← Beranda
Bukan Sekadar Hemat, Ini 9 Kebiasaan yang Sering Dimiliki Orang dari Keluarga Sederhana
Irfan FerdiansyahRabu, 26 Agustus 2026 | 04.47 WIB
seseorang yang tumbuh di keluarga kelas menengah ke bawah tetapi kemudian naik kelas./Freepik/freepik

 

JawaPos.com - Tidak semua orang menjalani masa kecil dengan kondisi ekonomi yang sama. Sebagian tumbuh dengan berbagai kemudahan, sementara lainnya harus belajar memahami keterbatasan sejak usia dini.

Pengalaman tersebut ternyata dapat meninggalkan jejak dalam cara seseorang berpikir dan menjalani kehidupan ketika dewasa. 

Dilansir dari Geediting, pengalaman masa kecil dan lingkungan keluarga dapat berperan dalam membentuk pola perilaku serta cara seseorang menghadapi berbagai situasi.

Menariknya, tidak semua kebiasaan yang lahir dari keterbatasan merupakan sesuatu yang negatif. Beberapa justru dapat menjadi modal berharga, seperti kemampuan mengatur pengeluaran, menghargai hal sederhana, hingga memiliki daya juang yang kuat.

Berikut sembilan kebiasaan yang kerap dikaitkan dengan orang yang tumbuh dalam keluarga sederhana.

1. Lebih Berhati-hati dalam Menggunakan Uang

Sejak kecil, mereka mungkin sudah terbiasa memahami bahwa tidak semua keinginan bisa langsung dipenuhi. Kondisi tersebut membuat mereka belajar menentukan prioritas sebelum mengeluarkan uang.

Kebiasaan itu dapat terbawa sampai dewasa. Mereka cenderung mempertimbangkan kebutuhan dan manfaat sebelum berbelanja, termasuk membandingkan harga atau mencari alternatif yang lebih terjangkau.

Bagi mereka, menghemat bukan sekadar strategi keuangan, tetapi sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan secara otomatis.

2. Terbiasa Mencari Jalan Keluar dari Keterbatasan

Ketika tidak memiliki banyak pilihan, seseorang dituntut untuk lebih kreatif. Masa kecil dengan sumber daya terbatas dapat membuat anak belajar memanfaatkan apa pun yang tersedia.

Kebiasaan tersebut berpotensi berkembang menjadi kemampuan memecahkan masalah saat dewasa. Mereka cenderung tidak mudah berhenti ketika menghadapi kendala dan berusaha menemukan cara lain untuk mencapai tujuan.

3. Lebih Mudah Menghargai Hal-Hal Sederhana

Hal yang terlihat biasa bagi sebagian orang bisa terasa sangat berharga bagi seseorang yang terbiasa hidup sederhana.

Momen seperti menikmati makanan favorit, membeli pakaian baru, atau mendapatkan sesuatu yang sudah lama diinginkan dapat meninggalkan kesan mendalam. Ketika dewasa, pengalaman tersebut bisa membuat seseorang lebih mudah merasakan syukur terhadap pencapaian kecil.

Kemampuan menikmati hal sederhana juga dapat membantu seseorang menemukan kepuasan tanpa selalu bergantung pada sesuatu yang mahal atau mewah.

4. Memiliki Kekhawatiran Lebih Besar terhadap Kehilangan

Di balik sikap hemat dan tangguh, terdapat kemungkinan munculnya rasa khawatir yang lebih kuat terhadap kondisi finansial.

Sebagian orang mungkin terus memikirkan kemungkinan kehilangan pekerjaan, kehabisan tabungan, atau mengalami kegagalan. Kekhawatiran tersebut dapat mendorong mereka bekerja lebih keras dan mempersiapkan berbagai kemungkinan.

Namun, apabila terlalu berlebihan, rasa takut tersebut juga dapat membuat seseorang sulit merasa aman meski kondisi kehidupannya sudah jauh lebih baik.

5. Menganggap Kerja Keras sebagai Jalan Utama Menuju Kesuksesan

Prinsip bahwa sesuatu harus diperjuangkan dengan usaha keras sering tertanam sejak masa kanak-kanak.

Mereka terbiasa memahami bahwa pencapaian tidak selalu datang dengan mudah. Karena itu, ketika dewasa mereka cenderung memiliki etos kerja tinggi dan tidak keberatan memberikan usaha tambahan untuk mencapai target.

Kebiasaan tersebut dapat menjadi kekuatan ketika menghadapi persaingan maupun tantangan dalam kehidupan profesional.

6. Lebih Tahan Menghadapi Kesulitan

Pengalaman menghadapi keterbatasan sejak kecil dapat membuat seseorang terbiasa berhadapan dengan masalah.

Saat menghadapi kegagalan, mereka mungkin tidak langsung menganggap semuanya berakhir. Sebaliknya, pengalaman masa lalu dapat membuat mereka lebih terbiasa bangkit dan mencoba kembali.

Sikap pantang menyerah tersebut menjadi salah satu modal penting ketika menghadapi persoalan yang lebih kompleks di masa dewasa.

7. Cenderung Mengutamakan Solidaritas

Lingkungan yang sederhana sering membuat seseorang belajar mengenai pentingnya saling membantu.

Pengalaman berbagi makanan, meminjamkan barang, bekerja sama dengan tetangga, atau mendapatkan bantuan dari orang sekitar dapat menanamkan nilai solidaritas sejak dini.

Ketika dewasa, kebiasaan tersebut dapat tercermin dalam kemampuan berempati, menghargai orang lain, serta membangun hubungan sosial yang lebih dekat.

8. Sulit Membuang Barang yang Masih Dianggap Berguna

Ada pula kebiasaan menyimpan barang lama karena merasa benda tersebut mungkin masih bisa digunakan suatu hari nanti.

Kebiasaan ini muncul dari pola pikir untuk memaksimalkan sesuatu sebelum menggantinya dengan yang baru. Barang yang sudah tidak digunakan pun terkadang masih disimpan karena dianggap memiliki nilai atau kegunaan tertentu.

Di satu sisi, hal ini menunjukkan sikap tidak boros. Namun, jika tidak dikendalikan, kebiasaan tersebut juga dapat membuat seseorang menumpuk terlalu banyak barang.

9. Menetapkan Tujuan Hidup yang Realistis

Pengalaman hidup juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang kesuksesan. Mereka mungkin lebih memilih target yang menurutnya aman dan dapat diwujudkan secara bertahap.

Memiliki pekerjaan stabil, rumah yang nyaman, kondisi finansial yang aman, atau memberikan pendidikan lebih baik kepada anak bisa menjadi bentuk kesuksesan yang sangat berarti.

Target seperti itu bukan berarti seseorang tidak memiliki ambisi. Mereka hanya cenderung mengukur impian berdasarkan pengalaman dan kemampuan yang dimiliki.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho