← Beranda
8 Kebiasaan Kecil Kakek-Nenek yang Membuat Cucu-Cucu Benar-Benar Menantikan Kunjungan
Irfan FerdiansyahKamis, 3 September 2026 | 04.50 WIB
seseorang yang membuat anak kecil merasa nyaman./Magnific/jcomp

JawaPos.com - Ada kakek-nenek yang rumahnya selalu menjadi tempat yang ingin didatangi cucu-cucu.

Bukan karena rumah mereka paling besar. Bukan karena selalu ada hadiah mahal di meja. Bahkan, sering kali bukan pula karena mereka punya banyak uang untuk mentraktir cucu.

Ada sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Ketika cucu datang, mereka merasa ditunggu.

Mereka merasa didengarkan. Mereka merasa kehadirannya berarti. Mereka tahu bahwa di rumah itu ada seseorang yang benar-benar senang melihat mereka datang.

Dalam psikologi, perasaan seperti ini berkaitan dengan kebutuhan manusia akan keterhubungan, rasa aman, penerimaan, dan pengalaman positif yang berulang. Anak-anak dan remaja khususnya sangat peka terhadap bagaimana orang dewasa memperlakukan mereka dari waktu ke waktu.

Menariknya, kakek-nenek yang paling dirindukan cucu sering kali bukan mereka yang melakukan sesuatu yang spektakuler.

Justru kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali dapat menciptakan ikatan emosional yang sangat kuat.

Dilansir dari Psychology Today pada Sabtu (29/8), terdapat delapan kebiasaan sederhana yang mungkin terlihat sepele, tetapi bisa membuat cucu benar-benar menantikan kunjungan berikutnya.

1. Mereka selalu menyambut cucu dengan kegembiraan yang tulus

Bayangkan seorang anak membuka pintu rumah kakek-neneknya dan langsung mendengar:

"Wah, akhirnya datang juga!"

Atau melihat wajah kakek yang langsung tersenyum dan nenek yang berkata:

"Nenek senang sekali kamu datang."

Kalimat seperti itu sebenarnya sederhana.

Namun bagi seorang anak, pesan emosional di baliknya sangat kuat:

"Kehadiranmu membuat seseorang bahagia."

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa hubungan yang hangat dan responsif membantu anak membangun rasa aman serta merasa dirinya diterima.

Kakek-nenek tidak harus memberikan sambutan berlebihan. Mereka tidak perlu membuat pesta kecil setiap kali cucu datang.

Cukup dengan menunjukkan bahwa kedatangan cucu benar-benar diperhatikan.

Misalnya:

menyebut namanya ketika membuka pintu,
tersenyum,
memeluk jika cucu nyaman dengan pelukan,
mengatakan bahwa mereka senang melihatnya,
atau sekadar menghentikan aktivitas sebentar untuk menyambutnya.

Hal yang tampaknya kecil itu dapat menjadi pengalaman emosional yang berulang.

Dan manusia cenderung mengingat bagaimana sebuah tempat membuat mereka merasa.

Itulah sebabnya seorang cucu bisa saja lupa makanan apa yang dimakan enam bulan lalu, tetapi masih mengingat perasaan ketika kakeknya membuka pintu dan berkata, "Nah, ini cucu kesayangan Kakek datang!"

Bukan kemewahan yang dicari, tetapi rasa diterima

Sering kali orang dewasa berpikir bahwa agar cucu betah, mereka harus menyediakan banyak hiburan.

Padahal, hubungan emosional tidak selalu membutuhkan aktivitas besar.

Terkadang, sambutan hangat jauh lebih berkesan daripada mainan baru.

2. Mereka punya "ritual kecil" yang hanya dimiliki bersama cucu

Kebiasaan kedua adalah memiliki sesuatu yang dilakukan berulang kali.

Mungkin setiap kali cucu datang:

kakek mengajak membeli jajanan,
nenek membuatkan telur dadar kesukaan,
mereka selalu bermain kartu,
menonton acara tertentu bersama,
duduk di teras sambil minum sesuatu,
pergi berjalan kaki di sore hari,
atau membaca buku sebelum tidur.

Aktivitasnya sendiri sebenarnya bukan bagian terpenting.

Yang penting adalah konsistensi.

Anak-anak menyukai pola yang dapat diprediksi. Ritual menciptakan rasa akrab: "Kalau aku datang ke rumah Kakek, kami selalu melakukan ini."

Lama-kelamaan, aktivitas sederhana itu berubah menjadi bagian dari identitas hubungan.

