← Beranda
8 Sikap yang Sering Dianggap Sepele, tetapi Bisa Membuat Wibawa Hilang di Keluarga
Irfan FerdiansyahSelasa, 25 Agustus 2026 | 04.13 WIB
Ilustrasi seseorang yang kehilangan rasa hormat dari keluarganya

JawaPos.com - Hubungan keluarga idealnya dibangun atas dasar saling menghargai, mempercayai, dan memahami. Namun, rasa hormat dalam sebuah keluarga bukan sesuatu yang selalu bertahan tanpa perlu dijaga.

Terkadang, seseorang merasa heran ketika pendapatnya tidak lagi didengarkan, perkataannya dianggap sepele, atau anggota keluarga mulai menjaga jarak. Kondisi tersebut bisa saja terbentuk dari berbagai kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali.

Dalam psikologi, pola komunikasi dan perilaku seseorang dapat memengaruhi kualitas hubungan dengan orang-orang terdekat. Dilansir dari Geediting, terdapat sejumlah kebiasaan yang secara perlahan berpotensi membuat seseorang kehilangan wibawa dan rasa hormat di lingkungan keluarganya.

Baca Juga: Jarang Disadari, Ini 8 Sikap yang Bisa Menunjukkan Rasa Hormat Seseorang Mulai Hilang

1. Terlalu Sering Mengeluh

Mengeluhkan masalah sesekali tentu merupakan hal yang manusiawi. Namun, jika keluhan terus muncul tanpa disertai keinginan mencari jalan keluar, anggota keluarga lama-kelamaan bisa merasa kelelahan.

Sikap terlalu pasif dalam menghadapi persoalan juga dapat membuat seseorang terlihat tidak berdaya. Akibatnya, keluarga mungkin menjadi kurang yakin untuk mengandalkannya ketika menghadapi persoalan bersama.

2. Ucapan Tidak Sejalan dengan Perbuatan

Kepercayaan akan sulit dipertahankan apabila perkataan seseorang berulang kali tidak sesuai dengan tindakannya.

Janji yang terus dilanggar, keputusan yang mudah berubah, atau perkataan yang tidak pernah dibuktikan dapat membuat keluarga meragukan kredibilitasnya. Pada akhirnya, apa yang dikatakan pun mungkin tidak lagi dianggap serius.

3. Gemar Merendahkan Orang Lain

Meremehkan pendapat, kemampuan, maupun pencapaian anggota keluarga dapat menciptakan luka yang sulit terlihat dari luar.

Seseorang mungkin merasa dirinya sedang menunjukkan keunggulan, tetapi perilaku tersebut justru bisa memberikan kesan arogan. Alih-alih disegani, ia berpotensi kehilangan simpati dan rasa hormat dari orang-orang terdekat.

4. Gemar Menghindari Tanggung Jawab

Dalam keluarga, setiap anggota memiliki tanggung jawab masing-masing. Masalah dapat muncul ketika seseorang terus mencari alasan, melempar kesalahan, atau menghindari kewajiban yang seharusnya dijalankan.

Kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang dianggap kurang dewasa dan tidak dapat diandalkan. Semakin sering pola itu terjadi, semakin besar pula kemungkinan kepercayaan keluarga berkurang.

5. Tidak Mau Mendengarkan

Komunikasi yang sehat bukan hanya tentang kemampuan berbicara, tetapi juga kesediaan mendengarkan.

Orang yang selalu ingin pendapatnya didengar tetapi tidak memberikan kesempatan kepada anggota keluarga untuk menyampaikan perasaan dapat dianggap egois. Sebaliknya, mendengarkan secara aktif menunjukkan bahwa kita menghargai sudut pandang orang lain.

6. Suka Membandingkan

Membandingkan diri sendiri dengan orang lain atau membandingkan satu anggota keluarga dengan anggota lainnya sering kali menimbulkan ketegangan.

Ucapan seperti siapa yang lebih sukses, lebih pintar, atau lebih baik dapat memunculkan rasa tersinggung dan persaingan yang tidak sehat. Jika dilakukan berulang kali, kebiasaan ini berpotensi membuat hubungan keluarga menjadi renggang.

7. Tidak Menghormati Privasi

Kedekatan keluarga bukan berarti seseorang bebas memasuki semua ruang pribadi anggota lainnya.

Membaca pesan pribadi tanpa izin, terlalu mencampuri urusan orang lain, atau memaksakan kehendak dapat membuat anggota keluarga merasa tidak nyaman. Menghormati batas pribadi justru menjadi salah satu bagian penting dalam membangun hubungan yang sehat.

8. Terlalu Mengejar Pengakuan

Ada orang yang selalu ingin dipuji dan mendapatkan pengakuan, tetapi jarang memberikan apresiasi kepada orang lain.

Jika pola tersebut terus berlangsung, anggota keluarga dapat melihatnya sebagai sikap yang terlalu berpusat pada diri sendiri. Hubungan pun berisiko menjadi kurang hangat karena interaksi hanya terasa seperti upaya mendapatkan validasi.

EDITOR: Setyo Adi Nugroho