← Beranda
Bukan Cuma Suka Mengkritik, Ini 7 Tanda Seseorang Gemar Melempar Kesalahan
Mohammad Maulana IqbalSabtu, 29 Agustus 2026 | 05.25 WIB
Perilaku orang yang selalu menyalahkan orang lain kata psikologi.

JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah berhadapan dengan seseorang yang hampir selalu memiliki alasan ketika sesuatu berjalan tidak sesuai harapan. Alih-alih mengevaluasi dirinya sendiri, ia justru mencari pihak lain yang dianggap sebagai penyebab masalah.

Kebiasaan tersebut tidak selalu sekadar menunjukkan sifat keras kepala. Dalam psikologi, perilaku menyalahkan orang lain dapat menjadi salah satu bentuk mekanisme pertahanan untuk menghindari rasa bersalah, kritik, atau ancaman terhadap citra diri.

Namun, tentu saja, satu atau dua perilaku saja tidak cukup untuk memberikan label tertentu kepada seseorang. Pola tersebut perlu dilihat secara berulang dan dalam konteks yang lebih luas.

Dilansir dari Geediting.com, berikut sejumlah ciri yang kerap dikaitkan dengan orang yang cenderung selalu menyalahkan orang lain dan enggan melihat kesalahan dirinya sendiri.

Baca Juga: 9 Perilaku yang Membuat Pemimpin Kompeten Terlihat Tidak Profesional

1. Selalu Mengalihkan Tanggung Jawab

Salah satu tanda yang paling mudah terlihat adalah kecenderungan mencari orang lain untuk dijadikan penyebab ketika terjadi masalah.

Saat sebuah pekerjaan gagal, misalnya, mereka mungkin lebih sibuk menjelaskan kesalahan rekan kerja daripada mengevaluasi keputusan yang mereka ambil sendiri.

Pola seperti ini dapat berfungsi sebagai perlindungan terhadap harga diri. Mengakui kesalahan terkadang terasa mengancam gambaran positif yang seseorang miliki mengenai dirinya.

Akibatnya, tanggung jawab justru dipindahkan kepada pihak lain agar dirinya tidak perlu berhadapan dengan rasa bersalah atau malu.

2. Sulit Mengucapkan Permintaan Maaf

Orang yang terbiasa melempar kesalahan biasanya juga tidak mudah mengakui kesalahannya secara terbuka.

Bahkan ketika bukti menunjukkan bahwa dirinya turut berperan dalam sebuah masalah, mereka dapat memberikan berbagai alasan untuk membenarkan tindakan tersebut.

Ucapan sederhana seperti “saya salah” atau “maaf” menjadi sesuatu yang sulit disampaikan.

Padahal, kemampuan meminta maaf bukan menunjukkan kelemahan. Sebaliknya, kesediaan mengakui kesalahan merupakan bagian penting dari kematangan emosional dan hubungan interpersonal yang sehat.

3. Kerap Menempatkan Diri sebagai Korban

Ciri berikutnya adalah kecenderungan melihat diri sebagai pihak yang selalu dirugikan.

Ketika terjadi konflik, mereka mungkin merasa bahwa orang lain selalu memperlakukan mereka dengan buruk, sementara kontribusi dirinya terhadap persoalan tersebut hampir tidak pernah dibahas.

Pola berpikir seperti ini dapat membuat seseorang terjebak dalam posisi korban. Ia menjadi sulit melakukan introspeksi karena semua masalah dianggap berasal dari lingkungan atau orang-orang di sekitarnya.

Padahal, memahami bagian diri sendiri dalam sebuah konflik dapat membantu seseorang menemukan solusi yang lebih sehat.

4. Hubungan dengan Orang Lain Sering Bermasalah

Kebiasaan menyalahkan orang lain juga dapat memengaruhi kualitas hubungan.

Dalam persahabatan, keluarga, hubungan romantis, maupun lingkungan pekerjaan, hubungan yang sehat membutuhkan kemampuan untuk mendengarkan, memahami sudut pandang orang lain, dan mengakui kesalahan ketika memang diperlukan.

Jika seseorang terus menempatkan dirinya sebagai pihak yang benar, konflik yang sama dapat berulang.

Dilansir dari penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Social and Personal Relationships, kecenderungan menyalahkan pasangan atau pihak lain berkaitan dengan kualitas hubungan yang lebih buruk dalam konteks tertentu.

Hal ini menunjukkan pentingnya kemampuan mengambil perspektif dan memahami perasaan orang lain ketika menghadapi konflik.

5. Gemar Menyoroti Kesalahan Orang Lain

Orang yang sulit melakukan introspeksi terkadang justru sangat peka terhadap kekurangan orang lain.

Kesalahan kecil yang dilakukan orang di sekitarnya dapat dengan cepat mereka temukan dan komentari. Sebaliknya, ketika dirinya melakukan kesalahan yang serupa, standar yang digunakan bisa menjadi berbeda.

Kondisi tersebut menciptakan standar ganda. Orang lain dituntut untuk sempurna, sementara dirinya memiliki banyak alasan ketika melakukan kesalahan.

Jika terus dibiarkan, pola ini dapat membuat orang-orang di sekitarnya merasa tidak nyaman dan enggan berkomunikasi secara terbuka.

6. Bisa Tetap Terlihat Sukses di Dunia Kerja

Menariknya, seseorang yang gemar menyalahkan orang lain tidak selalu terlihat gagal dalam kehidupan profesional.

Ada individu yang tetap mampu mencapai posisi tinggi karena memiliki kemampuan komunikasi, ambisi, kepercayaan diri, atau keterampilan tertentu yang mendukung kariernya.

Namun, keberhasilan profesional tidak otomatis berarti seseorang memiliki kesadaran diri dan kemampuan mengelola hubungan yang baik.

Jika kegagalan selalu dibebankan kepada bawahan atau rekan kerja, masalah yang sama berpotensi muncul kembali dan pada akhirnya dapat merusak kepercayaan dalam tim.

Karena itu, pencapaian karier sebaiknya tidak menjadi satu-satunya ukuran kematangan seseorang.

7. Menolak Kritik dan Masukan

Tanda lainnya adalah sikap defensif ketika menerima kritik.

Alih-alih mencoba memahami isi masukan, mereka mungkin langsung mencari pembenaran, menyerang balik, atau mengatakan bahwa pemberi kritiklah yang sebenarnya bermasalah.

Padahal, kritik yang disampaikan dengan tepat dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki diri.

Kemampuan menerima masukan membutuhkan kerendahan hati dan kesadaran bahwa setiap orang memiliki kekurangan.

Seseorang yang mampu berkata, “Mungkin ada bagian yang perlu saya perbaiki,” justru memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dibandingkan mereka yang selalu merasa harus membuktikan dirinya benar.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho