← Beranda
Bukan Karena Tak Disukai, 8 Kebiasaan Ini Bisa Membuat Seseorang Merasa Tersisih
Irfan FerdiansyahMinggu, 30 Agustus 2026 | 04.16 WIB
seseorang yang merasa tersisih secara sosial. (Freepik/freepik)

JawaPos.com - Perasaan tersisih dalam lingkungan sosial terkadang muncul bukan karena seseorang benar-benar dijauhi. Ada kalanya, kebiasaan yang dilakukan sehari-hari justru tanpa sengaja menciptakan jarak dengan orang lain.

Seseorang bahkan bisa merasa kesepian ketika berada di tengah banyak orang atau bersama teman-teman yang sudah dikenalnya cukup lama. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh cara berkomunikasi, pola pikir, maupun sikap ketika membangun hubungan.

Dalam perspektif psikologi, hubungan sosial yang sehat membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan, menghargai batasan, serta memberikan ruang bagi orang lain. Kebiasaan tertentu yang dilakukan berulang kali justru dapat membuat hubungan semakin renggang.

Dilansir dari Geediting, terdapat sejumlah kebiasaan yang berpotensi membuat seseorang merasa terasing atau tanpa sadar membuat orang lain menjaga jarak. Berikut di antaranya.

Baca Juga: Masih Gesit dan Mudah Belajar di Usia 70 Tahun? Bisa Jadi 8 Kebiasaan Ini Alasannya

1. Terlalu Sering Mengkritik Orang Lain

Memberikan masukan memang tidak selalu buruk. Namun, jika hampir setiap percakapan diisi dengan koreksi, sindiran, atau komentar yang merendahkan, orang lain bisa merasa tidak nyaman.

Sikap seperti ini dapat menimbulkan kesan bahwa seseorang selalu menghakimi orang di sekitarnya. Akibatnya, orang lain mungkin memilih menjaga jarak karena tidak ingin terus-menerus merasa dinilai.

2. Tidak Benar-Benar Mendengarkan

Komunikasi yang baik bukan hanya mengenai kemampuan berbicara, tetapi juga kesediaan mendengarkan.

Ketika seseorang sering memotong pembicaraan, sibuk melihat ponsel, atau hanya menunggu giliran untuk berbicara, lawan bicara dapat merasa tidak dihargai.

Sebaliknya, memberikan perhatian penuh, mengajukan pertanyaan, dan merespons dengan tepat dapat membuat hubungan terasa lebih dekat.

3. Percakapan Selalu Berpusat pada Diri Sendiri

Berbagi pengalaman pribadi merupakan bagian alami dalam membangun kedekatan. Masalah muncul ketika hampir setiap pembicaraan selalu kembali kepada diri sendiri.

Jika seseorang jarang bertanya mengenai kehidupan atau pengalaman orang lain, percakapan dapat terasa tidak seimbang. Dalam jangka panjang, orang di sekitarnya mungkin merasa tidak memiliki ruang untuk didengarkan.

4. Sulit Melupakan Kesalahan Orang Lain

Setiap hubungan pasti pernah mengalami konflik atau kesalahpahaman. Namun, terus mengungkit kesalahan lama dapat membuat hubungan sulit berkembang.

Orang lain bisa menjadi takut melakukan kesalahan karena khawatir akan terus diingat. Kemampuan memberi maaf dan membangun kembali kepercayaan dapat menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan sosial.

5. Terlalu Sering Menolak Ajakan

Menolak ajakan sesekali tentu bukan masalah. Setiap orang memiliki kebutuhan untuk beristirahat atau menikmati waktu sendiri.

Namun, jika hampir seluruh kesempatan bersosialisasi selalu ditolak, orang lain bisa menganggap bahwa kehadiran mereka tidak diinginkan.

Karena itu, jika ingin mempertahankan hubungan, sesekali meluangkan waktu untuk bertemu, berbincang, atau mengikuti kegiatan bersama dapat membantu menjaga kedekatan.

6. Selalu Membawa Energi Negatif

Keluhan mengenai pekerjaan, kehidupan, atau berbagai persoalan merupakan hal yang wajar. Tetapi, apabila setiap percakapan selalu dipenuhi pesimisme dan keluhan tanpa keseimbangan, orang lain bisa merasa terkuras.

Bukan berarti seseorang harus selalu terlihat bahagia. Namun, memberikan ruang untuk membicarakan hal-hal positif, rasa syukur, atau solusi dapat membuat interaksi terasa lebih sehat.

7. Tidak Menghormati Privasi dan Batasan

Hubungan yang dekat tetap membutuhkan batasan pribadi.

Memaksa seseorang menceritakan masalah pribadi, terus meminta perhatian ketika mereka sedang sibuk, atau mencampuri urusan yang tidak ingin dibagikan dapat menimbulkan rasa tidak aman.

Menghormati kata "tidak", memberikan ruang pribadi, dan memahami situasi orang lain menjadi bagian penting untuk menciptakan hubungan yang nyaman.

8. Gemar Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Kebiasaan membandingkan pencapaian, pekerjaan, kondisi ekonomi, penampilan, atau kehidupan seseorang dapat membuat hubungan berubah menjadi kompetisi.

Ucapan yang bermaksud bercanda sekalipun bisa membuat orang lain merasa sedang dinilai atau diadu dengan orang lain.

Daripada terus membandingkan, hubungan akan lebih sehat jika setiap orang diberi kesempatan untuk berkembang dengan caranya masing-masing.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho