← Beranda
Ingin Menyelamatkan Hubungan yang Sudah di Ujung Tanduk, Lakukan 8 Cara Ini
Irfan FerdiansyahKamis, 3 September 2026 | 06.44 WIB
seseorang yang menyelamatkan hubungan./Magnific/The Yuri Arcurs Collection

JawaPos.com - Ada hubungan yang tidak berakhir karena sudah tidak ada cinta.

Kadang, hubungan berakhir karena dua orang yang sebenarnya masih saling mencintai sudah terlalu lelah untuk terus berjuang.

Terlalu banyak pertengkaran. Terlalu banyak salah paham. Terlalu banyak kata-kata yang menyakitkan. Terlalu banyak kekecewaan yang tidak pernah benar-benar dibicarakan.

Pada akhirnya, keduanya sampai pada satu titik:

“Mungkin kita memang sudah tidak bisa seperti dulu.”

Padahal, “tidak seperti dulu” tidak selalu berarti hubungan tersebut tidak bisa diselamatkan.

Dalam psikologi hubungan, kualitas hubungan tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar cinta yang dimiliki dua orang, tetapi juga oleh bagaimana mereka menghadapi konflik, memberikan respons terhadap pasangan, mengelola emosi, membangun kembali kepercayaan, dan menciptakan pengalaman positif bersama.

Di sinilah kita bisa menggunakan sebuah prinsip sederhana yang disebut Aturan 90–10.

Aturan ini bukan teori psikologi resmi dengan rumus baku. Namun, sebagai prinsip praktis, kita dapat memakainya untuk mengingat satu hal penting:

Jangan biarkan 10% masalah dalam hubungan menghancurkan 90% hal baik yang masih tersisa.

Artinya bukan kita harus mengabaikan masalah.

Justru sebaliknya.

Masalah tetap harus diselesaikan. Luka tetap perlu dibicarakan. Kesalahan tetap perlu dipertanggungjawabkan.

Tetapi jika setiap interaksi hanya berisi kritik, tuntutan, kecurigaan, dan pertengkaran, pasangan akhirnya akan belajar mengasosiasikan hubungan dengan tekanan.

Dilansir dari Psychology Today pada Rabu (2/9), jika hubunganmu sudah berada di ujung tanduk dan keduanya masih ingin mencoba, delapan cara berikut bisa menjadi titik awal.

1. Berhenti Menghabiskan 90% Energi untuk Kesalahan Pasangan

Ketika hubungan mulai rusak, otak kita cenderung melakukan sesuatu yang sangat manusiawi: mencari kesalahan.

“Kamu selalu begini.”

“Kamu tidak pernah mengerti aku.”

“Dari dulu kamu memang seperti itu.”

“Semua masalah ini terjadi karena kamu.”

Masalahnya, semakin sering kita mencari kesalahan, semakin mudah kita menemukan kesalahan baru.

Akhirnya, pasangan yang sebelumnya kita cintai mulai terlihat seperti kumpulan kekurangan.

Padahal, manusia bukan hanya kesalahannya.

Aturan 90–10 dapat dimulai dengan mengubah fokus:

10% energi untuk mengidentifikasi masalah, 90% energi untuk mencari cara memperbaikinya.

Bukan berarti masalah hanya boleh dibicarakan 10% dari waktu.

Maksudnya adalah: setelah masalah ditemukan, jangan berhenti pada pertanyaan:

“Siapa yang salah?”

Gantilah dengan:

“Apa yang bisa kita lakukan agar ini tidak terus terjadi?”

Misalnya, daripada berkata:

“Kenapa kamu selalu mengabaikanku?”

Coba:

“Aku merasa jauh darimu akhir-akhir ini. Aku ingin kita punya waktu khusus untuk benar-benar ngobrol. Menurutmu, kapan kita bisa mulai?”

Kalimat pertama menyerang identitas.

Kalimat kedua mengajak mencari solusi.

Perbedaannya mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya terhadap komunikasi bisa sangat besar.

Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa masalah.

Hubungan yang sehat adalah hubungan yang memiliki cara untuk menghadapi masalah tanpa terus menghancurkan satu sama lain.

