak yang bicara tanpa henti terkadang melelahkan. Apalagi ketika percakapan berlangsung saat kita sedang bekerja, memasak, mengemudi, atau membutuhkan waktu sejenak untuk beristirahat.
Namun, dari sudut pandang psikologi perkembangan, anak yang banyak bicara tidak selalu berarti sedang mencari perhatian atau sengaja membuat orang tua kewalahan. Berbicara merupakan salah satu cara anak memahami dunia, membangun hubungan, mengekspresikan emosi, dan mengembangkan kemampuan berpikir.
Karena itu, respons orang tua dapat menjadi bagian penting dalam membantu anak belajar berkomunikasi dengan sehat sekaligus memahami kapan waktunya berbicara dan kapan waktunya mendengarkan.
Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (2/9), terdapat tujuh hal yang dapat dilakukan ketika si kecil bicara tanpa henti.
1. Jangan buru-buru mematikan percakapannya
Hal pertama yang dapat dilakukan adalah menahan keinginan untuk langsung berkata, “Sudah, diam dulu,” atau “Kamu cerewet sekali.”
Memang, ketika anak terus berbicara, respons seperti itu mungkin terasa sebagai jalan tercepat untuk mendapatkan ketenangan. Akan tetapi, jika terlalu sering dilakukan, anak dapat menangkap pesan bahwa terlalu banyak berbicara adalah sesuatu yang salah.
Padahal, bagi anak, berbicara sering kali merupakan bagian dari proses belajar.
Anak mungkin sedang mencoba memahami sesuatu yang baru saja dialaminya. Ia juga mungkin sedang belajar menyusun urutan cerita, mencari kata yang tepat, mengungkapkan perasaan, atau sekadar menikmati interaksi dengan orang yang ia percaya.
Daripada langsung menghentikannya, orang tua dapat menunjukkan bahwa cerita anak didengar.
Misalnya:
“Wah, kamu punya banyak cerita hari ini.”
“Sebentar, Mama dengarkan sampai selesai.”
“Ayah penasaran, setelah itu apa yang terjadi?”
Respons sederhana seperti ini memberikan pengalaman penting bagi anak: saya didengarkan dan cerita saya berharga.
Bukan berarti orang tua harus selalu tersedia untuk mendengarkan selama berjam-jam. Yang penting adalah menghindari membuat anak merasa bahwa dirinya mengganggu hanya karena ia memiliki banyak hal untuk dikatakan.
2. Cari tahu kebutuhan di balik kebiasaan banyak bicara
Anak berbicara terus-menerus karena berbagai alasan. Karena itu, jangan langsung menganggap semua perilaku banyak bicara memiliki penyebab yang sama.
Pada satu situasi, anak mungkin sedang sangat bersemangat. Pada situasi lain, ia mungkin sedang mencari perhatian. Ada pula anak yang berbicara banyak karena merasa cemas, kesepian, bosan, atau membutuhkan bantuan untuk memproses pengalaman tertentu.
Cobalah memperhatikan kapan anak paling banyak berbicara.
Apakah ia terus bercerita ketika orang tua baru pulang bekerja?
Apakah ia lebih banyak berbicara menjelang tidur?
Apakah ia menjadi sangat cerewet ketika berada di tempat baru?
Apakah ia terus bertanya ketika menghadapi sesuatu yang belum dipahami?
Pola tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai kebutuhan anak.
Misalnya, anak yang seharian berada di sekolah mungkin baru memiliki kesempatan untuk menceritakan berbagai pengalaman ketika orang tuanya pulang. Dalam kondisi tersebut, banyak bicara bisa menjadi cara anak membangun kembali kedekatan dengan orang tua.
Daripada hanya melihat perilakunya sebagai “cerewet”, orang tua dapat bertanya:
“Sepertinya hari ini kamu punya banyak sekali yang ingin diceritakan. Ada sesuatu yang paling ingin kamu ceritakan ke Mama?”
Pertanyaan tersebut membantu anak memilih hal yang paling penting baginya.
3. Berikan waktu khusus untuk bercerita
Salah satu strategi yang cukup membantu adalah membuat waktu khusus untuk berbicara.
Anak tidak harus mendapatkan perhatian penuh setiap saat. Namun, memiliki waktu yang dapat diprediksi ketika orang tua benar-benar mendengarkan dapat membuat kebutuhan komunikasinya lebih terakomodasi.