Bukan lagi sekadar makan pisang goreng.

Itu menjadi:

"Pisang goreng buatan Nenek."

Bukan sekadar berjalan ke warung.

Itu menjadi:

"Jalan sore dengan Kakek."

Ritual semacam ini juga menciptakan kenangan yang mudah dipanggil kembali ketika cucu sudah dewasa.

Mereka mungkin tidak mengingat semua percakapan, tetapi akan mengingat suasana dan pola kecil yang dulu terasa begitu familiar.

Ritual tidak harus mahal

Bahkan ritual terbaik sering kali sangat sederhana.

Misalnya:

"Kalau kamu datang hari Minggu, kita sarapan bersama."

Atau:

"Setiap kamu menginap, Kakek dan kamu main catur sebelum tidur."

Yang membuatnya istimewa adalah pengulangan dan makna emosionalnya.

3. Mereka benar-benar mendengarkan cerita cucu, termasuk cerita yang menurut orang dewasa sepele

Salah satu cara tercepat membuat seorang anak merasa dekat dengan orang dewasa adalah membuatnya merasa didengarkan.

Cucu mungkin bercerita tentang:

teman sekolah,
permainan,
video yang ditontonnya,
masalah kecil dengan temannya,
guru yang disukainya,
seseorang yang membuatnya kesal,
atau sesuatu yang menurut orang dewasa sama sekali tidak penting.

Kakek-nenek yang dekat dengan cucu tidak selalu harus memberikan nasihat.

Kadang mereka cukup bertanya:

"Terus bagaimana?"

"Kamu waktu itu merasa bagaimana?"

"Kenapa kamu suka sekali permainan itu?"

Pertanyaan sederhana menunjukkan bahwa cerita cucu memiliki nilai.

Ini penting karena hubungan yang sehat bukan hanya tentang berbicara kepada anak, tetapi juga memberikan ruang bagi anak untuk berbicara.

Jangan buru-buru memperbaiki semuanya

Ketika cucu mengatakan:

"Aku kesal sama temanku."

Respons spontan orang dewasa mungkin:

"Ya sudah, jangan dipikirkan."

Padahal, respons yang lebih menghubungkan secara emosional bisa berupa:

"Oh, kamu pasti kesal sekali kalau begitu. Ceritakan ke Kakek."

Perbedaannya kecil, tetapi dampaknya besar.

Yang pertama menutup percakapan.

Yang kedua membuka pintu.

Dan ketika cucu tahu bahwa rumah kakek-nenek adalah tempat di mana ceritanya didengarkan tanpa langsung dihakimi, ia memiliki alasan emosional untuk kembali.

4. Mereka mengingat hal-hal kecil tentang cucunya

Ada sesuatu yang sangat kuat ketika seseorang mengingat detail kecil tentang diri kita.

Misalnya, nenek berkata:

"Bukannya kamu sekarang suka rasa stroberi?"

Atau kakek bertanya:

"Bagaimana pertandingan sepak bolamu yang kemarin?"

Atau:

"Bukankah minggu ini kamu ada ujian matematika?"

Bagi orang dewasa, mengingat detail seperti itu mungkin terasa biasa.

Bagi anak, pesannya berbeda:

"Kakek-Nenek memperhatikan aku."

Perhatian semacam ini membuat seseorang merasa dirinya penting.

Kakek-nenek tidak perlu mengingat semuanya. Mereka hanya perlu menunjukkan bahwa mereka menyimpan beberapa hal yang berarti bagi cucunya.

Bisa berupa:

makanan favorit,
nama sahabat,
hobi,
pelajaran yang disukai,
cita-cita,
nama hewan peliharaan,
pertandingan yang akan datang,
atau cerita yang pernah disampaikan beberapa minggu sebelumnya.

Kemudian, ketika cucu datang lagi, mereka bertanya tentang hal tersebut.

Itulah yang membuat hubungan terasa personal.

Bukan sekadar:

"Bagaimana sekolah?"

Tetapi:

"Kemarin kamu bilang ada presentasi. Jadi bagaimana hasilnya?"

Pertanyaan kedua menunjukkan bahwa percakapan sebelumnya tidak hilang begitu saja.

5. Mereka memberikan perhatian penuh, bukan sekadar berada di ruangan yang sama

Kita hidup di zaman ketika seseorang bisa berada di depan kita tetapi pikirannya ada di tempat lain.

Kakek sedang menonton televisi.

Nenek sedang sibuk dengan ponsel.

Cucu duduk di sebelahnya.