2. Terapkan 90% Apresiasi dan Kurangi 10% Kritik yang Tidak Perlu

Bayangkan seseorang setiap hari mendengar sepuluh komentar dari pasangannya.

Sembilan di antaranya berisi kritik.

“Kenapa kamu begini?”

“Kok rumah berantakan?”

“Kamu tidak pernah perhatian.”

“Kamu selalu sibuk.”

“Kamu berubah.”

Lalu sesekali pasangan berkata:

“Makasih, ya.”

Apakah satu kalimat positif otomatis menghapus sembilan pengalaman negatif?

Tentu tidak.

Karena itu, salah satu perubahan paling penting dalam hubungan yang sedang retak adalah menghidupkan kembali apresiasi kecil.

Tidak harus romantis.

Tidak harus berlebihan.

Bahkan kalimat sederhana seperti:

“Terima kasih sudah datang.”

“Aku menghargai kamu sudah mau mendengarkan.”

“Terima kasih sudah membantu tadi.”

“Aku senang kamu masih mau berusaha.”

“Aku tahu kamu juga sedang capek.”

Kalimat-kalimat tersebut memberikan sinyal kepada pasangan:

“Aku masih melihat usahamu.”

Ini penting karena ketika hubungan berada dalam krisis, kedua orang sering merasa tidak dihargai.

Masing-masing merasa:

“Aku sudah melakukan banyak hal, tapi dia tidak pernah melihatnya.”

Jika itu berlangsung lama, hubungan berubah menjadi kompetisi tentang siapa yang paling banyak berkorban.

Aturan 90–10 mengingatkan kita untuk membangun kembali keseimbangan.

Jangan hanya mencari apa yang salah.

Cari juga apa yang masih benar.

3. Jangan Berusaha Menyelesaikan Semua Masalah dalam Satu Malam

Ketika takut kehilangan seseorang, kita sering ingin menyelesaikan semuanya sekaligus.

Kita ingin membicarakan:

masalah komunikasi,
keluarga,
uang,
masa lalu,
kecemburuan,
kebiasaan buruk,
kepercayaan,
masa depan,
dan semua pertengkaran yang pernah terjadi.

Dalam satu percakapan.

Akibatnya?

Percakapan yang seharusnya menjadi kesempatan memperbaiki hubungan berubah menjadi persidangan.

Satu masalah memunculkan masalah lain.

Kemudian muncul kalimat:

“Kalau begitu, kamu juga dulu pernah melakukan ini!”

Dan akhirnya kedua orang kembali bertengkar.

Gunakan prinsip 90–10 dengan cara yang berbeda:

90% perhatian pada satu masalah yang sedang dibicarakan, 10% sisanya untuk mencatat masalah lain yang akan dibahas nanti.

Jika sedang membicarakan komunikasi, jangan tiba-tiba membawa kesalahan pasangan tiga tahun lalu.

Jika sedang membicarakan keuangan, jangan mengubah percakapan menjadi daftar semua kekurangan pasangan.

Hubungan yang sedang terluka membutuhkan proses.

Tidak semua luka bisa sembuh dalam satu percakapan.

Terkadang kemajuan terbesar justru terjadi ketika dua orang mampu berkata:

“Masalah ini penting. Tapi kita tidak harus menyelesaikannya malam ini. Mari kita bicarakan lagi ketika kita sama-sama lebih tenang.”

Menunda percakapan bukan berarti menghindari masalah.

Yang penting, kembali membicarakannya.

4. Gunakan Aturan 90–10 Saat Sedang Marah

Salah satu kesalahan terbesar dalam hubungan adalah menganggap semua emosi harus langsung diucapkan.

Padahal, emosi yang sedang memuncak dapat membuat seseorang mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak ingin ia katakan.

Saat marah, tujuan percakapan sering berubah.

Awalnya:

“Aku ingin kamu memahami perasaanku.”

Kemudian berubah menjadi:

“Aku ingin kamu merasakan sakit yang sama.”

Itulah saat kata-kata mulai menjadi senjata.

Karena itu, ketika emosi mencapai titik tinggi, gunakan prinsip sederhana:

10% respons sekarang, 90% keputusan setelah emosi mereda.

Kamu boleh mengatakan:

“Aku sedang terlalu emosi untuk membicarakan ini dengan baik. Aku tidak ingin mengatakan sesuatu yang akan kita sesali. Aku butuh waktu sebentar, lalu kita lanjutkan.”

Ini jauh lebih sehat daripada:

“Sudahlah! Aku muak dengan kamu!”

Kemudian pergi tanpa penjelasan.

Ada perbedaan besar antara mengambil jeda dan menghukum pasangan dengan diam.

Jeda memiliki tujuan untuk menenangkan diri.

Silent treatment digunakan untuk membuat pasangan merasa takut, bersalah, atau tidak berharga.

Jadi jika kamu meminta waktu, berikan kepastian:

“Aku butuh satu jam untuk menenangkan diri. Setelah itu kita bicara lagi.”

Dengan begitu, pasangan tidak dibiarkan dalam ketidakpastian.

5. Fokus pada 90% Masa Depan, Bukan 10% Kesalahan Masa Lalu

Masa lalu memang penting.

Terutama jika ada luka yang belum selesai.

Namun, ada perbedaan antara memproses masa lalu dan menggunakan masa lalu sebagai senjata.

Kalimat seperti:

“Kamu dulu pernah melakukan itu.”

“Kamu memang selalu seperti ini.”

“Aku tidak akan pernah melupakan kesalahanmu.”

membuat hubungan tetap tinggal di masa lalu.

Padahal, jika dua orang ingin menyelamatkan hubungan, pertanyaan yang lebih penting adalah:

“Apa yang akan kita lakukan mulai sekarang?”

Misalnya, jika pasangan pernah kurang terbuka, jangan hanya menuntut:

“Kamu harus berubah.”

Buat perubahan menjadi konkret:

“Kalau ada sesuatu yang mengganggu kamu, bisakah kita membicarakannya sebelum masalah itu menjadi besar?”

Jika masalahnya adalah kurangnya waktu bersama:

“Bagaimana kalau setiap minggu kita punya satu malam tanpa pekerjaan dan tanpa ponsel?”

Jika masalahnya adalah pertengkaran:

“Kalau salah satu dari kita mulai terlalu emosi, kita sepakat mengambil jeda dan kembali membicarakannya.”

Masa lalu memberi pelajaran.

Tetapi hubungan tidak dibangun di masa lalu.

Hubungan dibangun dari perilaku yang dilakukan berulang kali hari ini.

6. Berikan 90% Kesempatan untuk Mendengarkan, Bukan Hanya Menjelaskan Diri Sendiri

Dalam konflik, hampir semua orang ingin didengar.

Tetapi sangat sedikit orang benar-benar ingin mendengarkan.

Kita menunggu pasangan selesai bicara hanya untuk membalas.

Dia berkata:

“Aku merasa kamu semakin jauh.”

Kita langsung menjawab:

“Karena kamu juga tidak pernah memperhatikanku!”

Dia berkata:

“Aku merasa kamu tidak menghargai aku.”

Kita menjawab:

“Lalu bagaimana dengan semua yang sudah aku lakukan?”

Akhirnya percakapan menjadi pertandingan.

Siapa yang lebih terluka?

Siapa yang lebih benar?

Siapa yang paling banyak berkorban?

Padahal, tujuan komunikasi bukan memenangkan argumentasi.

Tujuannya adalah memahami pengalaman orang lain.

Cobalah teknik sederhana:

Sebelum menjelaskan perasaanmu, ulangi dulu apa yang kamu dengar.

Misalnya:

“Jadi kamu merasa aku semakin jauh dan kamu merasa sendirian dalam hubungan ini. Benar begitu?”

Pasangan menjawab:

“Iya.”

Barulah kamu mengatakan:

“Aku juga ingin kamu tahu bagaimana aku merasakannya.”

Ini bukan berarti kamu harus setuju dengan semua yang dikatakan pasangan.

Memahami tidak sama dengan menyetujui.

Kamu bisa memahami perasaan pasangan sekaligus tetap memiliki sudut pandang berbeda.

Hubungan membutuhkan dua hal:

validasi dan batasan.

Keduanya bisa hidup berdampingan.

7. Bangun Kembali Hubungan Melalui Hal-Hal Kecil

Banyak orang berpikir untuk menyelamatkan hubungan mereka harus melakukan sesuatu yang besar.

Liburan romantis.

Makan malam mewah.

Memberikan hadiah.

Membuat kejutan.

Padahal, hubungan sering kali tidak rusak karena satu kejadian besar.

Hubungan bisa terkikis oleh ribuan interaksi kecil.

Karena itu, pemulihannya juga sering dimulai dari hal-hal kecil.

Senyum ketika pasangan pulang.

Bertanya:

“Bagaimana harimu?”

Menyentuh tangannya.

Mengucapkan terima kasih.

Mengingat sesuatu yang penting baginya.

Mengirim pesan sederhana.

Menyediakan waktu untuk berbicara tanpa gangguan.

Mendengarkan tanpa memainkan ponsel.

Menanyakan:

“Apakah kamu baik-baik saja?”

Kecil?

Ya.

Tetapi konsistensi jauh lebih penting daripada intensitas.

Gunakan prinsip 90–10:

90% usaha membangun koneksi dilakukan dalam kehidupan sehari-hari; 10% sisanya berupa momen besar.

Jangan menunggu ulang tahun untuk bersikap romantis.

Jangan menunggu pasangan hampir pergi untuk mulai menghargainya.

Jangan menunggu hubungan hancur untuk mengatakan:

“Aku sebenarnya masih mencintaimu.”

Tunjukkan melalui perilaku sehari-hari.

Karena pada akhirnya, pasangan tidak hanya mengingat apa yang kita katakan.

Mereka juga mengingat bagaimana rasanya berada di dekat kita.

8. Tanyakan Satu Pertanyaan yang Bisa Mengubah Arah Hubungan

Ketika hubungan sudah di ujung tanduk, terkadang kita terlalu sibuk mempertahankan diri.

“Aku tidak salah.”

“Kamu yang berubah.”

“Aku sudah berusaha.”

“Aku juga terluka.”

Semua mungkin benar.

Tetapi ada satu pertanyaan yang jauh lebih produktif:

“Apa yang kamu butuhkan dariku agar hubungan ini masih layak diperjuangkan?”

Pertanyaan ini bukan berarti kamu harus memenuhi semua keinginan pasangan.

Namun, pertanyaan tersebut membuka pintu dialog.

Kemudian tanyakan juga:

“Apa yang bisa kita ubah bersama?”

Perhatikan kata “kita.”

Bukan:

“Bagaimana kamu bisa berubah?”

Tetapi:

“Apa yang bisa kita lakukan berbeda?”

Jika pasangan berkata:

“Aku butuh kamu lebih terbuka.”

Tanyakan:

“Seperti apa keterbukaan yang kamu maksud?”

Jika dia berkata:

“Aku butuh lebih banyak waktu bersamamu.”

Tanyakan:

“Berapa banyak waktu yang menurutmu realistis?”

Jika dia berkata:

“Aku sudah tidak percaya lagi.”

Jangan langsung membalas:

“Kenapa kamu tidak percaya padaku?”

Coba:

“Apa yang perlu kulakukan secara konsisten agar kepercayaan itu bisa dibangun kembali?”

Hubungan yang retak membutuhkan perilaku baru, bukan sekadar janji baru.

Tetapi Ingat: Aturan 90–10 Bukan Berarti Kamu Harus Menoleransi Apa Pun

Ada satu hal penting yang tidak boleh dilewatkan.

Menyelamatkan hubungan bukan berarti menyelamatkan hubungan dengan harga berapa pun.

Kamu tidak harus menerima penghinaan terus-menerus.

Kamu tidak harus menoleransi kekerasan.

Kamu tidak harus kehilangan batas diri hanya agar pasangan tetap tinggal.

Kamu juga tidak bisa menyelamatkan hubungan sendirian jika hanya satu orang yang mau berusaha.

Aturan 90–10 bukan:

“Berikan 90% kepada pasangan dan abaikan dirimu sendiri.”

Justru seharusnya:

90% energi digunakan untuk membangun hubungan yang sehat, sementara 10% masalah dijadikan sesuatu yang perlu diperbaiki secara sadar.