Misalnya, orang tua dapat menyediakan 15–20 menit setelah makan malam untuk mengobrol.
Pada waktu tersebut, letakkan ponsel, kurangi gangguan, dan biarkan anak bercerita.
Anda dapat membuatnya menjadi kebiasaan sederhana:
“Setelah makan malam, kita punya waktu cerita. Kamu boleh ceritakan apa saja yang terjadi hari ini.”
Bagi anak, rutinitas seperti ini dapat memberikan rasa aman. Ia tahu bahwa ada waktu ketika orang tua akan mendengarkan.
Menariknya, ketika kebutuhan untuk terhubung sudah terpenuhi, sebagian anak menjadi lebih mudah menerima ketika orang tua mengatakan bahwa sekarang waktunya melakukan aktivitas lain.
Contohnya:
“Cerita kamu seru sekali. Sekarang waktu ceritanya sudah selesai. Mama mau menyelesaikan pekerjaan dulu. Nanti kita lanjut lagi setelah mandi, ya.”
Ini berbeda dengan mengabaikan anak. Orang tua tetap mengakui kebutuhannya, tetapi sekaligus mengajarkan batas.
4. Ajarkan bahwa percakapan memiliki aturan dua arah
Anak perlu belajar bahwa komunikasi bukan hanya tentang berbicara, tetapi juga tentang mendengarkan.
Kemampuan menunggu giliran, memperhatikan lawan bicara, dan tidak memotong pembicaraan merupakan keterampilan sosial yang berkembang secara bertahap.
Karena itu, ketika anak terus berbicara, orang tua dapat mengajarkan konsep “giliran”.
Misalnya:
“Sekarang giliran kamu cerita. Setelah kamu selesai, giliran Ayah.”
Atau:
“Dengar dulu cerita Kakak, setelah itu kamu boleh cerita.”
Orang tua juga dapat menggunakan permainan sederhana untuk melatih kemampuan tersebut. Misalnya, ketika makan bersama, setiap orang mendapatkan kesempatan berbicara selama beberapa menit.
Dengan cara ini, anak tidak hanya diberi tahu bahwa ia harus diam, tetapi memahami mengapa orang perlu bergantian dalam percakapan.
Orang tua juga perlu memberikan contoh. Jika kita meminta anak mendengarkan, tetapi sering memotong perkataannya, anak akan mendapatkan pesan yang bertentangan.
Anak belajar banyak melalui pengamatan.
Jadi, salah satu cara terbaik mengajarkan kemampuan mendengarkan adalah dengan menunjukkan bagaimana menjadi pendengar yang baik.
5. Gunakan batasan yang jelas, tetapi tetap hangat
Menghargai kebutuhan anak untuk berbicara bukan berarti orang tua harus selalu melayani percakapan kapan pun anak menginginkannya.
Orang tua juga memiliki pekerjaan, kebutuhan pribadi, dan batas energi.
Karena itu, batasan tetap diperlukan.
Bedanya, batasan dapat disampaikan dengan tegas tanpa mempermalukan anak.
Misalnya, daripada berkata:
“Kamu cerewet banget. Diam!”
Cobalah:
“Mama ingin mendengarkan ceritamu, tetapi sekarang Mama sedang bekerja. Kamu boleh simpan ceritanya dulu. Setelah Mama selesai, kita bicara.”
Atau:
“Sekarang waktunya Ayah istirahat sebentar. Setelah Ayah selesai istirahat, kamu boleh cerita lagi.”
Kalimat tersebut mengajarkan dua hal sekaligus.
Pertama, cerita anak tetap dihargai.
Kedua, kebutuhan orang lain juga perlu dihargai.
Inilah salah satu pelajaran sosial yang penting bagi perkembangan anak: orang lain memiliki batas, sama seperti dirinya.
Jika anak terus berbicara meskipun batas sudah disampaikan, orang tua dapat mengulang pesan secara konsisten tanpa memperpanjang perdebatan.
“Dengar, Mama tahu kamu ingin cerita. Sekarang Mama belum bisa mendengarkan. Kita lanjut nanti.”
Konsistensi biasanya lebih efektif daripada kemarahan yang berubah-ubah.