Mereka berada di ruangan yang sama, tetapi belum tentu benar-benar bersama.

Kebiasaan kecil yang membuat cucu merasa dekat adalah memberikan beberapa menit perhatian yang benar-benar utuh.

Tidak harus berjam-jam.

Bahkan 10–15 menit percakapan tanpa gangguan bisa terasa berbeda.

Misalnya, ketika cucu bercerita, kakek meletakkan koran sebentar dan menatapnya.

Ketika cucu menunjukkan sesuatu di ponselnya, nenek benar-benar melihat.

Ketika cucu ingin mengajak bermain, mereka mencoba ikut bermain meskipun permainannya bukan favorit mereka.

Pesan emosionalnya sederhana:

"Sekarang kamu penting."

Anak-anak sangat peka terhadap perhatian.

Mereka bisa merasakan perbedaan antara orang dewasa yang benar-benar tertarik dan orang dewasa yang hanya berpura-pura mendengarkan.

6. Mereka tidak membuat cucu merasa harus menjadi sempurna

Kakek-nenek yang sangat dirindukan sering kali memberikan sesuatu yang sulit ditemukan di banyak tempat: ruang untuk menjadi diri sendiri.

Ini bukan berarti mereka membiarkan cucu berbuat apa saja.

Batasan tetap diperlukan.

Tetapi mereka tidak menjadikan setiap kunjungan sebagai sesi evaluasi.

Tidak setiap kali bertemu harus bertanya:

"Nilaimu berapa?"

"Kenapa kamu tidak lebih rajin?"

"Kapan kamu akan mendapat prestasi?"

"Kamu kok tidak seperti kakakmu?"

Jika percakapan selalu berisi penilaian, anak bisa mulai mengasosiasikan kunjungan dengan tekanan.

Sebaliknya, kakek-nenek yang hangat bisa menunjukkan:

"Kamu tidak harus menjadi sempurna supaya Kakek dan Nenek senang melihatmu."

Mereka bisa tetap mengoreksi perilaku yang salah tanpa membuat cucu merasa bahwa dirinya adalah anak yang buruk.

Ada perbedaan besar antara:

"Perbuatanmu tadi kurang baik."

dan

"Kamu memang anak nakal."

Yang pertama mengoreksi perilaku.

Yang kedua menyerang identitas.

Anak membutuhkan tempat di mana kesalahan tidak otomatis membuat mereka kehilangan rasa diterima.

7. Mereka punya humor dan candaan khas yang hanya dipahami keluarga

Hubungan yang hangat sering memiliki bahasa sendiri.

Mungkin kakek memiliki lelucon yang selalu diulang.

Nenek mungkin sengaja salah menyebut nama karakter favorit cucu.

Atau ada panggilan khusus yang hanya digunakan di rumah tersebut.

Bahkan mungkin ada satu cerita keluarga yang sudah diceritakan berkali-kali tetapi tetap membuat semua orang tertawa.

Hal-hal semacam ini menciptakan rasa memiliki.

Cucu merasa:

"Ini keluarga kami."

"Ini candaan kami."

"Ini kebiasaan kami."

Humor juga dapat membantu menciptakan asosiasi positif terhadap sebuah tempat dan hubungan.

Tentu, ada satu catatan penting: candaan sebaiknya tidak menjadikan cucu sebagai bahan penghinaan.

Humor yang membangun kedekatan berbeda dengan humor yang mempermalukan.

Kakek-nenek yang membuat cucu tertawa bersama mereka, bukan menertawakan cucu, sedang menciptakan kenangan yang jauh lebih sehat.

8. Mereka membuat cucu merasa bahwa pintu rumah itu selalu terbuka untuknya

Mungkin ini kebiasaan yang paling sederhana sekaligus paling kuat.

Ketika cucu akan pulang, nenek berkata:

"Nanti datang lagi, ya."

Kakek mungkin menambahkan:

"Kalau mau main, bilang Kakek."

Atau:

"Rumah ini rumah kamu juga."

Kalimat-kalimat itu memberikan pesan tentang rasa memiliki.

Anak tidak hanya merasa bahwa ia diperbolehkan berkunjung.

Ia merasa bahwa dirinya diinginkan.

Ada perbedaan psikologis yang besar antara:

"Kalau kamu mau datang, datang saja."

dan:

"Kakek-Nenek senang kalau kamu datang."

Yang pertama terdengar netral.

Yang kedua memberikan kehangatan.

