JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa sudah berbicara dengan baik, tetapi percakapan justru berakhir dengan salah paham?
Anda menjelaskan maksud Anda, tetapi lawan bicara menangkapnya secara berbeda. Anda mencoba memberi nasihat, tetapi orang tersebut malah merasa dihakimi. Anda ingin menyelesaikan masalah, tetapi pembicaraan berubah menjadi saling menyalahkan.
Dalam banyak hubungan—baik dengan pasangan, keluarga, teman, maupun rekan kerja—kualitas percakapan sering kali menentukan kualitas hubungan itu sendiri.
Percakapan yang baik bukan berarti kita selalu memiliki kata-kata yang sempurna. Bukan pula berarti kita harus selalu setuju dengan orang lain. Menurut psikologi komunikasi, percakapan yang sehat lebih banyak berkaitan dengan kemampuan untuk mendengarkan, memahami, mengelola emosi, dan memberikan respons yang membuat orang lain merasa aman untuk berbicara.
Jika Anda mendambakan percakapan yang lebih hangat, mendalam, dan minim konflik, ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat mulai Anda latih.
Dilansir dari Psychology Today pada Minggu (23/8), terdapat 7 hal penting yang bisa Anda lakukan.
1. Dengarkan untuk Memahami, Bukan Sekadar Menunggu Giliran Bicara
Salah satu kesalahan paling umum dalam percakapan adalah mendengarkan sambil menyiapkan jawaban.
Ketika seseorang sedang berbicara, kita mungkin terlihat diam dan memperhatikannya. Namun, pikiran sebenarnya sibuk memikirkan banyak hal:
"Nanti saya harus menjawab apa?"
"Saya juga pernah mengalami hal yang sama."
"Dia sebenarnya yang salah."
"Saya harus menjelaskan posisi saya."
Akibatnya, kita tidak benar-benar memahami apa yang sedang disampaikan.
Dalam psikologi komunikasi, kemampuan mendengarkan secara aktif sangat penting karena membuat lawan bicara merasa didengar dan dipahami.
Mendengarkan secara aktif bukan hanya diam. Anda perlu benar-benar memperhatikan isi pembicaraan, emosi yang menyertainya, serta maksud di balik kata-kata.
Misalnya, seseorang berkata:
"Akhir-akhir ini saya merasa tidak dianggap."
Respons yang kurang membantu mungkin:
"Kamu terlalu sensitif."
Atau:
"Saya juga sibuk, bukan cuma kamu."
Respons tersebut langsung membela diri dan menutup kemungkinan percakapan berkembang.
Respons yang lebih baik bisa berupa:
"Kamu merasa akhir-akhir ini saya kurang memperhatikan kamu?"
Kalimat sederhana tersebut menunjukkan bahwa Anda berusaha memahami sebelum memberikan penilaian.
Tidak semua percakapan membutuhkan solusi. Kadang-kadang, seseorang hanya ingin merasa bahwa pengalaman dan perasaannya benar-benar didengar.
Cobalah latihan sederhana
Ketika seseorang berbicara, tahan keinginan untuk langsung menyela.
Setelah ia selesai, rangkum inti perkataannya dengan kalimat seperti:
"Jadi, yang kamu rasakan adalah..."
atau
"Kalau saya memahami dengan benar, maksudmu..."
Dengan cara ini, Anda memberi kesempatan kepada lawan bicara untuk mengoreksi jika pemahaman Anda keliru.
Sering kali, percakapan menjadi lebih baik bukan karena kita menemukan kata-kata yang hebat, tetapi karena kita akhirnya benar-benar mendengarkan.
2. Berhenti Terlalu Cepat Memberikan Nasihat
Ada kecenderungan manusia untuk segera memperbaiki masalah ketika melihat orang lain sedang kesulitan.
Teman bercerita tentang pekerjaannya, kita langsung memberikan solusi.
Pasangan mengeluh tentang sesuatu, kita langsung mengatakan apa yang seharusnya dilakukan.