6. Bantu anak mengenali kapan dan kepada siapa ia perlu berbicara
Seiring bertambahnya usia, anak perlu memahami bahwa setiap situasi memiliki aturan komunikasi yang berbeda.
Berbicara keras dan panjang mungkin cocok ketika sedang bermain di rumah. Namun, berbicara dengan volume tinggi atau terus-menerus memotong orang lain mungkin tidak sesuai ketika berada di kelas, perpustakaan, tempat ibadah, atau saat orang lain sedang berbicara.
Daripada hanya mengatakan “jangan banyak bicara”, orang tua dapat mengajarkan anak membaca situasi.
Misalnya:
“Kalau guru sedang menjelaskan, apa yang sebaiknya kita lakukan?”
“Kalau teman sedang cerita, kapan giliran kita bicara?”
“Kalau kita berada di tempat yang tenang, bagaimana suara kita?”
Pertanyaan seperti ini membantu anak berpikir tentang konteks sosial.
Orang tua juga dapat memperkenalkan konsep sederhana seperti:
Waktu bicara.
Waktu mendengarkan.
Waktu menunggu.
Waktu tenang.
Dengan demikian, tujuan orang tua bukan mengubah anak yang banyak bicara menjadi anak yang pendiam. Tujuannya adalah membantu anak memiliki kemampuan mengatur perilaku sesuai situasi.
7. Perhatikan jika kebiasaan tersebut disertai kesulitan lain
Banyak bicara pada anak pada dasarnya dapat menjadi bagian normal dari perkembangan, terutama ketika anak sedang aktif mengeksplorasi lingkungan dan mengembangkan kemampuan bahasa.
Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan keseluruhan pola perilaku anak.
Misalnya, apakah anak sangat sulit menunggu giliran dalam hampir semua situasi? Apakah ia sering menyela pembicaraan dan tampak kesulitan mengendalikan dorongan untuk berbicara? Apakah kebiasaan tersebut menimbulkan masalah yang cukup besar di rumah maupun sekolah?
Perhatikan juga apakah ada kesulitan lain yang muncul bersamaan, seperti masalah konsentrasi, impulsivitas, kesulitan mengikuti instruksi, atau gangguan yang nyata dalam aktivitas sehari-hari.
Hal yang penting adalah jangan mendiagnosis anak hanya berdasarkan satu perilaku.
Anak yang banyak bicara belum tentu memiliki gangguan tertentu. Kepribadian, usia, lingkungan, kemampuan bahasa, temperamen, dan berbagai faktor lainnya dapat memengaruhi cara anak berkomunikasi.
Jika orang tua merasa perilaku anak sangat mengganggu fungsi sehari-hari atau muncul bersama berbagai kesulitan lainnya, konsultasi dengan psikolog anak atau profesional kesehatan yang sesuai dapat membantu memberikan penilaian yang lebih menyeluruh.
Jangan buru-buru menyebut anak “cerewet”
Pada akhirnya, menghadapi anak yang bicara tanpa henti membutuhkan keseimbangan.
Orang tua tidak perlu membiarkan anak berbicara tanpa batas, tetapi juga tidak perlu membuat anak merasa bahwa suaranya adalah masalah.
Anak perlu belajar bahwa:
“Aku boleh berbicara.”
Sekaligus:
“Aku juga perlu belajar mendengarkan.”
Keduanya sama-sama penting.
Alih-alih berusaha membuat anak menjadi lebih pendiam, orang tua dapat membantu anak mengembangkan keterampilan komunikasi yang sehat. Ajarkan kapan waktunya berbicara, kapan waktunya mendengarkan, bagaimana menunggu giliran, bagaimana menghormati batas orang lain, dan bagaimana mengungkapkan kebutuhan dengan tepat.
Dan yang tidak kalah penting, sesekali nikmatilah cerita panjang mereka.
Karena bagi orang tua, pertanyaan tentang mengapa langit berwarna biru, cerita tentang teman di sekolah, kisah mainan yang “punya perasaan”, atau pengalaman kecil yang menurut orang dewasa tampak sepele mungkin justru merupakan cara anak berkata:
“Aku ingin berbagi duniaku denganmu.”
Mungkin suatu hari nanti, ketika mereka tumbuh besar, percakapan panjang itu justru menjadi salah satu hal yang paling dirindukan.