← Beranda
14 Ucapan Tanpa Empati Orang Lain yang Sering Diucapkan kepada Orang Tua Baru Menurut Psikologi
Mohammad Maulana IqbalSelasa, 25 Agustus 2026 | 17.39 WIB
Ucapan tanpa empati orang lain yang sering diucapkan kepada orang tua baru menurut psikologi./Magnific/ jcomp

JawaPos.com – Rasa tanpa empati sering tercermin dari kalimat sederhana yang diucapkan orang lain kepada orang tua baru.

Orang tua baru sering merasa kesal mendengar ucapan yang meremehkan pengalaman atau menekan mereka untuk tampil sempurna.

Kondisi ini semakin terasa berat ketika mereka sedang menghadapi perubahan besar dalam hidup sebagai orang tua baru.

Dilansir dari laman YourTango pada Selasa (25/8), berikut 14 ucapan tanpa empati yang biasa diucapkan kepada orang tua baru dalam percakapan sehari-hari menurut psikologi.

Baca Juga: Korea Utara Luncurkan 10 Rudal Sehari Usai Donald Trump Kurangi Latihan Militer Bersama Korsel

1. Menanyakan apakah kehamilan direncanakan

Pertanyaan ini terasa sangat pribadi dan sebenarnya tidak seharusnya menjadi urusan orang lain.

Apa pun jawabannya, orang yang bertanya biasanya tetap akan menilai secara diam-diam.

Pertanyaan semacam ini menunjukkan kurangnya empati terhadap privasi kehidupan pribadi seseorang.

2. Terkejut berlebihan saat mengetahui seseorang sudah menjadi orang tua

Reaksi kaget berlebihan sering muncul ketika seseorang mengetahui usia muda orang tua baru.

Ucapan seperti terlalu sibuk untuk berpesta sering terlontar tanpa mempertimbangkan perasaan orang yang mendengarnya.

Reaksi ini menunjukkan anggapan bahwa menjadi orang tua muda berarti kehilangan kebebasan sepenuhnya.

3. Mengaitkan usia menjadi orang tua dengan latar belakang tertentu

Mengaitkan status sebagai orang tua muda dengan agama atau latar belakang budaya menunjukkan prasangka yang mengganggu.

Ucapan semacam ini sering disampaikan secara terbuka tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang yang mendengarnya.

Sikap ini mencerminkan cara pandang yang tidak adil terhadap keputusan pribadi seseorang menjadi orang tua.

4. Meremehkan kematangan orang tua muda

Ucapan bernada mengejek seperti anak membesarkan anak menunjukkan anggapan bahwa orang tua muda belum cukup dewasa.

Kalimat ini seolah menganggap orang tua muda sebagai anak-anak, bukan sebagai orang dewasa sepenuhnya.

Sikap meremehkan ini menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap tanggung jawab yang dijalani orang tua muda.

5. Menganggap peran sebagai ibu membatasi potensi hidup seseorang

Ucapan ini menyiratkan bahwa peran sebagai orang tua menghentikan pencapaian besar dalam hidup seseorang.

Padahal kehidupan seseorang tidak berhenti begitu saja ketika mereka memutuskan menjadi orang tua.

Anggapan ini mengabaikan kenyataan bahwa peran orang tua dapat berjalan beriringan dengan pencapaian pribadi lainnya.

6. Mengaitkan pajak dengan hak untuk menilai keputusan orang lain

Ucapan semacam ini sering muncul di ruang komentar internet dengan nada yang menghakimi.

Kalimat ini menunjukkan anggapan bahwa kontribusi pajak memberi hak untuk menilai kehidupan pribadi orang lain.

Sikap ini mencerminkan kurangnya empati terhadap keputusan personal yang diambil orang tua baru.

7. Bingung menyebut status hubungan pasangan

Kebingungan menyebut status pasangan menunjukkan anggapan bahwa struktur keluarga harus mengikuti pola tertentu.

Padahal informasi penting yang perlu diketahui hanyalah bahwa mereka berbagi tanggung jawab mengasuh anak bersama.

Sikap ini menunjukkan penilaian berlebihan terhadap status hubungan yang sebenarnya bukan urusan orang lain.

8. Mengasumsikan orang tua baru membutuhkan bantuan orang tua mereka

Asumsi ini mengabaikan kenyataan bahwa banyak orang tua baru sudah mandiri secara finansial dan sosial.

Mereka mungkin sudah memiliki rumah, pasangan, dan karier tanpa perlu bergantung pada bantuan siapa pun.

Anggapan ini menunjukkan kurangnya pengakuan terhadap kemandirian yang telah dibangun oleh orang tua baru.

9. Menanyakan status pernikahan secara langsung

Menanyakan cincin dan tanggal pernikahan menunjukkan anggapan bahwa memiliki anak harus disertai status pernikahan resmi.

Kenyataannya, memiliki anak tanpa status pernikahan formal kini menjadi hal yang semakin umum terjadi.

Pertanyaan semacam ini menunjukkan penilaian berlebihan terhadap keputusan pribadi yang diambil oleh orang tua baru.

10. Mengira orang tua muda adalah pengasuh anak

Anggapan ini muncul ketika seseorang dianggap terlalu muda untuk menjadi orang tua kandung anaknya sendiri.

Kesalahpahaman ini menunjukkan bahwa usia sering dijadikan patokan yang keliru dalam menilai peran seseorang.

Sikap ini mencerminkan kurangnya pengakuan terhadap identitas orang tua muda sebagai orang tua kandung.

11. Mengomentari penampilan fisik orang tua baru

Memberikan komentar tentang penampilan seseorang, meski terdengar seperti pujian, tetap dapat terasa tidak nyaman.

Ucapan semacam ini menunjukkan fokus yang tidak tepat terhadap identitas seseorang sebagai orang tua baru.

Komentar penampilan ini mengabaikan aspek penting lain dari kehidupan orang tua baru yang sedang dijalani.

12. Menanyakan status ayah dari setiap anak

Pertanyaan ini menunjukkan penilaian terhadap struktur keluarga yang dianggap tidak sesuai dengan norma umum.

Informasi penting yang sebenarnya perlu diketahui hanyalah bahwa anak-anak tersebut dicintai dan diasuh dengan baik.

Sikap ini mencerminkan kurangnya penghormatan terhadap bentuk keluarga yang berbeda dari anggapan kebanyakan orang.

13. Menyatakan keengganan memiliki anak karena takut kehidupan berubah

Ucapan ini menyiratkan bahwa memiliki anak dianggap sebagai kerugian besar dalam kehidupan seseorang.

Padahal kehidupan tidak berakhir dengan memiliki anak, melainkan hanya berubah bentuk dan arah.

Sikap ini menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap makna dan nilai yang dibawa oleh peran menjadi orang tua.

14. Mengomentari usia seseorang saat memiliki anak

Ucapan tentang usia yang dianggap terlalu muda sering terlontar tanpa mempertimbangkan perasaan orang tersebut.

Komentar semacam ini menunjukkan penilaian sepihak terhadap keputusan pribadi seseorang menjadi orang tua.

Sikap ini mencerminkan kurangnya kesadaran bahwa menilai usia orang lain juga tidak pantas dilakukan.

EDITOR: Hanny Suwindari