Dan ada situasi ketika masalah yang terlihat seperti “10%” sebenarnya bukan masalah kecil.

Perselingkuhan, kekerasan, manipulasi, kecanduan yang tidak ditangani, penghinaan terus-menerus, atau pelanggaran batas yang serius membutuhkan pendekatan yang jauh lebih spesifik.

Dalam situasi seperti itu, keselamatan dan kesehatan psikologis harus menjadi prioritas.

Kalau Kalian Masih Saling Mencintai, Jangan Hanya Bertanya “Apakah Kita Masih Cocok?”

Pertanyaan yang sering muncul ketika hubungan berada di ujung tanduk adalah:

“Apakah kita masih cocok?”

Tetapi ada pertanyaan lain yang mungkin lebih penting:

“Apakah kita masih bersedia belajar mencintai satu sama lain dengan cara yang lebih sehat?”

Karena manusia berubah.

Kebutuhan berubah.

Prioritas berubah.

Cara seseorang membutuhkan cinta juga bisa berubah.

Orang yang dulu merasa cukup hanya dengan bertemu setiap akhir pekan mungkin sekarang membutuhkan komunikasi yang lebih rutin.

Orang yang dulu sangat mandiri mungkin sekarang membutuhkan lebih banyak dukungan.

Hubungan jangka panjang membutuhkan kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan pasangan tanpa kehilangan identitas diri sendiri.

Jadi jangan hanya mencoba mengembalikan hubungan seperti dulu.

Mungkin tujuan sebenarnya bukan kembali ke masa lalu.

Mungkin tujuan sebenarnya adalah:

membangun hubungan yang baru dengan orang yang sama.

Hubungan yang lebih dewasa.

Lebih jujur.

Lebih terbuka.

Lebih sadar terhadap batas.

Lebih mampu menghadapi konflik.

Dan lebih menghargai hal-hal yang sebelumnya dianggap biasa.

Pada Akhirnya, 90–10 Adalah Tentang Fokus

Bayangkan sebuah hubungan seperti sebuah rumah.

Ada bagian yang rusak.

Ada dinding yang retak.

Ada pintu yang macet.

Ada ruangan yang sudah lama tidak digunakan.

Kamu bisa berdiri di depan rumah itu setiap hari sambil berkata:

“Lihat, ini rusak.”

“Yang itu juga rusak.”

“Dulu kamu yang membuat kerusakan itu.”

Atau kamu bisa berkata:

“Baik. Kita memang punya masalah. Sekarang, bagian mana yang bisa kita perbaiki terlebih dahulu?”

Itulah inti dari Aturan 90–10.

Bukan berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Bukan menutupi konflik.

Bukan mengabaikan kesalahan.

Melainkan memastikan bahwa masalah tidak mengambil seluruh ruang dalam hubungan.

Jika masih ada rasa sayang, berikan ruang untuk rasa sayang itu.

Jika masih ada kepercayaan, rawat bagian yang masih tersisa.

Jika masih ada keinginan untuk mencoba, mulai dari tindakan kecil.

Dan jika ada luka, jangan menyembunyikannya—bicarakan dan cari cara untuk menyembuhkannya.

Karena terkadang hubungan tidak membutuhkan satu keajaiban besar.

Hubungan hanya membutuhkan dua orang yang berhenti bertanya:

“Siapa yang harus berubah?”

dan mulai bertanya:

“Apa yang bisa kita lakukan agar hubungan ini menjadi tempat yang lebih aman, lebih hangat, dan lebih sehat bagi kita berdua?”

Mungkin hubunganmu memang sedang berada di ujung tanduk.

Tetapi selama kedua orang masih bersedia melihat masalah dengan jujur, bertanggung jawab atas bagiannya, menghormati batas masing-masing, dan melakukan perubahan secara konsisten, ujung tanduk belum tentu berarti akhir.

Kadang-kadang, itu justru menjadi titik ketika dua orang akhirnya sadar:

cara lama mereka mencintai satu sama lain sudah tidak cukup—dan mereka harus belajar mencintai dengan cara yang lebih baik.

EDITOR: Hanny Suwindari