Anak menceritakan masalahnya, kita langsung memberikan ceramah.
Niatnya sebenarnya baik. Kita ingin membantu.
Namun, nasihat yang diberikan terlalu cepat justru dapat membuat seseorang merasa tidak dipahami.
Bayangkan Anda berkata:
"Hari ini benar-benar melelahkan."
Kemudian seseorang menjawab:
"Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan."
Secara logika, mungkin tidak salah. Tetapi secara emosional, respons tersebut belum tentu membuat Anda merasa lebih baik.
Kadang-kadang seseorang tidak sedang meminta solusi. Ia hanya sedang mencari ruang untuk mengeluarkan apa yang dirasakannya.
Karena itu, sebelum memberikan nasihat, cobalah bertanya:
"Kamu mau saya dengarkan saja, atau kamu ingin saya bantu mencari solusinya?"
Pertanyaan sederhana ini dapat mengubah dinamika percakapan.
Anda tidak lagi berasumsi bahwa Anda tahu apa yang dibutuhkan orang tersebut.
Anda memberinya pilihan.
Dan menariknya, ketika seseorang merasa benar-benar dipahami, ia sering kali menjadi lebih terbuka untuk menerima masukan.
3. Belajar Memvalidasi Perasaan Tanpa Harus Selalu Setuju
Ini adalah salah satu keterampilan komunikasi yang sangat penting.
Memvalidasi perasaan seseorang tidak sama dengan mengatakan bahwa ia selalu benar.
Anda bisa memahami perasaan seseorang tanpa menyetujui semua pendapatnya.
Misalnya, pasangan berkata:
"Saya kecewa karena kamu membatalkan rencana kita."
Anda mungkin sebenarnya memiliki alasan yang masuk akal.
Namun, sebelum menjelaskan alasan tersebut, Anda dapat mengatakan:
"Saya bisa memahami kenapa kamu kecewa."
Perhatikan perbedaannya.
Anda tidak mengatakan:
"Kamu benar, saya memang salah."
Anda hanya mengakui bahwa perasaan kecewa tersebut dapat dipahami.
Validasi membuat orang merasa pengalaman emosionalnya tidak diabaikan.
Sebaliknya, kalimat seperti:
"Kamu berlebihan."
"Itu bukan masalah besar."
"Kamu terlalu sensitif."
sering kali membuat seseorang merasa harus membela perasaannya.
Akibatnya, percakapan yang seharusnya membahas masalah justru berubah menjadi perdebatan tentang apakah seseorang "berhak" merasa seperti itu.
Karena itu, cobalah memisahkan dua hal:
Perasaan seseorang bisa valid, meskipun kesimpulannya belum tentu benar.
Anda dapat berkata:
"Saya mengerti kenapa kamu melihatnya seperti itu. Tapi saya melihat situasinya sedikit berbeda."
Kalimat seperti ini membuka ruang untuk perbedaan tanpa membuat percakapan menjadi pertarungan.
4. Gunakan Pertanyaan Terbuka
Percakapan yang mendalam biasanya tidak berkembang dari pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban "ya" atau "tidak".
Bandingkan:
"Hari ini baik-baik saja?"
dengan:
"Bagaimana harimu hari ini?"
Atau:
"Kamu suka pekerjaanmu?"
dengan:
"Apa yang paling kamu sukai dan paling tidak kamu sukai dari pekerjaanmu?"
Pertanyaan terbuka memberikan ruang bagi seseorang untuk bercerita lebih jauh.
Namun, bukan berarti Anda harus terus-menerus bertanya seperti sedang melakukan wawancara.
Kuncinya adalah menunjukkan rasa ingin tahu yang tulus.
Jika seseorang berkata:
"Saya sedang mempertimbangkan untuk pindah pekerjaan."
Jangan langsung menghakimi:
"Memangnya kenapa? Bukankah pekerjaanmu sekarang bagus?"