Karena itu, ketika cucu pulang, kakek-nenek yang dekat dengannya sering tidak hanya berkata "hati-hati di jalan", tetapi juga memberikan sedikit gambaran tentang pertemuan berikutnya:

"Minggu depan kita bikin kue lagi, ya."

Sekarang cucu memiliki sesuatu untuk dinantikan.

Yang Sebenarnya Membuat Cucu Rindu Bukanlah Hadiah

Jika diperhatikan, delapan kebiasaan di atas memiliki satu kesamaan.

Tidak ada yang membutuhkan banyak uang.

Tidak perlu membeli gadget.

Tidak perlu pergi ke tempat mahal.

Tidak perlu membuat acara besar.

Yang diperlukan adalah konsistensi dalam memberikan pengalaman emosional yang positif.

Cucu yang menantikan kunjungan biasanya bukan karena setiap kunjungan selalu sempurna.

Mereka menantikannya karena secara keseluruhan mereka tahu:

"Di sana aku diterima."

"Di sana ada orang yang senang melihatku."

"Di sana aku bisa bercerita."

"Di sana ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang menyenangkan."

"Di sana aku merasa menjadi bagian dari keluarga."

Dan perasaan seperti itu tidak terbentuk dalam satu hari.

Ia terbentuk dari ratusan interaksi kecil.

Dari cara kakek membuka pintu.

Dari cara nenek memanggil nama cucu.

Dari makanan sederhana yang selalu disiapkan.

Dari pertanyaan tentang sekolah.

Dari tawa di meja makan.

Dari permainan yang sama setiap kali berkunjung.

Dari cerita yang didengarkan sampai selesai.

Dari kalimat:

"Kamu sudah pulang? Kakek kangen."

Ketika Cucu Sudah Dewasa, Hal-Hal Kecil Itu Bisa Menjadi Kenangan Besar

Ada ironi dalam hubungan keluarga.

Ketika anak masih kecil, orang dewasa sering berpikir bahwa anak akan mengingat hadiah, liburan, atau acara besar.

Namun ketika mereka dewasa, yang sering muncul justru kenangan yang sangat sederhana.

Aroma makanan dari dapur.

Suara televisi di ruang keluarga.

Kursi tempat mereka biasa duduk.

Jalan menuju warung bersama kakek.

Cara nenek memanggil nama mereka.

Lelucon yang selalu diulang.

Dan perasaan nyaman ketika mereka tahu bahwa ada tempat di mana mereka tidak perlu membuktikan apa pun untuk dicintai.

Itulah sebabnya kakek-nenek tidak perlu berusaha menjadi "sempurna".

Mereka hanya perlu hadir secara konsisten.

Mendengarkan.

Mengingat.

Menyambut.

Tertawa.

Membuat ruang.

Dan sesekali mengatakan sesuatu yang sangat sederhana:

"Kakek senang kamu datang."

Karena bagi seorang cucu, kalimat itu mungkin terdengar biasa hari ini.

Tetapi bertahun-tahun kemudian, ketika ia mengingat masa kecilnya, kalimat sederhana itu bisa menjadi salah satu alasan mengapa rumah kakek-nenek selalu terasa seperti rumah.

Pada akhirnya, anak-anak tidak selalu mengingat apa yang kita berikan. Mereka mengingat bagaimana kita membuat mereka merasa.

Kakek-nenek tidak harus menjadi orang paling lucu, paling kaya, atau paling modern agar dicintai cucu.

Sering kali, yang paling dibutuhkan hanyalah hubungan yang hangat dan dapat diprediksi.

Sambutan yang sama.

Ritual kecil yang sama.

Telinga yang mau mendengarkan.

Pertanyaan yang menunjukkan perhatian.

Tawa yang tulus.

Dan keyakinan bahwa cucu boleh datang tanpa harus menjadi sempurna.

Karena ketika seorang anak berkali-kali mengalami perasaan aman, diterima, didengar, dan diinginkan, kunjungan ke rumah kakek-nenek tidak lagi terasa seperti kewajiban keluarga.

Ia berubah menjadi sesuatu yang benar-benar ingin dilakukan.

Bahkan ketika cucu sudah remaja.

Bahkan ketika mereka sudah kuliah.

Bahkan ketika mereka sudah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri.

Mungkin mereka tidak selalu bisa datang sesering dulu.

Tetapi di dalam ingatan mereka, selalu ada satu tempat yang terasa berbeda:

tempat di mana seseorang selalu senang melihat mereka datang.

Dan sering kali, itulah bentuk warisan emosional terbaik yang bisa diberikan seorang kakek dan nenek.

EDITOR: Hanny Suwindari