Cobalah:
"Apa yang membuatmu mulai mempertimbangkan itu?"
Dari sana, percakapan bisa berkembang secara alami.
Anda mungkin menemukan alasan yang sebelumnya tidak pernah Anda ketahui.
Pertanyaan yang baik sering kali bukan yang paling cerdas, tetapi yang membuat seseorang merasa aman untuk menceritakan sesuatu yang lebih dalam.
5. Jangan Menganggap Anda Tahu Maksud Orang Lain
Konflik dalam hubungan sering kali dimulai dari asumsi.
Seseorang tidak membalas pesan selama beberapa jam.
Kita langsung berpikir:
"Dia sengaja mengabaikan saya."
Seseorang berbicara dengan nada tertentu.
Kita berpikir:
"Dia pasti meremehkan saya."
Seseorang menolak ajakan.
Kita menyimpulkan:
"Dia sudah tidak peduli."
Masalahnya, kita sering kali bereaksi terhadap interpretasi kita, bukan terhadap fakta yang sebenarnya.
Psikologi menunjukkan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk memberikan makna terhadap perilaku orang lain berdasarkan informasi yang terbatas.
Padahal, satu perilaku dapat memiliki banyak penjelasan.
Orang yang tidak membalas pesan mungkin sedang sibuk.
Orang yang berbicara dengan nada tertentu mungkin sedang lelah.
Orang yang menolak ajakan mungkin sedang memiliki masalah pribadi.
Tentu saja, ini bukan berarti kita harus selalu berpikir positif atau mengabaikan perilaku buruk.
Namun, sebelum mengambil kesimpulan, berikan ruang untuk klarifikasi.
Daripada berkata:
"Kamu memang sengaja mengabaikan saya."
Cobalah:
"Tadi ketika kamu tidak membalas pesan, saya merasa seperti diabaikan. Apakah memang ada sesuatu yang terjadi?"
Perbedaannya sangat besar.
Kalimat pertama menuduh niat.
Kalimat kedua menyampaikan pengalaman sekaligus membuka ruang untuk penjelasan.
Dalam percakapan sulit, klarifikasi sering kali lebih sehat daripada asumsi.
6. Kelola Emosi Sebelum Melanjutkan Percakapan
Tidak semua masalah harus diselesaikan saat emosi sedang berada di titik tertinggi.
Ketika marah, kecewa, takut, atau merasa diserang, kemampuan kita untuk memproses informasi dan memilih respons yang tepat dapat terganggu.
Itulah sebabnya seseorang kadang mengatakan sesuatu ketika marah yang kemudian ia sesali setelah emosinya mereda.
Jika percakapan mulai berubah menjadi pertengkaran, mengambil jeda bukan berarti melarikan diri.
Justru, jeda dapat menjadi bentuk tanggung jawab emosional.
Anda bisa mengatakan:
"Saya ingin menyelesaikan masalah ini, tetapi sekarang saya sedang terlalu emosional. Bolehkah kita lanjutkan setelah saya lebih tenang?"
Perhatikan bahwa kalimat tersebut berbeda dari:
"Sudahlah, saya malas bicara."
Yang pertama menunjukkan niat untuk kembali berdiskusi.
Yang kedua dapat terasa seperti penolakan.
Jika Anda membutuhkan waktu, usahakan memberikan kepastian bahwa percakapan akan dilanjutkan.
Misalnya:
"Saya butuh waktu sekitar satu jam untuk menenangkan diri. Setelah itu kita bicarakan lagi."
Memberikan jeda memungkinkan kedua pihak kembali ke percakapan dengan kondisi emosional yang lebih stabil.
Dan ketika emosi lebih terkendali, kita biasanya lebih mampu mendengarkan tanpa langsung menyerang atau mempertahankan diri.
7. Berlatih Mengatakan "Saya" daripada Selalu Menyalahkan "Kamu"
Salah satu perubahan kecil yang dapat memberikan dampak besar adalah mengubah cara kita menyampaikan keluhan.
Bandingkan dua kalimat berikut:
"Kamu tidak pernah mendengarkan saya."
dengan:
"Saya merasa tidak didengarkan ketika saya sedang berbicara dan kamu melihat ponsel."
Kalimat pertama menyerang karakter.
Kalimat kedua menjelaskan pengalaman.
Dalam komunikasi interpersonal, cara menyampaikan keluhan sangat penting karena orang cenderung menjadi defensif ketika merasa identitas atau karakternya diserang.
Daripada mengatakan:
"Kamu selalu..."
atau
"Kamu tidak pernah..."
cobalah menjelaskan:
"Saya merasa..."
"Saya membutuhkan..."
"Saya berharap..."
Misalnya:
"Saya merasa kewalahan ketika semua keputusan harus saya ambil sendiri. Saya berharap kita bisa membaginya."
Ini jauh lebih konstruktif daripada:
"Kamu memang tidak pernah mau membantu."
Tujuannya bukan untuk membuat Anda berbicara dengan bahasa yang terlalu formal.
Tujuannya adalah mengubah percakapan dari serangan terhadap seseorang menjadi pembahasan tentang masalah yang sedang dihadapi bersama.
Percakapan yang Lebih Baik Tidak Harus Selalu Berakhir dengan Kesepakatan
Ada satu hal penting yang sering kita lupakan.
Percakapan yang sehat bukan berarti kedua orang harus selalu memiliki pendapat yang sama.
Anda bisa tetap berbeda pandangan dan tetap menghormati satu sama lain.
Anda bisa berkata:
"Saya memahami alasanmu, tetapi saya tetap melihatnya secara berbeda."
Itu bukan kegagalan komunikasi.
Justru, kemampuan untuk tetap tenang dan menghormati orang lain ketika terjadi perbedaan merupakan salah satu tanda kematangan dalam berkomunikasi.
Tujuan percakapan bukan selalu untuk memenangkan argumen.
Kadang tujuannya adalah memahami.
Kadang tujuannya adalah mencari jalan tengah.
Kadang tujuannya hanya memastikan bahwa seseorang tidak merasa sendirian dengan apa yang sedang ia rasakan.
Mulailah dari Satu Kebiasaan Kecil
Anda tidak perlu mengubah seluruh gaya komunikasi dalam satu malam.
Mulailah dengan satu kebiasaan.
Misalnya, minggu ini fokus untuk tidak langsung memberikan nasihat ketika seseorang bercerita.
Minggu berikutnya, latih kemampuan untuk mengajukan pertanyaan terbuka.
Setelah itu, perhatikan bagaimana Anda bereaksi ketika merasa diserang.
Sedikit demi sedikit, pola komunikasi dapat berubah.
Dan ketika pola komunikasi berubah, hubungan pun sering kali ikut berubah.
Sebab, orang biasanya tidak hanya mengingat apa yang kita katakan.
Mereka juga mengingat bagaimana perasaan mereka ketika berbicara dengan kita.
Apakah mereka merasa aman?
Apakah mereka merasa didengarkan?
Apakah mereka merasa dihargai?
Atau justru merasa harus berhati-hati setiap kali ingin berbicara?
Pada akhirnya, percakapan yang lebih baik bukan tentang menjadi orang yang selalu tahu harus mengatakan apa.
Percakapan yang lebih baik dimulai dari kesediaan untuk mendengarkan lebih dalam, berasumsi lebih sedikit, mengendalikan respons emosional, dan memberikan ruang bagi orang lain untuk menjadi dirinya sendiri.
Jika Anda mendambakan hubungan yang lebih dekat dan percakapan yang lebih bermakna, mungkin Anda tidak perlu mencari kata-kata yang lebih hebat.
Cobalah menjadi pendengar yang lebih baik terlebih dahulu.
Sering kali, perubahan terbesar dalam sebuah hubungan dimulai dari hal sesederhana itu.